
"sen, berhenti bentar gue capek"ucap Rafani yang kini melepaskan tangan ceshen pada genggaman tangannya.
"beneran gak tahan lagi"ucap ceshen yang kini menatap Rafani.
"beneran gue dah gak kuat lagi sen"ucap Rafani lagi dengan dada yang udah naik turun.
"CK, nyusahin Lo, ya udah ayokk cari tempat sembunyi"ucap ceshen yang langsung menarik tangan rafani.
"dih,, elo kali yang nyusahin"ucap Rafani namun gak di perdulikan ceshen.
ceshen menarik Rafani untuk masuk ke dalam sesemak yang di tutupi oleh pohon besar iya menarik Rafani dan memeluknya dari belakang Rafani sepontan mendelik menatap ceshen sekilas namun tersentak ketika tubuh nya dan tubuh ceshen merosot ke bawah Rafani yang melihat itu hanya diam dan duduk di tengah-tengah paha ceshen yang terbuka sambil menstabilkan derup jantung nya yang berdetak kencang dan menatap sinar cahaya senter yang makin mendekat.
"sial gak ada capek nya mereka"ucap ceshen yang melihat cahaya senter.
ceshen meneguk ludah memejamkan matanya ketika melihat segerombolan anak buah Arsenal sudah makin mendekat dengan kini pipi yang sudah menempel di kepala Rafani sambil mengeratkan pelukannya.
"Cen"Guam pelan rafani.
"sttttt, udah-udah diam dulu kita aman di sini"ucap ceshen meraih kepala Rafani dan meletakkan nya di dadanya.
Rafani meneguk ludah ketika merasakan dada ceshen yang kini naik turun dengan detak jantung yang cepat dan di banjiri oleh keringat pemuda itu.
Rafani sepontan meremas baju kaos ceshen saat dia mendengar suara teriakan anak buah Arsenal yang keras ceshen yang melihat itu mengelus kepala Rafani pelan.
ceshen berdehem kecil supaya tenang di saat merasakan detak jantung Rafani yang beriringan dengan detak jantung nya mencoba menahan ketika merasakan nafas hangat gadis itu yang menerpa leher nya membuat nya menegang dengan mata terpejam.
"Rafani"
"ya"
ceshen tersentak menatap Rafani yang kini mendongak menatap ke arah nya dengan mata bulat nya.
ceshen meneguk ludah samar menggigit bibir bawahnya ketika melihat tatapan Rafani dan langsung mengalihkan wajahnya biar gak terlalu menatap mata gadis itu.
Rafani yang melihat itu pun menatap ke arah ceshen dengan heran namun membalak saat melihat anak buah Arsenal yang kini sudah dekat.
"sen"Guam Rafani dengan mata yang melotot ceshen yang melihat itu langsung menutup mata Rafani dan meletakkan kepalanya di bawah leher nya.
"udah kita aman Lo diam aja"ucap ceshen yang kini agak gemetar melihat banyak nya orang-orang berjas yang memegang pistol.
dorrr.
dorrrrr.
ceshen kompak menutup rapat-rapat telinga Rafani dan memejamkan matanya merunduk kebawah membuat wajah nya dan wajah Rafani bersentuhan Rafani yang melihat dan mendengar suara tembakan yang samar karena telinga di tutup ceshen pun hanya bisa menggigit bibirnya biar gak bersuara.
"sialan kemana mereka"ucap Arsenal.
"kalian semua cari mereka sampe dapat"ucap nya lagi memerintahkan untuk langsung di angguki oleh mereka semua.
"arghhhhh,,awas aja kamu putri Abraham"ucap Arsenal dan langsung berlari mengikuti yang lain Rafani dan ceshen yang mendengar itu tersentak.
"gue orang pertama yang jadi incaran mereka"ucap Rafani mendongak menatap ke arah ceshen.
ceshen yang mendengar itu mendongak ke atas memejamkan matanya sambil menghela nafas.
ceshen kembali menoleh ke bawah melihat Rafani yang kini malah bermain-main dengan lengan baju nya.
"udah mending tidur di sini kita gak bisa keluar sekarang takutnya kita malah ketangkap"ucap ceshen Rafani yang mendengar nya hanya mengangguk.
ceshen membawa Rafani ke dadanya dengan menepuk-nepuk pelan kepala nya Rafani yang merasakan itu memejamkan matanya yang di ikuti oleh ceshen
_#skip.
pagi ini ceshen perlahan mengerjapkan matanya ketika merasakan cahaya yang mengenai matanya iya sekilas mengucek matanya perlahan.
iya menatap ke arah bawah di mana ada sosok gadis yang kini masih tertidur di sana dengan tangan yang menggenggam kuat kaos nya.
"Ra bangun udah pagi ini"ucap ceshen menatap Rafani yang sama sekali tidak terganggu.
ceshen menepuk pelan pipi Rafani untuk membangunkan namun tersentak mendapati suhu tubuh Rafani hangat.
"eh, Ra Lo ko panas Lo demam"panik ceshen yang langsung menangkup wajah Rafani.
"CK, apa sih sen ganggu aja Lo gue cuma pusing"kesel Rafani dan menepis tangan ceshen.
"pusing, tapi pipi Lo panas Ra nih, nih liat kening Lo aja panas mana banyak keringat lagi"ucap ceshen yang kini melap kening Rafani.
Rafani perlahan membuka matanya dan menatap sekeliling sambil berdecak.
"CK, kita harus pergi dari sini sen"ucap Rafani yang kini menatap sekeliling yang sepi.
ceshen yang masih cemas dengan memegang kening Rafani pun mendongak menatap sekeliling.
"ya udah kita pergi sekarang"ucap ceshen yang di angguki oleh Rafani.
kini mereka pun berjalan menelusuri jalan setapak untuk mencapai perbatasan yang di perkirakan 2 jam lagi akan sampe.
tak lama mereka terkejut menatap ke arah belakang yang kini sudah ada lima orang mengejar mereka yang membuat ceshen dan Rafani mengumpat.
"WOYYYY, BERHENTI KALIAN"triak mereka sambil berlari.
"shitttttt, sial kita ketahuan"ucap ceshen yang kini menarik tangan rafani untuk berlari lagi-lagi mereka berlari menghindari kejaran anak buah Arsenal.
ceshen dan Rafani terus berlari sesekali menatap ke arah belakang untuk memastikan orang itu udah dekat atau jauh Rafani iya sedari tadi berlari dengan kepala yang mulai pusing namun iya Terus memaksakan berlari dengan memegang kuat tangan ceshen.
ceshen menatap tangan nya dan beralih menatap ke arah rafani yang kini wajah nya terlihat pucat.
"Lo gak papa Ra"ucap ceshen Rafani hanya mengangguk.
"WOYYYY BERHENTI KALIAN"
"BERHENTI ATAU SAYA TEMBAK"
dorrrr...
akhhhh...
"Ra Lo gak papa"ucap ceshen yang cemas menatap tangan Rafani yang mengeluarkan darah.
"gue gak papa cen mending Lo kabur cepat sekitar setengah jam lagi perbatasan gue harap Dila dan yang lain ada di sana"ucap Rafani menahan ringisan.
"Lo gila gak mungkin gue ninggalin Lo"ceshen menggeleng keras.
"apa sih sen Lo harus balik cepat an gak usah perduli in gue"ucap Rafani lagi.
"gue gak akan ninggalin Lo Ra apa pun terjadi kita ketangkap bareng-bareng"ucap ceshen yang kini menyobek kan baju nya dan mengikat lengan Rafani yang tertembak.
"gila Lo sen"Guam Rafani yang gak di perdulikan ceshen.
" MAU KEMANA LAGI KALIAN "
ceshen dan Rafani tersentak melihat kini lima orang sudah ada yang mengepung mereka ceshen yang melihat itu mengepalkan tangan nya dengan sorot mata tajam.
"tangkap mereka"ucap salah satu dari orang itu memerintahkan.
ceshen yang melihat itu langsung bangkit dan menghajar satu persatu dari mereka dengan murka.
"brengs*k"
bughh..
bughh..
"mati aja kalian mati"ucap ceshen yang kini menyerang mereka dengan membabi buta Rafani yang melihat itu terdiam di mana satu demi satu kelima orang itu sudah tumbang.
namun tak sampai di sana tiba-tiba datang lagi lima belas laki-laki yang berlari ke arah mereka membuat Rafani membalak sedangkan ceshen iya terus menghajar orang-orang di depan nya.
bughhhh.
"aaaa-ffffff"Rafani sepontan teriak namun keburu membekap mulutnya di saat melihat ceshen yang kini tersungkur ke tanah karena mengenai tendangan.
ceshen yang tak terima pun bangkit dan kembali menyerang, laki-laki itu mengeroyok ceshen Rafani yang melihat itu terdiam dengan kepalan tangannya.
Rafani menatap pistol yang tergeletak Tampa pikir panjang iya mengambil pistol itu dan menembak satu persatu orang yang akan mengajar ceshen.
dorrr..
dorrrr..
dorrr..
ceshen terkejut dan menoleh ke arah rafani yang kini menembak satu persatu dari mereka yang mulai tumbang.
"akhhhh"rintih Rafani yang makin mengencang kan genggam nya pada lengan nya yang nyeri.
suara tembakan itu membuat anggota Arsenal datang ceshen dan Rafani yang melihat itu mengumpat namun mereka sudah di kepung tidak ada pilihan lain selain melawan.
Rafani terus mengambil pistol yang sudah terlempar di mana-mana dan menembak semua orang yang ingin menyerang mereka dengan ceshen yang melawan mereka menggunakan ilmu bela diri.
"agrhhhhh"teriak ceshen.
Rafani yang mendengar itu terkejut dan menoleh ke arah ceshen seketika membalak menatap perut ceshen yang kini mengeluarkan darah.
Rafani menatap ke arah sosok di depan ceshen dengan kilatan iblis menatap mereka semua dengan tatapan tajam.
"SETAN KALIAN"triak Rafani yang langsung mengajar mereka satu persatu dengan beringas membuat mereka kelabakan.
Rafani bergerak dengan lincah memutar, mematahkan, dan sebagainya sampai di mana iya berhasil mengambil pisau yang tadi sempat mengenai ceshen.
iya mundur dan menatap mereka semua dengan senyuman iblis nya.
"cukup bermain-main nya tuan sudah saat nya kalian berhadapan dengan pemain yang sesungguhnya"ucap Rafani dengan seringai nya semua orang menatap Rafani ngeri mereka kompak termundur sedangkan ceshen kini iya sudah pingsan ketika mendapati 2 tusukan di bahu dan di perut.
"maaf jika saya melayani kalian dengan kasar"ucap Rafani dan setelahnya iya menghajar mereka dengan menendang memukul sampe-sampe lawan nya tumbang.
tidak terlepas setiap sayatan yang berada di tubuh mereka yang sudah di ukir indah oleh sosok Rafani Azahra sosok iblis yang berdarah dingin.
tidak di pungkiri Rafani menatap puas lawan-lawannya yang kini sudah pada tumbang dengan tubuh yang tidak sedikit 10 goresan apa lagi iya menatap dua orang yang kini lemas karena mengingat Rafani menancap kan dua kali ke arah vital mereka.
"kalian salah memilih majikan ternyata cuih"decih Rafani yang kini menatap sekeliling mereka yang penuh akan mayat.
"RAFANI"
"CESHEN RAFANI"
"WOYYYY, RA"
"SAYANG"
Rafani tersentak mendengar teriakkan teman-teman dan keluarga nya iya menoleh ke arah asal Suara yang di sana sudah ada orang-orang yang berlarian menuju ke arah nya tak lupa iya menatap Devi yang berlari mengandeng Akila ya sempat-sempatnya menendang pantat tilo membuat nya terkekeh.
"shitttt"
Rafani meringis memegang pergelangan tangan nya yang kini makin banyak darah iya menoleh kebelakang Menatap ceshen yang sudah pingsan.
"sadar gak Lo gue rela-rela in bunuh mereka semua karena udah lukai Lo"Guam Rafani.
"lagi-lagi sisi iblis gue keluar Tampa perduli akan sakit di lengan gue"ucap Rafani menatap ke arah depan yang di mana semua orang sudah mendekat.
Rafani tersenyum tipis menatap nya namun tak lama iya ambruk ke tanah ketika merasakan kepala nya sangat sakit, dan hanya kegelapan yang terlihat.
semua orang yang tadi berlari panik untuk menghampiri Rafani yang melawan kurang lebih 30 orang dengan beringas namun takjub sosok iblis satu itu berhasil memukul mundur musuh nya dengan mati.
mereka tersentak ketika melihat sosok Rafani yang malah jatuh ke tanah membuat mereka kelabakan.
"RAFANI"
"ARA"
"SIALAN AWAS KAMU ARSENAL GARA-GARA KAMU CUCU KU JADI SEPERTI INI"triak Edward yang kelabakan menendang dan menginjak mayat-mayat yang penuh akan goresan itu iya meringis negeri menatap keberingasan sang cucu namun iya tetap menerobos lautan mayat untuk Sampe di Rafani cucunya.