
Rafani menatap ke arah azahra yang kini tengah menatap ke arah depan.
"tapi ada satu rahasia yang hanya Paman miscel, bibi dara, Akila dan Devi yang tau tentang ini"ujar azahra kepala Rafani.
"apa itu"ucap Rafani.
"aku punya perusahaan yang menduduki peringkat ketiga di dunia dan di negara yang Kaka tempati"ucap azahra santai sedangkan Rafani sudah melompat terkejut.
"anjig, jangan bilang Lo selama ini kaya"ucap Rafani yang mendelik ketika melihat wajah cengengesan azahra.
"iya kak hehe, Zara jofe nama perusahaan nya sukses di bidang kafe restoran kuler dan siaran berita"ucap azahra.
"CK, hampir gak percaya gue tapi mau gimana lagi kek nya lu emang kaya Tampa bantuan dari manusia biadab itu"ucap rafani yang hanya di balas anggukan serta senyuman azahra.
"Kaka nanti tinggal cari nomor Kaka Dila selaku sekretaris dan juga tangan kanan ku untuk mengelola Zara jofe yang berada di kantor pusat dan ada Kaka Bianca selaku asisten pribadi ku yang mengurus cabang kuler di kota ini maupun di negara lain"ucap azahra lagi hal ini Rafani akui dia benar-benar gak bisa berbohong dia terkejut akan kekayaan azahra.
"CK,, kaya mendadak gue gara-gara tubuh azahra "batin miris Rafani.
"waktu kita sudah gak banyak kak aku akan selalu ada sama Kaka dengan mama Kaka yang melihat perjuangan Kaka dari atas sini, Kaka gak usah takut jika Kaka butuh sesuatu tinggal panggil nama ku nanti aku pasti akan datang menemui Kaka"ucap azahra lagi Seraya tersenyum yang di angguki oleh Rafani.
"terus gue mau bangun nya gimana"ucap Rafani.
"Kaka tinggal kosong kan hati Kaka pejamkan mata Kaka dan yang terakhir tarik lah nafas dan bunga secara perlahan nanti Kaka bakal kembali "ucap azahra yang di angguki Rafani.
"semoga bahagia kak"ucap azahra sebelum menghilang kini tinggal lah Rafani di sana iya menghela nafas menatap ke depan iya bahkan tidak tau sejak kapan sang mama sudah menghilang namun mengingat ucapan terakhir azahra Tampa sadar membuat Rafani tersenyum tipis.
_##skip.
Rafani mengerjapkan matanya perlahan melihat kini kamar nya yang sudah mulai gelap dan cahaya jingga sudah ingin tenggelam iya mantap ke arah jam dinding yang memperlihatkan bahwa sekarang sudah pukul 18:00.
iya pun bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
setelah selesai beberapa menit iya keluar dari kamar mandi dengan setelan piyama tidur iya pun berjalan ke arah ranjang ketika sudah mengering kan rambut nya tadi.
Rafani bersandar di kepala ranjang dan mengambil handphone nya dan mencari kontak yang bernama Dila.
setelah ketemu pun iya memencet tombol panggilan beberapa saat berdering akhirnya sambungan telepon pun di angkat oleh seseorang.
"halo"ucap Rafani saat sambungan di angkat.
"halo azahra, kamu kemana aja sih? banyak berkas yang harus kamu tanda tangan ni kamu eh malah kamu nya malah ngilang Kaka capek tau ngurus semua harus meeting kesana kesini"cerocos bila serontak Rafani yang mendengar suara itu pun mendelik dan menjauh kan handphone nya takut telinga nya berdengung iya menatap nanar nama yang ada di ponsel itu dengan menghela nafas.
"CK,, cerewet banget sih"batin Rafani menatap nama dila itu.
"iya iya, ya elah bisa sabar gak sih Lo kak gue lagi ada masalah kemaren "ucap Rafani sosok Dila yang mendengar nada bicara azahra yang berbeda pun terkejut.
"wahh asem,, udah berani yang ngomong gak sopan sama Kaka ha"kesel Dila Rafani yang mendengar nya pun mendelik.
"iya iya kak maaf, besok deh azahra ke sana Kemaren betul-betul ada urusan lain"ucap Rafani lagi iya malas juga berbicara harus seperti azahra apa lagi sama si Dila yang cerewet minta ampun.
_#skip.
Rafani Azahra iya tengah melamun memikirkan apa rencana nya selanjutnya ketika iya menoleh ke arah dinding yang menampilkan pukul 19:15 iya pun tersenyum tipis dan beranjak dari tempat tidur nya.
"gue bakal bikin heboh lagi nih rumah"Guam nya sambil keluar dari dalam kamar guna mau ke bawah tempat meja makan.
saat sampai di bawah Rafani Azahra menatap keluarga azahra dengan senyum miring.
"wahh kalian makan gak ngajak-ngajak yah gak asik"ucap Rafani saat tiba di tempat meja makan yang sudah terdapat keluarga nya di sana.
Rafani pun berjalan ke arah kursi samping zela dan menarik kursi itu setelah nya duduk di sana Tampa memperdulikan tatapan sinis dari ayah dan ibu azahra dan Velia bersama Bastian yang menikmati makanan mereka.
"saya kan sudah bilang jangan makan di sini apa kamu tidak dengar apa yang saya ucap kan"bentak Arsenal menatap tajam ke arah rafani.
Velia mengambil kan paha ayam dan meletakkan kan nya di piring Rafani yang di terima oleh Rafani dengan senang hati.
"apa yang kamu lakukan Velia"bentak Arsenal menatap putri pertamanya tajam.
"hanya berbuat baik dan berusaha tersadar dari sifat lama maybe"ucap Velia acuh Tampa takut akan tatapan sang ayah.
Arsenal menatap putri pertamanya nyalang."Velia jangan ikut-ikutan jadi anak yang pembangkang kamu dasar anak tak tau diri"ucap Arsenal.
"cih,, sama-sama anak yang tak tau diri "ucap nimas menatap sinis ke arah Velia.
Ting brak.
Velia menghempas kan sendok ke piring nya dan menggebrak meja menatap ke arah Arsenal dengan tatapan muak.
iya melempar tatapan tajam ke arah Arsenal, nimas, dan juga zela dan kini beralih menatap benci ke arah nimas.
""mama kira, karena mama yang ngelahirin kami mama seenaknya berucap seperti ini? ma, mama seharusnya ingat perjuangan saat dulu mama melahirkan kami Kenapa sekarang mama malah membedakan kami seperti ini ma apa mama gak kasihan sama azahra dia juga ingin diperlakukan kaya zela"ucap Velia menatap mama nya tajam.
"aku muak ma? aku muak sama kalian,aku muak sama keluarga iblis kaya kalian "ucap Velia.
"udah jadi pembangkang kamu ya? sudah berani kamu lawan mama hah"ucap nimas menatap Velia tajam.
"jika kamu masih ingin membela pembunuh sepertinya maka awas kamu liat aja apa yang bakal kamu rasakan nanti "ucap nimas dan berlalu pergi dari meja makan.
Rafani Azahra yang tadi nya tenang menyantap makanan nya sambil melihat kegaduhan keluarga ini serontak membalak terkejut.
"pembunuh"Guam Rafani pelan yang masih bisa di dengar oleh Velia yang duduk nya di sebelah kiri nya.
zela yang menatap ekspresi wajah azahra pun tersenyum senang berbeda dengan Velia yang menatap nya sedih.
setelah nya Arsenal dan Bastian meninggal kan meja makan yang di susul oleh zela yang menampilkan wajah kemenangan melihat ke azahra yang masih terkejut.