Rafani Azahra

Rafani Azahra
Rafani



semua orang kini tampak tertawa bahagia di mana mereka yang sudah menyaksikan adegan Giovan Andara zafano yang melamar Devi Maura lestari Akbar putri dari Tristan Alif Akbar.


tidak ada yang menyangka jika di waktu SMA kini Devi sudah di lamar oleh sosok yang di kenal nya di Jakarta sungguh ini sempat membuat nya terkejut namun tak di pungkiri jika iya sangat bahagia.


_#skip.


di ruangan Lain tepatnya di kamar Rafani dan ceshen kini sosok gadis mengerjapkan matanya perlahan ketika melihat cahaya lampu yang menebus matanya.


Rafani iya menatap sekeliling nya dengan alis terangkat menatap semuanya dengan kebingungan iya menoleh ke arah samping yang membuat nya terkejut gimna tidak jika di samping nya sudah ada ceshen yang kini terpejam dengan beberapa alat di tubuhnya.


Rafani yang menatap itu pun perlahan bangun iya terdiam sejenak menatap ruangan itu dan berhenti menatap ke arah ceshen.


iya ingat apa yang terjadi sebelumnya membuat iya menghela nafas ketika melihat ceshen yang kini terbaring dengan menghadap ke arah nya di mana luka tusukan itu mengenai punggung dan perut nya.


Rafani terus memandangi wajah ceshen yang kini tertidur dengan nyaman namun tersentak ketika mendapati suara yang sangat berisik dari arah luar Rafani pun memilih untuk turun dari ranjang nya dan tak lupa menarik selimut yang tadi di kenakan nya ke arah tubuh ceshen biar gak kedinginan.


Rafani keluar dari ruangan itu iya berjalan sedikit menunjuk teras penghubung tangga iya meletakkan tangan nya di atas menyangga dan menatap ke bawah yang kini di penuhi oleh banyak nya orang.


"ini rumah siapa sih"Guam Rafani yang masih menatap rumah tersebut.


namun pandangan Rafani teralihkan dengan Giovan dan Devi iya menatap apa yang terjadi dengan diam tanpa ada yang tau keberadaan nya.


Rafani menatap semuanya dengan senyum tipis iya menatap ke arah para anak muda yang kini juga terdiam menatap ke arah Giovan dan Devi.


"bagus lah jika kalian selamat"Guam Rafani yang menatap sahabatnya juga ada di sana.


kini pandangan nya teralihkan kepada sosok sisi yang tabok-tabokan oleh Vero Rafani yang melihat itu terkekeh.


"centil amat abng gue"Guam Rafani menatap sisi dan aldevero dengan tersenyum.


kini pandangan nya beralih ke arah ke arah Akila, Rafani yang melihat gadis itu tengah terisak haru hanya menghela nafas namun tersentak menatap sosok pria yang menenangkan nya.


"woaaaaaa,, pasti jodoh ini"ucap rafani sambil tertawa pelan menatap mereka berdua dengan gelengan kepala.


kini pandangan Rafani beralih ke arah Bianca yang juga tersenyum menatap Giovan dan Devi Rafani tersentak ketika mengingat gadis itu adalah tunangan ceshen.


namun pandangan nya teralihkan ke arah sosok laki-laki yang kini menatap ke arah Bianca dengan tatapan yang sulit di artikan Rafani yang melihat itu tersenyum miring.


"pada akhirnya cinta yang sesungguhnya sudah di tentukan, tinggal menunggu kapan tuhan mengizinkan kalian bersatu"Guam Rafani dalam hati menatap teman-teman nya dan ceshen.


Rafani kini beralih melihat ke arah Giovan den Devi yang kini Sudah memasang cincin semua orang bertepuk tangan melihat nya begitu juga dengan rafani yang tersenyum.


Rafani beranjak dari tempat nya dan berjalan perlahan ke arah tangga iya menuruni tangga dengan tatapan datar tidak ada yang melihat kehadiran nya karena orang-orang sibuk melihat ke arah Giovan dan Devi.


"apakah kalian tidak ingin menunggu ku sadar dulu untuk melihat hal ini"ucap Rafani yang Langsung membuat semua orang menoleh ke arah nya dengan wajah terkejut dan senang.


"Rafani"


"sayang"


"araa"


"Ra"


Rafani tersenyum menatap mereka iya berjalan ke arah sang ayah semua orang menatap nya tak percaya kapan dia sadar pikir mereka.


rombongan anak Dewasa mendekat ke arah nya yang kini mengerumuni sofa yang di duduki oleh para orang tua mereka.


"loh, sayang ko dah jalan aja kamu kan baru sadar"ucap Wina yang kini membawa Rafani duduk di samping nya.


"kamu kapan sadar sayang"ucap Eliza menatap ke arah cucunya.


"baru aja ketika melihat Sahabat ku di lamar namun tak ada yang perduli dengan menunggu aku sadar misalnya"ucap Rafani menyindir membuat mereka terkekeh pelan.


"ye, salah in aja ni Giovan yang langsung ngelamar gue Ra"ucap Devi.


"tapi Lo juga gak nolak"ucap Akila yang membuat semua orang tertawa.


"gimana keadaan kamu Rafani"ucap Leon.


"apa mau kita panggil kan dokter"ucap Johan.


"tidak perlu aku tidak papa lagian hanya luka di lengan"ucap Rafani yang di angguki oleh semua nya.


"ngomong-ngomong ini di rumah siapa kenapa kalau juga pada ngumpul di sini dan di mana Clara"ucap Rafani berutun.


"kakek menyuruh mereka di sini takut nya kalo mereka kembali Arsenal memiliki kesempatan buat melakukan rencana nya yang lain"ucap Leon Rafani mengangguk.


"opa kapan opa datang ke sini"ucap Rafani.


"kemaren opa langsung lepas landas ketika mendengar berita dari sekretaris kamu"ucap Edward Rafani mengangguk.


"ma di mana Clara"ucap Rafani menatap ke arah sang mama.


"AAAAAA, aku di sini kak"triak Clara dari ambang pintu membuat semua orang menggeleng.


"dari mana aja"ucap Rafani menatap adx nya yang datang dari arah luar.


"Lo gak berusaha deketin adx gue kan"ucap Rafani yang langsung mendapat gelengan dari fatan yang menciut takut.


"eng-enggak ko Ra"gugup fatan.


"itu Kaka tadi yang suruh buat dia nemenin Clara dex"ucap Velia Rafani yang mendengar nya menghela nafas iya pun kembali duduk membuat semua orang Menghela nafas pelan.


"Ra, keadaan Lo sekarang gimana"tanya Akila.


"santai dah sembuh gue"ucap Rafani.


"terus keadaan ceshen gimna"ucap tilo membuat Rafani mendelik.


"apa an sih, gue aja baru sadar kenapa nanya sama gue tanya sama dokter sana"ucap Rafani yang membuat tilo mingkem.


"udah udah"lerai Edward.


"cucu saya baru sadar jangan di tanya-tanya dulu"ucap Edward membuat semua orang mengangguk.


"opa ini rumah siapa"ucap Rafani.


"ini rumah ayah mu"ucap Edward Rafani hanya mengangguk iya menatap sang ayah.


"ayah"Guam Rafani yang memeluk Abraham, Abraham yang mendengar nya tersenyum dan membalas memeluk nya.


"bagus lah jika kamu sudah sadar"ucap Abraham yang di angguki oleh Rafani.


"ini ngomong-ngomong kenapa semuanya ngumpul di sini"ucap Rafani.


"ah, tuan Edward melarang kami untuk pulang takut Arsenal bergerak "ucap Samuel ayah dari Akila dan Tian.


Rafani yang mendengar nya mengangguk iya menatap ke arah sisi Dila bela Zidan Giovan.


"sisi Dila bela gala dan Giovan kalian ikut gue"ucap Rafani berdiri semua orang menatap nya bingung kecuali nama yang di panggil hanya mengangguk.


"kamu mau apa sayang bukan nya kamu baru sembuh jangan aneh-aneh "ucap Wina menatap sang putri dengan cemas.


"Fani tidak papa ma tenang lah"ucap Rafani.


"apa yang ingin kamu rencanakan Rafani"ucap Edward.


"gak mau nunggu ceshen "ucap Johan rafani menatap ke arah mereka.


"tenang lah, lagian ceshen belum sadar aku hanya ingin memberikan sedikit kejutan buat tikus kecil sebelum kejutan untuk sosok kedelai"ucap rafani yang membuat semua orang terdiam.


"ikut gue"ucap Rafani yang sudah beranjak berjalan namun langkah nya terhenti di depan sosok laki-laki yang kini memandang nya dengan tatapan yang sulit di artikan Rafani yang melihat itu hanya menatap nya dengan diam.


"gak mau peluk abng"ucap sosok itu yang tak lain adalah aldevero.


"em, jadi bang Vero dah tau semua nya"ucap Rafani yang di angguki pelan oleh Vero.


"cuma dua Minggu setelah menyaksikan kalian lahir dan abng punya dua adx kembar yang cantik namun abng malah pergi selama ini tanpa ingat sama siapa pun"ucap Vero Rafani yang mendengar nya terdiam.


"maafin abng yang gak sempat jaga kalian berdua "ucap Vero lagi.


"ayah dan opa ada cerita tentang semua nya siapa aku siapa Kaka ku tentang mama dan sebagainya "ucap Rafani aldevero yang mendengar nya mengangguk lemah.


"sudah, walaupun aku harus terkumpul dengan kalian setelah mama dan kembaran mu udah meninggal "ucap Vero lagi.


keluarga Abraham yang mendengar itu terdiam dengan mata yang memerah begitu juga yang lain memilih untuk diam.


"bang"Guam Rafani menatap ke arah sang Kaka nya dengan tersenyum.


"tidak perlu merasa bersalah atau bagai mana yang penting keluarga kita sudah berkumpul dan sekarang udah saat nya kita membalikkan tangan dengan menjatuhkan semua hama"ucap rafani.


"aku akan membalas kematian adx ku"ucap Rafani dengan tatapan tajam.


Rafani menoleh ke semua orang yang berada di sana dengan tatapan datar nya.


"biar saat ini aku yang gerak akan ada saat nya kalian ikut bergerak "ucap Rafani menatap semua orang yang mengangguk.


"murid ku emang paling hebat dari dulu"Guam Johan sambil terkekeh.


Rafani yang mendengar nya hanya diam iya berbalik dan berjalan menuju keluar rumah setelah iya menepuk pundak sang Kaka pertama nya.


iya keluar dari rumah itu yang di ikuti oleh Zidan Giovan sisi Dila dan bela yang tak luput dari tatapan semua orang.


"dex Kaka gak di ajak"ucap Velia yang kini berdiri di samping sang kembaran nya Vero.


"tidak perlu jaga lah ceshen kak"ucap Rafani Velia yang mendengar nya hanya menghela nafas.


"CK, pengen banget Ikut kaya mereka malas tau ngobatin orang mulu"kesel Velia Abraham yang melihat wajah putri nya pun hanya terkekeh.


"kamu ini kak,, ini kan emang tugas kamu sebagai dokter "ucap Abraham Velia yang mendengar nya mendengus iya berjalan ke arah lantai satu untuk mengecek kondisi ceshen.