
saat ini di ruangan yang sangat gelap dan sempit cuma ada cahaya yang berasal dari jendela kecil yang kini mulai menggelap mengingat hari sudah menunjukkan pukul 17:30.
di ruangan itu sudah ada sisi dan juga Rafani yang kini duduk dengan diam sambil menatap sosok laki-laki yang masih terbaring di depan mereka.
sisi menoleh ke arah Rafani yang sedari tadi diam iya hanya berbicara saat memberikan nya tugas.
"Ra soal Zidan gimna"ucap sisi menatap ke arah rafani yang kini fokus menatap beberapa berkas yang di kirim Dila di ponsel nya.
"gimana kaya mana"ucap Rafani Tampa menatap sisi.
"ya gue tau kalian pasti belum selesai apa lagi pagi tadi Lo langsung pergi di saat zidan masih shok tentu nya"ucap sisi.
"gue gak ada berhak untuk maksa dia buat nginget gue sekarang batas gue cuma sampe situ sisa nya gue biarin dia tenang dan liat gimna kelanjutan nya"ucap Rafani sisi hanya diam.
"semuanya udah beres"ucap Rafani datar.
"udah di sana sudah ada kak Dila"ucap sisi yang di angguki oleh Rafani.
"gue gak tau tapi kita gak bisa buang-buang waktu lagi walaupun bakal kebongkar intinya gue bisa melindungi orang yang terlibat dalam ini semua"ucap Rafani sisi yang mendengar nya tertegun.
"Lo baik"
"biak dari mana"
"Lo baik mau lindungi orang lain Ra sedangkan di sini jelas-jelas dari awal keluarga Lo yang terancam "ucap sisi lagi.
"gue tau tapi karena gue mereka juga terbawa-bawa "
"bukan karena Lo tapi emang mereka yang terlalu rakus"ucap sisi,Rafani hanya diam.
tak berselang lama sosok yang tertidur tadi kini terbangun iya menatap sekeliling nya yang kini gelap.
"selamat datang Abimana "ucap Rafani dengan dingin dan memencet tombol yang menghubungkan lampu di ruangan itu menyala.
sosok yang tak lain Abimana iya terdiam menatap dua orang sosok gadis yang kini menatap nya dengan dingin iya menyesuaikan penglihatan nya dan berusaha duduk.
"siapa kalian "ucap nya mantap tajam ke arah sisi dan Rafani.
"apa tuan Abimana tidak mengenal kita"ucap sisi berlagak terkejut.
"kami berdua dari keluarga Alexander dan arlexsa Gustian"ucap sisi Abimana yang mendengar nya terkejut.
"apa mau kalian sebenarnya, lepaskan saya dasar sampah"ucap Abimana tajam Rafani yang mendengar itu bangkit dari duduk nya iya berjalan pelan ke arah Abimana yang kini sudah membalak Rafani yang melihat itu mengangkat alis nya sambil tersenyum tipis.
"kamu tau apa yang saya mau"ucap Rafani dingin membuat Abimana menatap nya takut.
"siapa kau dan apa mau mu"ucap Abimana Rafani yang mendengar itu hanya terdiam.
"si"
"Oky"sisi yang paham akan kode an itu pun langsung menghubungi nomor dila di laptop di depan nya dan setelahnya di sana terpampang lah sosok gadis yang kini terbaring tak berdaya dan di sebelah nya ada Dila yang memakai jubah hitam sisi yang melihat itu langsung mengarahkan laptop nya ke arah Abimana yang kini terkejut bukan main.
"apa yang kalian lakukan terhadap putri saya hah, kalian mau mati"sakras Abimana.
"kita yang mati atau Lo yang mati"ucap sisi yang membuat Abimana terdiam menelan ludah nya susah payah.
"apa mau kalian, klo kalian mau uang kasih tau saya berapa biar saya kasih jangan sakiti putri saya"ucap Abimana.
"kita gak butuh uang Lo kita cuma mau Lo jujur bisa"ucap Rafani lagi Abimana menatap ke arah rafani dengan mengangguk cepat.
"gue Hafizah azahra arlexsa Gustian Lo kenal sama bokap gue bukan"ucap Rafani Azahra yang kini menarik senyum iblis nya Abimana yang mendengar itu tersentak.
"apa maksud kamu kenapa ayah kamu lakuin ini apa dia lupa Sam perjanjian kita dulu"ucap Abimana tak percaya Rafani yang mendengar itu mengangkat alis nya heran.
sisi yang sudah paham akan hawa ini pun langsung merekam dengan kamera yang sudah di siapkan untuk sebagai bukti namun mezoom bagian Rafani.
"gue bakal lepasin Lo sama anak Lo asal Lo mau tunduk sama gue klo gak keluarga Lo mati di tangan gue"ucap Rafani Abimana meneguk ludah nya susah payah.
"ap-apa yang Lo mau"ucap Abimana.
"cukup Lo jawab pertanyaan gue udah selesai nyawa kalian selamat tpi jika Lo mau bohongi gue, gue pastiin keluarga Lo hancur "ucap Rafani lagi Abimana yang mendengar nya langsung mengangguk Rafani yang melihat itu tersenyum.
"apa hubungan Lo sama Arsenal dan Alfan "ucap Rafani yang membuat Abimana tersentak.
"kenapa-"
"GUE NANYA JAWAB GAK USAH LO BANYAK NANYA KLO LO GAK MAU ANAK LO MATI"ancam Rafani tajam membuat Abimana terdiam.
"saya sama mereka cuma hubungan bisnis "ucap Abimana.
"bukan nya dulu Lo bermusuhan sama keluarga Arsenal kenapa tiba-tiba jadi menjalin kerja sama"ucap Rafani lagi.
"ka-karna Arsenal memberikan sesuatu yang saya inginkan dari dulu"ucap Abimana Rafani yang mendengar nya mengangkat alis nya.
"apa"
"asal saya mau berkerja sama dengan nya Arsenal bakal memberikan saya putra nya karena saya dan istri saya menginginkan seorang putra makanya kami mau"ucap Abimana Rafani yang mendengar nya mengepalkan tangan nya kuat.
"Arsenal juga mengatakan jika harus memberikan alasan tentang putra nya biar warna publik percaya jika dia anak saya dan saya di ancam oleh Alfan jika saya tidak memberikan beberapa tender ke perusahaan mereka maka mereka bakal mengambil putra saya"ucap Abimana lagi.
"berapa usia putra mu dulu"
"2thn dulu Arsenal memberikan saya dan mengatakan jika ingatan anak nya sudah di hapus biar dia gak ingat lagi sama keluarga arlexsa Gustian "
"saat itu siapa namanya "
Abimana entah kenapa iya menurut terus menjawab apa yang di katakan sosok di depannya ini saat melihat tatapan membunuh itu membuat nya benar-benar ketakutan.
"aldevero galvano arlexsa Gustian dan saya di suruh mengganti namanya menjadi ATAKSAR Galang Abimana "ucap Abimana Rafani yang mendengar nya murka.
' argghhhhh SIALAN Lo Arsenal gue pastiin Lo mati dengan mengenaskan "triak Rafani yang membuat Abimana terkejut bukan main.
Rafani mendekat ke arah Abimana dan langsung mencekik leher Abimana membuat sang empun kesusahan bernafas.
"LO TAU HAH, JIKA ANAK YANG DI KASIH ARSENAL ADALAH KAKA GUE ANAK DARI KELUARGA ABRAHAM CUCU PERTAMA ABRAMOVICH SIALAN LO MAU AJA DI PERALAT SAMA MEREKA GOBLOK" maki Rafani Abimana yang mendengar nya mematung.
"ap-apa anak keluarga Abraham"ucap Abimana Rafani yang mendengar itu langsung melongos.
"terus kenapa Lo menjodohkan putri Lo dengan putra Johan weliem Akbar "ucap Rafani lagi Abimana kali ini mematung di tempat dengan keringat yang membanjiri tubuh dan wajah nya.
"saya di paksa oleh Arsenal "ucap Abimana membuat Rafani mengepalkan tangan nya kuat.
"jelaskan "
"Arsenal memaksa saya supaya bisa menjodohkan anak saya dengan ceshen putra Johan dan di saat pernikahan mereka Arsenal ingin putri saya meninggalkan ceshen dan mengaku jika dia mencintai deka putra dari Andre biar bisa membuat keluarga Johan malu di depan publik "ucap Abimana Rafani yang mendengar nya terkejut.
"terus apa Lo tau tentang putri Lo yang sudah tidur dengan deka"ucap sisi lagi Abimana yang mendengar itu menunduk dengan tetesan air mata sambil mengangguk pelan.
"keluarga itu memaksa saya biar putri saya memuaskan nafsu anak Andre dengan dalih biar di akhir rencana mereka berhasil"ucap Abimana dengan kilatan penuh akan dendam namun ada raut tidak berdaya an di sana.
"dan hubungan keluarga ande juga alfan ada sangkut pautnya dengan keluarga erdika"ucap Abimana membuat sisi membalak rafani yang melihat raut terkejut sisi pun langsung menatap ke arah Abimana.
"apa yang Lo tau dari mereka"ucap Rafani.
"Desi istri dari Bram erdika adalah istri sah keluarga Alfan Malik dan adx kandung dari andre"ucap Abimana Rafani dan sisi serempak tersentak.
"mereka sengaja membawa Desi kek keluarga erdika biar bisa mengambil dua perusahaan dari dua saudara erdika orang tua sisi dan Zidan"ucap Abimana sisi mematung di tempatnya saat ini kenyataan yang sangat sakit baginya.
"namun ada lagi"ucap Abimana Rafani yang mendengar itu menatap Abimana seolah bertanya apa.
"saya mendengar dari pembicaraan alfatan anak buah Arsenal yang menyamar menjadi anak buah Alfan jika Arsenal ingin membunuh Desi dan suami nya sebagai peringatan atas yang Andre dan Alfan lakukan karena berhasil mengkhianati dia"ucap Abimana Rafani yang mendengar itu langsung berdiri.
"sialan moki ada di sana"ucal Rafani yang kini malah jadi panik.
"kagak Ra kagak, Zidan ada sama ceshen"ucap sisi yang membuat Rafani menatap nya sisi mengangguk membuat Rafani menghela nafas lega.
Rafani menatap ke arah Abimana yang kita ni menatap nya.
"gue kasih Lo perintah klo sampe Lo berkhianat sama gue, gue pastiin gue yang bakal bunuh seluruh keluarga Lo"ucap Rafani Abimana mengangguk cepat.
"terus jalani rencana Arsenal dan di saat pernikahan nanti biarkan keluarga gue yang bergerak"Ucap Rafani.
"tapi gimna dengan putri ku"ucap Abimana.
"CK, urusan itu gampang tapi yang jelas sekarang jodohin putri Lo dengan orang yang mau menerima dia apa adanya dan gue minta Lo jujur terhadap putra Lo tentang ini semua dan siapa dia sebenarnya paham"ucap Rafani Abimana yang mendengar itu terkejut namun juga mengangguk lemah.
"si panggil Dila ke sini"ucap Rafani yang di angguki oleh sisi yang kini menelpon dila.
dan tak beberapa lama ruangan itu kedatangan satu sosok berjubah hitam dan satu nya lagi sosok laki-laki yang menggendong sosok perempuan Abimana yang melihat itu langsung berdiri.
"Bianca "ucap Abimana yang kini sudah mengendong Bianca.
"baiklah kalian yang di sini dengan perintah gue baik-baik karena waktu kita gak banyak"ucap Rafani serius yang di balas mereka dengan serius sambil mengangguk.
"ok, Lo gue minta bawa Abimana dan putri nya ke rumah orang tua gue"
"dan Lo Dila hubungi Kaka Velia untuk membawa putra dan istri Abimana di sana dan jangan lupa hubungi keluarga Abrahamovic, keluarga besar Akbar, Tristan, Samuel, Alatas, dafit, Herman, Hendra untuk berkumpul di rumah orang tua gue"ucap Rafani yang di angguki oleh mereka semua.
"dan tugas terakhir Lo jika semuanya udah kumpul di rumah itu Lo bawa Laura dan bela suruh mereka pake mobil kalian bertiga jaga di perbatasan hutan pembantai tunggu kita sampe jam 4 subuh klo kita gak muncul kalian pergi dan hubungi anak buah kakek semuanya untuk turun kesana ngerti "ucap Rafani yang diangguki oleh Dila.
"kalian boleh pergi sekarang sisanya biar gue"setelah mengatakan itu dial dan Abimana sekaligus bodyguard keluar dan menyisakan Rafani dan sisi di ruangan itu.