Rafani Azahra

Rafani Azahra
keputusan Bianca



saat ini semua orang kumpul di ruang tamu setelah mereka selesai makan malam bersama.


sudah terbilang setengah bulan mereka berada di rumah Abraham karena mereka sedang menunggu kabar tentang mata-mata Edward tentang pergerakan Arsenal.


Bianca yang saat ini entah kenapa dekat dan merasa nyaman di samping Tian iya terdiam dengan pikiran nya sendiri.


memilin sedikit tangan nya yang kini nampak panas dingin dapat di liat dari wajahnya yang agak ragu dan gugup.


"Lo kenapa Eca"tanya Clara yang menatap aneh teman baru nya ini.


sosok Tian yang duduk di samping Zidan hanya memperhatikan sekilas.


"eung"


"kenapa dah, Lo kaya mau ngomong sesuatu"ucap Clara lagi ketika melihat wajah bingung Bianca.


saat Bianca ingin mengatakan sesuatu namun ucapan nya terhenti di kala melihat sosok Rafani yang kini turun dari lantai dua.


Bianca yang melihat itu serontak menoleh ke arah ceshen yang kini fokus terhadap hp nya bermain game online dengan Gion dan fatan.


Bianca yang melihat itu hanya menghela nafas iya mengepalkan tangannya yakin dan sekali lagi iya menarik nafas nya dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.


"yah, Fani pamit ya mau-"ucapan Rafani terhenti di kala mendengar suara Bianca yang membuat semua orang juga kini menatap ke arah nya.


"boleh Bianca ngomong sesuatu sama kalian yang ada di sini"ucap Bianca yang membuat kata-kata Rafani terhenti.


semua orang kini menatap ke arah Bianca dengan tanda tanya menunggu apa yang ingin iya katakan.


"Eca apa yang mau kamu katakan sayang"ucap Abimana menatap ke arah sang putri.


"emm,, anu papi maaf kan Bianca tapi apa boleh Bianca mohon tolong batalkan tunangan eca dengan ceshen"ucap Bianca dengan menatap semuanya orang yakin.


semua orang yang ada di sana tersentak begitu juga ceshen yang kini terdiam Rafani yang mendengar itu hanya diam.


"apa maksud kamu Bianca"ucap Dinda menatap putrinya heran.


"mami apa kalian masih tega terhadap keluarga ceshen, jelas-jelas kalian sekarang di lindungi oleh keluarga kak Rafani apa lagi yang kalian takut kan sama keluarga Arsenal dan Malik ? Bianca mohon batalkan pertunangan kita aku gak mau menikah sama ceshen dia pantas mendapatkan yang lebih dari ku"ucap Bianca yang membuat semua orang terdiam.


"apa kamu lupa acara kalian tinggal satu bulan lagi"ucap aldevero.


"kak ayoo lah kemon, apa Kaka gak pernah berpikir sama aja aku memaksa kan semua nya jika pun aku menikah dengan ceshen apa aku bisa mendapatkan kasih sayang suami tidak kan kak"ucap Bianca.


aldevero yang mendengar nya terdiam menatap sang adx dengan kasihan lalu pandangan nya beralih menatap Rafani dan Velia juga Clara yang yang masih tidak bisa memaafkan nya.


Bianca mendekat ke arah nya yang kini duduk samping Samuel.


"papi Eca mohon "ucap Bianca yang kini sudah berjongkok memohon kepada sang ayah.


Abimana yang melihat itu menatap sendu ke arah sang putri dengan tatapan bersalah.


"maaf, maaf kan papi yang gak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan mu waktu itu "ucap Abimana yang kini sudah menutup matanya di kepala sang putri dengan badan yang bergetar.


Samuel yang melihat itu memegang bahu Abimana menguatkan.


"papi, ini bukan salah mu? ini lah takdir sesungguhnya yang di kirim sang pencipta untuk menguji hamba nya walaupun ini hina namun aku tak pernah menyalahkan papi"ucap Bianca yang sudah memeluk sang papi nya dengan terisak.


"pap-papi hanya takut gak ada laki-laki yang bakal menerima mu hanya itu"ucap Abimana memeluk erat sang putri.


Rafani yang melihat itu menghela nafas nya iya memijit pelipisnya perlahan entah kenapa jadi pusing begini.


"percayalah lah Abimana jika kelak akan ada laki-laki yang datang membawa keseriusan dan janji nya untuk menikahi dan membahagiakan putri mu"ucap Johan memeluk sekilas rekan nya itu yang sebenarnya juga calon besan nya.


Abimana yang merasakan itu hanya mengangguk kecil.


"baiklah jika ini benar-benar keputusan mu papi bakal mendukung semua keputusan mu sayang "ucap Abimana Bianca yang mendengar itu mendongak menatap sang ayah dengan tersenyum.


"Makasih Pi dan maaf Bianca belum bisa jadi anak yang baik buat papi sma mami dan gak bisa jadi adx yang baik buat bang Vero"ucap Bianca.


"mami yang minta maaf gak bisa menjaga kamu"ucap Dinda terisak.


"Abang juga minta maaf yang gak bisa lindungi kamu, dan malah Abang gak tau apa-apa tentang ini"ucap aldevero.


"Tidak, ini bukan lah salah kalian tapi salah orang itu yang memaksa kalian "ucap Bianca yang Langsung di peluk oleh Abimana.


Abimana menatap ke arah Johan yang berada di sebelah nya sambil tersenyum.


"maaf kan putri ku tuan Johan? namun apa bisa kita membatalkan perjodohan ini dengan secara baik-baik "ucap Abimana menatap ke arah Johan dengan raut bersalah.


Johan yang melihat itu terkekeh kecil." tuan Abimana tidak masalah mungkin memang keluarga kita belum berjodoh saya tidak mempermasalahkan semua ini semoga putri mu mendapatkan laki-laki yang lebih baik"ucap Johan yang langsung memeluk Abimana yang di balas Abimana dengan anggukan.


Bianca yang melihat itu berdiri iya berjalan ke arah ceshen semua orang menatap ke arah mereka dengan diam.


saat sudah sampai di depan ceshen Bianca tersenyum menatap sosok laki-laki yang pernah di cintai nya dulu.


"maaf atas kesalahan ku selama ini"ucap Bianca ceshen iya mengangguk.


Bianca mengambil cincin yang berada di tangan nya dan meraih tangan ceshen dan meletakkan cincin itu di telapak tangan ceshen.


"ini ku kembalikan, semoga kak ceshen bisa mendapat kan perempuan yang jauh lebih baik"ucap Bianca lagi.


"emang Lo gak papa "ucap ceshen menatap ke arah Bianca.


Bianca menggeleng." aku gak papa ko? sesuatu yang gak bisa di paksa kan bukan kah gak baik jika di lanjut kan"ucap Bianca lagi.


ceshen yang mendengar nya entah kenapa merasa bersalah iya meraih tubuh Bianca dan memeluk nya.


"maaf, maaf karena gue belum bisa membalas cinta Lo? gue harap Lo bakal nemu laki-laki yang baik"ucap ceshen mengelus kepala Bianca yang kini mengangguk pelan.


dan setelahnya Bianca menjauhkan diri dari ceshen melangkah ke arah maminya.


"mami maaf kan eca"ucap nya yang langsung di peluk oleh Diana.


"iya sayang gak papa ko"ucap Diana memeluk sang putri.


"pada akhirnya keputusan Lo ambil sendiri"Guam Rafani menatap ke arah Bianca.


"Lo berhak mendapatkan yang lebih baik"Guam pelan Tian menatap Bianca dengan tangan terkepal entah sejak kapan dan jangan lupakan dadanya yang terasa sesak menatap air mata gadis tersebut.