
Rafani berjalan mengikuti kedua perempuan tersebut dengan tangan terkepal Rafani langsung mengayunkan satu tangan nya dan..
pak.. brukkkk..
"aaaaaa--mmmfff" Rafani langsung membekap salah satu perempuan yang tadi berteriak.
"kalo Lo mau selamat, kasih tau gue di mana ruangan laki-laki itu"ucap Rafani yang kini sudah menekan leher perempuan di depan nya dengan pisau.
"ja-jangan bunuh saya"ucap perempuan tersebut yang kini sudah Bergetar.
"cepat tunjukkan"ucap Rafani yang langsung di ikuti oleh perempuan tersebut.
"kalian mencar, tangkap semua target"ucap alfatan ketika melihat di arah rafani sudah tumbuh satu orang perempuan.
"baik tuan"ucap anak buah alfatan yang menyebar.
"kita cari di sini"ucap alfatan menatap ke arah anak buahnya yang masih tersisa.
___________
Rafani saat ini berhenti di salah satu ruangan paling akhir iya menatap pintu bercat coklat tersebut dengan tatapan nanar.
"masukkan pin"titah Rafani yang di angguki kaku perempuan tersebut.
"su-sudah nona"gugup nya, Rafani yang melihat itu Tampa lama langsung memukul tengkuk perempuan tersebut sampai pingsan.
cklek..
Rafani membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam ruangan itu,iya menatap ke arah sekitar terlihat sangat jelas jika ruangan ini sangat lah VVIP pasti mahal.
"di mana ceshen"Guam Rafani menatap ke setiap kamar namun tidak mendapati keberadaan ceshen.
langkah Rafani naik menaiki sebuah tangga, Rafani sempat menyengit di kala merasa heran.
"ini tempat ada tangga nya, kek apartemen aja dah"Guam Rafani yang kini menatap ke arah lantai dua.
"arghhhhh brakk"
Rafani menoleh ke arah kamar bercat putih yang menimbulkan suara seseorang yang seperti nya hilang kembali.
"ceshen"ucap Rafani yang langsung melangkah cepat keruangan tersebut.
"sini tuan, biar saya yang memuaskan anda"Rafani mengepalkan tangannya kuat di saat mendengar suara yang begitu menjijikan.
"sialan Arsenal"batin Rafani yang kini membuka paksa pintu tersebut.
brakk...
"siapa kamu"ucap perempuan yang berada di dalam sana yang masih berusaha buat menenangkan sosok laki-laki yang terlihat hilang kendali.
Rafani yang melihat itu menggeram marah, Rafani berjalan cepat ke arah perempuan tersebut.
plakkkk..
"berani Lo sentuh dia"marah Rafani membuat perempuan tersebut terkejut.
"kurang ajar, kau siapa hah"sentak perempuan tersebut, Rafani yang melihat ceshen benar-benar hilang kendali pun Tampa pikir panjang.
pak,,, akhhhh,, brukk..
Rafani menendang sekilas perempuan yang sudah jatuh pingsan tersebut dan pandangan Rafani kini menatap datar ke arah sosok laki-laki yang sudah melepaskan baju atas nya.
"cairan ini sangat berbahaya lebih dari perangsang"Guam Rafani yang langsung merogoh saku belakang nya.
"maaf sen"batin Rafani yang mendekat ke arah ceshen yang sedang menggenggam tak jelas.
"arghhhhh,, panas "ucap ceshen yang kini ingin membuka celana nya.
Rafani yang melihat itu langsung melangkah cepat dan mengarah kan pisau milik nya ke Lengan ceshen.
brukkkk, Trang,,, akhhhh.
Rafani meringis di kala tubuh nya terhempas ke kasur dengan pisau milik nya yang terpelanting jauh.
"ceshen Sadar ini gue"ucap Rafani yang bangkit dari kasur dan mendekat ke arah ceshen.
ceshen iya yang melihat Rafani berusaha mengendalikan tubuhnya namun rasa panas di dalam tubuh nya membuat nya menggerang marah.
"akhhhh, panas"ucap ceshen yang kini menatap Rafani dengan tatapan penuh gairah.
"Ra, bantu gue"ucap ceshen dengan tertahan Rafani yang melihat itu menatap nya menjadi datar.
"gue sadar in Lo"ucap Rafani pelan yang kini menarik tubuh ceshen ke arah kamar mandi.
ceshen yang melihat itu terus mengerang tertahan."sehhhhhh, arghhhhh, bantu gue"ucap ceshen yang benar-benar tidak tahan.
srettttt,,, brukkkk.
Rafani terkejut di kala tubuh nya yang kini mentok ke arah dinding iya berusaha menahan dada ceshen yang kini mengurung tubuh nya.
"sehhhhhh,, gue gak tahan Ra"lirih ceshen membuat Rafani mengeram.
ceshen berusaha mendekatkan wajahnya ke wajah Rafani namun terhalang akibat tangan Rafani yang terus mendorong dadanya.
ceshen menarik tangan rafani dan melempar kan tubuh Rafani ke arah kasur.
brukkkk..
"sehhhhhh"ringis Rafani mengusap pelan bahu nya yang Neri.
degggg..
Rafani terdiam dengan tubuh kaku di saat mendapati kini tubuh nya di kurung oleh tubuh ceshen, Rafani menatap ke arah wajah ceshen yang terlihat tertekan.
"pa-panas ra"ucap ceshen yang kini berusaha mendekatkan wajahnya ke arah wajah Rafani.
plak.
"sadar sen"
ceshen yang mendapatkan tamparan dari Rafani kini menatap ke arah rafani tajam.
"bantu gue"sentak ceshen yang kini berusaha menahan tubuh nya namun rasa panas membuat nya tidak bisa mengendalikan diri iya menarik tangan rafani dan meletakkan nya ke atas kepala Rafani membuat Rafani memberontak di saat ceshen mendekat kan kepala nya.
"sen, sadar Lo gak bis--hamffffff" Rafani berusaha menggeleng kan kepalanya menghindari ceshen yang ingin mendaratkan bibirnya ke bibir nya.
namun tenaganya Rafani kalah di saat tangan kanan ceshen mencengkram erat dagu nya.
ceshen iya yang melihat tidak ada pergerakan dari Rafani tersenyum tipis, Tampa menunggu Lama ceshen langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Rafani dan ******* nya secara kasar.
"arghhhhh,,, ciuman gue SIALAN "pekik Rafani yang berusaha melepaskan tangan ceshen di tangan nya.
Rafani terdiam dengan mata terpejam di kala merasakan dadanya yang berdetak kencang, ceshen yang melihat tidak ada pemberontakan dari Rafani pun langsung melepaskan tangan nya dari cengkraman tangan Rafani dan menyelusup kan tangan nya di belakang leher Rafani dengan tangan kanan yang kini memeluk erat pinggang gadis tersebut.
ceshen beralih ke arah leher Rafani di saat merasakan Rafani mulai kehabisan nafas iya mencium, menyesapnya dan sesekali menggigitnya dengan lembut membuat Rafani menggigit kuat bibir nya menahan suara.
"sial,"umpat Rafani yang kini menatap ke arah sekitar nya guna mencari sesuatu.
srettttt.. srekk..
"sehhhhhh,, sen jangan " Rafani mulai panik di saat bibir ceshen meraba bagian bawah leher nya jangan lupakan tangan nya yang berusaha merobek pakaian Rafani.
Rafani terdiam di kala melihat sesuatu yang baru saja di Lempar ceshen, iya memicing dan tak lama terkejut di kala melihat pisau lipat yang tak jauh dari jangkauan nya.
"sehhhhhh, ahh"Rafani menggigit kasar bibirnya sehingga mengakibatkan darah keluar dari bibirnya.
Rafani merunduk dan semakin panik di saat melihat ceshen yang kini mencumbui tubuh bagian atasnya yang kini hanya menyisakan sports bra milik nya.
Rafani menggeser pelan tubuh nya guna menjangkau pisau yang tadi ceshen gunakan untuk merobek baju nya.
"arghhhhh,, gue dah gak tahan Ra"racau ceshen yang kini berusaha melepaskan bra Milik Rafani.
Rafani yang merasakan tersebut langsung mengambil pisau ceshen dan membalikkan badannya di mana ceshen berada di bawah nya.
Tampa menunggu lama Rafani langsung mengangkat tangan nya dan mengarahkan nya ke arah paha ceshen.
srett..syuttt.. jlebbbb.
"arghhhhh"erang ceshen yang kini kesakitan memegang paha nya di saat merasakan pisau tersebut di tekan.
Rafani menatap dingin ceshen iya melepaskan tangan nya dan mencabut kasar pisau Tersebut membuat ceshen pingsan, melihat hal tersebut membuat Rafani menghela nafas.
Rafani berjalan ke arah kamar mandi dan berdiri dengan diam menatap ke arah pentulan dirinya yang kini tubuh nya sudah di penuhi akan bekas jejak kemerahan.
"huffff,,"Helaan nafas yang keluar dari Rafani menandakan jika iya benar-benar tidak habis pikir dengan kehadiran sekarang.
Rafani menatap ke arah leher nya yang benar-benar penuh, iya mengepalkan tangannya kuat dan.
syutt.. crangggg...tes...tes...
Rafani menatap diam ke arah tangan nya yang kini sudah menempel sempurna di cermin yang sudah pecah.
"CK, kek jala*g gue"Guam Rafani menatap ke arah wajah nya di sela-sela pecahan kaca.
di rasa sudah tenang Rafani keluar dari toilet dan menatap datar ke arah ceshen yang kini pingsan dengan paha yang mengeluarkan darah.
Rafani menatap setiap wajah polos ceshen yang lagi terpejam dan menatap di dingin ke arah tubuh ceshen yang benar-benar di katakan hot.
"CK," decek Rafani yang kini berjalan ke arah luar kamar tersebut.
set..set..tes..
"bawa ceshen,dia pingsan di dalam"ucap Rafani setelah menghidupkan alat di baik telinga nya.
Rafani berjalan dengan tatapan dingin di setiap lorong iya membiarkan tubuh nya yang kini terbuka dengan tangan yang masih mengeluarkan darah.
"kotor Lo"batin Rafani Ketika mengingat di setiap tubuh nya sudah ada bekas yang di kasih ceshen.