
sudah tiga jam berlalu dan kini Gibran selaku sang dokter keluar dari ruangan yang kini menampilkan tiga sosok laki-laki di salah satunya ada sosok laki-laki paruh baya.
Gibran berjalan mendekat ke arah mereka dengan tatapan biasa biar tidak menimbulkan kecurigaan.
"tuan"ucap Gibran menunduk ke arah sang tuan yang tak lain adalah satria, mendengar panggilan tersebut membuat tiga orang tadi kini menatap ke arah nya.
"bagaimana Gibran"ucap satria yang kini berdiri menatap ke arah Gibran datar.
"kita tunggu nona sadar tuan baru bisa menyimpulkan"ucap Gibran yang di angguki oleh satria.
"apakah dia akan sadar"ucap nya lagi.
"belum tuan, nona akan sadar sebentar lagi"ucap Gibran."baik lah kalo begitu saya pamit dulu tuan"ucap Gibran yang berlalu pergi ke arah ruangan pribadi nya.
"sekarang gimna paman"ucap salah satu pemuda di sana.
"ingat yang aku katakan Bastian"ucap satria Dingin ke arah sosok yang bernama Bastian.
"baik lah"ucap Bastian mengangguk.
_________
di dalam ruangan sosok Rafani terdiam menatap ke arah tablet nya yang kini menampilkan informasi tentang keluarga nya.
tablet tersebut di dapat nya dari Gibran biar sewaktu-waktu iya bisa melihat apa yang di lakukan oleh keluarga nya.
Rafani tersenyum ketika melihat mereka semua yang kini berfoto bersama di atas panggung di acara Tian dan bianca.
"semoga kalian bahagia"Guam Rafani.
"jangan pernah menunggu ku, karena aku pun tidak tau kapan bisa kembali "Guam nya lagi ketika matanya menangkap sosok ceshen di sana.
"aku tidak akan pernah melupakan kalian, namun yang ku harap jalani hidup kalian setelah ini!! biar semuanya aku yang jalani "Guam nya tersenyum tipis menatap ke arah keluarga nya itu.
Rafani tersentak ketika mendengar suara pintu yang ingin di buka membuat nya langsung melempar kan tablet tersebut ke sembarang arah, dengan tubuh nya yang kini rebahan.
"azahra kamu sudah sadar sayang"ucap seseorang laki-laki.
Rafani iya ya mendengar itu tersentak kecil namun iya tetap menatap ke arah sosok tersebut yang kini berjalan ke arah nya.
"anda siapa"ucap Rafani menatap ke arah laki-laki tersebut.
"heh, apa kau lupa ini ayah"ucap sosok pemuda Rafani yang melihat itu mengutupkan bibir nya.
"panggil dokter cepat"ucap satria yang di angguki oleh salah satu laki-laki yang kini berlari ke arah luar.
beberapa saat menunggu akhirnya dokter Gibran masuk ke dalam ruangan dengan secepat kilat mengedipkan matanya kearah Rafani yang kini malah mendelik kecil menatap ke arah nya.
"nona anda sudah bangun"ucap Gibran tersenyum kearah Rafani yang kini hanya mengangguk.
"baiklah saya periksa dulu"ucap Gibran yang kini sudah memeriksa Rafani.
"apa saja yang anda ingat nona"ucap Gibran menatap ke arah rafani yang kini menggeleng.
"apa anda ingin dengan tuan ini"ucap Gibran menunjuk ke arah satria yang kini menatap ke arah nya dengan merekah.
Rafani yang melihat raut akan kebahagiaan itu hanya bisa menghela nafas panjang dengan pelan sambil menggeleng.
"siapa nama anda nona"ucap Gibran yang mendapat gelengan dari Rafani.
"hilang ingatan "ucap Rafani yang membuat mereka menatap ke arah nya.
"benar nona, ini dia adalah ayah nona tuan satria!! dan ini dia adalah Kaka pertama nona tuan muda Bastian dan sebelahnya Kaka kedua nona tuan muda deka"ucap Gibran membuat Rafani tidak bis kalo tidak terkejut.
"anj-- ko bisa ******, apa-apaan ini? seakan mereka menjaga gue dengan ketat"pekik Rafani dalam hati yang kini menatap ke arah mereka dengan membalak.
"apa kamu ingat ayah sayang"ucap satria mendekat ke arah rafani yang cuma bisa menggeleng pasrah.
"tenang, lah suatu saat nanti nona pasti bisa mengingat semuanya!! kalo begitu saya pamit"ucap Gibran merunduk.
"tunggu lah di ruangan saya"ucap satria.
"baik tuan"ucap Gibran yang keluar dari ruangan itu.
saat ini di dalam ruangan hanya ada Rafani dan juga ketika laki-laki yang akan menjadi keluarga dadakan nya.
"a-ayah"Guam Rafani pelan menatap ke arah satria.
"hiks hiks hiks, iya sayang ini ayah"ucap satria yang kini memeluk Rafani dengan erat.
Rafani iya yang melihat itu terkejut kecil namun tetap diam di saat merasakan baju nya yang kini basah.
"sekangen ini Lo rindu sama anak Lo"Guam Rafani dalam hati.
"gue gak yakin bakal mempertemukan kalian, tapi untuk sementara waktu gue bisa mengurangi rasa kangen Lo selama ini"Guam nya lagi yang kini matanya menatap ke arah kedua laki-laki.
"anji*g lah"umpat Rafani ketika melihat kedua laki-laki tersebut.
"ayah siapa mereka"ucap Rafani yang kini melepaskan tubuh satria.
"dia kakak-kakak mu"ucap satria menatap ke arah kedua laki-laki tersebut.
"nama ku siapa ayah"ucap Rafani menatap ke arah satria.
"azahra deluna alfarni"ucap satria membuat aida terdiam dengan senyuman kecil.
"nama yang bagus"ucap Rafani cengengesan menatap ke arah mereka bergantian yang membuat mereka Terkekeh kecil.
"ayah mati tinggalkan adx? dia butuh istirahat"ucap Bastian yang kini menatap ke arah satria yang mengangguk.
"baik lah, kamu istirahat yang baik ya sayang"ucap satria yang mengelus kepala Rafani lalu mereka keluar dari dalam ruangan tersebut.
Rafani iya ya melihat itu menghela nafas panjang nya, menatap ke arah kepergian mereka dengan diam.
"peran apa lagi yang harus gue jalanin"ucap Rafani yang kini menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.
"gue gak mungkin bis kabur dari genggaman satria jika gak ada persiapan"ucap Rafani.
"satu-satunya cara gue harus menjalankan peran ini supaya bisa menyusun rencana nanti nya"ucap nya yang kini mengangguk yakin.
"For now goodbye my family and friends, I will definitely come home to meet you all "ucap Rafani menatap ke arah bangunan di depan nya.
pada akhirnya Rafani tidak bisa berbuat apa-apa iya juga tidak mungkin memberontak terhadap kekuatan satria ketika dirinya aja sendiri.
iya tau Bastian adalah anak pertama dari Arsenal yang di kabarkan selamat dalam pertempuran kemaren dan deka adalah anak dari Andre yang juga selamat karena di tolong oleh Bastian.
kekuatan mereka jelas-jelas kuat untuk sekarang apa lagi ini adalah tempat tinggal istri satria ya itu Jerman membuat nya hanya bisa pasrah sekarang tidak bisa berbuat apa-apa, terkecuali nanti di saat semua persiapan sudah di bangun nya.