Rafani Azahra

Rafani Azahra
rencana



pagi ini Rafani berdiri di balkon kamar nya menatap ke arah bawah di mna sudah ada dua dokter yang baru keluar karena sehabis memeriksa keadaan zidan dan ceshen.


semenjak kejadian semalam sampai sekarang Rafani sama sekali tidak ada keluar kamar sedikitpun, yang membuat Akila dan yang lain khawatir sama nya.


namun bukan itu yang menjadi alasan Rafani gak mau keluar, karena Rafani ingin menghilangkan tanda-tanda di tubuh nya walaupun dia sadar gak akan bisa hilang dalam waktu tiga hari.


Rafani menatap ke arah langit sambil menghela nafas." gimna caranya gue nangkep si Arsenal dan zela"Guam Rafani yang kini berfikir.


"setidaknya mereka harus lenyap baru semua nya akan aman"ucap Rafani yang memijit pelipisnya.


di lantai bawah saat ini Akila dan yang lain sedang duduk di sofa sambil melihat keadaan ceshen dan Zidan yang lemah.


"orang-orang itu gimna"ucap Akila menatap ke arah alfatan dan Giovan.


"gue dah kirim ke orangtuanya Rafani"ucap alfatan yang mendapat anggukan dari Akila.


"kita yang nangkep mereka yang dapet"ucap Akila menggeleng tak habis pikir.


"lagian di sini gak ada tempat ruang penyiksaan apa lagi mereka banyak"ucap Aryan yang di angguki oleh Akila.


"si Rafani kapan turun sih"ucap Akila menatap ke arah lantai dua yang di ikuti oleh yang lain.


"ini salah gue"semua mata beralih ke arah ceshen yang kini merunduk.


"bukan salah Lo sen, ini salah si Arsenal nih"ucap Aryan yang di angguki Akila.


"dia ngerasa kotor karena gue"Guam ceshen membuat yang lain terdiam.


"gak usah mikir yang aneh, dia juga mau nyelamatin Lo waktu itu"ucap alfatan.


"kenapa harus dia, kenapa gak kalian aja waktu itu"ucap ceshen menatap ke arah Giovan, alfatan dan Aryan.


"CK, gue sama Giovan aja kewalahan noh buat bikin diem si zidan apa lagi jika elo"Gerutu Aryan membuat Zidan mendelik.


"gue gak minta padahal"ucap Zidan.


"Halah, udah deh gak usah ribut, ini semua dah terjadi juga percuma"ucap Akila membuat yang lain terdiam.


"cairan itu benar-benar bahaya"ucap giovan yang di angguki yang lain.


"gue cuma bertahan tiga menit untuk sadar"ucap Zidan.


"tapi kenapa efek dari luka bisa bikin tuh cairan gak berjalan"ucap Aryan membuat mereka saling tatap.


"bisa jadi karena rasa sakit dari luka bisa menekan tuh efek nya"ucap alfatan yang di angguki yang lain.


"bisa jadi sih"ucap giovan.


"niat cari si zela malah hampir di belai sama ondel-ondel"ucap Zidan yang membuat Akila dan Aryan tertawa Giovan dan alfatan hanya terkekeh kecil.


tap.


tap.


tap.


semua yang ada di ruang tamu kompak Menoleh ke arah tangga di saat mereka mendengar suara derap langkah dan saat itu pula mereka bangkit di saat melihat Rafani Turun.


"Ra"ucap Akila menatap ke arah rafani yang kini berjalan ke arah mereka.


"gimna"ucap Rafani menatap ke arah Zidan dan bergantian ke arah ceshen.


"udah mendingan"ucap Zidan sedangkan ceshen iya merunduk.


"kita bahas rencana"ucap Rafani yang duduk di samping Zidan, yang lainnya yang mendengar hal tersebut langsung duduk.


"kita harus bisa culik zela"ucap Rafani membuat mereka saling pandang.


"cuma itu caranya biar Arsenal dengan mudah terpancing"ucap Rafani.


"CK, untuk sekarang fokus akan masalah ini soal kejadian lupakan bisa"ucap Rafani membuat ceshen menatap ke arah nya.


ceshen menatap ke arah rafani dengan tatapan bersalah pandangan nya Terhenti di area leher Rafani yang masih tercetak jelas warna kemerah unguan.


"gue minta maaf"Guam ceshen dengan pelan Rafani yang mendengar Guaman tersebut menghela nafas.


"gue bagi tugas "ucap Rafani.


"akila, Aryan dan Giovan pastikan kalian bisa bawa zela Tampa sepengetahuan Arsenal "ucap Rafani yang di angguki oleh yang lain.


"alfatan dan ceshen kalian hadapi Arsenal biar gue sama Zidan yang sisa nya"ucap Rafani.


"lah ko gitu"ucap Akila membuat Rafani menaikkan alis nya bingung.


"apanya "ucap Rafani.


"kenapa gak elo aja sama ceshen yang ngadepin Arsenal "ucap Akila membuat Rafani menghela nafas.


"gue sama Zidan bagian pengalihan kita dah biasa soal itu nah di saat Lengah di sana ceshen sama alfatan yang gerak, bagaimana pun gue sama Zidan harus lawan anggota Arsenal "ucap Rafani.


"Lo milih bagian itu, karena Lo tau lawan Lo banyak "ucap giovan membuat yang lain terkejut Rafani iya diam.


"gak usah aneh Ra, gue tau Lo pasti dah tau jika anak buah Arsenal adalah separoh dari anggota mafia keluarga Lo dulu"ucap giovan.


"gue akui rencana Lo Bagus, tapi rencana ini akan berhasil jika tuan Edward dan Leon juga tuan Johan bersatu yang Lo lawan bukan lah sembarang orang mereka ahli dunia gelap"ucap giovan.


"gue bisa lagian Zidan ada apa ya harus di takuti cuma sebagai pengalihan bukan"ucap Rafani membuat Giovan berdecih.


"gak, gak mau gue, gue gak setuju biar anak cowok yang jadi pengalihan "ucap giovan membuat Rafani menatap nya datar.


"gue sama Zidan sudah terlatih untuk pengalihan "ucap Rafani datar membuat yang lain terdiam.


"bisa gerak cepat, biar semuanya selesai lagian menghadapi Arsenal bukan lah gampang dia manusia licik"ucap Rafani.


"jadi pengalihan harus banyak anggota "ucap alfatan.


"gue dah hubungi opa gue jadi anak buah nya dalam perjalanan "ucap Rafani membuat yang lain Menghela nafas.


"Hem,,culik zela bawa ke hutan bagian barat di sana Pancing Arsenal sisa nya biar urusan Rafani sama Zidan"ucap alfatan membuat yang lain Menghela nafas.


ceshen sedari tadi iya hanya diam mendengarkan bukan iya gak mau protes namun iya masih merasa bersalah akan apa yang terjadi terhadap Rafani gimana pun ini semua salah dia.


"ok, soal zela tau kan wajah nya"ucap Zidan yang di angguki Aryan dan Akila.


"Minggu depan zela akan pergi ke club di sana biasanya tidak ada yang ngawasin dia jadi gerak saat itu"ucap Rafani yang di angguki oleh Akila dan yang lain.


"ingat mati kan akses pelacak di zela"ucap Rafani menatap ke arah Akila yang mengangguk.


"waktu kita di sini cuma dua bulan"ucap Rafani.


"lah gue pikir setelah semuanya selesai kita bakal jalan-jalan dulu kek"ucap Akila.


"kita harus balik, dua bulan cukup untuk misi ini karena gue ada urusan di Jerman"ucap Rafani yang di angguki oleh yang lain.


"lagian si Bianca mau lahiran gak sih"ucap Aryan membuat yang lain saling tatap.


"lupa gue si Tian kan bakal jadi ayah di kehamilan kedua nya Bianca, Lo bakal balik gak Ra"ucap Akila.


"liat kan nanti, gue masih ada urusan sama teman lama"ucap Rafani yang di angguki oleh mereka.