
saat ini di jalan raya yang terlihat sepi itu melintas mobil yang di Kendari oleh Rafani dengan sangat cepat sesekali Rafani akan menatap ke arah jam di tangan nya dengan wajah yang cemas.
"gue pasti in kalian mati jika benar-benar sakiti Clara"Guam Rafani yang kini masih menatap lurus ke jalan raya dengan tatapan tajam nya.
tak berselang lama Rafani terlihat sudah sampai di daerah yang sama sekali dia tidak tau Rafani menatap sekeliling yang kini terlihat beberapa rumah namun sepi bisa di simpulkan jika tempat itu sudah lama kosong.
Rafani menatap ke arah layar ponsel nya yang kini menampilkan lokasi yang di kirim oleh orang yang menelepon nya tadi.
iya berdecak kesal ketika mengingat kecerobohan nya yang mengakibatkan hal seperti ini.
Rafani memberhentikan mobil nya di ujung perumahan dan menatap bangunan itu dengan Helaan nafas.
"gue gak tau apa yang terjadi bakal terjadi selanjutnya"Guam Rafani menatap ke arah rumah itu dengan diam.
"gue harap semua nya bakal jauh lebih baik"ucap nya lagi dan turun dari mobil sambil menatap bangunan rumah tersebut.
beberapa saat terdiam Rafani pun memutuskan untuk melangkah kan kaki nya untuk masuk ke dalam bangunan tersebut.
Rafani berjalan memasuki rumah tersebut yang nampak sepi iya menatap bangunan di dalam rumah sambil melangkah kan kaki nya menuju lantai dua ketika mendengar senyup suara yang tidak terlalu keras.
saat berada di lantai atas Rafani melangkah kan kaki nya ke arah satu ruangan yang kini terbuka iya berjalan sambil menatap ke arah kiri dan kanan lalu menyengit heran saat mendapati tidak ada siapapun di sana.
"benar gak sih ini tempatnya"Guam Rafani pelan."awas aja kalo mereka bohongin gue"kesal nya dan tetap melangkah kan kaki nya.
Rafani iya menegang kenop pintu dan membuka sedikit pintu tersebut iya memiringkan kepalanya untuk mengintip di ruangan tersebut namun sedetik kemudian iya tersentak dengan mata membalak ketika melihat Clara yang ada di sana dengan tangan yang terikat dan mulut yang tersumpal kain.
"KURANG AJAR"
brakkk...
triak Rafani dan langsung menendang pintu yang mengakibatkan Clara terkejut bukan main menatap sang Kaka nya yang kini sudah berada di depan pintu yang terbuka lebar.
emm emmm emmm...
Clara berusia untuk mencegah kakanya untuk masuk ke dalam ruangan namun iya tidak bisa berteriak karena mulut nya yang tersumpal.
iya terus menggelinding kan kepala menyuruh Rafani untuk tidak mendekat namun Rafani yang melihat itu Tampa pikir panjang langsung masuk ke dalam ruangan menghampiri Clara yang terus histeris menggeleng.
emmm emmm emmm....
"Clara tenang Kaka sudah ada di sini ayokk kita pergi"ucap Rafani yang kini sudah beralih untuk melepaskan kain yang berada di mulut Clara.
Clara membalak ketika melihat kedua orang yang sedari tadi bersembunyi di balik pintu kini mendengar ke arah rafani.
"KAK AWAS"
bguhhhh...
akhhhh...
"KAK RAFANIIIIII"triak Clara histeris saat iya melihat Rafani yang kini terbaring di depan nya.
"kalian jahat, lepasin Kaka gue SIALAN"ucap Clara tajam kedua orang yang menatap itu hanya diam.
"incaran kita cuma dia yang menjadi kan Lo umpan,"ucap salah satu dari mereka.
"mau kalian apa sih hah, lepas in Kaka gue"sentak Clara.
"sialan nih cewek kalo gue mau pukul dah gue pukul Lo dari tadi berisik banget sumpah"kesal nya menatap tajam ke arah Clara.
"pukul gue kalo Lo mau pukul, tapi gue mohon lepasin Kaka gue dia gak ada salah sama kalian"ucap Clara teriak ketika melihat kakaknya yang sudah di gendong oleh satu orang.
"suttt,, diam Lo, incaran kita cuma Kaka Lo sedangkan elo cuma sebagai umpan di sini"ucap salah satunya lagi.
sosok yang menggendong Rafani yang kini sudah pingsan menatap ke arah laki-laki yang di sebelah nya.
"udah gak usah buang waktu kita harus cepat bawa jauh nih cewek Lo hubungi aja anggota nya dan kasih tau di mana nih cewek sekarang biar mereka tambah pusing buat cari kita"ucap laki-laki itu yang membuat laki-laki yang satunya mengangguk.
setelah selesai mereka berdua pun langsung pergi keluar meninggalkan Clara yang kini sudah teriak sambil terisak iya ingin mengejar namun tidak bisa mengingat kaki nya yang di ikat dengan tangan yang sama di ikat.
"hiks hiks hiks, maaf, maaf kan Clara kak. gara-gara Clara Kaka jadi incaran mereka maaf kan Clara"Guam Clara menatap Sendu ke arah kakanya untuk kini hilang di bawah tangga.
Clara yang melihat itu menyandar kan tubuh nya ke arah dinding sambil menunggu keluarga nya karena itu harapan satu-satunya iya berharap bahwa iya akan ada waktu buat menyelamatkan kakanya.
"Clara, janji bakal selamatin Kaka gimanapun caranya"batin Clara menatap tajam kedua orang yang memakai topeng tadi.
"akan ku ingat suara kalian"ucap nya dengan tatapan tajam.
_#skip.
saat ini di rumah besar Akbar sudah terkumpul semua orang yang memenuhi rumah tersebut di mana kini semua orang duduk melingkar karena menjadi prustasi melihat keadaan yang malah terbalik dari awal rencana.
"gue yakin pasti ini gara-gara gion dan ayah nya yang membocorkan rencana ini"ucap Zidan.
"tapi kita berhasil menatap Arsenal Andre sama Alfan"ucap tilo.
"apa jangan-jangan mereka menang membuat rencana seperti ini biar menjadi pengecoh dan target sebenarnya adalah Rafani"ucap giovan yang membuat semua orang menatap kearah nya.
"tapi apa tujuan nya"ucap ceshen yang kini hanya diam.
"entah lah kita masih tidak tau soal itu"ucap Johan yang menatap ke arah anak nya kasihan.
mereka terdiam memikirkannya di mana Rafani berada sekarang namun beberapa saat mereka tersentak mendapati teriakan seseorang.
"MAS MAS"triak Wina histeris mendekat ke arah Abraham.
Abraham yang melihat itu pun menatap ke arah istri nya.
"ada apa Wina"ucap Eliza menatap heran menantu nya itu.
"ma, Clara tidak dapat di hubungi ma Clara Hilang juga"ucap Wina yang langsung membuat semua orang terkejut Abraham yang mendengar nya serontak berdiri di ikuti oleh Edward.
"APA "triak mereka berdua.
arghhhhh..
"SIALAN, apa yang Satria mau sebenarnya kenapa kedua putri ku jadi incaran dia"sentak Abraham marah membuat Johan berdiri dan menepuk pundak nya menenangkan.
"tenang dulu Abraham, kita cari cara buat cari keberadaan mereka tenang kan lah pikiran mu yang kita hadapi ini adalah satria "ucap Johan membuat Abraham terdiam menyengit istri nya yang kini menangis di pelukan mama nya.
"jika dia berani melukai kedua cucuku, aku bersumpah menjadi orang pertama yang akan membunuh nya di depan mata ku"ucap Edward yang kini menatap tajam ke arah depan dengan tangan yang terkepal.
namun tak lama mereka di kejutkan dengan suara Abraham yang menerima notifikasi dari hp nya.
"aku tau di mana Clara"ucap Abraham yang langsung membuat semua orang berdiri.
"di perumahan kashibuni yah tempat perumahan yang sudah kosong pada dua tahun lalu"ucap Abraham.
"tunggu apa lagi Abraham cepat selamat kan Clara mudahan kita juga bisa menyelamatkan Rafani"ucap Johan yang sudah berlari keluar di susul oleh ceshen Abraham dan yang lain yang melihat itu ikut berlari keluar rumah dan meninggalkan para perempuan.
setelah jam berlalu dan kini mereka sudah sampai di bangunan tersebut Abraham dan Johan langsung berlari ke arah rumah tersebut yang di ikuti yang lain.
mereka semua memilih untuk mencar ke semua ruangan karena mengingat rumah tersebut sangat lah luas.
sampai di mana Abraham dan Johan Edward berserta Leon tiba di lantai dua dan berlari ke arah ruangan yang terbuka dan setelah nya membalak ketika melihat Clara yang pingsan.
"CLARA"teriak Abraham yang langsung menghampiri sang putri yang di ikuti oleh yang lain.
"ayah, Clara cuma pingsan bawa aja ke rumah biar bisa di periksa sama Velia"ucap Vero yang langsung di angguki oleh Abraham.
mereka pun kini keluar dari ruangan itu berlari mengikuti Abraham yang sudah berlari sambil menggendong Clara.
"Rafani tidak ada ayah"ucap ceshen panik ketika memeriksa semua ruangan yang kosong.
"kamu tenang dulu ceshen kita selamat kan dulu Clara"ucap Johan yang berlari di ikuti oleh ceshen.
_#skip.
"aduhhh"Guam Clara pelan menegang kepala nya yang agak nyut-nyutan.
semua orang yang mendengar suaranya Clara pun langsung menoleh dan mendekat ke arah Clara yang kini terbaring di sofa.
"Clara"ucap Wina menatap sang putri dengan sedih Clara yang mendengar suara Mama nya pun langsung menoleh.
"mam-mama"ucap nya bergetar dan langsung memeluk sang mama dengan erat.
"hiks hiks hiks, Clara takut ma"ucap Clara menatap ke arah mama nya sekilas.
Wina Tampak mengangguk kecil." mama tau ,tapi kamu tenang ya sekarang kamu sudah aman"ucap Wina Clara mengangguk kecil.
"Clara gimna bis kamu sampai di sana"ucap Leon bertanya membuat Clara melepaskan pelukan nya terhadap sang ayah nya.
"emm,, waktu itu aku kan di suruh jaga kak deka nah saat itu tiba-tiba ada yang masuk aku kira kak fatan atau kak tilo tapi gak tau nya orang lain yang pake topeng dan nyelamatin kak deka"ucap Clara.
"terus kenapa kamu bisa sampe di sana juga, apa kamu di culik"ucap Johan Clara menggeleng pelan.
"tidak aku yang mengikuti mereka gak tau nya aku ketahuan dan di bawa di sana untuk menjadi Sandra"ucap Clara lagi.
"Sandra, maksud nya"Guam ceshen menatap serius ke arah Clara yang membuat Clara meneguk ludah susah payah.
"apa maksud kamu, mereka menjadikan kamu Sandra biar mereka bisa mancing Rafani"ucap tilo langsung yang membuat semua orang terdiam menatap ke arah Clara.
"apa benar Clara "Guam Wina pelan sambil mengelus kepala anak nya itu.
"benar ma"Guam Clara pelan sambil merunduk.
"sial, jadi yang di Incar nya adalah cucuku"ucap Edward marah.
"sabar lah Edward, kita pasti bisa mencari jalan keluarnya jangan Sampe kita gegabah dan malah membahayakan Rafani "ucap Leon.
"tapi ayah sekarang di mna mereka membawa Rafani "ucap ceshen menatap ayah nya memelas.
"ayah juga belum tau ceshen "ucap Johan menghela nafas menatap ke arah putra nya itu.
"ayah, bukan nya kemaren ayah sempat bilang Jika di setiap kalung anak ayah ada tersimpan pelacak "ucap Velia yang membuat semua orang menoleh ke arah Abraham.
Abraham mengangguk pelan." benar namun"Guam Abraham terhenti.
"namun apa mas"ucap Wina penasaran menatap ke arah sang suami menunggu.
"namun punya Rafani dan saudara kembar nya belum sempat ayah modifikasi karena saat itu keburu semuanya menjadi gawat ucap Abraham yang membuat semua orang terdiam.
"ada apa"ucap seseorang yang kini menuruni tangga dengan seseorang perempuan di sebelah nya.
semua orang yang melihat kedua insan itu hanya diam.
"lah lah kenapa pada tegang gini"ucap Tian yang menatap semua orang heran.
"ba*ot bat kak, Lo gak tau Rafani hilang hah"ucap Akila yang menatap sang Kaka jengah.
"tau mentang-mentang pengantin baru"Sindir Devi yang membuat Tian mendelik.
"apa sih, ko malah jadi nyalahin gue"ucap Tian tak santai.
"sudah sudah, kalian ini bukan nya berfikir gimna tentang Rafani malah berdebat"ucap Samuel jengah menatap ke arah kedua anak nya itu.
"jadi kak Rafani benaran hilang"ucap Bianca yang dia angguki oleh mereka.
"terus sekarang gimana deka juga udah di bawa pergi sama mereka "ucap Zidan.
"tapi yah jelas mereka bawa kak Rafani yang jauh supaya tidak bisa di temukan oleh kita"ucap Clara lagi.
"kenapa kita gak tanya sama sahabat Lo aja sen kan ini juga kerjaan mereka sapa tau mereka tau di mana Rafani di bawa"ucap giovan yang membuat semua orang terdiam.
"dia cuma di peralat"ucap ceshen.
"setidaknya tanya aja dulu sapa tau mereka beneran tau di mana keberadaan Rafani "ucap Vero.
"CK, gue ogah ketemu penghianat kaya dia"ucap ceshen.
"dia juga teman kita sen, gue yakin dia ngelakuin ini pasti kan ada alasan nya"ucap Aryan.
"ingat di kita semua cuma tentang dia yang kita gak ketahui selama ini bahkan gue jadi sepupu nya aja gak tau sama sekali "ucap Tian.
"dia terlalu sembunyi emang orang nya"ucap tilo.
"kalo Lo gak sanggup buat ketemu dia biar gue sama yang lain"ucap fatan membuat Tian dan tilo mengangguk ceshen yang melihat itu hanya diam sambil mengepalkan tangannya kuat.
"kalo dia gak tau apa-apa gimana "Guan ceshen pelan.
semua orang yang melihat itu hanya bisa membuang muka dengan Helaan nafas berat mereka.
"gue gak tau kalo rencana kita bakal kaya gini dan malah menumbalkan dia"ucap nya lagi.
"ini bukan salah Lo sen ini terjadi karena sesuatu yang mendesak"ucap Tian.
"stop buat nyalain diri sendiri gimna pun kita sudah berusaha di sini"ucap fatan lagi.
semua orang hanya bisa diam begitu juga ceshen yang kini memilih merunduk dengan mata terpejam.