
saat ini di ruangan bawah tanah di dalam kamar yang gak terlalu besar sudah ada Tian Bianca dan juga sisi Zidan menatap nyalang dan penuh akan benci oleh sosok laki-laki di depan mereka.
"ingat kata kak Rafani jangan Sampe mati"ucap Bianca menatap ke arah Tian yang kini mengandeng tangan nya.
"iya kita tau ko"ucap sisi yang kini mengepalkan tangannya kuat-kuat menatap benci ke arah deka.
"bangunin aja lah kak Zidan lama tau nunggu gini gak sabar lagi sumpah"ucap sisi yang sudah ingin menghajar deka membuat Zidan mendelik namun gak menampik jika dia juga membenci deka namun gak sebenci sisi dan Bianca.
Zidan berjalan dekat ke arah botol yang sudah ada di sana dan membuka nya Tampa aba-aba Zidan langsung menyiram wajah deka ya tertidur membuat nya tersentak dan terkejut.
deka ingin mengumpat orang yang melakukan nya namun terdiam ketika melihat di depan nya ada Zidan Tian Bianca dan sisi.
"selamat malam"sapa sisi manis namun tak di pungkiri jika tercetak senyum iblis di sana membuat deka menenguk ludah kasar.
"ngapain kalian di sini"ucap deka menatap mereka dengan was-was.
"oooo,, kenapa takut santai aja kali kita gak bakal bunuh Lo ko cuma mau main-main dikit aja"ucap Bianca yang kini berjalan mendekat ke arah deka yang tersentak menatap meta gadis di depan nya yang menyeramkan.
Tian bahkan terkejut ketika mendapati calon istrinya yang kini sangat menyeramkan.
"L-lo berhenti, gue bilang berhenti anjeng"sentak deka.
"BANGSAT "
bughh...
bughhh...
deka termundur saat tubuh nya mehantam tembok iya tersentak mendapati Bianca yang menonjok perut nya dan menendang rahang nya.
"ini pelajaran untuk Lo yang udah hancurin hidup gue deka"ucap Bianca marah.
plakk...
"dan ini balasan untuk Lo yang udah semena-mena sama keluarga gue"
bughh.
arghhhhh.
deka menggerang sakit ketika merasakan rahang nya di tonjok oleh Bianca.
"bangsat Lo"ucap deka menatap nyalang ke arah Bianca deka pun berdiri mengepalkan tangannya kuat.
"mati aja lo-"
bughhhh...
"jangan sentuh calon istri gue"ucap Tian menatap ke arah deka yang hampir memukul Bianca.
Bianca yang tak sadar pun tersentak menatap Tian yang kini melindungi nya.
"Lo apa-apa an anjeng, Lo gak usah ikut campur"ucap deka.
"salah gue belain dia, kan dia calon istri gue"ucap Tian tersenyum tipis ke arah deka yang tersentak.
"heh, Lo gak tau apa jika dia udah pernah tidur sama gue"ucap deka berdecak menatap sinis ke arah Tian.
Tian yang mendengar nya mengepalkan tangannya kuat dengan rahang yang mengeras.
"brengsek Lo"
bughh...
bguhh...
"cih,, setidaknya dia gak hamil? berbeda kaya Lo yang ngehamilin anak orang tapi gak mau tanggung jawab"ucap Tian.
"najis tau gak gue liat Lo"ucap nya lagi deka ya mendengar nya menatap tajam ke arah Tian namun iya sama sekali tidak bisa bergerak ketika merasakan rasa sakit di tubuh nya.
sisi iya maju dan.
plakk...
"ini buat Lo dan juga keluarga Lo yang bikin keluarga gue hancur"ucap sisi deka iya terdiam merasakan tamparan yang sangat dahsyat itu.
"gue gak mau mukul Lo ya, karena gue pikir teman-teman gue udah buat balas in dendam gue"ucap Zidan.
"udah lah cabut kita"ucap Zidan yang langsung keluar muak juga melihat deka ya sudah babak belur saat ini.
Tian Bianca dan sisi saat ini keluar mengikuti Zidan dan tak lupa mengunci pintu itu dan setelahnya pergi dari sana meninggalkan deka yang kini menatap mereka dengan tatapan tajam dan tangan mengepal.
di sisi lain sudah ada Rafani Devi dan Akila menatap datar ke arah zela yang kini meringkuk sambil terisak kecil.
sedari tadi mereka bertiga tidak ada yang berhenti untuk menghina mencaci dan membully zela untuk melimpahkan kemarahan mereka selama ini.
bukan, bukan Rafani yang melakukan zela menjadi kacau seperti ini tapi kedua sahabatnya yang membalas kan dendam mereka yang tertahan sedari dulu.
"Lo itu manusia capek pantes aja jadi pemuas nafsu"ucap Devi memandang datar ke arah zela.
"gue kalo gak ingat Lo lagi hamil gue Pasti in Lo gue gampar sampe pingsan beneran dah"kesal Akila.
"gue gak ada salah sama kalian"elak zela membuat Akila dan Devi terkekeh.
"gak ada Lo bilang, terus selama ini apa emang nya hah, Lo pikir selama ini Lo gak cari masalah sama kita"ucap Devi sakras.
"ya itu karena azahra yang cari perhatian dasar azahra caper"ucap zela.
plakk...
plakk...
zela terdiam kaku saat merasakan perih dan kebas di pipinya iya menatap ke arah sosok gadis yang kini menatap nya tajam membuat nya menciut dengan tubuh bergetar.
"gue sedari tadi berusaha gak mukul Lo ya, tapi kaya nya Lo gak butuh belas kasihan dari gue"ucap Rafani menatap nyalang zela.
"Lo siapa berani nampar gue setan"ucap zela.
Rafani mendekat dan mencengkram kuat rahang zela yang membuat zela merintih kesakitan.
"Lo gak perlu tau siapa gue, tapi yang jelas kalo Lo gak lagi hamil gue Pasti in hari ini kematian Lo"ucap Rafani dan menyentakan muka zela kesamping yang membuat zela meringis karena terhantuk tembok.
"aisss,. udah lah cabut kita Ra gak ada gunanya ngurusin dia masih banyak perkerjaan yang lain"ucap Akila yang sudah muak melihat zela.
Rafani yang mendengar itu hanya mengangguk iya keluar dari ruangan itu yang di ikuti oleh kedua sahabatnya sambil menatap sinis ke arah zela yang kini tertunduk.
kini mereka semua berkumpul di ruang tamu dengan keriuhan di mana semua anak remaja itu tengah asik melakukan sesuatu di sana.
terlihat jika tilo gion Aryan dan fatan yang sibuk dan rusuh sambil bermain game dan ada juga sisi Clara bela yang sibuk nonton drama Korea kesukaan mereka.
dengan Akila Devi dan Velia yang kini bermain game truth or dare dan ada Bianca dan Tian yang baru pulang habis mengecek gaun pernikahan mereka namun sekarang malah bergulat sambil Jambak membuat Rafani menggeleng tak habis-habisnya.
tak jauh dari sana ada Giovan Zidan Dila dan alfatan yang entah kenapa makin lengket dengan Dila entah apa yang mereka lakukan nampak sekali tidak terganggu dengan keributan di sekitar nya.
tak jauh dari tempat nya berada Rafani tertegun kecil ketika melihat ke arah ceshen yang kini sibuk dengan layar laptop di hadapannya dengan jari-jarinya yang menari-nari di atas papan keyboard membuat Rafani Tampa sadar tersenyum tipis melihat wajah ganteng yang kini terlihat adem dan damai.
"mungkin sekarang kita masih bisa berkumpul seperti ini tapi tidak tau untuk selanjutnya"Guam Rafani pelan menatap ke arah teman-temannya sambil tersenyum tipis.