Rafani Azahra

Rafani Azahra
sebuah rumah



sudah satu Minggu berlalu dan begitu pula sosok azahra tidak pernah menampakkan diri di manapun mengganti nomor ponsel nya dan mengganti identitas nya menjadi Rafani Azahra mengingat ini adalah kesempatan di mana sosok Gio yang menyuruh nya dengan beralasan biar tidak ada yang melacak nya Rafani tentu senang dia bisa memakai namanya kembali toh dia mengambil tubuh azahra juga akan segera membayar nya untuk membalas dendam terhadap keluarga nya jadi ya tubuh nya akan miliki dia.


sosok gadis yang kini mengenakan celana kulot hitam dipadukan dengan baju kaos berwarna Sage dan jangan lupakan tambahan Hoodie warna hitam yang membalut tubuhnya.


dengan rambut yang terurai dengan kacamata blue jelly yang berteger di hidung mancungnya.


ya bener sosok azahra kini iya keluar dari apartemen milik gio karena mengingat iya dan laki-laki itu memiliki janji.


Rafani turun dari gedung apartemen menuju mobil yang di berikan oleh gio terhadap nya entah dengan alasan apa setiap dia bertanya gio hanya menjawab tinggal pake aja dan setelah nya Rafani tidak banyak ngomong toh untung juga bagi nya.


Rafani mengendarai mobil sport berwarna merah itu keluar dari lingkungan apartemen iya melajukan mobil itu untuk kesebuah tempat yang sudah di janjikan nya dengan gio tempo hari.


beberapa menit kemudian iya sudah sampai di depan sebuah cafe Rafani pun memarkir kan mobil nya dan berjalan masuk ke dalam cafe.


sesaat iya menatap pengunjung cafe memastikan jika Giovan sudah tiba di sana, tepat di pojok Rafani menatap Giovan yang tengah mengangkat tangan nya sebagai isyarat kalo dia dah ada di sana tampa banyak mikir Rafani pun berjalan mendekat ke arah nya.


"duduk di sana"ucap gio ketika sudah melihat Rafani dah mendekat Rafani yang mendengar nya pun mengangguk.


"eh,, ini ko ada makanan sama minuman nya"ucap Rafani menatap gio dengan kilatan tanya.


ya benar beberapa hari dia tinggal di apartemen laki-laki itu membuat Rafani akrab dengan nya dan di sini gio sadar jika sebenarnya Rafani itu wanita yang baik hanya aja judes ketika dia gak terlalu kenal apa lagi orang yang sok kenal.


"iya gue sengaja langsung pesenin buat Lo? so jadi gak usah sungkan-sungkan"ucap gio sambil tersenyum dan sekilas mengacak rambut Rafani yang membuat bibir Rafani manyun yang membuat gio terkekeh.


benar Rafani tidak pernah marah sama sekali apa yang di lakukan gio sama dia selama ini karena dia tau dari sorot mata gio memancarkan aura baik bahkan gio pernah mengatakan jika dia menganggap rafani sebagai adx nya sendiri yang membuat Rafani tentu aja berasa mau nangis namun di tahan-tahan waktu itu.


"CK, kebiasaan deh Lo mau buat gue gendut iya"julid Rafani yang membuat gio ketawa renyah.


tentu saja interaksi keduanya membuat pengunjung kafe jadi iri karena mengingat kafe ini khusus anak dewasa jadi ya biasa lah tongkonan.


"gak usah julid, selama ini Lo makan banyak gak pernah gendut-gendut deh perasaan? malah pipi Lo yang tambah gede gue jadi heran kek nya makan Lo turun ke pipi deh bukan ke perut"ucap giovan sambil terkekeh Rafani yang mendengar itu mendengus masa bodo.


"sebelum makan cuci dulunya azahra sayang ku"ucap gio yang membuat Rafani mendengus.


"gue heran kenapa Lo masih manggil gue Azahra tapi Lo nyuruh buat gue ganti identitas "ucap Rafani.


"kenapa karena sebenarnya elo emang Rafani "ucap gio sambil tersenyum tipis Rafani yang mendengar nya serontak terkejut bukan main.


"mak-maksud Lo"ucap Rafani.


"udah makan dulu? entar ada yang mau gue omongin "ucap gio yang di turutin oleh Rafani.


"udah"ucap giovan.


Rafani yang mendengar nya pun mengangguk Giovan yang melihat itu tersenyum kecil.


"ya udah ayokk jalan"ucap giovan saat sudah berdiri dari duduk nya Rafani yang melihat itu menaik kan sebelah alis nya.


"jalan? bukan nya elo mau cerita ya"ucap Rafani menatap Giovan.


"CK, entar aja gue ada sebuah tempat yang mau gue kasih tau ke elo"ucap giovan yang menarik Rafani keluar kafe.


setelah nya mereka pun berjalan ke arah luar cafe Giovan berjalan ke arah mobil nya yang di ikuti oleh Rafani setelah nya mobil mereka berdua pun keluar dari pangkaran cafe.


gio menatap ke arah kaca belakang dan melihat mobil Rafani iya tersenyum tipis menatap mobil itu yang terus mengikuti nya.


sedangkan di posisi Rafani iya kembali mengendus ketika tau jika yang di tuju nya sangat lah jauh.


"CK, mau ke mana sih gio ah"ucap nya kesal namun tetap mengikuti mobil Giovan yang melaju di depan nya.


jalan yang panjang dan berbelok-belok di lalui oleh Giovan dan Rafani dengan di tempuh selama 6 jam lamanya jujur Rafani yang mengikuti mobil Giovan terus-menerus mengumpat kalo dia tau bakal lama seperti ini dia lebih milih ikut satu mobil sama tuh anak aja dri pada kek gini badan nya pegal-pegal semua.


tak beberapa lama Rafani menatap heran ke arah mobil Giovan yang sudah masuk ke sebuah pangkaran mewah serontak Rafani yang menatap tempat ini dengan tubuh yang sudah kaku iya tau ini rumah siapa ini adalah rumah nya dulu tapi ko bisa gio membawa nya ke sini pikir nya.


jujur aja Rafani saat ini tidak bisa berkata apa-apa lagi bahkan dia menatap rumah yang selama ini menjadi tempat tumbuh nya dia jujur iya kangen sama rumah ini untuk beberapa beberapa hari lalu.


giovan sendiri sedari tadi mengumpat menunggu mobil Rafani masuk pangkaran rumah itu namun apa sosok itu belum juga nongol-nongol.


"mau turun atau gimna"tegas Giovan yang membuat Rafani tersentak Rafani menatap Giovan dengan terkejut kapan dia ke sini pikir Rafani.


"cepat ah jalan"ucap kesal Giovan yang sudah duduk di samping nya Rafani yang netobe nya masih Linglung hanya mengangguk Giovan yang melihat itu menggeleng.


"bentar lagi "di batin Giovan menatap sendu kearah Rafani yang menjalankan mobil nya masuk ke pangkaran rumah itu.


saat sudah sampai di halaman itu Giovan dan Rafani turun dan berjalan ke arah teras rumah mewah itu.


"Lo tau di mana soal rumah ini"ucap Rafani yang sudah penasaran namun Giovan hanya diam tanpa menjawab Rafani yang melihat itu hanya menatap nya datar.


saat pintu terbuka Rafani dan Giovan masuk ke dalam rumah itu Rafani menatap isi dalam rumah nya yang dulu tidak ada perubahan sama sekali gak itu membuat Rafani berusaha keras menahan isak tangis nya iya menggigit keras bibir bawah nya dan mati-matian menahan air matanya.