
"udah kan? kalo gitu Fani pergi dulu"ucap Rafani yang melihat tidak ada lagi yang mau di bicarakan.
ceshen yang sedari tadi menatap Rafani yang entah kenapa seperti terburu-buru mengangkat alisnya bingung.
"emang mau ke mana sih Lo"ucap Devi mendekat ke arah rafani.
"gue ada urusan benar"ucap Rafani.
"CK, jarang tau kita ngumpul lagi elo kek sibuk sendiri Ra"ucap Akila sambil mayun.
Rafani yang melihat itu pun menghela nafas nya berat memijit pelan pangkal hidung nya.
"sorry,, gue emang ada urusan kali ini gak bisa ajak kalian"ucap Rafani.
"kenapa gak aja gue"ucap ceshen yang membuat Rafani menatap ke arahnya.
"Lo baru sembuh? gue gak bisa ngajak Lo ribet"ucap Rafani.
"cih, gue gak minta di lindungi sama Lo"ucap ceshen.
"Halah, taekkk kemaren Lo juga dan tepar baru dua tusukan "ucap Rafani yang membuat semua orang melongo.
"sadar gak sih omongan Lo Barusan "ucap Zidan yang Menoyor kepala Rafani.
"CK, apa an sih zi? salah gue di mana kan bener dia tusukan Lo gue aja yang enam tusukan masih bisa bangun "ucap Rafani lagi yang membuat semua orang mengumpat.
"eh,, titisan iblis kenapa sih galak amat"Guam Johan menatap murid nya heran.
"apa sih om jo, Rafani lagi ada urusan sumpah jangan pada ganggu napa sih"ucap Rafani lagi.
"ya urusan nya apa"ucap Edward berusaha sabar menatap cucu.
"emang kamu mau ke mana Fani"ucap Abraham menatap ke arah putrinya.
Rafani yang mendengar itu terdiam iya sambil menghela nafas panjang nya.
"aku ada janji sama Kaka Velia buat mata-mata in satria"ucap Rafani yang membuat para pembisnis itu terkejut.
"kenapa kamu gegabah Rafani"sentak Abraham membuat Rafani terkejut.
"salahnya di mana yah"ucap Rafani.
"dia bukan tandingan kamu? jangan mau gegabah seperti ini kalo kamu salah langkah kita bakal kena semua"ucap Johan lagi Rafani yang mendengar nya mengangguk.
"aku tau? awal nya mau ngajak ceshen dan yang lain tapi gak bisa mengingat sosok satria harus aku dan Kaka Velia yang turun tangan"ucap rafani lagi.
"RAFANI"bentak Abraham membuat semua orang Terkejut.
"ayah bilang enggak ya enggak, serah in dia sama kami"ucap Abraham lagi.
"bukan nya dengan ayah yang turun tangan bakal merusak rencana kita"ucap Velia yang kini memasuki rumah karena memang iya dri luar.
semua orang menatap ke arah Velia yang kini berjalan pelan ke arah rafani.
"kalian berdua gak usah kaya gini bisa hah? dia bukan lah orang sembarangan berhenti bertindak gegabah seperti ini"tegas Abraham membuat Rafani mengepalkan tangannya kuat.
"apa sih ya-"kata-kata Velia terhenti di kalah melihat adx nya yang sudah hilang kendali.
arghhhhh setan.
crangggg.
semua orang membalak terkejut ketika melihat sosok Rafani yang berjalan ke arah sang Abraham dan langsung menendang meja kaya yang harganya miliaran itu.
"APA? HAH APA"bentak Rafani dengan tatapan tajam nya.
Johan yang melihat kemarahan Rafani hanya bisa mengelus dadanya sambil menghela nafas.
"bisa gak diam aja di sini? gak usah ikut campur apa yang ayah takuti hah"ucap Rafani lagi.
"nunggu kalian gerak yang ada lama sedangkan rencana gue udah setengah"ucap nya lagi membuat semua orang terdiam.
"maksud"
"iya? Rafani ngasih tugas ke kita masing-masing untuk menjalankan rencana dan di lihat 5 persen bakal berhasil"ucap Zidan lagi.
"anjeng? ko gak ada yang ngasih tau gue"ucap ceshen yang tiba-tiba gak terima.
"tugas Lo sama Rafani? makanya sembuh dulu biar enak kalo di bacok gak pingsan"ucap tilo yang mendapat tendangan maut oleh ceshen.
kembali lagi dengan Rafani yang di mana iya masih menatap nyalang ke arah sang ayah.
"apa ayah sadar nya? jika yang turun tangan kalian maka semuanya bakal hancur berbeda dengan aku dan yang lain di mana kemungkinan berhasil nya 5 persen"Rafani menatap ke arah ayah nya yang terdiam dengan Helaan nafas.
"seharusnya gak ada yang cari masalah sama rafani, gak ada yang tau apa perasaan hati nya lagi berantakan kaya banyak beban yang di tanggung nya , kenapa sih suka banget cari gara-gara heran, pada lupa apa kalo dia bukan orang yang kalo emosi tinggal pergi paling tidak mati dulu baru pergi"ucap fatan yang sudah geleng-geleng menatap keberingasan Rafani.
ceshen yang mendengar itupun hanya diam menatap sosok Rafani dengan alis terangkat.
"gue ikut sama Lo"ucap ceshen berjalan pelan ke arah rafani.
"Lo belum sembuh"ucap Rafani lagi.
"gue gak perduli kalo pun Lo gak ajak gue? gue bakal ngikutin"ucap ceshen membuat Rafani mendengus kesal.
"giovan Lo ajak Tian dan fatan tugas dah gue kasih tau"ucap Rafani.
"Zidan sisi dan Dila, tau kan"ucap Rafani menatap teman-teman nya.
"tilo Aryan dan bela lakukan semuanya jangan Sampe ketahuan"ucap Rafani yang di angguki oleh mereka.
"dan untuk Akila Devi dan ataksar, lakuin yang udah gue kasih tau sama Devi"ucap Rafani Vero yang mendengar penggalan dari Rafani menjadi tersentak iya tau kesalahan sangat fatal bahkan meminta maaf saja iya tidak berani sekarang.
"dan ceshen Kak Velia sama gue bakal urus ketua mereka yang sebenarnya "ucap Rafani lagi.
"jadi ini udah kamu rencana kan rafani"ucap Edward menatap gak menyangka sama cucunya.
"udah ku bilang murid ku lebih cerdas dari pada anak mu om Edward makanya semua gerak nya gak terbaca namun hasil nya gak pernah salah"ucap Johan bangga membuat Rafani Zidan dan Leon memutar bola matanya jengah.
"cih,, dasar anak mu Leon belagu"ucap Edward mendelik yang mendapat kekehan dari Leon.
"Rafani"ucap Abraham.
"cabut"ucap Rafani langsung mengkode membuat semua orang mengangguk dan mulai keluar untuk menjalankan misi masing-masing.
Abraham yang melihat putrinya nampak sedang tak bisa di ganggu hanya berdecak kecil ini salah dia yang terlalu meremehkan sang putri namun dia sangat khawatir.
"kau tenang lah Abraham, percaya lah sama putri nya gak akan ada yang bisa menyentuh dia"ucap Johan yang di angguki oleh Abraham dengan lemah.
"sudah mas tenang lah"ucap Wina menatap sang suami dengan tersenyum.
"aku gak menyangka jika putri kita tumbuh dengan dengan seperti ini, namun aku tidak menyalakan siapapun karena aku tau. dengan seperti inilah dia bakal menebas semua kekejaman dunia? namun aku menyesal yang gak melihat cara pertumbuhan nya menjadikan aku laki-laki sosok ayah yang gagal dalam mendampingi putri kita? Dahlia maaf kan aku"batin Abraham ketika melihat kepergian putri nya dan yang lain.