Rafani Azahra

Rafani Azahra
masih hidup



sekitar dua jam dan sekarang Rafani berserta yang lain sudah sampai di depan sebuah vila berlantai dua, Rafani turun dari mobil menatap ke arah depan dengan tersenyum tipis di mana iya bisa merasakan kenyamanan melihat hamparan rumput berserta bunga di sekitar tempat tersebut.


"hahhhh, akhirnya Samapi juga"ucap Akila yang kini merenggangkan kedua tangannya.


"sudah selesai semuanya tinggal masuk aja"ucap giovan yang sudah berjalan bersama alfatan.


melihat hal itu Rafani dan yang lain pun melangkah mengikuti langkah dua laki-laki tersebut.


brukk...


Akila dan yang lain kompak menjatuhkan tubuh mereka ke sofa yang di ikuti oleh ceshen dan Rafani.


"ko capek banget ya"Guan Akila yang kini bersandar pada Aryan.


"istirahat dulu aja"ucap Aryan yang di angguki oleh Akila pelan.


"siapa aja yang ada di sini"ucap Rafani menatap ke arah Giovan dan alfatan.


"tiga pembantu dua penjaga"ucap giovan yang di angguki oleh Rafani.


"tugas mereka"ucap Rafani menatap ke arah Alfatan.


"bi arsi dapur, bi Nina beres-beres, bi ayu belanja"ucap alfatan membuat Rafani mengangguk.


"keluar kan bi ayu"ucap Rafani yang langsung berdiri membuat semua orang menatap ke arah nya.


"kenapa"ucap Zidan menatap bingung ke arah gadis tersebut.


"mata-mata"ucap Rafani yang kini langsung berjalan menaiki tangga.


melihat hal tersebut membuat mereka saling tatap." gimna sen"ucap Zidan menatap ke arah ceshen yang terdiam.


"apa kalian gak cari tau"ucap Zidan menatap ke arah Giovan dan alfatan.


"udah, cuma di data gak ada yang curiga perasaan"ucap giovan yang di angguki oleh alfatan.


"cari cara, keluar kan bi ayu"ucap ceshen yang di angguki oleh Giovan dan alfatan.


setelahnya mereka pun memilih untuk masuk ke kamar masing-masing dan kembali setelah akan melakukan makan malam.


di dalam kamar Rafani saat ini gadis tersebut menatap lurus ke layar laptop nya dengan sesekali mengetuk-ngetuk jari nya di meja.


"gue yakin dia masih hidup"Guam Rafani menatap ke arah layar tersebut.


Rafani meraih ponselnya di kala mendengar ponsel tersebut berdering."ada apa van"ucap Rafani di saat sudah mengangkat panggilan tersebut.


"yang Lo Minta gak gue temuin cctv nya gak bisa gue lacak"ucap giovan membuat Rafani tersenyum miring.


"saat itu siapa yang ada di sana"ucap Rafani yang kini menatap fokus ke laptop.


"akila, Aryan,gion,tilo,Zidan"ucap giovan membuat Rafani mengangguk.


"CK, dokter waktu itu"ucap Rafani yang di angguki oleh Giovan.


"Lo benar-benar sosok ayah yang baik Arsenal "Guam Rafani yang kini menutup laptop nya.


Rafani bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar menuju lantai satu di mana ruangan tempat meja makan berada.


saat tak jauh dari sana Rafani dapat melihat sudah ada yang lain di sana, Rafani menoleh ke arah sekitar sebentar sebelum melanjutkan langkah nya.


"Ra"Rafani mengangguk di saat melihat Akila yang kini tersenyum ke arah nya.


"udah semua"ucap Rafani yang di angguki oleh yang lain.


"makan sekarang"ucap Akila menatap ke arah yang lain.


Rafani terdiam menatap ke arah masakan di hadapannya, semua orang yang melihat itu kompak diam menatap ke arah ceshen yang juga fokus akan makanan tersebut.


"siapa yang masak"ucap Rafani menatap ke arah Giovan dan alfatan.


"bi arsi"ucap giovan.


"Zidan"Zidan yang mendengar hal tersebut mengangguk iya menatap intens ke setiap makanan dan meraih masing-masing satu menu lalu di cium nya.


"apa kalian sudah pecat bi ayu"ucap Zidan membuat Giovan dan alfatan saling pandang.


"emang kenapa, udah gue tadi minta bi arsi yang mecat dia"ucap giovan.


"CK, jangan bilang jika kalian belum tau masing-masing muka nya"ucap Aryan membuat Giovan dan alfatan terdiam.


"huffff,, keruangan gue sekarang"ucap Rafani membuat mereka menatap ke arah nya.


"lah gak jadi makan"ucap Akila menaikan alisnya bingung.


"kalo Lo mau sakit perut makan aja"ucap Zidan membuat Akila terkejut.


"ko"


"makanan nya dah di Campur sama obat sakit perut"ucap Zidan yang kini bangkit menyusul Rafani.


"kita pesan aja"ucap Aryan yang kini merangkul Akila dan mengikuti langkah yang lain.


________


di dalam kamar Rafani saat ini Rafani sudah duduk di atas kasur nya dengan Akila jangan lupakan para laki-laki yang kini sudah duduk di sofa yang berada di sana.


"Zidan cari tau tentang bi arsi dan bi ayu"ucap Rafani yang di angguki oleh Zidan.


"Giovan sama alfatan kalian dan tau bukan"ucap Rafani yang di angguki mereka berdua.


"sen, Lo harus liat ini"ucap Rafani membuat ceshen menyengit.


"apa emang"ceshen mendekat ke arah rafani dan menatap layar laptop gadis tersebut.


"Aryan sama Akila, pastikan semuanya"ucap Rafani yang di angguki mereka.


ceshen menatap ke arah rafani yang kini juga menatap ke arah nya.


"apa kalian lengah soal ini"ucap Rafani membuat ceshen terdiam.


"dia masih hidup"ucap Rafani.


"kita di tipu ternyata"ucap ceshen yang membuat Rafani tersenyum.


"di tipu apa an"ucap Aryan yang tadi mendengar ucapan ceshen.


"zela ternyata dia masih hidup"Zidan,Akila dan Aryan kompak melotot.


"loh ko bisa, bukan nya waktu itu kita datang saat dia di kubur kan"ucap Akila yang tak percaya.


"awal nya gue juga mikir gitu, tapi setelah kalian menceritakan soal meninggal nya zela, Rafani kasih tau gue buat cari tau cctv di rumah sakit tempat zela dulu dan di sini gue benar-benar gak habis pikir karena cctv di sana mati dan lebih parahnya dokter yang nanganin zela dulu gak tau ke mana"jelas Giovan semakin membuat mereka terkejut.


"gue tanya deh, apa kalian gak cek zela sebelum dia di kebumikan"ucap Rafani menatap ke arah mereka.


"gak Ra, waktu itu kita kaget dan kasian sama bayi nya zela maka dari itu Ketika dokter bilang mau bersihkan zela kita gak curiga sama sekali"ucap Akila.


"jujur kita ceroboh "ucap Zidan yang di angguki oleh yang lain.


Rafani yang melihat itu menghela nafas."al gimna tentang pembantu itu"ucap Rafani menatap ke arah alfatan.


"kita lengah hasil cctv di rumah ini, bi arsi hilang setelah menemui bi ayu "ucap alfatan membuat Rafani memijit pelipisnya.


"CK, Arsenal sialan "Guam Rafani.


"jadi gimna sekarang "ucap Aryan.


"cari keberadaan pembantu tersebut, kita pantau pergerakan Arsenal dan zela"ucap ceshen yang di angguki oleh yang lain.


"kali ini kita harus lebih hati-hati mengingat gue yakin si Arsenal pasti sudah mempunyai rencana matang"ucap alfatan.


"gue gak habis pikir, kita baru sampai dia dah tau aja"Guam Aryan yang Terkekeh kecil.


"ternyata waktu setahun bikin dia tambah liar"timpal Zidan yang di angguki yang lain.


"setidaknya kalo kita bisa nangkep dia di sini gak akan ada lagi sandiwara untuk memancing nya keluar "ucap Rafani yang di angguki oleh yang lain.