
"Tidak!!!!"
Lyn berteriak. Dia langsung terbangun dengan nafas tersengal. Keringat mengalir di seluruh bagian tubuhnya.
"Ummii sudah bangun?" Tanya Mark panik. Di belakangnya langsung berhamburan masuk. Lawrence yang langsung memeriksa kondisi Lyn.
"Abi....dia...bagaimana dia..apa dia tidak apa-apa?" Tanya Lyn dengan bibir gemetar. Air matanya mulai mengalir.
"Dia..." Mark sedikit ragu untuk menjawab.
"Dia selamat meski lukanya parah" Lawrence yang menjawab.
"Lalu sekarang dia dimana? Aku ingin melihatnya" Ucap Lyn sambil turun dari ranjangnya.
"Ummi...ummi dengarkan Abi dulu. Ummi masih...
Belum selesai Mark berbicara. Tubuh Lyn sudah sempoyongan hampir jatuh. Jika saja Mark tidak sigap menangkapnya.
"Yang Mulia Ratu jangan kemana-mana dulu. Istirahatlah dulu. Jika tidak, itu bisa membahayakan kandungan Anda" Ucapan Lawrence langsung membuat Lyn sadar. Ada bayi yang sedang dia kandung. Mengingat hal itu. Lyn langsung menatap Mark yang terlihat begitu panik.
"Abi...ini anak kita. Bukan anaknya" Bisik Lyn lirih.
"Iya ini anak kita. Lawrence dan Andreas sudah menceritakan semuanya. Maafkan Abi tidak tahu akan kehadiranmu, nak" Ucap Mark mengusap lembut perut sang istri.
Seketika senyum mengembang di bibir Lyn. Hilang sudah beban dihatinya.
***
"Kau yakin akan membawanya?" Tanya Albert pada Max.
"Itu permintaannya. Sebelum dia koma" Jawab Max sendu.
Akibat nekad menyelamatkan Lyn, dengan menghadang peluru yang melesat ke arah wanita itu. K mengalami luka tembak di punggung tembus ke paru-paru sebelah kiri. Mengakibatkan luka yang cukup serius di bagian organ vital pernafasannya itu.
Andreas kembali harus bekerja keras untuk menyelamatkan pria itu. Hampir 8 jam. Dia dan teamnya tidak keluar dari ruang operasi. Dan ketika dia keluar dari ruang operasi dia langsung ambruk di hadapan Max.
"Suruh dia berhenti jadi mafia. Kemarin ginjal sekarang paru-paru. Max aku tidak sanggup lagi" Ucap Andreas setengah menangis.
K memang kadang menyebalkan dan keterlaluan. Tapi dibalik itu dia yakin, K tidaklah seburuk yang orang kira. Meski psycho dan sadis iya.
Max tampak tertegun. Ingatan Max kembali ke malam sebelum K memutuskan untuk pergi ke markas Carlos terlebih dahulu sebelum kedatangan Mark.
"Berikan file ini pada Letnan Fao" Ucap K menyerahkan sebuah chip berukuran mini. K meletakkan di sebuah wadah bening transparan berbentuk kotak.
"Juga...jika terjadi sesuatu kepadaku. Bawa aku pulang" Pinta K. Yang langsung membuat Max menatap kaget juga cemas.
"Tuan...
"Semua urusan aku serahkan padamu" Ucap pria itu lantas berlalu dari hadapan Max.
Pesawat sudah siap tinggal landas. Andreas secara khusus mengantarkan K ke Jakarta. Tempat dimana pria itu menginginkan untuk kembali.
"Aku tidak tahu harus bagaimana?" Mark benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Pria yang biasanya penuh wibawa itu. Kini terlihat begitu frustrasi. Meski satu persatu masalah mulai bisa diatasi.
"Tuanku hanya melakukan apa yang harus dilakukannya, Your Highness"
"Terlepas dari dia yang begitu mencintai istri Anda" Batin Max.
"Di mana dia akan dirawat?" Tanya Mark.
"Rumah sakit miliknya sendiri" Jawab Max.
"Kabari aku jika dia bangun. Aku berutang nyawa juga berutang maaf padanya" Pinta Mark.
Dan Max langsung membungkukkan badan. Memberi hormat juga mengiyakan permintaa Mark. Sejurus kemudian Max sudah berlalu dari hadapan Mark dan yang lainnya. Masuk ke pesawat dan dalam hitungan detik pesawat itu mulai meninggalkan bandara Cote D Azur.
"Bagaimana aku menjelaskannya pada Lyn" Ucap Mark bimbang.
Dia tahu tidak ada perasaan apa-apa antara Lyn dan K. Tapi Lyn tahu jelas bagaimana K menggunakan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya juga bayinya. Rasa bersalah pasti memenuhi relung hati sang istri.
"Katakan sesuai dengan yang K inginkan. Katakan kalau dia tidak apa-apa. Dan dia kembali ke negaranya. Jika dia bangun nanti baru kau bawa dia untuk menemuinya" Saran Sebastian.
"Yang terpenting adalah kestabilan emosi Lyn. Dia sedang hamil. Akan berpengaruh buruk jika istrimu sampai mengalami stres apalagi jika sampai depresi" Albert menambahkan.
Mark terdiam. Lantas mengangguk. Mereka berjalan menuju pintu keluar bandara. Dimana sebuah mobil menunggu. Kali ini tanpa protokol resmi. Hingga tidak banyak pengawal yang ikut. Situasi sudah benar-benar terkendali. Klan mafia Black Chimaera terus beroperasi tapi tetap mengikuti ketentuan dari Mark. Baru kali ini ada raja dalam sejarah negara M yang bekerja sama dengan mafia.
Awalnya Fao benar-benar ingin menghajar K karena dalam rekaman itu yang terlihat adalah dirinya. Setelah tahu Carlos meletakkan racun di tungku perapian. K berusaha untuk mengambilnya kembali. Tapi sialnya, Ve datang langsung menyalakan perapian itu. Membuat K tidak bisa berbuat apa-apa.
Carlos sendiri langsung ditembak mati oleh Fao. Sebab setelah menembak K. Pria itu bermaksud menembak Mark. Jelas situasinya mengizinkan dirinya melakukan tembak mati ditempat. Sama seperti Miguel waktu itu.
"Bagaimana Ve?" Tanya Sebastian.
"Kau jangan Ve. Tanyalah soal Hans" Gelak Mark. Ve ketahuan hamil setelah dia pingsan karena kelelahan menghajar anak buah Carlos. Yang jadi hiburannya adalah Ve sama sekali tidak mengalami morning sickness. Tapi Hans yang tiap pagi muntah-muntah parah. Sampai lemas.
Bahkan Lawrence sampai harus menginfus pria bertubuh kekar itu.
"Enak kan?" Tanya Ve.
Hans hanya menggeleng lemah.
"Ampun boy, nggak-nggak lagi deh papa ngerjain mama tiap hari" Ucap pria itu asal. Dia yang ahli krav maga, menembak. Memanah. Ahli menghandle bisnis, tepar gara-gara kehamilan simpatik yang dia rasa.
Hans tidak berdaya sama sekali. Sedang Ve bisa begitu energik menikmati kehamilannya bersama sang kakak ipar, Lyn. Yang semenjak Ve hamil mulai bisa mengalihkan rasa bersalahnya pada K. Dan hal itu membuat Mark sedikit merasa lega. Melihat Lyn bisa tersenyum kembali.
Bulan berganti, hingga hari yang ditunggu tiba. Semua orang begitu cemas menunggu kelahiran sang putra mahkota. Bahkan Fao yang biasanya paling kalem terlihat begitu cemas. Dia seringkali melirik ke arah Rose, sang istri yang baru mengandung 2 bulan. Rose dan Ve saling berpegangan tangan sejak tadi. Ve tampak mulai susah duduk dengan nyaman. Mengingat kandungannya yang sudah memasuki usia tujuh bulan.
Sedang Albert sedikit teralihkan perhatiannya karena menggendong sang putri yang bernama Maria. Yang ikutan cemas justru Serena. Pasalnya dia melahirkan caesar jadi tidak tahu rasanya melahirkan secara normal.
Waktu terasa begitu lama. Hingga pintu ruang bersalin terbuka. Menampilkan wajah Mark yang begitu bahagia.
"Dia sudah lahir" Mark berucap singkat. Membuat semua orang mengucapkan rasa syukurnya.
Bersamaan dengan itu, di belahan bumi lain. Seorang pria nampak membuka matanya pelan. Seiring sebuah bisikan,
"Dimanapun kamu berada. Aku berharap kamu akan baik-baik saja. Lihatlah, dia yang kau selamatkan telah lahir. Dia begitu ingin melihat dunia. Tidakkah kau pun sama?"
"Sampai kapanpun aku tidak akan jatuh cinta padamu. Meski kau adalah wanita terakhir di dunia"
"Lily?"
Selanjutnya kalimat itu yang terngiang di kepala pria itu.
***
Sebulan sudah berlalu sejak kelahiran sang putra mahkota. Hari ini adalah hari dimana dia akan ditunjukkan kepada khalayak ramai. Salah satu tradisi di negara M. Putra dan putri raja akan dikenalkan kepada seluruh warga negara setelah berumur satu bulan.
Suasana begitu meriah. Seperti rona wajah Mark dan Lyn yang terlihat begitu bahagia. Mereka berdua berdiri di balkon istana Putih. Tempat Mark dan Lyn dinobatkan menjadi ratu. Dan kali ini sang putra yang langsung dinobatkan menjadi putra mahkota. Sorak sorai langsung menyambut kedatangan raja dan ratu mereka beserta putra mahkota.
"Bolehkah kami tahu nama dari putra mahkota?" Tanya seorang wartawan dari sudut kanan.
Sesaat Mark dan Lyn saling menatap. Lalu menatap bayi mungil yang berada dalam gendongan Mark.
"Namanya King Faaz Al Fattah"
Jawab Mark sambil tersenyum. Lyn langsung menatap ke arah sudut dimana keluarganya berada. Keluarga Lyn jelas terkejut. Ketika Richard diutus menjemput mereka seminggu yang lalu. Hampir saja Hanif menghajar adik iparnya itu. Karena merasa Mark membohongi mereka soal siapa dirinya.
Namun semua itu urung ketika sang bapak langsung turun tangan. Toh yang penting Mark benar-benar menjaga dan mencintai Lyn. Terlepas sekarang Lyn yang jadi ratu. Mungkin itu sudah jadi takdirnya Lyn. Apalagi sudah ada Faaz, cucu mereka yang begitu lucu dan menggemaskan. Siapa juga yang tahan, marah lama-lama begitu lihat wajah imut Faaz.
Di lain sisi, seorang pria tampak tersenyum melihat Ipad-nya. Dia belum bisa duduk sepenuhnya. Masih setengah bersandar di hospital bednya.
"Faaz? Namanya Faaz? Hope we'll meet soon, Boy"
(Semoga kita segera bertemu, Boy)
Pria itu tersenyum. Sambil menatap benda pipih itu.
END
***
Untuk Mark dan Lyn selesai sampai disini ya. Plan mau lanjut cerita K tapi tidak tahu kapan bisa launching...
Terima kasih support dan dukungannya..
Ketemu lagi di karya author selanjutnya...
Love you all readers....
***