
Saint Joseph Hospital, Paris
Adrian mengerjapkan matanya. Ini kedua kalinya dia membuka mata sejak dia berhasil melewati masa kritisnya. Sejenak dia merasa disorientasi tempat. Meski dia yakin masih ditempat yang namanya rumah sakit.
Sakit dan nyeri serta perih ia rasakan kala mencoba menggerakkan tubuhnya. Detik berikutnya dia menghentikan semua gerakannya. Dia pelan menarik nafasnya. Meski susah karena terhalang masker oksigen.
Ingatannya langsung kembali pada Veronika. Gadis itu berontak ketika Fao akan membawanya pulang. Hal terakhir yang dia ingat, adalah dirinya dan Ve sama-sama ambruk tidak sadarkan diri. Dia duga Fao sengaja melakukannya agar Ve tidak lagi berontak saat dirinya membawa pulang.
"Oh my God, kau sudah bangun sayang?" Satu suara lembut terdengar di telinga Adrian.
"Panggilkan dokter, Pa!" Lanjut suara itu lagi.
Sejenak mata Adrian bertemu dengan mata coklat sang Mama. Ada kecemasan luar biasa dalam sorot mata mamanya. Namun wanita itu berusaha tersenyum. Selanjutnya dilihatnya wajah Papanya. Yang datang bersama dokter dan perawat.
"Kamu pulang...ini di Paris" Sang Mama memberitahu.
Seolah menjawab pertanyaan Adrian lewat sorot matanya. Adrian terkejut mendengar ucapan Mamanya. Ingin bertanya kapan dia dipindahkan. Tapi tidak jadi. Otaknya yang masih normal langsung berpikir. Jika dia pulang. Berarti Ve sangatlah dekat dengannya. Mengingat Prancis dan negara M adalah tetangga. Mengingat hal itu senyum hampir terkembang di bibir Adrian di balik masker oksigennya.
"Keadaanmu membaik. Tapi jangan banyak bergerak dulu. Ingat tulang rusukmu patah dua" Papa Adrian berucap setengah bercanda.
"Sebentar lagi mereka akan mengganti masker oksigenmu dengan selang oksigen. Jadi kau boleh ngomel kalau kau mau" Lagi Papa Adrian berceloteh.
Adrian mengerutkan dahinya. Dia jadi tahu darimana otak somplaknya berasal jika sedang kumat. Ternyata Papanya biang keroknya. Sudah tahu anak hampir bablas masih juga diajak bercanda.
"Ma..." Panggil Adrian ketika selang oksigen sudah terpasang di hidung mancungnya.
"Apa?"
"Ad, baru tahu kalau Papa itu sengklek juga"
Satu pelototan langsung Adrian terima.
"Tu kan Ma...suruh mereka pasang lagi masker oksigennya. Sekalinya ngomong kok bikin sakit hati" Drama sang Papa.
Adrian hampir tertawa namun tawanya langsung berubah jadi ringisan ketika nyeri menyerang dadanya. Di bekas operasinya.
"Kapok ora? Makanya jangan durjana sama orang tua" Celetuk papa Adrian.
Adrian melongo.
"Ma, sejak kapan Papa jadi gaul gitu bahasanya" Adrian kepo.
"Tahu deh...sejak gaul sama Mark dan cs-nya mungkin"
"Isshh mana ada. Mark lempeng..kaku kayak papan" Adrian protes.
"Mana ada. Dia kemarin jadi anak yang manisnya melebihi gula satu ton. Ketika bertemu temanmu"
"Teman Adrian?" Adrian mengerutkan dahinya mendengar ucapan sang Mama.
"Teman Adrian? Iz?" Adrian balik bertanya.
"Bukan, teman kamu yang perempuan pakai hijab. Aiihh siapa Pa namanya kemarin" Mama Adrian bertanya sambil menengok ke arah sang suami yang duduk di sofa.
"Lyn..." jawab Papa Adrian sambil lalu.
"Ha? Lyn? Kalian bertemu Lyn? Kok bisa?" Adrian jelas penasaran.
"Ya cuma ngobrol aja. Tak kira kamu suka sama dia. Ternyata enggak. Cantik lo anaknya"
"Cantikan juga Ve...uuppsss" Adrian keceplosan.
"Oohh jadi dia yang bikin kamu betah di sana. Telepon nggak pernah. Ngasih kabar tidak pernah..
"Kan Iz sudah laporan" Potong Adrian cepat.
"Yo lain toh. Jadi suka nih ceritanya sama adiknya Mark?" Pancing Mama Adrian.
"Adrian bahkan sudah ngajakin dia nikah" Lirih Adrian.
"What?!!! Terus-terus...dia jawab apa?" Gantian Mama Adrian yang kepo.
"Belum ngasih jawaban" Adrian menjawab sendu.
"Kapok nggak" Seloroh Papa Adrian dari sofa tanpa menoleh ke arah Adrian.
"Kamu kena batunya Adrian. Dulu kamu sering main-main sama perempuan. Sekarang begitu ada yang kamu suka. Dia menggantungmu" Ledek Papa Adrian sambil tertawa jahat.
"Papa.....awwww...aarggghhh" Adrian menjengit kala nyeri itu datang lagi.
"Kan benar ucapan Papa" Ledek Papa Adrian lagi. Adrian langsung mendengus kesal.
"Kenapa Ma?" Tanya Adrian melihat mamanya menatap tajam padanya.
"Kamu belum apa-apain adiknya Mark kan? Bisa digantung kamu sama Mark kalau adiknya kamu emek-emek" Sang Mama mengintimidasi Adrian.
"Nggak kok. Eehh belum sempat. Cuma ciuman doang plus.... nyusu..."
Pletakkk
"Aduuuhhh Mama sakit...awwww..."
"Rasain jadi anak kok nggak sadar-sadar. Dia itu bukan wanita biasa kedudukannya beda...bisa-bisanya kamu main embat aja" Omel sang Mama.
"Ma....Adrian baru juga balik dari alam au ah gelap. Sudah dapat omelan bak kereta subway" Keluh Adrian.
"Lagian kamu bisa-bisanya ngomong sudah... ah tau ah" Geram Mama Adrian.
"Habisnya Adrian kesal. Dia tengah malam nyolong keluar dari apartemen. Adrian buat pergi ke klub. Terus Adrian tanya kenapa kamu pergi ke klub. Mama tahu jawabannya apa. Dia penasaran sama yang namanya ciumanlah, kehidupan klub malamlah. La aku tantang aja sekalian. Mau free **** juga. Aku bisa berikan itu semua...aduuhhh" Satu toyoran mendarat di kepala Adrian.
"Dasar bocah gemblung...terus kamu praktek sama dia gitu?" Desak Mama.
"Maa..Adrian ini sakit, baru juga melek dari kritis sudah diserang secara psikis dan fisik" Keluh Adrian.
"Ya habisnya kamu itu ada-ada aja. Nurutin kemauan adiknya Mark yang aneh" Kesal Mama Adrian.
"Adrian cuma praktek sampai nyusu doang Ma..."
"Nggak bangun yang dibawah?" Seloroh Papa Adrian.
"Ya bangunlah. Wong Ve seksinya ke mana-mana...aduh KDRT Ma...!" Satu keplakan mendarat di lengan Adrian. Saking kesalnya dia dengan kelakuan sang putra. Masa bodoh sang anak baru sadar dari masa kritisnya.
"Bodo! Aduh Pa ....Mama yang darah tinggi sekarang" keluh Mama Adrian.
Sang Papa langsung terbahak-bahak dari tempatnya.
"Baru tahu kan Ma. Rasanya ngadepin bocah tengil itu. Papa jadi heran kok Iz nggak pernah ngeluh ya tiap laporan sama Papa" Papa Adrian sejenak berpikir.
"La wong Iz sama tengilnya kaya Adrian" Seloroh Adrian mengusap lengannya yang kena keplak sang Mama.
"Wo la pantes" Ucap Papa Adrian kembali ke laptopnya.
"Jadi maumu apa?" tanya Mama Adrian setelah berhasil meredakan sakit kepalanya.
"Soal?" Adrian balik bertanya.
"Veronikalah..siapa lagi. Tak kira kamu suka sama Lyn"
"Lyn incarannya Mark" Potong Adrian cepat.
"Ha?" Mama Adrian sampai melongo mendengar ucapan Adrian.
"Tapi kan mereka...
"Mark mualaf sejak sebulan lalu" Tambah Adrian lagi.
"Ha?" Mama Adrian kembali melongo.
"Isshh Mama ini ha..ha...terus. Ini top secret ya Ma. Mama tahu kan keadaan di sana lagi krusial. Gara-gara Fao menembak Miguel. Orang yang menembak Adrian. Meski tidak sengaja. Karena awalnya Miguel ingin menembak Ve. Tapi Adrian pikir Miguel pantas mati. Dia hampir melecehkan Ve Ma..."
"Adrian hati-hati dengan ucapanmu. Yang kamu bicarakan berhubungan dengan masalah internal kerajaan M. Meski secara tidak langsung kamu sudah terlibat di dalamnya. Tapi tetap berhati-hatilah saat berbicara. Urusan mereka tidak bisa dibicarakan di sembarangan tempat juga oleh sembarangan orang. Kamu paham kan maksud Papa?" Papa Adrian memperingatkan.
Adrian terdiam. Lantas mengangguk paham akan maksud sang Papa.
Mengingat suasana di kerajaan M memang tengah memanas. Membuat sang pemimpinnya sakit kepala dibuatnya.
***