
"Aarrggghhh" Adrian meringis tertahan. Menahan rasa sakit di dada kirinya.
"Fao, aku tidak mau pulang" Rengek Ve didepan Adrian.
"Tidak. Kau harus pulang denganku hari ini. Kamu tidak aman lagi disini. Identitasmu sudah terbongkar" Jelas Fao. Setelah mengucapkan terima kasih kepala kepala kepolisian setempat. Mereka meninggalkan villa itu.
Mereka berada di mobil, dalam perjalanan ke Senai. Kali ini Iz yang mengemudi. Sedang Richard akan tinggal mengurus pemulangan Miguel yang terpaksa di tembak Fao. Sebenarnya Fao menembak kaki Miguel. Tapi pria itu masih nekad untuk menembak lagi. Hingga akhirnya Fao menembak jantung Miguel.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Fao pada Adrian.
"Tidak. Aku pakai kevlar. Ingat?" Adrian menjawab menenangkan.
Adrian tertembak saat melindungi Ve yang menjadi sasaran tembak Miguel, yang tidak terima Ve dekat dengan Adrian. Hal itulah yang mendasari Fao menembak mati Miguel.
"Kak Hans...aku tidak mau pulang" Bujuk Ve pada Adrian.
"Pulanglah dulu" Sahut Adrian singkat.
"Tapi Kak..Ve belum pamitan pada kak Lyn" Ujar Ve.
"Iz yang akan memberitahu Lyn soal dirimu" Jawab Adrian. Keringat dingin sebesar jagung mulai keluar dari dahi Adrian. Darah mulai merembes di kaosnya.
Sesaat Iz melirik melalui spion tengahnya. Seolah tahu dengan tatapan Iz, Adrian menggeleng pelan. Iz langsung menarik nafasnya pelan. Dia tahu keadaan Adrian tidak baik-baik saja.
Mobil mulai masuk ke Senai Airport. Dengan izin khususnya. Mobil bisa langsung masuk ke area pesawat Liu Corp menunggu.
"Ve...dengarkan aku. Hiduplah dengan baik disana. Jangan berpikir untuk melarikan diri lagi. Di luar sangat tidak aman untukmu" Bisik Adrian menangkup wajah Ve.
Entah kenapa Adrian merasa akan lama tidak bisa bertemu Ve.
"Kak Hans...Ve tidak mau pulang. Ve mau disini" Rengek Ve.
Sementara Fao sudah masuk ke dalam pesawat. Mengecek ulang semua. Sembari menghubungi Mark. Memberi tahu kalau dia terpaksa menembak mati Miguel. Meminta izin pada Mark untuk membuka kasus lama milik Sebastian. Juga memberi tahu kalau dia akan membawa Ve pulang hari ini.
Fao terpaksa memutus panggilannya ketika Adrian masuk dengan membawa Ve diatas bahunya.
"Turunkan aku...turunkan!" Teriak Ve. Menggigit punggung Adrian.
"Aargghh, kau gila Ve!" Umpat Adrian.
"Ada apa?" Tanya Fao.
"Dia mau melarikan diri lagi" Sahut Adrian singkat.
Adrian menurunkan Ve yang langsung disambut Fao. Gadis itu ingin lari turun dari pesawat lagi. Tapi Adrian sigap menahan tubuh Ve.
"Lepas! Lepaskan!" Jerit Ve.
"Suruh mereka menghidupkan pesawatnya" Perintah Adrian.
"Tidak mau! Ve tidak mau pulang!" Kembali Ve berteriak.
Tak lama deru mesin pesawat mulai terdengar. Adrian memberikan tubuh Ve pada Fao. Sesaat pria itu mencium lembut kening Ve. Ada cairan bening di sudut mata Adrian. Lantas berlari keluar turun dari pesawat itu.
"Kak Hans...." Jerit Ve.
Begitu Adrian sampai di tangga terakhir. Adrian melompat, lantas dia berlari sejauh yang dia bisa dari pesawat itu. Dia segera disambut Iz yang tampak begitu cemas.
"Ambulance akan segera datang" Beritahu Iz.
Menahan tubuh Adrian yang hampir ambruk. Pelan Adrian berbalik. Masih dia lihat, Ve yang terus berontak dalam dekapan Fao. Sementara Ve bisa melihat dengan jelas jika tubuh Adrian perlahan ambruk di lantai bandara.
"Fao, Kak Hans terluka!" Pekik Ve.
Membuat Fao langsung menatap melalui jendela pesawat.
"Turunkan aku! Turunkan aku! Tu..." suara Ve menghilang seiring tubuhnya yang melemas dalam pelukan Fao.
"Aku akan menghajarmu Fao" Gumam Ve, sebelum gadis itu benar-benar tidak sadarkan diri. Saat Fao menekan titik kesadaran Ve.
"Maafkan aku" Bisik Fao. Menggendong tubuh Ve. Membawanya duduk di kursi. Memakaikan sabuk pengaman untuk Ve. Lalu untuk dirinya sendiri.
"Bawa dia pulang apapun keadaanya" Pesan Adrian sebelum mereka berangkat menjemput Ve di villa milik Miguel.
"Aku harap kau baik-baik saja, Hans"
Bersamaan dengan pesawat Liu Corp yang mulai mengudara. Mobil ambulance yang membawa Adrian langsung meluncur menuju ke rumah sakit Sutan Aminah. Rumah sakit yang berada paling dekat dengan Senai Airport.
"Tekanan darah menurun drastis"
"Detak jantung melemah"
"Oksigen dibawah 80%. Pasangkan masker oksiden"
"Dokter, dia kehilangan banyak darah"
"Hubungi Red Cross. Mungkin kita memerlukan tambahan darah"
"Hubungi wad Emergency. Kita perlu pemeriksaan X-ray segera. Juga operation room. Hubungi dokter bedah bedah yang tengah berjaga. Kita akan mengoperasinya begitu hasil X-ray keluar"
"Dokter, saya rasa ada tulang rusuk dia yang patahlah"
Seorang perawat memeriksa. Dokter itu segera memeriksa. Hening sejenak.
"Dua atau tiga belum pasti. Hubungi bedah ortopedi juga"
Dunia Iz serasa berhenti berputar. Mendengar semua percakapan dokter dan perawat itu.
"Bertahanlah Bang" Batin Iz menatap wajah pucat Adrian dengan luka tembak di dada kirinya. Peluru itu meleset dari kevlar yang Adrian pakai. Hingga berhasil melukai pria itu.
***
"Bagaimana?" Tanya Richard yang langsung menerobos masuk ke wad Emergency rumah sakit Sutan Aminah. Dilihatnya Iz yang nampak kacau.
"Tidak tahu" Jawab Iz lemah. Dua jam sudah Adrian berada di ruang operasi.
"Atasanmu kuat. Jangan khawatir" Hibur Richard menepuk pelan bahu Iz. Pria itu hanya tersenyum kecut mendengar.
"Bagaimana urusanmu?" Pertanyaan itu yang akhirnya keluar dari mulut Iz. Untuk mengalihkan rasa khawatirnya.
"Semua beres disini. Tidak tahu akan kacau begitu sampai disana. Aku harap Albert dan yang lainnya bisa menghandle. Mengingat Prince Mark tidak ada di sana" Richard menahan nafas saat menjelaskan kepada Iz.
Keadaan jelas akan menjadi kacau. Ayah Miguel akan mengambil tindakan begitu tahu putranya ditembak mati oleh Fao. Meski dengan bukti kejahatan yang ada. Miguel memang pantas mendapat hukuman mati.
"Sudah menghubungi orang tua Hans?" Richard menatap Iz untuk mendengar jawaban dari pria itu.
"Tidak tahu bagaimana cara memberitahunya" Pelan Iz menjawab. Beban berat tengah Iz rasakan.
"Hubungi mereka. Toh Hans tidak terluka saat main perempuan" Kekeh Richard membuat Iz mendengus kesal.
"Dia berubah satu setengah bulan ini" Iz menatap ruang operasi di depannya.
"Aku tahu. Karena itu Fao membiarkan Princess berada di luar sampai selama itu. Jika tidak Fao pasti sudah menariknya balik dari dulu. Jika Miguel tidak berulah. Mungkin Fao akan menunggu sampai tiga bulan baru menjemput Princess" Richard menyandarkan tubuhnya di kursi tunggu.
Hening sejenak,
Tiga jam berlalu. Hingga akhirnya pintu ruang operasi itu terbuka. Iz dan Richard langsung berdiri menyambut seorang dokter yang keluar dari sana. Juga seorang perawat di belakangnya.
"Macam mana operasinya, Dok?" Kepanikan jelas tergambar di wajah Iz ketika dia bertanya.
"Dia selamat. Untung peluru tu tak kena kat jantung dia. Tertahan 2 tulang rusuknya yang patah. Dia kehilangan banyak darah. So sementara keadaannya masih kritis"
Jederrrr
Tubuh Iz limbung. Hampir ambruk jika Richard tidak menahan tubuhnya.
"Lakukan yang terbaik untuk pasien, Dok" Richard berucap ketika melihat Iz tak mampu lagi berkata-kata.
"Kami cuba semampu yang kami bisa" Dokter itu menjawab seraya berbalik masuk kembali ke dalam ruang operasi.
"Jangan beritahu Ve soal keadaanku" Adrian berbisik di telinga Iz ketika mereka berada dalam ambulance menuju rumah sakit.
Airmata Iz jatuh tak terbendung lagi. Hampir dua bulan bersama Adrian dia tahu bagaimana sifat pria itu. Dulu dia sedikit enggan ketika sang ayah memintanya menjadi asisten cucu dari pemilik kilang tempat sang ayah mengabdi. Tapi begitu mengenal Adrian dia jadi tahu. Bahwa pria itu tidak seburuk kabar yang beredar.
Kedua pria itu tampak terdiam. Iz tahu harus menghubungi Mr dan Mrs Lee, orang tua Adrian. Tapi dia bingung harus menjelaskan bagaimana Adrian bisa terluka separah itu.
Ditengah kebingungan Iz. Tiba-tiba satu suara terdengar bertanya.
"Bagaimana keadaan Hans?" Suara itu terdengar cemas saat bertanya.
Richard langsung berdiri memberi hormat pada pria yang berdiri di hadapannya.
"Your Majesty" Richard membungkukkan badannya. Yang langsung disambut lambaian tangan Mark. Menandakan kalau hormatnya diterima.
"Prince Mark, Anda disini?" Tubuh Iz bergetar hebat. Melihat kakak Ve. Sekaligus putra mahkota, juga calon raja negara M. Berdiri tegak dihadapannya. Menatap cemas pada ruang operasi di depannya.
***
Biar bisa melek matanya...cari vitamin dulu..🤭🤭
Kredit Instagram @ j_mika_k
Semangat bang Hans, Ve nungguin nih...😍😍
***