Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Black Chimaera



Adrian mendengus kesal sambil menatap Papanya yang duduk di depannya.


"Papa keterlaluan!" Desis Adrian pelan.


"Papa dengar lo, Boy" Jawab Papa Adrian masih menatap laptopnya. Tanpa menatap wajah kesal putra tunggalnya.


Adrian langsung menghentikan pekerjaannya. Menegakkan duduknya.


"Papa sengaja kan? Menahanku lama-lama disini biar aku tidak bisa bertemu Ve" Protes Adrian sambil melipat tangan di dadanya.


Kali ini Papa Adrian menghentikan pekerjaannya. Menatap lurus pada Adrian.


"Menahanmu bagaimana? Itu tanggungjawabmu. Kamu sebulan cuti. Pekerjaan menumpuk itu wajar. Lagipula sebentar lagi kamu mau ke sebelah. Tidak tahu kapan pulang. Jadi pekerjaanmu harus beres sebelum kau pergi ke sana"


"Kalau Ve menerima lamaranku. Aku tidak mau pulang ya" Jawab Adrian.


"Kau tega ya meninggalkan Papa dan Mama?" Sahut Papa dramatis.


"Kan Papa dan Mama sudah besar" Jawab Adrian santai.


"Kau..." Kesal Papa Adrian.


"Ayolah Pa..kayak Papa tidak muda saja" Balas Adrian memelas.


Giliran Papa Adrian yang mendengus kesal.


"Dua hari. Selesaikan pekerjaanmu dalam dua hari. Termasuk dengan yang di JB. Baru kau boleh pergi"


"Ha? Are you serious? Pa itu kerjaan banyak banget" Keluh Adrian.


"Makanya cepat kerjakan. Semakin mengeluh semakin lama selesai pekerjaanmu. Kau belum cari cincin juga kan?" Tanya Papa Adrian.


"Cincin? Buat apa?" Dan satu pena melayang ke arah Adrian. Tapi pria itu bisa menghindar.


"Papa....


"Orang mau melamar itu pakai cincin bambaaaannng!" Kesal papa Adrian.


"Oooo gitu to"


"Makanya jangan cuma mukbang-nya yang dikencengenin.." Ledek Papa Adrian.


"Ngeledek melulu. Dahlah mau kerja. Terus mau cari cincin"


Papa Adrian tersenyum melihat putranya bersemangat kembali.


***


"Wooooowwww" Lyn menatap takjup pada kediaman Mark yang seperti istana. Memang istana kali. Apalagi hari mulai gelap. Lampu-lampu mulai dihidupkan.



Kredit Google.com


Sedang Ve dari tadi terlihat memanyunkan bibirnya.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Mark yang menyambut mereka didepan pintu. Dibelakangnya ada trio pria yang langsung saling pandang mendengar ucapan Mark.


"Kami oke. Kakak lihat kan?" Jawab Ve.


"Maaf merepotkan" Ucap Lyn merasa bersalah.


"Ah tidak-tidak. Jangan berkata seperti itu. Kamu tamu kami. Sudah seharusnya kami menjagamu. Bukannya lalai" Mark melirik Ve tajam.


"Iya...iya Ve yang salah" Aku Ve.


"Tidak, bukan begitu. Semua terjadi begitu saja. Tidak perlu menyalahkan Ve. Yang penting kami tidak apa-apa" Lyn berkata ambil tersenyum.


Dan senyuman Lyn langsung membuat amarah Mark menguap.


"Siapa dia?" Tanya Fao.


"Ya?"


"Yang berbicara denganmu saat menunggu Ve menjemputmu" Fao bertanya lagi.


"Oohh hanya orang yang kebetulan lewat. Lalu menemaniku karena melihatku sendirian"


"Namanya?" Desak Fao.


"Fao cukup!" Potong Mark.


"Tidak apa-apa. Aku tidak sempat bertanya namanya"


"Tapi dia bertanya namamu kan?" Lagi Fao memberondong Lyn dengan pertanyaan yang Lyn pikir tidak penting


"Aku hampir yakin itu dia" Gumam Fao.


"Bagaimana bisa kau seyakin itu?" Tanya Albert.


"Saat ini masih feeling. Tapi bukankah aneh kenapa dia tidak mengejar Ve? Tidak mungkin dia tidak mengenali Ve"


"Aku heran kenapa dia malah mendekati Lyn bukan Ve" Fao masih kekeuh dengan pendapatnya soal pria yang bersama Lyn.


Sementara orang yang mereka bicarakan tengah tersenyum senang.


"Azlyn Maiza Khairunnisa...aku rasa dia akan jadi kandidat yang cocok untuk mengandung benihku" Ucap pria itu.


"Tapi dari data yang ada keyakinannya...


"I don't care about it. (Aku tidak peduli soal itu) Yang penting dia memenuhi semua kriteria yang aku inginkan untuk menjadi ibu dari anakku" Lagi pria itu berucap tidak peduli pada pendapat asistennya.


"Dia tinggal di kediaman Emmanuel?" Pria itu bertanya lagi.


Yang ditanya langsung mengangguk.


"Apa hubungannya dengan Veronika?"


"Mereka berteman saat di Johor Bahru. Dan sepertinya cukup dekat. Hingga mereka berani memberitahu soal mereka kepada gadis itu"


"Seperti itu ya...


Hening sejenak.


"Lalu apa Anda akan melakukan hal itu dalam waktu dekat ini?"


"Tidak...aku tidak terburu-buru. Biarkan dia bebas dulu. Aku tahu dia. Dan akan mencarinya jika aku menginginkannya" Jawab pria itu lagi.


Lagi sunyi terasa.


"Mereka masih menyelidiki kasus dua tahun lalu, Tuan" Lapor asistennya lagi.


"Biarkan saja. Aku jamin mereka tidak akan menemukan buktinya" Pria itu tersenyum penuh misteri.


Tiba-tiba seorang pria lain masuk setelah mengetuk pintu.


"Tuan, dia tertangkap" Lapor seorang anak buahnya.


Senyum langsung mengembang di bibirnya. Senyum mengerikan bak seorang malaikat pencabut nyawa menemukan targetnya.


"Saatnya bersenang-senang"


Lalu pria itu berdiri. Berjalan menuju tempat yang sudah disediakan untuknya.


"Kau senang berada di luar sana?" Suara dinginnya terdengar begitu menakutkan.


Apalagi bagi pria yang kini duduk terikat di kursi di tengah ruangan itu. Seakan malaikat pencabut nyawanya sudah datang.


"Kau diam? Di luar sana kau berani mengoceh tapi di hadapanku kau diam!" Pria itu berucap dengan nada mulai meninggi.


"Aargghhhh" Pria yang diikat itu meringis tatkala seorang anak buahnya menjambak kasar rambutnya. Membuatnya mengangkat wajah untuk menatap pria yang tengah menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.


"Jawab!"


"Tidak...saya tidak mengatakan apapun pada mereka" Sangkal pria itu terbata. Nafasnya tersengal karena jambakan di kepalanya begitu menyakitkan.


"Potong jarinya satu persatu!" Perintah pria itu.


Pria yang diikat langsung membulatkan matanya. Jadi julukan pria iblis itu benar adanya. Lebih suka menyiksa daripada membunuh.


"Tuan ampuni saya. Saya berjanji tidak akan kabur lagi!" Hiba pria itu.


"Kau tahu kan aku bukan orang yang baik hati. Lakukan!" Perintahnya tidak terbantahkan.


Detik berikutnya yang terdengar hanyalah raungan pilu dari pria itu.


"Ini masih terlalu ringan untukmu. Beraninya kau memberitahu mereka siapa aku?"


"Tidak, Tuan. Ampun. Saya tidak memberitahu apapun soal Tuan pada mereka" Pria itu masih sanggup bicara padahal darah sudah membanjiri lantai di bawah kaki mereka. Bau anyir langsung tercium.


"Kau tahu mereka sudah mencoba memindaiku. Mencari tanda yang ada di diriku!" Teriak pria itu.


Kini si pengkhianat itu tidak bisa berkutik lagi.


"Kau diam? Berarti kau mengakui? Ciiihhh, kau benar-benar merusak hariku! Tinggalkan dia! Biarkan dia mati sendiri. Anggap aku sedang berbaik hati. Aku sedang senang hari ini. Kalau tidak akan kuumpankan kau pada piaraanku!" Pria itu berkata sambil menginjak tangan pengkhianat itu.


"Aaargghh"


Ringisan yang terdengar sangat lirih karena dia sudah lemah untuk mengeluarkan suaranya.


"Lemah!" Cibir pria itu sambil berlalu keluar dari tempat itu.


"Pastikan dia mati!" Pesannya lagi.


"K" julukan pria itu. Pria berparas Asia yang mampu memimpin klan mafia Eropa. Mungkin wajahnya bak malaikat tapi sikapnya bagai iblis. Banyak yang meremehkan kemampuannya hingga mereka harus meregang nyawa di tangannya. Pria itu menghabisi semua musuhnya tanpa ampun.


Tidak banyak yang tahu wajah aslinya kecuali para anak buahnya. Dan mereka sudah bersumpah untuk tidak memberitahu dunia luar soal "K". Jika tidak, nyawa mereka taruhannya. Sekali masuk dalam klan mafia "Black Chimaera" jangan harap bisa keluar lagi. Kecuali mati.


***