
"Sudahlah jika Paman hanya ingin mengganggu sesi sarapan kami. Silahkan kalian pergi saja" akhirnya Mark bersuara setelah membiarkan sang adik lebih dulu mengeluarkan taringnya.
"Kau mengusirku? Aku orang yang jelas punya hubungan darah denganmu dibanding mereka" Eduardo meradang.
"Hubungan darah kita hanya sebatas Kakekku yang mengakuimu. Setelah itu terserah generasi berikutnya. Aku rasa, aku sudah cukup baik pada Paman selama ini. Sedang mereka, Ve sendiri secara pribadi yang mengundang mereka. Apalagi dia, ada kemungkinan jika dia adalah calon suami Veronika" ucap Mark menatap ke arah Adrian.
Seketika Eduardo tercekat. Jika Ve menikah sesuai dengan pilihannya sendiri. Berarti dia tidak punya cara lain selain melakukan apapun untuk membuat Hilda menjadi pendamping Mark.
"Tapi bukankah Ve.."
"Aku menerima lamaran Adrian kemarin" potong Ve cepat.
Membuat Adrian langsung tersedak. Sedang semua orang langsung menatap Ve tidak percaya. Bukan...bukan karena tidak percaya pada Adrian yang bisa menjaga Ve. Tapi Ve yang begitu gamblang menyatakan perasaannya pada semua orang.
**
"Apa keputusanmu final?" tanya Mark pada sang adik.
Ve mengangguk.
"Kau yakin mencintainya. Bukan karena emosi sesaat?" Mark memastikan.
"Iya Kak. Aku mencintainya. Tidak tahu sejak kapan. Tapi setelah hari ini. Aku tidak sanggup lagi berjauhan dengannya" jawab Ve. Menatap wajah sang Kakak.
Keduanya berada di dalam ruang kerja Mark. Sedang Adrian dan yang lainnya menunggu di luar.
"Dia tidak akan menerkam Ve kan?" tanya Adrian cemas.
"Haishh kau pikir Mark sekejam itu apa" jawab Albert ketus.
"Aku khawatir Al" dengus Adrian kesal.
Seharusnya tadi dia memaksa ikut masuk. Mendampingi Ve menghadapi Mark. Bagaimanapun dia akan segera menikahi Ve. Menikah? Pikiran sontak melayang kemana-mana.
"Jangan khawatir, Kakak Ve tipe chicken katsu" ucap Lyn santai.
"Ha? Chicken katsu? Apa itu?" tanya Sebastian.
Dalam waktu singkat, Lyn sudah bisa akrab dengan orang-orang disekitar Mark. Terlebih Fao. Sama dengan Ve. Fao lebih santai dalam segala hal.
"Chicken katsu..ayam goreng yang dari jepang. Renyah diluar tapi lembut di dalam. Aku tidak bilang dia cerewet ya. Tapi hanya cover luarnya saja yang tampak keras dalamnya tidak"
"Siapa bilang dia tidak cerewet. Cobalah kau hidup dengannya 24 jam. Kau akan tahu betapa cerewetnya dia. Tapi perumpamaanmu tadi sepertinya tepat sekali. Chicken Katsu...boleh juga" sahut Sebastian sambil senyum-senyum sendiri.
"Kenapa kalian malah jadi bahas chicken katsu sih" protes Adrian.
"Hei calon istrimu itu sedang bersama kakaknya bukan bersama orang lain. Dia tidak akan menggigit Ve atau mencium adiknya sendiri" celoteh Albert.
"Sialan. Aku tidak berpikir seperti itu. Aku hanya khawatir dengan...
"Kalian masuklah. Kakak ingin bicara" ucap Ve sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Memotong perdebatan semua orang di luar ruang kerja Mark.
"Ayo masuk. Chicken katsu manggil" ajak Fao.
"Seriously? Kita akan manggil dia chicken katsu" tanya Albert.
"Just for fun, guys. Jangan dibawa serius" tambah Sebastian.
Semua masuk kedalam ruang kerja Mark. Bahkan Lyn pun juga ikut diajak masuk. Padahal tadi dia menolak. Merasa bukan bagian dari keluarga itu. Tapi Fao mendorong punģgung Lyn dengan ujung jarinya begitu Ve memberi kode kalau Lyn juga diajak masuk.
Semua sudah duduk ditempat masing-masing. Ve diapit Adrian dan Lyn, yang posisinya paling dekat dengan Mark.
"Oke seperti yang kalian dengar. Adikku yang bandel itu akhirnya menginginkan pernikahan dalam hidupnya. Dengan dia yang sungguh di luar ekspektasiku...
Ve langsung memanyunkan bibirnya mendengar sang kakak menyebutnya bandel. Disambut senyum tertahan dari trio asisten sang kakak.
"Hei Bro aku iparmu sekarang, jangan jahat-jahat amat denganku" protes Adrian.
"Suka hati akulah. Bisa-bisanya kau main ambil adikku"
"Aku tidak mengambilnya. Aku menikahinya. Camkan itu"
Semua orang saling pandang. Berpikir sama kalau kedepannya hidup mereka akan lebih berwarna dengan masuknya Adrian. Berwarna atau tambah rusuh ya.
"Jadi kapan kau akan menikahi adikku?" tanya Mark pada Adrian.
"Aku terserah Ve. Sekarang juga aku bisa," dan sebuah pena langsung mendarat di kepala Adrian.
"Aiyooo belum juga unboxing sudah KDRT," gerutu Adrian menatap tajam pada Mark.
"Aku serius," ucap Mark.
"Aku lebih-lebih serius, tahu," debat Adrian.
"Haishhhh, sudah-sudah.Kapan kau mau menikah Ve?," Albert bertanya menengahi dua orang yang mungkin setiap hari akan berdebat.
"Akhir bulan ini," jawab Lyn sendu. Jawabannya langsung membuat Adrian menatap Lyn. Ia tahu jika Lyn pulang ke Indonesia ada kemungkinan jika gadis itu juga akan menikah.
***
Akhirnya diputuskan Ve dan Adrian akan menikah satu bulan lagi. Sehari setelah kepulangan Lyn. Dengan rencana. Gadis itu akan langsung terbang ke Negara M. Bukan kembali ke Indonesia. Karena Ve ingin menikah dengan Lyn ada disampingnya. Adrian ikut saja dengan keputusan Ve.
Mark akhirnya menyetujui pernikahan Ve dan Adrian dengan syarat adikknya itu akan tetap tinggal dengannya setelah keduanya menikah. Dan Adrian tidak masalah. Sebab dia sudah membicarakan kemungkinan hal itu bersama Papa dan Mamanya. Dan mereka tidak keberatan. Dua negara itu hanya dipisahkan oleh sebuah laut kecil. Tinggal menyeberang dan mereka sudah sampai di negara M.
Lyn menatap hampa pemandangan dihadapannya. Sebuah taman dengan berbagai macam bunga yang tumbuh didalamnya.
"Kau serius akan pulang akhir bulan ini." tanya Adrian tiba-tiba sudah duduk disampingnya.
"Iya." Jawab Lyn singkat sambil menundukkan wajahnya.
"Jika kau pulang, apa itu berarti kau setuju menikah dengan pria itu." tanya Adrian penasaran.
"Aku akan berusaha menolaknya. Tapi jika tetap tidak bisa. Pilihan apalagi yang kupunya?." Kembali Lyn menjawab sendu.
"Tidakkah ingin mencoba menggagalkannya?." Adrian bertanya.
"Dengan membawa calon suami palsu ke hadapan Mas Fadly? Aku tidak seberani itu, Hans."
"Lalu apa kau akan menyerah begitu saja?."
"Jika semua hal sudah aku lakukan. Dan semuanya gagal. Mungkin dia memang jodohku." Lyn kembali menjawab sambil menundukkan wajahnya.
Adrian langsung terdiam tidak berani menjawab lagi. Putus asa jelas tergambar diwajah Lyn.
***
Ve menatap cincin cantik yang masih ada dalam kotaknya yang berwarna merah. Gadis itu tersenyum.
Kredit Google.com
"Ingin aku pakaikan?." tanya Adrian yang tiba-tiba sudah berada di depannya.
"Eehh Kak Hans, bagaimana bisa masuk kemari?." Ve bertanya sambil mengerutkan dahinya.
"Aku minta izin kakakmulah." Pria itu menjawab sambil ikut naik ke atas ranjang king size milik Ve.
"Ehhh..." Ve jelas belum terbiasa dengan kehadiran seorang pria di kamarnya selain kakaknya juga asisten kakaknya yang lain.
Pelan Adrian mengeluarkan cincin itu dari kotaknya. Lantas meraih tangan kanan Ve. Memasangkannya dengan lembut di jari manis gadis itu. Sejenak Ve merasa tidak percaya. Dia akan menikah tidak lama lagi. Dengan pria yang hanya dalam dua bulan membuat hidupnya berantakan.
"Aku mencintaimu, Veronika." Ucap Adrian pelan, menatap dalam wajah Ve.
"Aku juga mencintaimu, Kak Hans." Balas Ve.
Sejenak keduanya saling pandang. Perlahan Adrian mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Ve. Mengikis jarak yang ada.
Hingga akhirnya dua bibir itu kembali bertemu. Saling menyentuh dengan jutaan bahagia yang terasa. Sebulan lagi. Dan Adrian bisa memiliki Ve seutuhnya. Adrian mulai melu*** bibir Ve. Membuat Ve dengan cepat membalasnya. Ve mulai lihai berciuman.
Keduanya saling memagut untuk beberapa saat. Hingga perlahan Adrian melepasnya.
"Ahh Kak Hans kurang." Rengek Ve.
"Haisshh, aku bisa kebablasan nanti."
"Kebablasan seperti yang waktu itu. Enak tahu, Kak." Adrian langsung mendelik mendengar ucapan Ve. Sedang Ve pikirannya langsung teringat ketika Adrian memainkan aset kembarnya juga menyesapnya.
"Sebulan lagi..okay? Setelahnya kamu bebas melakukannya." Bujuk Adrian.
"Lamanya sebulan. Bikin penasaran saja." Gumam Ve lagi. Dan ucapan Ve membuat Adrian geleng-geleng kepala.
Adrian jadi berpikir. Dia ini menikahi Ve karena cinta atau karena rasa penasaran juga.
***
Yo yo up pagi, cari vitamin lagi. Buat meningkatkan iman dan imun 🤭🤭
Kredit Instagram @ jk_ko.3291
Mau dong bang bunganya 😍😍😍
Abang Hans tahu aja bikin hati meleleh 😉😉😉
****