Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
KMB- Insiden



"Semoga kalian berdua bisa menjadi pemimpin yang akan memajukan negara ini. Adil dan bijaksana" Doa tetua Grimaldi pada Mark dan Lyn. Usai keduanya dinobatkan menjadi raja dan ratu baru negara M.


"Amiiinnnn"


Keduanya berucap bersamaan. Tetua Grimaldi tersenyum.


"Boleh aku menciummu, Ratuku?" Tanya tetua Grimaldi II.


"Ahh, tentu saja" Lyn akan berpikir kalau tetua Grimaldi adalah kakeknya. Hingga tidak apa-apa jika mereka bersentuhan. Namun sepertinya tetua Grimaldi dan yang lainnya paham. Hingga ketika tetua Grimaldi berkata ingin mencium. Lyn pikir akan ciuman di pipi. Ternyata dia salah. Para tetua itu hanya mencium ubun-ubun Lyn yang tertutup hijab.


"Semoga surga selalu memberkatimu, Anakku"


Doa yang sama dari tiga tetua Grimaldi. Lyn jelas terharu. Mendapat sambutan yang begitu hangat.


"Bolehkah aku memanggil kakek pada kalian?" Tanya Lyn sambil berurai air mata.


"Tentu saja. Anggaplah kami kakek dan nenekmu. Anggaplah rumah kami juga rumahmu. Tempatmu pulang selain rumah suamimu" Jawab nenek Lucy.


Semakin deraslah air mata yang mengalir di pipi Lyn.


"Nah ini cicit nakal. Menikah tidak memberitahu. Mana suamimu?" Tanya Nenek Lucy pada Ve.


"He he sorry Nek. Ve sangat bahagia hingga lupa pada nenenk


"Cengir Ve.


"Aduuuh.. sakit Oma Katy" Rengek Ve. Ketika wanita tua itu menyentil keningnya.


"Nah dia kah suami kamu?" Tunjuk Oma Katy pada Hans yang sedang bicara pada tetua Grimaldi.


"Iya Nek. Namanya Hans. Tampan tidak?" Jawab Ve manja.


"Tampan..kalau dia tidak tampan pasti kamu tidak mau" Ledek Oma Katy.


"Ah Oma tahu saja" Dan tawa pun meledak di aula itu. Mark sedikit mengenalkan Lyn pada Paman dan Bibinya.


"Pantas saja. Mark menolak semua perjodohan yang datang padanya. Kalau begini ratunya. Ya, auto kalah para perempuan itu" Seloroh seorang Paman Mark.


"Your Highness..." Sela kepala pelayan Forst.


"Ah kau ini mengganggu saja, Clark" Gerutu tetua Grimaldi I.


"Biarkan mereka menunggu. Bukankah mereka sudah terbiasa menunggu. Satu jam lagi. Biarkan kami bersama cicit-cicitku ini"


Mendengar permintaan tetua Grimaldi. Kepala pelayan Forst hanya bisa menarik nafas. Lantas undur diri. Memberitahu media kalau mereka akan mengundur acara konferensi pers mereka.


"Jangan terlalu mempersulit Uncle Forst, Kek" Ucap Mark.


"Biarkan saja. Biar dia ada pekerjaan" Sahut tetua Grimaldi III.


Hingga acara penobatan itu berlanjut ke acara makan siang yang tidak terencana. Sebuah meja besar penuh dengan makanan tersaji di ruang makan istana.


"Belum pernah istana semeriah ini semenjak tragedi ...." Ucapan tetua Grimaldi I terhenti.


Pria itu langsung berkaca-kaca. Mengingat kematian ayah dan ibu Mark. Melihat bagaimana dua orang di hadapannya itu terpuruk begitu lama. Apalagi Ve. Pria tua itu teringat betapa hancurnya Veronika kala itu.


"Kek.."


"Aku juga kehilangannya...Mark. Putra Kakek satu-satunya" Pria itu sudah menangis. Mark hanya bisa memeluk sang kakek.


"Sebentar lagi Kek. Aku sedang mengumpulkan bukti untuk membuat orang itu menerima hukumannya" bisik Mark di telinga sang kakek.


"Berjanjilah satu hal pada kakek, Mark. Jagalah dia dan mereka, apapun yang terjadi. Yang kamu miliki sekarang jauh lebih baik dari ketika ayahmu berkuasa. Semua masih terbatas. Tapi sekarang. Kau memiliki aset, Fao dan yang lainnya. Mereka teman-teman yang begitu loyal padamu"


"Aku akan menjaganya dengan sepenuh hati" Janji Mark.


"Juga saling mempercayai. Itu yang penting. Dalam jalanmu nanti akan banyak ke salahpahaman yang terjadi. Tapi satu pesan kakek. Istrimu, kamu yang paling tahu soal dia. Jadi ambillah keputusan berdasarkan penilaianmu padanya. Kakek jamin setelah ini akan banyak pelakor dan pebinor yang muncul" Ucap pria itu sambil tersenyum.


***


Ternyata konferensi pers yang dimaksud Uncle Forst bukanlah konferensi pers pada umumnya. Tapi hanyalah keduanya yang menyapa langsung para wartawan dari balkon istana. Juga para warga yang sudah menunggu di sana.


Semua warga langsung bersorak antusias ketika melihat raja dan ratu mereka yang baru. Beberapa patah kata Mark sampaikan. Dan kembali para warga itu bersorak. Fao nampak waspada. Dari jauh dia bisa melihat K yang hanya berdiri di tengah kerumunan. Tanpa melakukan apa-apa.


"Saya berterima kasih atas sambutan hangat kalian. Saya tidak berani berjanji banyak hal pada kalian. Tapi saya berjanji untuk berusaha, memberikan yang terbaik untuk negeri ini. Terima kasih" Ucap Lyn lantas membungkukkan badannya. Memberi salam pada warganya.


Detik berikutnya rombongan mereka sudah berada di depan istana. Di ujung tangga untuk bersiap melakukan pawai keliling kota. Semua masih terkendali ketika tiba-tiba. Serena bergerak secara tiba-tiba ke arah depan.


"Albert....Serena!!" Teriak Fao. Membuat Albert bergerak cepat...


Door


Door


Aaarrgghhh


Sejurus kemudian. Tubuh Albert tampak sudah berguling dari atas tangga istana. Dengan Serena berada dalam pelukannya. Semua menjadi kacau.


"Tangkap dia. Kirimkan medis ke halaman depan!"


Serena hanya diam menatap Albert. Detik berikutnya gadis itu terkulai lemah diatas dada Albert.


"Bayiku....tetaplah bersama Mama. Mama mohon"


Batin Rena seiring kesadarannya yang mulai menghilang. Juga teriakan kepanikan Albert yang terdengar jelas di telinganya.


"Rena...Rena...bangun sayang" Albert menepuk pelan pipi Rena. Tidak peduli luka di bahunya yang terus mengeluarkan darah.


"Albert kau terluka..." Sebastian menggeram marah.


Dua baris barikade langsung dibentuk di depan istana. Menjaga keluarga inti kerajaan.


"Jangan pedulikan aku. Tolong Serena dulu"


Sementara didepan sana. Suara teriakan terdengar ketika Richard dan Marco berhasil menangkap pelaku penembakan itu.


Di tempat lain Lyn tampak meringis. Luka di pergelangan tangannya tidak parah. Tapi darah yang keluar lumayan banyak. Dia ingin berlari ke arah Serena tapi Mark yang lainnya mencegah dirinya.


"Ambulance datang" Dave berucap.


Ketika Albert membantu petugas medis untuk mengangkat tubuh Rena. Bisa dia lihat darah mengalir di kaki gadis itu. Dia pikir Rena terluka kakinya.


"Dokter pasien mengalami luka di kaki"


Fao menyeruak masuk.


"Periksa kandungannya. Dia tengah hamil"


Jedeeeerrrr


Albert terpaku mendengar ucapan Fao. Pria itu menatap nanar pada Fao. Namun Albert tidak bisa berkata apa-apa. Karena pintu ambulance sudah ditutup.


"Sir, luka Anda harus diobati" Ucap seorang perawat. Karena kepalanya sedang blank. Albert hanya terdiam ketika perawat itu melepas jas juga kemejanya. Sedang matanya menatap tidak percaya pada Serena yang kini bagian perutnya sudah terbuka. Memperlihatkan perut mulus Serena.


"Hampir tujuh minggu perkiraan" Guman Dokter itu.


"Tujuh minggu"


Waktunya tepat dengan malam dia merenggut kesucian Serena. Apakah mungkin itu adalah...


"Dokter pasien ini memerlukan operasi pengambilan proyektil peluru dibahunya" Lapor perawat yang memeriksa Albert.


"Akan aku hubungi rumah sakit"


***


"Kamu tidak apa-apa?"


Lyn hanya tersenyum. Mendengar pertanyaan Mark. Yang entah untuk yang keberapa kali.


"Pastikan mereka mendapat pengawalan ketat. Code 1" Perintah Fao melalui ear piece-nya.


"Siapa dia?" Tanya Ve.


"Medusa. Dan juga The Problem. CCTV menangkap jelas gambar mereka saat menembakkan pistol ke arahmu"


Mark menggeram marah.


"Aku tidak apa-apa Bi. Kau bisa menjeratnya kali ini. Benar bukan?" Tanya Lyn.


Wanita itu masih menerima perawatan dari dokter yang ada diistana itu. Lengan gaunnya terpaksa di potong. Karena luka Lyn berada di lengan atasnya.


"Smart Queen" Jawab Fao sambil menyeringai.


"Kau menggunakan dirimu sendiri untuk memancingnya. Apa kamu...


"Aku tidak apa-apa Bi...cuma luka kecil...aawww"


"Ha? Luka kecil katamu. Akan kubalas dia"


"Peluru Medusa yang menyerempet lenganmu. Dia memang ingin melenyapkanmu" Ucap Fao.


"Hari pertama dan aku sudah terluka"


Lyn tersenyum kecut sambil membatin. Kedepannya akan banyak hal yang dia alami. Dia harus mempersiapkan diri. Begitulah tekad Lyn. Dia sudah menentukan pilihannya. Jadi dia tidak akan tanggung-tanggung melangkah atau mengambil tindakan.


***


Up malam, biasa cari vitamin buat mata melek plus cari semangat buat nyelesein cerita ini...



Kredit Instagram.com


Abang Hans masih jadi pilihan moodboster bagi aku...juga penyemangatku...muga-muga bisa ngerampungin ni cerita..🤲🤲


***