
Seminggu berlalu,
Lyn tengah menatap pemandangan ibu kota negara M dari balkon kamar miliknya dan Mark. Seminggu yang lalu yang membawanya kembali ke negaranya. Setelah Mark mengucap ribuan maaf karena menikahi Lyn begitu cepat, juga karena membawa Lyn secepatnya kembali ke negaranya.
Dan keluarga Lyn memakluminya. Meski berat melepas Lyn. Tapi mau bagaimana lagi. Lyn sudah menikah, sudah sepatutnya mengikuti kemanapun sang suami membawanya. Mereka hanya berharap kalau Mark mampu membahagiakan Lyn. Juga berharap agar Mark bisa sering-sering mengunjungi mereka. Karena mereka juga tahu sibuknya Mark.
Mark jelas belum bisa mengatakan siapa dirinya sebenarnya. Sebab situasinya sekarang tidak memungkinkan. Keadaan semakin memanas jelang penobatannya. Dimana pihak Eduardo terus menekan dirinya agar segera menikahi Hilda. Agar posisi ratu segera terisi dengan waktu penobatannya yang semakin dekat.
Lyn menarik nafasnya dalam. Lantas masuk ke dalam kamarnya. Membaca beberapa buku soal peraturan dalam istana kerajaan negara M. Meski di istana atau kediaman Emmanuel. Peraturannya tidak terlalu ketat. Sebab yang tinggal bukan lagi orang-orang tua zaman dulu yang begitu taat pada peraturan.
Mark sendiri tidak terlalu ketat dalam menerapkan peraturan istana di kediamannya. Asal semua sesuai peraturan pada umumnya. Dia tidak mempermasalahkannya. Dalam sekejap, Lyn sudah tenggelam dalam keasyikannya membaca buku di ruang baca yang ada di kamarnya. Rambut panjangnya dia biarkan terurai begitu saja. Sedang dirinya memakai gamis panjang berwarna biru dengan motif bunga-bunga kecil.
Mark sudah menjelaskan siapa Lyn begitu dia tiba di kediaman Emmanuel. Tapi pria itu meminta untuk tetap merahasiakannya sampai penobatannya dua minggu lagi. Dan para pelayan yang memang orang-orang yang setia dan loyal pada kerajaan langsung mematuhinya. Mereka senang bukan Hilda yang jadi nyonya mereka.
"Bagaimana mereka?" Tanya Mark pada Albert yang sedang meneliti ulang beberapa berkas soal pernikahan Mark dengan Lyn.
"Masih berusaha memaksamu untuk menikahi Medusa" Jawab Albert santai.
"Sebastian sedang mengurusnya. Harusnya dengan aura intimidasi dari Sebastian mereka akan kicep sebentar" Lagi pria itu berucap sambil tersenyum. Moodnya benar-benar bagus akhir-akhir ini. Ya iyalah setelah dia mendapat asupan gizi minggu lalu, tentu saja moodnya langsung membaik.
Kredit Pinterest.com
Memperkenalkan Sebastian Hugo,
"King's Missing Bride terjadi lagi" Seloroh Albert.
"Setelah papamu, dan kau kini mengikuti jejaknya" Ucap Albert.
"Tapi kali ini aku rasa, aku lebih ekstrim" Timpal Mark sambil tersenyum.
"Sekarang semua orang lebih terbuka pemikirannya. Kau jangan khawatir soal pendapat orang. Itu terserah pada mereka" Tambah Albert.
"Aku tidak peduli soal pendapat mereka. Yang aku pikirkan adalah Lyn. Aku tidak ingin dia tertekan selama dia menjadi istriku" Jawab Mark menatap jauh menerawang.
"Itu sudah resikonya. Tapi aku yakin dia bisa mengatasi ini. Dia tangguh" Analisa Albert.
"Tangguhlah. Kalau tidak bagaimana bisa dia mengatasi Hilda tanpa menunjukkan identitasnya sebagai ratu" Balas Mark teringat laporan Richard yang mengatakan bagaimana Lyn mengatasi Hilda hingga wanita itu tidak berani lagi menunjukkan batang hidungnya dalam beberapa hari ini di kediaman Emmanuel.
"Dia hebat. Lembut dan tangguh"
"Kau tidak boleh memujinya. Dia milikku!" Potong Mark tegas. Dia tidak ingin pria lain mengagumi Lyn karena lama-lama bisa berbahaya.
"Astaga, aku hanya memujinya. Bukan merebutnya" Gerutu Albert. Menggelengkan kepalanyan melihat keposesifan Mark pada Lyn.
***
Sementara itu,
K nampak masuk ke dalam mansionnya dengan wajah geram. Beberapa luka terlihat di wajah tampannya. Juga lebam disudut bibirnya.
Kredit Instagram @shine17_lc
Meski kemenangan berada di pihaknya tapi tidak membuatnya senang sama sekali. Dia harus mengundur kepergiannya ke Indonesia hampir satu minggu lebih. Untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh Carlos. Karena pria itu berhasil menghasut beberapa klan mafia untuk melawannya.
Dan beginilah hasilnya. K harus turun tangan sendiri untuk memberi pelajaran pada mereka semua. Untuk menunjukan kalau klan Black Chimaera bukanlah klan mafia yang bisa di remehkan.
"Siapkan keberangkatanku malam ini" Perintah K pada Max yang sejak tadi mengikutinya masuk ke mansionnya. Dari wajahnya Max terlihat memiliki laporan untuknya. Dan dari gelagatnya, itu sepertinya bukanlah hal yang akan membuat K senang.
"Ada apa?" Pria tampan namun terlihat psycho itu bertanya. Tanpa niat untuk membersihkan diri atau sekedar menghapus noda darah dari wajahnya. Pria itu malah dengan santai mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya.
"Soal dia" Ucap Max ragu. Dia tidak tahu bagaimana memulainya.
"Ada apa dengannya? Menghilang lagi?" Tanya K mulai menikmati rokoknya.
"Dia ada di negara ini" Jawab Max cepat. K langsung menghentikan kegiatan merokoknya. Dia memang tidak mengurusi hal lain selain berperang dengan klan mafia lain selama hampir seminggu ini. Hingga dia tentu saja tidak tahu soal Lyn.
"Maksudmu? Dia disini?" K menegaskan pendengarannya.
"Iya, hampir seminggu dia disini..
"Hanya saja statusnya sudah menikah" Max berucap takut-takut.
"Apa maksudmu dia sudah menikah? Kapan?" Suara K mulai meninggi.
"Itu...
"Aduh bagaimana mengatakannya" Batin Max bingung.
"Dengan siapa dia menikah? Akan
kulenyapkan dia!" Ucap K lantas meraih laptopnya. Menguliknya sejenak. Sedetik kemudian dua bola matanya membulat. Tidak percaya dengan apa yang diketahuinya.
"Dia menikah dengan Prince Mark? Mark Victor Emmanuel?" Tanya K tidak percaya.
"Benar. Dia menikah dengan Prince Mark yang berarti dalam dua minggu dia akan ikut dinobatkan menjadi ratu" Max memperjelas kedudukan Lyn.
Sejenak K merasa marah. Namun detik berikutnya dia tersenyum.
"Kau ternyata matre juga" Satu sudut bibirnya terangkat sedikit.
Max langsung tercengang mendengar ucapan K.
"Oke, akan kubuat kau meninggalkan suamimu itu" Ucap K sambil tersenyum penuh misteri.
"K sudahlah. Cari yang lain. Dia sudah bersuami. Lagipula dia ratunya" Max berusaha membuat K berpikir dengan otak warasnya. Namun ternyata K bukannya sadar tapi malah gila.
"Bukankah istri orang itu lebih menarik dari perawan manapun. Aku tidak peduli dia ratu atau apa. Yang jelas aku menginginkannya" Jawab K kembali menghisap batang nikotinnya.
"Kau sudah gila ya?" Maki Max terang-terangan.
"Anggap saja iya. Bukankah aku memang gila dari dulu. Jadi menambah satu kegilaan lagi tidak masalah kan" Jawab K santai.
"K sadarlah. Dia akan sulit kau gapai. Akan ada banyak pihak yang melindunginya"
"Diamlah! Kau membuat kepalaku tambah pusing!" Bentak K.
Max diam sejenak. Namun detik berikutnya dia kembali membuka mulutnya. Bibirnya gatal ingin menanyakan satu hal yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.
"Apa kau jatuh cinta padanya?"
K langsung menatap Max tajam.
"Cinta? Aku tidak mengenal cinta. Aku hanya ingin dia jadi milikku. Dan tak seorangpun boleh memilikinya selain aku" Jawab K santai.
"Kau terobsesi padanya K. Dan itu berbahaya" Max memperingatkan.
"Bagus. Aku suka hal yang berbahaya. Bukankah hal yang berbahaya itu sulit didapat. Dan benda yang sulit didapat. Rasanya berpuluh-puluh kali lebih nikmat" Jawab K menatap tajam pada Max.
Max pada akhirnya hanya bisa menarik nafasnya dalam. Akan sangat sulit sekali menghentikan K, jika pria itu sudah menginginkan satu hal. Hal lain mungkin Max akan memaklumi. Tapi ini, K menginginkan istri orang. Lebih-lebih lagi itu calon ratu negeri ini.
"Yang benar saja"
Batin Max geleng-geleng kepala. Dia pikir lebih suka berperang memperebutkan wilayah dengan kartel narkoba lainnya di Meksiko, daripada harus terlibat dengan acara rebutan istri orang.
Max menatap horor pada K yang malah tersenyum penuh arti.
"Aku rasa dia benar-benar gila karena satu wanita bernama Lyn" Kembali Max membatin.
***
Up malam, tetep cari vitamin biar diatas sudah ada vitamin,
Kredit Instagram @juungko0o.97
Kedipanmu lo bang, bikin meleleh 😍😍😍
****