Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Wanita Paling Dinanti



Tubuh Lyn ambruk seketika. Jatuh terduduk di lantai. Begitu melihat keadaan Adrian di dalam ruang ICU. Dengan segala peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Juga monitor berisi rekaman detak jantungnya. Dengan bunyi yang begitu memekakkan telinga Lyn.


"Apa yang terjadi padanya?" Lyn bertanya tanpa berniat bangun dari posisinya.


"Dia tertembak. Itu saja yang bisa aku katakan padamu. Lain aku tidak bisa mengatakan padamu" Tangis Iz hampir saja pecah. Dia berada di sana saat Adrian tertembak. Tapi sama sekali tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi Adrian.


Iz meninju kaca pembatas ruang ICU. Menyesali segala kebodohannya yang tidak mampu bertindak. Otaknya seketika kosong ketika Miguel mengarahkan Revolver-nya ke arah Ve.


"Ter...tertembak?" Ulang Lyn.


Iz mengangguk pelan.


"Lalu keadaannya?"


"Kritis. Dua tulang rusuknya patah tertembak. Dia kehilangan banyak darah..." Iz tidak lagi bisa menahan laju air matanya. Pria itu akhirnya menangis juga. Bersamaan dengan Lyn. Hatinya pedih melihat keadaan Adrian. Meski dia dan Adrian sering berdebat. Tapi Lyn tahu, Adrian pria baik.


Tunggu...apa kejadian ini berhubungan dengan kemunculan Fao di televisi kemarin. Apa Adrian terluka ketika ikut menangkap penjahat itu. Tapi seharusnya hal itu bukan urusan Adrian kan. Kenapa juga dia harus ikut campur. Kembali banyak pertanyaan yang terlintas di benak Lyn.


"Apa dia akan sembuh?" Akhirnya pertanyaan itu yang terlontar dari bibir Lyn.


"Tidak tahu lagi. Tapi orang tua Adrian akan membawanya pulang ke Prancis begitu dia sadar. Melanjutkan perawatannya di sana" Jelas Iz kembali sendu.


Lyn langsung menatap ke arah Iz. Pulang? Prancis? Lalu bagaimana dengan Ve? Dua orang itu saling mencintai. Tapi bagaimana nasib mereka sekarang.


"Orang tua Hans ada di sini?"


"Iya. Mereka baru tiba pagi tadi"


Hening sejenak.


"Boleh aku masuk?" Lyn bertanya setelah bisa menguasai dirinya.


***


Air mata Lyn tumpah begitu saja begitu ia masuk ke ruang ICU di mana Adrian dirawat. Wajah tampan itu terlihat pucat. Dada kirinya dibiarkan terbuka. Memperlihatkan bekas luka tembak yang Iz beritahukan. Darah masih terlihat segar di kain pembalut luka Adrian.


"Sembuhlah. Tidak masalah jika kau harus pulang ke Prancis. Aku hanya berharap ada jodoh untuk kita bisa bertemu lagi. Aku harap kau bisa menemukan hidupmu kembali, Hans. Bagaimana...bagaimana jika Ve tahu soal keadaanmu?" Lyn berlinang air mata berbicara sambil menggenggam tangan Adrian. Dinģin...


"Aku tahu kau baik meski brengsek. Kau tahu...tahun depan kontrakku selesai. Aku juga akan pulang. Aku harap kau akan baik-baik saja. Saat kita tidak bisa berteman dekat. Kau harus sembuh, Hans. Kau harus sembuh. Ve berkata kau menunggu jawaban darinya. Tidakkah kau penasaran dengan jawaban Ve?"


"Ve..Ve...Veronika?"


Lyn mengusap air matanya.


"Aku pergi. Doaku selalu menyertaimu. Dimanapun kau berada Hans. Semoga kesembuhan segera diberikan kepadamu, teman"


Lyn berlalu dari hadapan Adrian. Saat Lyn keluar. Jemari Adrian bergerak sedikit.


***


Lyn berjalan gontai. Menyusuri jalanan di depan rumah sakit itu. Menolak ketika Iz akan mengantarnya. Dia tahu Iz sangat lelah. Perlu istirahat. Pikirannya melanglang buana entah kemana. Keadaan Adrian jelas membuat Lyn bersedih. Ve pulang dan Adrian terluka serta kritis.


Saking asyiknya melamun. Lyn bahkan tidak sadar jika sebuah mobil mengikuti Lyn dari tadi. Hingga terpaksa mobil itu membunyikan klaksonnya. Mengejutkan Lyn.


"Astagfirullahhal'adzim" Lyn berteriak ingin mengumpat tapi tidak jadi.


Dia hanya menatap si pemilik mobil yang keluar dari mobilnya. Lyn mundur seketika melihat Richard yang turun.


"Mau apa ya?" Tanya Lyn waspada.


"Jangan takut aku tidak akan menculikmu. Hanya saja tuanku ingin bertemu" Richard berkata sambil membukakan pintu mobil untuk Lyn.


Lyn jelas tidak percaya. Apalagi tampang Richard cocok jadi penjahat.


"Oh come on Miss. Aku benar-benar tidak akan melakukan apa yang ada dalam kepalamu itu" Kekeh Richard.


Lyn langsung manyun mendengar ucapan Richard. Setelah Richard berhasil membujuk Lyn. Akhirnya gadis itu mau ikut dengan Richard.


"Kita mau kemana?" Lyn penasaran.


"Kau jangan aneh-aneh ya" Lyn langsung marah mendengar tempat tujuan mereka.


"Tuanku menginap disana. Orang tua Hans juga menginap disana. Jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu" Pinta Richard.


"Tingkat kewaspadaannya tinggi sekali. Aku yakin gadis ini bukan gadis biasa. Dia unik. Juga berani. Pantas saja Princess bisa menyukainya" Batin Richard sesekali melirik kearah Lyn yang balik menatapnya tajam.


Sementara itu...


Sebuah pesan masuk ke ponsel Mark. Pria itu baru saja masuk ke kamar Presidential suite-nya. Setelah kembali bertemu dengan pemerintah setempat. Meminta maaf juga melakukan negosiasi agar hubungan dua negara ini tetap baik.


"Aku mengirimkan sebuah hadiah untukmu. Richard sedang membawanya kepadamu. Kau pasti akan menyukainya"


"Apa ini?" Mark berguman tidak percaya membaca pesan dari Fao.


"Hadiah? Dalam perjalanan kemari? Dia sedang gila pasti!" Maki Mark dalam hati.


Disisi lain,


Lyn sedikit mengerutkan dahinya ketika Richard meminta dirinya untuk membersihkan dirinya. Namun itu tidak menjadi masalah. Bahkan kebetulan. Sudah masuk waktu sholat Magrib. Jadi dia izin sekalian untuk menjalankan kewajibannya. Dan yang membuat Lyn terkejut. Richard langsung mempersilahkannya. Seolah pria itu tidak asing dengan hal itu.


Tanpa keduanya tahu. Mark dan Ve melakukan ibadah sholat Magrib hanya terpisahkan tembok hotel. Kebetulan atau takdir tidak ada yang tahu.


Begitu selesai. Lyn melipat mukena yang selalu ada di ransel kecilnya. Memakai bajunya kembali. Karena dia sholat hanya memakai bathrope yang dia jumpai di kamar mandi. Lantas memakai kembali hijabnya.


"Sudah?" Tanya Richard.


Lyn mengangguk. Tetap memasang wajah waspada. Sementara di sisi lain Mark tengah membaca kitab yang kini diyakininya sebagai pegangan hidupnya. Sebulan lalu pria itu memantapkan hatinya untuk memulai kehidupan barunya sebagai mualaf. Sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Disahkan oleh seorang kiai dari masjid agung di negaranya. Disaksikan oleh dua sahabat terdekatnya Albert juga Sebastian juga Fao.


Suara ketukan pintu membuat Mark menghentikan kegiatannya. Menutup Al Quran-nya. Lantas melepas pecinya. Beranjak dari sana setelah melipat sajadahnya.


"Your Majesty" Sapaan Richard membuat Lyn mengerutkan dahinya.


Seperti bukan panggilan pada umumnya. Pikir Lyn. Namun dia pikir itu hanya candaan Richard dengan bosnya saja.


"Dia datang?" Tanya Mark yang masih berada di ruang kerjanya. Sementara Lyn sudah berada di ruang tamu. Richard membawanya masuk setelah Mark mengizinkan.


"Lelaki atau perempuan?" Mark bertanya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


"Perempuan dan dia berhijab" Richard menjawab spsesifik. Dan jawaban bodyguard Ve itu membuat Mark langsung membalikkan badannya. Menatap tajam pada Richard.


"Kau tidak salah bawa kan?" Mark bertanya meyakinkan Richard.


"Tidak, Your Highness. Dia yang dimaksud oleh tuan Fao. Nona Azlyn Maiza Khairunnisa. Teman dekat Princess Veronika selama hampir dua bulan ini" Richard sedikit menerangkan soal Lyn pada Mark. Lidah Richard yang bule hampir terserimbet saat menyebut nama Lyn.


"Dia teman Ve?" Mark jelas penasaran pada siapa adiknya bisa percaya dan berteman selama d luar istana.


"Ikuti aku" Perintah Mark.


Pria dengan kemeja hitam membalut tubuh kekarnya itu melangkah keluar dari ruang kerjanya. Diikuti Richard yang mengekor di belakangnya.


"Azlyn Maiza Khairunnisa.. mendengar namanya saja hatiku sudah berdesir. Seperti apakah rupa perempuan itu"


Ketika Mark sampai di ruang tamu. Dilihatnya seorang gadis berhijab tengah duduk sambil menatap ke arah ponselnya. Terdengar gumaman lirih dari bibir gadis itu. Dia mengaji...Mark membatin.


"Ehemmmm...." Mark berdehem.


Membuat Lyn mengangkat wajahnya. Seketika dua pasang mata itu bersirobok. Mark jelas terkejut luar biasa.


"Dia...dia adalah...


"Kakak Ve?" Lyn bertanya spontan begitu melihat mata biru Mark. Juga wajah yang pernah dia lihat di ponsel Ve.


"Alhamdullillah, ya Allah. Engkau pertemukan aku lagi dengannya. Wanita yang paling aku nanti dalam hidupku" Mark membatin, berucap syukur dengan senyum yang mengembang sempurna di bibir Mark.


***