
Di sisi lain seorang pria juga terlihat sudah bersiap. Memakai suit hitam menjadi pilihan tampilannya hari ini. Pria itu menatap jauh dari jendela apartemen miliknya. Menatap lurus pada bangunan bercat putih. Yang terletak jauh di pusat kota. Namun dari tempatnya berdiri. Dia bisa melihat tempat itu dengan baik.
Kredit Instagram @ dudu.linchen.story
"Penobatan mereka tak kurang dari satu jam lagi" Lapor Max.
K hanya berdehem.
"Kau tetap ingin pergi? Terlalu beresiko bagimu untuk keluar ke area publik" Max memperingatkan.
"Aku hanya ingin melihatnya. Si brengsek itu sudah menutup aksesku untuk meretas CCTV istana. Kurang ajar sekali dia!" Maki K.
"Salahmu juga. Istri orang kau intipin mulu tiap hari" Batin Max.
Dia heran dengan atasannya itu. Benar dia mengenal Lyn sebelum menikah dengan Mark. Tapi bukankah K seharusnya tahu diri. Dengan melupakan rasa yang dia miliki untuk Lyn.
Aih, Max salah berpikir. Ada juga mafia yang berpikir soal salah dan benar. Yang mereka tahu adalah mendapatkan apa yang mereka mau. Tidak peduli caranya.
K sejenak melirik jam tangannya.
"Mereka baru saja keluar kamar mereka" Guman K. Pria itu menekan ear piece-nya yang terlihat jelas berwarna hitam.
"Whattt??"
Dia bahkan tahu mereka sudah keluar kamar. Apa jangan-jangan atasannya itu juga mengintip suami istri itu saat bercinta? Max langsung menggelengkan kepalanya. Atasannya benar-benar gila. Begitulah setidaknya yang ada dalam pikiran Max.
***
Semua orang langsung membungkukkan badan. Begitu melihat Albert datang. Bisa dipastikan jika yang berjalan di belakang mereka adalah raja dan ratu mereka yang baru.
Albert terus waspada. Di belakang Mark dan Lyn. Ada Rose. Richard juga Marco.
Mereka turun hingga ke lantai dasar. Dimana disana Sebastian, Serena dan Dave sudah menunggu.
Juga ada Ve dan juga Hans yang sudah menunggu.
"Aahhhh kakak iparku yang cantik" Ve berseru sambil memeluk Lyn. Hampir saja Lyn kembali terjengkang karena ulah Ve. Jika saja Mark tidak menahan tubuh sang istri. Mark langsung melotot sedang Ve langsung nyengir tanpa rasa bersalah.
Ve, wanita dengan garis keturunan raja itu tampak cantik dengan gaun berwarna broken putih juga mahkota yang sudah bertengger manis di kepalanya.
Kredit Instagram @ zeunique
"Hati-hati. Nanti glundhung tu berlian atas kepala" Seloroh Lyn.
"Isshh benda ini memang merepotkan" Gerutu Ve. Di belakangnya Hans tidak kalah tampan dengan Mark.
Kredit Pinterest.com
"Selamat buat kalian berdua...
"Belum lagi..." Potong Lyn cepat.
"Haisshh kau ini memang menyebalkan. Aku mencicil mengucapkannya sekarang. Sebab nanti kita tidak akan sempat bertemu jika kau sudah dikeroyok paparazi" Cebik Hans kesal.
"Ya nanti malam kalau sudah pulang" Jawab Lyn enteng.
"Nggak seru. Euphoria-nya sudah menguap" Lagi Hans berkesal ria.
"Sudah- sudah. Sekarang kita harus pergi. Para orang tua itu sudah tidak sabar ingin melihat cicit ratu mereka" Potong Mark.
"Oke sesuai rencana. Rose dan Richard serta Marco akan bersamamu. Juga pengawal bayanganmu" Ucap Albert pada Lyn.
"Aku akan mengawalnya sendiri" Tiba-tiba sebuah suara muncul dari belakang Richard. Fao muncul dengan suitnya plus dasi kupu-kupunya.
Kredit Instagram @ haominghao_neo
"Wah, jenderal perang turun ke TKP" Seloroh Albert. Sangat jarang sekali Fao turun tangan sendiri dalam sebuah pengawalan. Bahkan untuk Mark sekalipun. Dia lebih sering menyuruh Sebastian atau jenderal Karl.
Mark langsung menatap tajam kearah Fao. Ada hal serius jika sampai Fao turun tangan sendiri.
"Fao kau mau married sama Rose ya" Ledek Ve. Karena Fao sama sekali tidak pernah suka memakai suit atau jenis pakaian yang formal sekali.
"Aiiihhh kau meledekku?" Tanya Fao sambil menarik kasar dasi kupu-kupunya. Membuangnya entah kemana. Lantas membuka dua kancing kemejanya.
"Nah itu baru Fao yang kukenal" Ucap Ve lagi. Sedang yang diledek langsung memutar matanya malas. Pada akhirnya keduanya berpisah.
"Kita akan bertemu di sana" Ucap Mark sebelum Fao membawa Lyn ke arah belakang.
Mereka memang akan berangkat terpisah. Mengecoh para pembuat onar yang berniat mengacaukan acara hari itu.
Mark akan berangkat dengan rombongan biasanya. Dengan Sebastian dan Albert yang mendampingi. Juga Ve dan Hans di mobil yang lainnya. Sedang Lyn akan pergi melalui jalur rahasia yang akan langsung membawanya ke gedung Mahkamah Kerajaan.
Tempat dimana penobatan akan berlangsung. Jalur Lyn tidak akan melalui pusat kota yang tentunya akan sangat ramai.
"Apa yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Mark melalui ear piece-nya.
"K ada disana. Juga The Problem. Dan Hilda. Medusa itu berencana menggagalkan penobatan Ratu"
"Apa dia jual diri pada para orang tua itu?"
"Lebih kurang seperti itu?"
"Ciiihh menjijikkan" Ucap Mark sambil berdecih.
"Lalu bagaimana orang tua itu?"
"Ya...mereka tidak menolak daging segar yang datang pada mereka. Terkam saja"
"Iihh Fao, dia tidak segar lagi"
"Itu hanya perumpamaan. Tapi jangan khawatir. Aku sudah mengurusnya. Ada banyak video oye-oye yang akan tersebar jika mereka berani macam-macam"
"Apa kau sekarang alih profesi jadi pengkoleksi video panas"
"Entahlah. Aku pikir aku punya banyak yang begituan. Kau mau menontonnya satu barangkali. Nanti viewsnya pasti meroket setelah kau merekomendasikannya" Canda Fao.
"Kau gila ya. Aku tidak tertarik. Enakan juga buat sendiri. Sudahlah. Aku hampir masuk ke pusat kota" Mark mengakhiri obrolan lewat ear piece-nya dengan Fao.
Sementara Fao hanya tersenyum. Lantas masuk ke mobilnya.
"Berangkat" Perintah Fao pada Richard.
Lyn memang sengaja di berangkatkan belakangan. Jalan rahasia itu memotong hampir separuh perjalanan umum yang dilalui Mark dan rombongannya.
Sejenak Fao menatap lurus ke depan. Memindai sebuah terowongan yang akan dilaluinya. Dia tahu ada yang menunggu diujung terowongan itu.
"Belok kiri, Rich" Perintah Fao kepada Richard. Pria bule itu menurut. Dan sebuah pintu rahasia langsung terbuka.
"Bereskan mereka" Perintah Fao.
Sementara Lyn dan Rose hanya saling pandang. Tidak banyak bertanya.Hingga tiba-tiba, Fao memicingkan matanya.
"Alpha, 200 meter arah jam 12" Perintah Fao lagi
"Haissshh aku heran. Bagaimana mereka tahu jalan ini"
"Penjahat selalu punya celah untuk mencari tahu" Jawab Lyn. Fao hanya meliriknya melalui spion tengah.
"Tuan Fao..." Ucap Richard.
"Oke-oke. Aku yang turun tangan sekarang" Pria itu meraih pistol dari pinggangnya. Membidik ke arah kirinya. Setelah menurunkan jendela mobilnya sedikit. Mereka baru saja masuk ke area hutan pinus. Yang menandakan kalau mereka berada di daerah perbukitan.
Pistol Fao nyaris tak bersuara ketika memuntahkan isinya. Dengan peredam yang ada. Peluru itu langsung melesat. Menghantam sesuatu di balik rimbunnya hitan pinus itu. Dan sebuah ledakan terjadi.
"CLEAR"
Fao berucap. Lyn dan Rose menarik nafasnya bersamaan. Inilah hari yang akan Lyn alami mulai hari ini. Akan ada banyak bahaya yang menantinya. Juga tekanan dan masalah yang akan datang menerpa.
Kembali dia menarik nafasnya. Kali ini hutan pinus sudah mereka lalui. Di depan sana sebuah istana megah siap menyambut kedatangan. Lagi-lagi mereka masuk melalui jalan rahasia. Setelah Fao membukanya menggunakan scan retinanya.
Begitu pintu terbuka. Sebuah pemandangan yang menakjubkan menyambut mata Lyn. Setelah mobil Lyn masuk. Baru wanita itu sadari jika tidak hanya satu mobil. Tapi ada empat mobil yang mengawalnya. Semua langsung keluar dari mobil-mobil masing-masing. Begitu mobil Lyn berhenti.
Mereka membentuk dua barisan di kiri dan kanan Lyn. Menyambut dirinya. Fao sendiri yang membukakan pintu. Dan pria itu juga yang mengulurkan tangannya untuk membantu Lyn turun. Lyn sendiri sudah memakai sarung tangan sebelumnya.
"Akan kuantarkan kau padanya" Ucap Fao ketika Lyn sudah berada di luar mobilnya.
"Berkati dan rahmati semua yang terjadi hari ini Ya Allah, Bismillahirohmanirohim"
Doa Lyn dalam hati. Berharap yang paling baik yang terjadi dalam hidupnya.
***