Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Salah Langkah



Beberapa waktu sebelumnya,


Mark tidak terkejut sama sekali ketika Fao memberitahunya kalau Adrian sedang otewe menuju kediamannya. Lepas di boarding checking membuat data langsung bisa diketahui oleh Fao. Siapa saja yang keluar masuk perbatasan negaranya.


Tak berapa lama seorang petugas menghubungi Albert, meminta pertimbangan izin bertemu dan masuk ke kediaman Mark. Albert langsung menatap Mark yang langsung menganggukkan kepalanya.


Hingga dari jendela besar ruang kerjanya dia bisa melihat supercar berwarna hitam ramping masuk ke kediamannya setelah melalui serangkaian pemeriksaan di pos keamanan di gerbang utama.


Adrian langsung diantar masuk ke ruang kerja Mark oleh asisten Albert, dan disinilah ia. Berhadapan dengan orang nomor satu di negara M.


"Long time no see, Hans" Sapa Mark yang langsung disambung sebuah pelukan olehnya.


(Lama tidak bertemu Hans)


Bagaimanapun Adrianlah yang sudah menyelamatkan nyawa Ve. Mark merasa berutang akan hal itu.


"Tidak begitu lama. Baru sekitar....dua bulan ya kalau tidak salah" Adrian bertos ala pria dengan Albert.


"Lama lah itu. Biasanya seminggu sekali kau akan menghubungiku. Minta izin sembunyi di villaku" Ledek Mark.


"Ahhh, yang itu tidak akan terjadi lagi" Jawab Adrian sedikit gelagapan.


"So sudah sembuh?" Albert sedikit menelisik penampilan Adrian.


"Lukanya tembaknya sudah, tapi rusukku masih sedikit bermasalah. Aku belum bisa ngegym sampai sekarang" Adrian menjawab sambil sedikit berjengit ketika dia mendudukkan dirinya.


"Terima kasih, Hans" Ucap Mark tiba-tiba dengan wajah penuh rasa bersalahnya.


"Untuk?"


"Menyelamatkan Veronika. Jika tidak mungkin Miguel sudah melukainya"


Sejenak semua terdiam. Ada rasa sesak ketika Mark mengatakan hal itu. Semua tahu bagaimana hubungan Mark dan Ve. Saling memiliki karena hanya mereka berdualah yang tersisa dari keluarga mereka.


"Ahh aku tidak keberatan melakukan hal itu, Mark. Bahkan jika dia berada dalam situasi yang sama, aku bersedia melakukannya lagi"


Ucapan Adrian seketika membuat suasana di ruang kerja Mark berubah. Yang tadinya santai sekarang menjadi lebih serius.


"Maksudmu?" Tanya Mark cepat. Meski dia sudah meraba ke arah mana pembicaraan Adrian.


Adrian menarik nafasnya dalam. Tiba-tiba saja rasa gugup menghampiri dirinya. Bagaimanapun Mark adalah wali dari Ve. Pengganti orang tua bagi gadis yang kini sukses bertahta di hatinya.


"Aku jatuh cinta pada Veronika, adikmu" Adrian berucap tegas.


Sesaat Albert dan Mark saling pandang. Seulas senyum terukir di bibir kedua pria tampan itu. Bagi Mark dan yang lainnya. Pendamping Ve adalah masalah yang belum terpecahkan sampai sekarang. Dimana dari semua calon yang pernah disodorkan ke hadapan Ve. Tidak pernah dilirik gadis itu dua kali. Sekali no tetap no. Susah sekali mendekati Ve. Hati adik Mark itu seolah memiliki gembok yang sampai kemarin belum ketemu kuncinya.


Tapi sejak adiknya dibawa pulang paksa oleh Fao dua bulan lalu. Nama Hans tidak pernah lepas dari bibir Ve. Gadis itu selalu bertanya soal Adrian. Pernah sekali Ve nekad ingin menerobos keluar lagi. Tapi ketahuan Sebastian. Membuatnya dihukum tidak boleh keluar kamar seminggu.


Dan Ve tak mau kalah. Dua hari dihukum, dia tumbang karena aksi mogok makannya. Membuat Mark dan yang lainnya pusing tujuh keliling dibuatnya. Pada akhirnya hanya Lyn yang kembali bisa membujuk Ve untuk makan. Dengan iming-iming Hans pasti akan datang jika sudah sembuh.


"Maksud ucapanmu?" Tegas Mark lagi.


"Aku mencintai adikmu. Dan berniat menikahinya" Jawab Adrian mantap dengan mata tak lepas dari manik mata biru milik Mark.


Mark mengusap dagunya pelan.


"Apa yang bisa kau janjikan padaku? Aku tahu track recordmu, Hans"


"Kalau begitu kau tahu dengan jelas jika aku belum pernah berhubungan **** dengan wanita manapun. Aku hanya making out dengan mereka" Skak matt Adrian.


"Sial dia menjebakku dengan ucapanku sendiri" Rutuk Mark dalam hati menyesali ketidak hati-hatiannya dalam berucap.


Sedang Albert langsung mengulum senyumnya. Mark selalu berhati-hati untuk urusan Ve. Tapi sepertinya, Adrian juga bukan lawan yang bisa diremehkan begitu saja. Satu kelebihan yang Adrian miliki. Pria itu telah lama dekat dengan keluarga Emmanuel. Bahkan Raja dan Ratu sebelumnya juga mengenal Adrian dan keluarganya.


"Aku menunggu keputusanmu, Mark. Satu jawaban untuk pertanyaanku tadi..aku menjanjikan yang terbaik untuk adikmu. Materi, tidak perlu aku sebutkan. Ve perlu orang yang bisa mencintainya apa adanya. Dan aku akan melakukannya. Juga jaminan keselamatan Ve selama bersamaku aku menjaminnya dengan....nyawaku sendiri" Adrian menatap dalam bola mata Mark.


Hening sejenak.


"Apa kau serius dengan adikku" Mark bertanya lagi.


"Aku belum pernah seserius ini soal wanita. Ve, satu-satunya wanita yang mengubah sudut pandangku soal pernikahan"


"Apa karena kau pernah menyentuh adikku atau karena kelebihan fisik yang dia punya?" Cecar Mark lagi.


"Oh come on Mark aku baru dua kali menciumnya..."


"Kurang ajar!" Mark melompati mejanya. Menerjang ke arah Adrian.


"Heii wait..wait...aku hanya menciumnya belum menidurinya"


"Aaarrghhhh"


Seketika Mark melepaskan cengkeramnnya pada kerah baju Adrian. Begitu pria itu meringis menahan sakit.


"Kau..!" Ucap Mark mengepalkan tangannya dengan rahang mengatup rapat. Menahan rasa kesalnya pada Adrian.


"Calm down, Bro" Albert menenangkan Mark.


Sedang Adrian langsung berusaha mendudukkan dirinya dengan nyaman kembali.


"Kau mau tahu kenapa aku menciumnya?" Tanya Adrian menatap tajam pada Mark yang masih menahan amarahnya.


"Apa Fao tidak melapor padamu? Adikmu diam-diam mencuri masuk ke klub malam"


"What??!!!" Baik Mark maupun Albert langsung berteriak tidak percaya.


"Tengah malam buta dia menyelinap keluar dari apartemenku. Demi masuk ke tempat mengerikan bagi gadis seperti Ve. Dan kau tahu alasan dia pergi kesana?"


Mark dan Albert menggeleng.


"Pe-na-sa-ran. Dia penasaran dengan semua yang ada di luar tembok istana. Yang paling parah dia penasaran soal ciuman, kencan, ONS..iishh kau benar-benar otoriter Mark" Protes Adrian.


Mark hanya terdiam mendengar ocehan Adrian yang memang benar adanya. Dia memang melarang Ve ini dan itu.


"Karena itu kau menciumnya?" Albert yang bertanya.


"Ya...daripada dia disosor pria lain di luar sana. Yang tidak jelas siapa. Mending juga aku yang menciumnya..."


"Iya, biar aku mudah menghajarmu?" Potong Mark cepat dengan tangan bersedekap di dadanya.


"Hajar...hajarlah...yang penting bibir adikmu milikku" Jawab Adrian sambil nyengir pasrah. Kalau Mark masih ingin menghajarnya.


Mark mendengus kesal. Tidak menyangka jika melawan Adrian membuatnya pusing juga. Pada akhirnya Mark memilih duduk di sofa, di depan Adrian.


"Kau membuatku bertambah pusing Hans" Keluh Mark menyentuh pelan pelipisnya.


Hans hanya tersenyum.


"Maka cepat putuskan" Desak Adrian.


"Kau ini melamar adikku tapi kenapa kau malah yang maksa"


"Wajarlah aku maksa. Daripada kau berikan adikmu pada pria tidak jelas di luar sana" Debat Adrian.


"Kau pikir aku akan sembarangan memberikan restuku pada pria yang ingin mendekati adikku"


"Iya aku tahu. Lagipula kau pasti melakukan screening kan?" Tebak Adrian.


Baik Mark maupun Albert mengangguk. Membuat Adrian tersenyum kemudian.


"Dan mereka semua tidak disukai adikmu" Tebak Adrian lagi.


Mark menghela nafasnya. Benar yang dikatakan Adrian.


"Kalau begitu aku boleh merasa menang kan?" Tanya Adrian sambil mengembangkan senyum lebarnya.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu. Mengerikan, Hans!" Bentak Albert yang membuat Adrian langsung memanyunkan bibirnya.


"Tahu sebabnya kenapa aku menang?"


"Kenapa?"


"Karena aku lolos seleksi kalian, juga disukai adikmu. Jika tidak kalian sudah mendepakku dari dulu, juga adikmu sudah menolakku dari dulu. Nyatanya tidak kan?" Sahut Adrian sambil menaikkan satu alisnya.


Mark dan Albert langsung saling pandang. Merasa kecolongan. Sebab jelas dari awal mereka semua memberi jalan pada Adrian untuk dekat dengan Ve. Dan Ve memang tidak menolak kehadiran Adrian sejak pertama keduanya bertemu.


"Sial! Aku salah langkah rupanya" Batin Mark kesal bukan kepalang.


****


Abang Hans yang lagi berjuang mendapatkan restu 🤭🤭🤭



Aduh mau dong bang bobok disampingmu aaawww 😉😘😘


***