Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Bermula



"Welcome to Johor Bahru, Sir" Sapa seorang pria dengan wajah yang cukup menyeramkan.


"Jangan terlalu formal padaku, Sham" Miguel menjawab santai.


"Ahh tentu saja" Balas Sham.


Mempersilahkan Miguel masuk ke mobil yang sudah menunggu. Sejenak Miguel menikmati pemandangan di sisi kanannya. Hingga tak lama. Mereka sampai di sebuah rumah panggung. Tidak ada yang menarik dari rumah itu. Namun ketika masuk. Suasana mewah langsung menyambut. Bak berada di hotel bintang 7 eh 5..bintang 7 puyeng dong.


Migue langsung duduk di sofa empuk. Tak lama Sham kembali dengan sebotol bir juga sebuah laptop.


"Diakah yang tuan cari" Sham berkata sambil menunjukkan sebuah video.


Miguel menatap laptop itu sejenak. Sejurus kemudian senyum terkembang di bibir Miguel.


"Iya. Dia yang aku cari. Kapan kita akan menjemputnya" Miguel bertanya antusias.


"Terserah Tuan. Kami siap kapanpun Tuan mau" Jawab Sham.


Hening sejenak.


"Besok. Kita akan menjemputnya. Hari ini kita akan melihat keadaannya dulu. Mereka pasti juga sudah bersiap" Balas Miguel. Sham mengangguk patuh.


Ve tengah berjalan bersama Lyn dan yang lainnya. Berjalan bersama teman-teman pekerja lainnya.


"Mereka kenapa?" Tanya Ve melihat tiga orang perempuan paling depan tampak sedang bertengkar.


"Biasalah Dita sama Mbak Vina. Bertengkar lagi" Sahut Lyn.


"Kali ini soal apa?" Kepo Ve.


"Mbak Vina ngomong si Dita jorok. Ditanya nggak terima. Ya sudah itu jadinya. Nanti Dita rak minta dibelain pacarnya" Timpal Bina.


"Masak sih?" Ve berucap tidak percaya.


"Lihat saja nanti di bus. Kadang pengen muntah aku lihat tingkahnya Dita. Dah jalan dibuat kayak bebek gitu. Sok seksi!" Maki Bina.


"Kan beneran seksi, Kak Bina" Seloroh Ve.


"Seksi konsumsi?" Sambung Enny.


"Woo itu mah Ve" Jawab Ve santai.


Semua tertawa mendengar pengakuan Ve. Mereka pikir bagaimana dengan tubuh selangsing itu. Ve banyak makannya.


"Tapi benar lo. Ve itu makannya banyak" Lyn membenarkan ucapan Ve.


"Ha?" Teriak yang lain. Sedang yang dibicarakan hanya nyengir.


Seperti biasa mereka langsung naik ke bus yang sudah menunggu. Tanpa Ve sadari. Sebuah mobil mengamati dirinya dengan teropong.


"Kau bertambah seksi dan cantik, Princess" Gumam Miguel.


"Dimana dia tinggal?" Tanya Miguel.


"Di mess yang disediakan pabrik, Tuan. Apa perlu kita ikuti?" Sham bertanya.


"Boleh. Aku ingin tahu dimana dia tinggal selama ini"


Tak berapa lama Miguel tampak membulatkan matanya. Melihat betapa sederhananya tempat tinggal Ve.


"Dia tinggal disini. Are you serious?" Miguel menatap tidak percaya pada tempat tinggal Ve.


"Ya, Tuan mereka tinggal berdelapan di sini" Jelas Sham.


Miguel kembali membuat mimik wajah tidak percaya.


"Gila! Ini gila! Bagaimana bisa dia tinggal di tempat seperti ini? Tidak bisa dipercaya" Batin Miguel.


***


Hari berganti.


"Aku menunggu di lebuh raya (jalan raya) depan Carrefour" Info Fao yang sudah siap dengan peralatannya.


"Baik aku akan turun menjemputnya" Jawab Adrian melalui ear piece-nya.


Pria itu berbalik. Dan tampaklah Richard yang sudah tiba disana. Adrian tampak merapikan jasnya. Menutupi kevlar anti peluru yang ia sembunyikan di balik vestnya.


"Apa perlu memakai ini, Rich" Adrian bertanya. Menerima Glock juga Revolver yang ia selipkan di pinggangnya juga ia selipkan di kaki kirinya.


"Untuk berjaga-jaga, Hans" Jawab Richard.


"Kalian tunggu di belakang. Aku akan menjemputnya. Dia ada di phase 3" Sambung Adrian. Berlalu dari hadapan Iz dan Richard.


"Ready Bang?" Tanya Richard yang disambut tawa oleh Iz.


"Tuan ini pandai bercanda. Siaplah. Dah lama tidak main dor...dor...fiuuhhh" Balas Iz santai.


"Tak tahu apa yang dia siapkan. Yang jelas dia punya bawahan di sini. Miguel menjadi pemasok senjata untuk beberapa kelompok penjahat di sini" Jelas Richard singkat.


Keduanya keluar dari ruangan Adrian. Mengabaikan bisik-bisik dari karyawan di ruangan itu. Melihat Richard yang bule beneran. Berada di kantor mereka.


"Haisshh, dimana sih dia" Gerutu Adrian yang tak bisa menghubungi Ve dari tadi.


"Ya..."


"Dimana dia?"


"Phase 3"


"Aku tahu. Tapi dia tidak menjawab teleponku"


"Ke toilet mungkin. Atau low bat"


"Lalu"


"Penting banget apa?"


"Iya"


"Akan kuhubungi dia melalui telepon biasa"


"Cepatlah. Katakan padanya aku menunggu di pintu belakang phase 3"


Adrian berjalan ke bagian belakang gedung. Menunggu kedatangan Ve.


"Ada apa sih?" Tanya Ve yang datang dengan nafas terengah-engah.


Detik berikutnya pria itu memeluk Ve erat. Entah apa yang Adrian rasa. Tapi dia tahu hari ini, Ve akan pulang. Suka atau tidak suka. Mau atau tidak mau. Keadaan dikhawatirkan akan semakin berbahaya jika membiarkan Ve tetap berada di sini.


"Berjanjilah untuk tetap tersenyum" Pinta Adrian. Tidak tahu kapan dirinya akan bisa bertemu Ve lagi.


Jika dia sudah pulang ke Paris tidak masalah kalau hanya sekedar berkunjung ke negara M yang memang berbatasan langsung dengan negaranya. Tapi, dia masih harus stay disini lebih kurang 1,5 bulan lagi.


"Kak Hans kenapa sih" Ve merasa aneh dengan sikap Adrian.


Bukannya menjawab, pria itu hanya menggandeng Ve masuk ke dalam sebuah mobil yang sudah menunggu.


"Kita mau kemana?" Kepo Ve.


"Jalan-jalan" Balas Adrian singkat. Iz mengulum senyumnya mendengar jawaban Adrian.


"Dengan Iz juga?" Sebab biasanya Iz tidak pernah ikut jika mereka jalan-jalan.


"He e biar ramai" Sahut Adrian menekan ear piece-nya tanpa Ve sadari. Memberi kode pada Fao kalau mereka sudah siap.


"Akan ada mobil yang mengawal kalian. Aku lihat dia ada disana. Masih tidak tahu bagaimana dia akan bertindak. Yang aku takutkan jika dia memaksa melakukan konfrontrasi di tempat terbuka. Ini akan sangat berbahaya. Mengingat tempat kalian adalah kawasan kilang (pabrik) dengan hunian penduduk sipil yang lumayan padat" Jelas Fao malam sebelumnya. Begitu dia sampai dengan pesawat khususnya.


"Lalu?" Tanya Adrian.


"Kita akan membawanya sejauh mungkin dari kawasan itu menuju ke sini secepat mungkin" Fao menunjuk sebuah lokasi yang memang agak jarang penduduknya.


"Jika kita memang terpaksa harus berkonfrontasi dengan mereka. Aku sudah berkoordinasi dengan kepolisian setempat. Dan ini "top secret" Fao mengakhiri penjelasannya.


Mobil mulai melaju keluar dari kilang.


"Maaf membawamu pulang dengan cara seperti ini" Batin Adrian melihat Ve yang tengah menatap gedung kilang tempatnya bekerja selama 1,5 bulan ini.


Adrian tahu Ve mungkin akan marah padanya, jika tahu bahwa hari ini dia akan pulang. Tanpa berpamitan pada teman-temannya. Adrian tahu kesedihan yang akan Ve rasa.


Tapi Adrian tidak punya pilihan. Fao sudah menjelaskan situasinya. Jadi Adrian hanya bisa menuruti arahan dari Fao. Dia sendiri juga akan melakukan hal yang sama jika berada di tempat mereka. Memastikan membawa Ve pulang dengan selamat ke negaranya.


Dua pesawat bahkan sudah stand by di Senai Airport. Dengan izin khusus dari Pangeran Abdullah. Siap membawa Ve pulang ke negaranya. Kembali ke istana dengan segala peraturan yang Ve benci.


"Aku harap kamu sudah punya jawaban atas pertanyaanku. Jika kita bertemu nanti" Batin Adrian.


Pelan meraih tangan Ve, menggenggamnya. Hal yang membuat Ve heran.


"Kak Hans kapan pulang?" Tanya Ve menatap tangannya yang berada dalam genggaman tangan Adrian. Ada rasa bahagia yang membuncah di dadanya.


"Semalam?" Jawab Adrian singkat.


"Tidak bawa oleh-oleh?"


"Memangnya apa yang kau mau dari Shanghai?" Adrian bertanya.


Mengawasi dua mobil yang mengawal mobilnya. Dari spion tengah dia berkomunikasi dengan Richard. Melalui kode tatapan mata.


****


Up malam. Cari bahan biar mata melek..dapatnya ini...



Kredit Instagram @ ksndr_22


Boleh deh buat vitamin mata 🤭🤭


Oh ya cerita ini full halunya author ya. Jadi jangan dibayangkan kalau di Malaysia itu banyak kejahatan. Di sana aman. Kalau ada tindak kejahatan itu hanya tindak kejahatan receh. 4 tahun pernah nguli di sana. Itu yang author rasa. So sekali lagi, ceritanya ini full halu. Meski tempatnya real punya...


***