
"Sir, ada petunjuk dimana dia berada" Lapor seorang hacker pada Miguel.
Laporan itu membuat Miguel langsung mengembangkan senyumnya. Pencariannya tidak sia-sia.
"Dimana?" Tanya Miguel.
"Di Malaysia. Johor Bahru, lokasi tepatnya masih dalam pencarian. Tapi kami yakin seratus persen itu adalah dia. Benar dia memakai soft lens dengan kamuflase DNA terbaru. Tapi kami berhasil membongkarnya. Dan menemukan warna mata aslinya. Serta hasilnya match dengan data yang Anda berikan" Jelas hacker itu.
"Bagus. Berikan lokasi tepatnya jika sudah ketemu. Aku akan bersiap untuk menjemputnya" Sahut Miguel dengan seringai mengerikan di wajahnya.
"Yes, Sir!"
"We'll meet soon, baby" Batin Miguel.
Meraih ponselnya. Menghubungi seseorang.
"Aku pikir akan berkunjung ke tempatmu dalam beberapa waktu ke depan"
"..."
"Akan kuberitahu waktu tepatnya. Berlian yang aku cari ada di tempatmu"
"..."
Miguel tersenyum. Tidak sabar menunggu dia bisa menikmati tubuh Ve diranjangnya.
***
Adrian manyun. Bagaimana tidak? Kini dirinya terpaksa menemani Ve yang tengah asyik makan durian. Gadis itu langsung berteriak minta berhenti begitu melihat pedagang durian yang banyak berjajar di pinggir jalan.
"Enak kak" Tawar Ve.
"Kolesterol tinggi Ve. Jangan banyak-banyak. Nanti badanmu panas" Adrian memperingatkan.
"Kan Ve cuma makan dua biji. Nggak sekebun" Jawab Ve enteng.
"Dua biji kalau gedhenya segini ya sama aja kayak makan sekebun" Ketus Adrian menunjuk dua durian dengan besar yang memang terhitung super.
Ve cuek saja menanggapi ucapan Adrian.
"Salahnya Kak Hans jemput Ve. Coba kalau Ve naik taksi. Pasti nggak beli"
"Alah bohong. Tetep aja kamu berhenti buat beli. Oh ya, kapan kamu nyolong pergi Angsana. Seingatku waktu kita pergi ke Angsana kamu nggak masuk ke Habib Jewelrey. Kenapa kamu bisa membeli perhiasan di Habib?" Todong Adrian.
"Aaa itu, Ve niatnya mau ke Danga Bay malah nyasar ke sana" Jelas Ve.
"Kapan kamu ke Danga Bay tanpa aku?" Desak Adrian.
"Iihh kenapa sih. Yang penting kan Ve tidak apa-apa. Jangan kaku-kaku dong" Pinta Ve memelas.
Adrian menarik nafasnya dalam.
"Jangan diulangi!" Kesal Adrian pada akhirnya.
"Siap!"
"Kalau tidak lupa" Batin Ve sambil tersenyum.
Menghabiskan duriannya. Dengan Adrian yang memicingkan matanya menatap Ve curiga. Dia tahu Ve bukan tipe gadis yang mudah menurut. Ve punya jiwa pemberontak dalam dirinya.
"Sudah ya habis ini pulang" Bujuk Adrian setelah melihat Ve melahap potongan terakhir dari duriannya.
"Beli tart yang kemarin Kak Hans belikan" Pinta Ve.
Adrian menghela nafasnya.
"Iz yang beli. Nanti aku minta Iz untuk membelinya" Jawab Adrian enggan berdebat dengan Ve.
Ve tersenyum.
"Itu semua kadar gula tinggi Ve. Hati-hati" Adrian memperingatkan.
"Kan nggak tiap hari. Lagipula besok sudah mulai inspect" Jawab Ve.
"Kalau production sudah jalan"
"Kemarin ada delay di finishing. Jadi kemungkinan produknya sekarang numpuk di sana" Balas Ve.
Adrian diam. Dia memang belum memeriksa laporan terbaru dari bagian produksi.
"Bagus tahu masuk kerja habis libur langsung dapat produk. Nggak perlu nunggu lama"
"Ini kan cuma libur satu hari. Nanti kalau libur Raya atau libur akhir tahun. Masuk kerja kena cleaning kamu"
"Tidak percaya? Tunggu akhir tahun"
"Tapi sepertinya aku tidak akan sampai akhir tahun" Batin Ve.
"Mungkin kamu tidak akan sampai akhir tahun" Batin Adrian.
Hari sudah gelap ketika mobil Adrian masuk ke basement apartementnya di JB. Dia enggan kembali ke Tebrau. Lelah sekali rasanya. Apalagi dilihatnya Ve yang sudah terlelap dari tadi. Terlihat jika Ve kurang nyaman dengan posisi tidurnya.
Hingga akhirnya. Tubuh Ve bisa tidur di ranjang yang empuk setelah Adrian menggendong tubuh Ve naik ke unit apartementnya.
Pria itu menarik nafasnya pelan. Menarik selimut untuk menutupi tubuh Ve. Setelah Adrian melepas heels lima senti yang Ve pakai.
***
Malam di JB semakin larut. Hening dan tenang. Tapi tidak di sebuah sudut kota JB. Area yang masih dalam kawasan City Square. Ada sebuah bangunan yang dikenal dengan hiburan malamnya. Sebuah tempat dengan kedok klub malam. Dengan hingar bingar musiknya. Dengan khas bau alkohol. Serta perempuan seksi berlalu lalang untuk menawarkan jasanya. Menjadi penghangat ranjang semalam.
Di sinilah seorang gadis dengan tubuh terbungkus rapi jaket berwarna hitam berada. Lengkap dengan masker dan hodie yang menutupi wajah serta kepalanya.
Ve...entah apa yang merasuki kepalanya. Hingga nekad pergi ke tempat yang bisa saja membahayakan dirinya. Entah dia tahu resikonya atau tidak. Tapi rasa penasarannya benar-benar membuat hilang akal sehatnya.
Mengabaikan peringatan dari Fao. Bahwa yang dilakukannya kali ini sangat berbahaya. Tapi Ve meyakinkan Fao kalau dia akan baik-baik saja.
Gadis itu berjalan masuk seperti biasa. Seolah sudah biasa berada ditempat itu. Dia benar-benar ingin tahu soal kehidupan malam. Bagian mana yang membuatnya ingin tahu. Dia sendiri masih mencari tahu.
Menyeruak masuk di antara puluhan manusia dengan dua gender yang berbeda. Begitu masuk. Kepalanya langsung berdenyut nyeri. Musik yang terdengar begitu memekakkan telinga. Kupingnya serasa mau pecah dibuatnya.
Belum lagi, bau menyengat dari alkohol langsung menusuk indera penciuman Ve. Kepala Ve semakin bertambah pusing. Plus dengan pemandangan yang membuat tubuhnya seketika panas dingin saat melihatnya.
Menyaksikan banyak pasangan yang tanpa malu dan segan melakukan hal yang bagi Ve, sangat tidak lazim dilakukan di tempat terbuka. Berpelukan. Berciuman. Bahkan disatu sudut yang cukup gelap. Bisa Ve lihat meski samar.
Seorang pria yang tengah mengayunkan pinggulnya. Bergerak maju mundur seperti berolah raga. Awalnya Ve tidak paham apa yang dilakukan pria itu. Hingga ketika dia melewatinya. Dia melihat dengan jelas apa yang dilakukan pria itu.
"Oh my God. Itu tadi bercin...ta gaya apa lagi. Bisa-bisanya melakukan ditempat terbuka seperti ini" Batin Ve bergidik ngeri.
"Minum?" Tanya seorang bartender ketika Ve sudah mengambil tempat duduk di depannya.
"Vodka" Jawab Ve singkat.
Dia sudah lama ingin mencicipi minuman yang memiliki kadar alkohol hampir empat puluh persen di tiap botolnya itu.
Tak berselang lama sebuah sloki kecil sudah berada di hadapan Ve. Berisi cairan bening seperti sprite. Namun yang ini akan membuatmu melayang dan kehilangan kesadaran.
Ve masih mengamati tempat itu. Memandang ke depan sana dimana puluhan manusia menggerakkan badannya dibawah komando musik dari seorang DJ. Berjoget plus beberapa pemandangan yang kembali mengganggu indera penglihatannya.
Dia baru tahu isi sebenarnya dari tempat berjuluk klub malam itu. Tempat yang dia baca. Menawarkan banyak hiburan untuk sekedar melupakan masalah hidup. Atau kalau menurut Ve, malah akan semakin menambah masalah dalam hidup.
"Perlu teman?" Sapa sebuah suara dari arah samping.
Ve langsung menoleh. Dilihatnya seorang pria yang berdiri di sampingnya. Tampan, satu kata yang terlintas di kepala Ve. Memang itulah syarat untuk bisa mendapatkan uang di tempat ini. Tampan, cantik dan juga seksi.
Sesaat Ve memindai penampilan pria itu. Tampan iya. Seksi mungkin, dilihat dari betapa ketatnya kemeja yang membalut tubuh pria itu. Tanpa Ve sangka pria itu mendekat. Membuat Ve langsung memundurkan tubuhnya. Mencari jarak aman.
"Aku bisa menghangatkan ranjangmu, Nona" Bisik pria itu.
"Dia tahu aku wanita" Batin Ve menatap tidak percaya sekaligus curiga.
Ve bermaksud ingin berdiri, menghindar. Tapi pria itu agresif sekali. Dalam hitungan detik sudah berada di depan tubuh Ve. Mengurung Ve dengan dua lengannya.
"Mau ke mana Baby? Kita bahkan belum bersenang-senang" Bisik pria itu. Ve harus menjauhkan diri.
"Alamak, aku malah terjebak" Batin Ve lagi.
Ve jelas tidak ingin membuat keributan dengan membanting pria mesum ini. Tapi bagaimana caranya dia keluar dari sini. Tanpa keributan, juga tanpa seorang pun tahu kalau dia wanita.
"Bagaimana Baby. Mau bersenang-senang denganku?" Tanya pria itu lagi.
Ve baru saja akan menjawab. Ketika satu suara terdengar di belakang pria itu.
"Dia datang bersamaku!" Ucap suara baritone yang begitu Ve kenal.
"Alamak!!! Mati aku!!" Jerit Ve dalam hati.
Menatap nanar pada pria yang kini menatapnya tajam. Bak burung elang siap mencabik mangsanya.
***
Kredit Instagram.com
****