Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Otewe Bucin



Mark tampak memijat pelipisnya. Pening kepalanya dia rasa. Baru saja dia kembali, setumpuk masalah sudah menunggu. Ditambah Ve yang masih belum mau makan apapun membuatnya terpaksa diinfus oleh dokter Lawrence.


"Minggir!" Teriak seorang pria dari pintu ruang kerjanya membuat Mark langsung mengalihkan pandangan ke pintu.


"Biarkan dia masuk" Perintah Mark. Membuat dua penjaganya membungkukkan badan lantas keluar lagi dari ruangan Mark.


"Ada yang bisa aku bantu, Paman Eduardo?" Tanya Mark santai.


Dia tahu hari ini akan datang. Kematian Miguel jelas akan membuat sang Paman marah. Apalagi Miguel di tembak oleh Fao, salah satu orang kepercayaannya.


"Apa maksudmu menetapkan Miguel sebagai pelaku pembantaian lima tahun lalu. Dan pantas mendapat hukuman mati"


"Bukankah sudah jelas. Semua bukti memang mengarah pada Miguel. Lagipula bukan aku yang menetapkan Miguel bersalah atau tidak. Kami hanya mencari bukti. Dan kebetulan Miguel terlibat di dalamnya. Bahkan dia dalangnya" Jelas Mark menatap tajam pada Eduardo.


"Bukti itu pasti rekayasa kalian. Kalian memanipulasinya!" Teriak Eduardo.


"Bukti itu asli. Mereka sudah mengecek keaslian dan keotentikan bukti yang kami berikan" Tambah Mark masih dengan sikap tenangnya.


Brraakkkkk!!


Eduardo menggebrak meja kerja Mark. Namun Mark tidak bergeming. Dia hanya diam menatap dingin pada sang Paman.


"Jangan melewati batasanmu Paman" Ucap Mark dingin. Wajahnya cukup menggambarkan kalau dia tersinggung dengan tindakan Pamannya.


"Kau yang sudah melewati batasanmu. Kau menggunakan kekuasaan seenak kepalamu sendiri. Kau tidak pantas menjadi seorang pemimpin!"


"Lalu siapa yang pantas memimpin? Paman merasa pantas? Sedangkan putra Paman sendiri tidak lebih baik sikapnya dari seorang penjahat di luar sana. Dia memculik Ve. Membuat keruh hubungan dua negara. Bahkan hampir melecehkan Ve. Jangan kira kami tidak mempunyai bukti kebusukan Miguel. Citra satelit Icarus merekam semuanya!" ancam Mark.


Eduardo terdiam.


"Kau bohong!" Raung Eduardo tidak terima.


"Paman ingin buktinya. Akan kukirimkan ke rumah Paman. Agar Paman bisa melihatnya sendiri. Karena rekaman itu bukan untuk konsumsi publik" Lanjut Mark.


"Kurang ajar! Aku tidak terima. Aku akan membalasnya. Kau tunggu saja. Saat penobatanmu. Saat Hilda naik menjadi ratumu. Kau tidak akan berkutik!"


"Dan Paman pikir aku akan memilih Hilda. Oh come on, Paman. Masak iya aku dapat barang bekas. Aku raja, Paman. Masak Paman tidak tahu tipeku. Aku suka perawan" ledek Mark.


Eduardo tercekat. Secara tidak langsung Mark sudah menolak Hilda. Tidak. Dia tidak boleh kalah kali ini. Hilda harus naik tahta bersama Mark.


"Akan kubuat Hilda tetap naik di hari penobatanmu" TekadEduardo yakin.


"Jangan berpikir menggunakan trik kotor atau menjebakku. Aku sudah mengantisipasi semua itu" Kembali Mark berucap dengan tenang.


"Sial! Bocah ini selalu saja punya cara untuk menggagalkan rencanaku" Batin Eduardo geram.


"Kau lihat saja. Aku akan membalas semua yang kau lakukan pada Miguel. Aku akan mendapatkan apa yang menjadi hakku!"


"Hak Paman adalah diakui sebagai keluarga kerajaan lain tidak ada. Lagipula Miguel pantas mendapat hukumannya. Dia menghilangkan nyawa dari seratus orang yang tidak bersalah hanya karena salah sasaran!"


"Kau.....kau tunggu saja. Akan kubuat kau menangis darah karena kehilangan orang yang paling kau cintai!" Kata Eduardo lantas berlalu dari hadapan Mark.


Setelah kepergian Eduardo. Barulah wajah Mark berubah cemas. Ancaman Eduardo cukup membuatnya khawatir. Orang yang paling dicintainya saat ini adalah sang adik, Ve juga...dia. Meski keberadaannya belum banyak yang tahu. Tidak, bukan tidak ada yang tahu soal Lyn. Tapi perasaan Mark untuk Lyn belum ada yang tahu. Kecuali ketiga sahabatnya juga...Adrian.


Pria itu menghembuskan nafasnya pelan. Eduardo mulai membuatnya cemas. Apalagi ada laporan kalau Pamannya pernah melakukan pertemuan rahasia dengan "K" pemimpin mafia yang telah lama menjadi momok tersendiri bagi negaranya.


Fao sudah mati-matian berusaha menangkap "K", tapi selalu gagal. Pria itu selalu bisa lolos dari jebakan yang Fao buat. Sosok "K" sendiri masih misterius. Belum pernah ada yang melihat wajahnya langsung. Identitas sebenarnya pun masih rahasia.


"Aarrgghhh"


Mark menjambak kasar rambutnya. Frustrasi benar-benar melandanya.


***


Mark melangkah masuk ke kamar Ve. Dia berharap tidak lagi melihat sang adik dengan infusnya. Tapi sejak kemarin Mark masih melihat jarum infus setia menancap di pergelangan tangan kiri Ve.


Begitu masuk. Mark langsung mendengar suara tawa Ve. Dengan seorang.....wanita.


Pria itu langsung menghambur masuk. Dan melihat Ve yang tengah duduk sambil memakan satu porsi makan siangnya. Seketika Mark mengembangkan senyumnya. Melihat sang adik sudah mau tertawa dan makan.


"Kau makan Ve?" Tanya Mark. Namun tangan Fao mencegah Mark untuk mendekat.


Pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Tampak menatap lurus pada Ve yang tengah asyik menyantap makanannya sambil mengobrol via video call. Dengan...suara itu terdengar tidak asing di telinga Mark.


"Dengan siapa dia berbicara?" tanya Mark menatap tajam Fao yang langsung menarik nafasnya pelan. Baru kali ini Fao kehabisan cara untuk membujuk Veronika.


"Aku tidak punya cara lagi untuk membujuknya makan. Hanya ada dua nama yang selalu dia tanyakan. Hans jelas tidak mungkin aku hubungi. Meski dia sudah setengah sembuh. Ve akan tahu jika Hans terluka. Dan aku yakin jika dia akan langsung memaksa pergi ke Prancis"


"Lalu dia bicara dengan siapa?" tanya Mark cepat.


"Yang itu...


"Kak Lyn bisa saja.." Ucapan Ve membuat Mark langsung menatap Ve.


"Lyn? Dia bicara dengan Lyn?" Mark bertanya tidak percaya.


Fao mengangguk.


"Kau ingin nimbrung juga?" Fao bertanya. Tiba-tiba timbul pikiran isengnya.


"Kau mau mengerjaiku?"


"Aku bertanya saja. Kenapa kamu sewot?" Sungut Fao pura-pura.


"Beneran? Alah rindulah dengan kak Lyn" Ucap Ve lagi.


"Aku juga merindukanmu" Batin Mark menatap ponsel Ve seolah Lyn ada disana.


"He em" Fao berdehem.


"Apa?"


"Mau aku beri saran agar dia mau kemari tanpa dicurigai publik" Pancing Fao.


Mark langsung menunjukkan ekspresi tertariknya.


"Isshh jual mahalah sedikit Pangeran. Murahan amat...aduuuhhhh!"


Mark langsung mengeplak lengan Fao.


"Apa sih ribut-ribut?" Tanya Ve sambil menatap tajam pada dua pria di hadapannya.


"Ve, kau mau tidak akhir tahun kak Lyn-mu datang ke sini?" Teriak Fao.


Mark langsung melotot mendengar ucapan Fao.


"Mau...mau. Mau ya Kak? Kita liburan di sini di tempat Ve"


"Ya, kalau ke tempat Ve sama saja aku pulang kampung" Jawab Lyn yang langsung bisa didengar dua orang itu.


"Ee...Ve lagi nggak di Jakarta. Ve ada di...rumah kakak Ve yang lain" Jawab Ve sambil menggaruk kepalanya. Takut ketahuan jika dia berbohong soal siapa dirinya.


"Lalu rumah Ve di mana sekarang?"


"Jepang" Bisik Fao dari jauh.


"Aaaa, Jepang" Jawab Ve gelagapan.


"Kalian jadi tukang bohong!" Gerutu Mark melangkah keluar dari kamar Ve.


"Tapi kamu suka kan? Akhir tahun bisa bertemu "dia" Goda Fao.


"Apaan sih!" Kilah Mark. Padahal bibirnya sudah tersenyum dengan hati berbunga-bunga.


"Begini amat rasanya jatuh cinta" Batin Mark merutuki diri sendiri.


Menyukai seseorang ternyata membuat dirinya terlihat bodoh. Fao hanya mengulum senyumnya melihat tingkah Mark. Jatuh cinta membuat Mark terlihat lebih menggemaskan dengan sikap malu-malu maunya.


"My prince otewe bucin" Batin Fao tertawa ngakak.


***