Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
KMB- Keluarga Ajib



"Kakak kan bisa menolaknya" Teriak Lyn dari luar kamar mandi. Gadis itu sedang menunggu Mark mandi. Seluruh tubuh dan wajahnya penuh lumpur gegara ulah sang ayah yang membawa Mark ke sawah untuk membajak sawah


"Aku yang menawarkan diri Lyn. Bukan bapak yang ngajak. Aku bosen dirumah. Kamu kan ke florist" Jawab Mark menyembulkan kepalanya dari dalam kamar mandi.


"Kenapa tidak keluar?" Tanya Lyn heran.


"Aku naked. Mau lihat?" Jawab Mark sambil menaikkan satu alisnya.


"Mesum!" Lyn berucap langsung melesat pergi dari depan kamar mandi.


Mark tertawa geli melihat tingkah juga wajah Lyn yang merona merah. Pria itu melangkah cepat sambil memegangi handuk di pinggangnya. Untung kamar mandi rumah Hanif terletak di dapur. Tidak perlu berjalan jauh untuk sampai ke kamarnya.


"Kak...!" Panggil Lyn dari luar kamarnya. Ketika Mark masih memakai boksernya.


"Apa sih manggil-manggil. Masuk saja kalau mau masuk" Jawab Mark santai.


"Idih ogah" Jawab Lyn.


"Ada apa?" Tanya Mark yang masih topless sambil membuka pintu. Menampilkan tubuh kekar berototnya. Yang sejenak kembali membuat wajah Lyn memerah.


"Isshh pakai baju dulu! Nanti dilihat mbak Rani"


"Takut dilihat mbak Rani atau takut kamu tergoda?" Goda Mark.


"Aaaa...aadduuuhh" Mark berteriak ketika Lyn mencubit perut kotak-kotaknya.


"Rasakan!" Ucap Lyn galak.


Gadis itu berlalu ke arah ruang tamu. Dengan Mark mengekor di belakangnya. Sambil mengusap perutnya yang terasa panas akibàt cubitan dari calon istrinya.


"Astaga Lyn jangan galak-galak napa? Dulu perasaan kamu lemah lembut deh" Ujar Mark ikut duduk di depan Lyn.


"He he baru tahu ya kalau aku galak. Ve tidak memberitahu kakak kalau aku galak." Tanya Lyn setengah meledek.


Mark menggelengkan kepalanya.


"Masih bisa dibatalkan kok akadnya" Kata Lyn santai.


Mark seketika membelalakkan matanya.


"Jangan bercanda kamu. Enak saja main dibatalkan. Alah galaknya cuma diluar saja. Kalau di kasur nggak"


Pluk!


Satu bantal sofa langsung melayang.


"Belum juga akad sudah KDRT aja" Gerutu Mark.


"Makanya kalau ngomong jangan sembarangan. Sekarang back to topic. Bagaimana kakak bisa ikutan bapak bajak sawah?" Interogasi Lyn.


"Kan sudah kubilang. Aku yang pengen ikut. Aku pikir itung-itung ngegym. Olahraga sama tu sapi. Eh gak tahunya lumpurnya kemana-mana" Jawab Mark.


"Bukan itu maksudnya. Kakak tahu nggak kalau sedang dikerjain bapak?" Info Lyn.


"Maksudnya?"


"Kita bajaknya pakai traktor Prince Mark" Jawab Lyn setengah berbisik.


"Whattt?!!!"


"Ha sekarang baru teriak "what" Ledek Lyn.


Mark jelas tidak tahu harus bicara apa. Bisa-bisanya camernya malah mengerjai dirinya.


"Memang di sana tidak ada pertanian?" Tanya Lyn.


"Ada, tapi kami tanam gandum sama anggur. Beras, kami impor. Lahan kami terlalu kering untuk ditanami padi. Juga lahannya terbatas" Jelas Mark.


"Bukannya semua sudah pakai mesin?" Tanya Lyn.


"Sudah. Semua pertanian pakai mesin" Jawab Mark sendu.


"Makanya hati-hati. Bapak sama mas Hanif itu orangnya usil"


"Tapi kalau mereka memintaku melakukan suatu hal masak aku tolak to" Jawab Mark serba salah.


Lyn hanya bisa menarik nafasnya dalam.


***


Malam menjelang. Kembali Mark yang ditugaskan menjadi imam. Dan kembali dia membuat takjup keluarga Lyn.


Seusai makan malam yang tidak sedrama kemarin malam. Mereka kembali duduk berbincang di ruang tamu.


"Bapak ini ada-ada aja. Masak calon mantunya disuruh mandi lumpur disawah" Bu Tini menggerutu.


"Ya maaf Bu. Nak Abi. Bapak iseng orang niatnya bapak mau ngajak si Belang jalan-jalan kesawah. Eh, Nak Abi mau ikut. Lah dijalan ketemu pak Mardi dia tanya mau bajak sawah po. Yo tak iyani aja. Eh...


"Bapak ni gak asyik!" Potong Lyn cepat.


"Sorry, sorry...


Mark hanya diam. Sedikit jengkel tapi juga cukup terhibur dengan kekocakan keluarga Lyn.


"Oh ya nak Abi. Maaf sebelumnya. Tapi nak Abi ini kan mualaf ya. Apa nak Abi sudah sunat?" Tanya bu Tini malu-malu.


"Ibuk..." Lyn yang bicara sedikit keras.


"Lah itu ki penting Lyn. Dalam agama kita hukumnya wajib lo. Kalau belum disunat ya alamat akadnya diundur dulu." Jawab bu Tini.


"Jadi bagaimana sudah sunat belum?" Tanya Hanif tajam.


Lyn jelas memerah mukanya. Kenapa juga dibicarakan didepan dirinya. Tidak tahu apa otaknya sudah travelling kemana-mana. Hingga suara Mark membuyarkan acara travellingnya.


"Alhamdulillah, saya sudah sunat sejak kecil. Ibu saya orang Asia. Dan kebetulan lingkup tempat tinggalnya adalah muslim.Ibu jadi tahu manfaat sunat. Hingga begitu dia mempunyai anak laki-laki langsung diikutkan untuk sunat."


Hening sejenak.


"Boleh dicek jika tidak percaya" Tantang Mark.


Lyn jelas langsung menatap horor pada Mark. Yang malah tersenyum jahil. Ternyata pria itu balik menjahili keluarganya.


"Aahh soal itu. Biar Lyn yang mengeceknya." Jawab pak Hendro.


Dan bisa dibayangkan betapa malunya Lyn mendengar ucapan santai dari sang bapak. Malu benar rasanya, sampai pengen tenggelam ke dasar bumi. Sedang Mark langsung mengulum senyumnya. Melihat wajah merah Lyn yang sudah seperti kepiting rebus.


"Habis kau besok malam" Ucap Mark tanpa suara. Membuat Lyn semakin malu dan salah tingkah.


Tanpa mereka pedulikan orang-orang yang bekerja lembur untuk mempersiapkan pernikahan kilat mereka. Tenda yang cukup mewah dengan dekorasi yang cukup wah sudah 70 persen dikerjakan. Besok pagi diharapkan sudah siap. Mereka bekerja dibawah arahan Hanif dan Richard. Sedang Marco ditugaskan memantau keadaan.


Suasana hening tiba-tiba menjadi sedikit ribut ketika Rani masuk sambil menggerutu.


"Dasar mulut lemes. Tukang rumpi. Tukang gosip. Nggak seneng lihat tetangga seneng aja"


"Kenapa sih Mbak?" Tanya Lyn.


"Tuh si Surti nyebarin gosip. Katanya kamu buru-buru nikah sebab sudah melendung duluan" Jawab Rani tanpa filter.


"Astagfirullahal'adzim. Itu fitnah. Betul kan Lyn"


"Itu fitnah Bu. La wong Lyn baru tadi pagi periksa ke Puskesmas. Cek kesehatan untuk syarat ke KUA. Lyn nggak hamil kok. Buktinya ada" Jawab Lyn. Sambil menatap Mark yang juga balik menatapnya.


"Ya sudah. Biarkan saja. Toh yang penting kamu tidak seperti itu to."


"Tapi kuping Rani gatal Pak. Bu Surti itu kan sudah lama iri sama Lyn. Anaknya kan sampai sekarang belum laku. Padahal lebih tuaan dia daripada Lyn. Sedang Lyn dari dulu sudah dipesan orang. Dan besok malah sudah mau nikah..


"Dan calonnya ganteng, bule lagi" Sambung bu Tini.


"Nah itu dia...


"Ya lawan saja kalau kamu berani" Suara Hanif yang baru saja masuk rumah.


"Memang boleh Mas?" Tanya Rani.


"Boleh tapi caranya...


"Harus cantik dan elegan" Ucap Rani dan Hanif bersamaan.


"Astaga, kenapa juga keluarga Lyn jadi ajib begini" Batin Mark menatap Lyn yang malah nyengir. Menyaksikan keajiban keluarganya sendiri.


Di sisi lain,


Satu tamparan langsung mendarat di pipi Fadly. Sang ayah sangat marah. Mendengar kelakuan putranya. Tercoreng sudah nama baiknya sebagai salah satu pemilik pondok pesantren di lingkungan tempat tinggal Lyn.


"Kau benar-benar membuat Abah malu. Bagaimana bisa kau melakukan itu. Menikah siri dengan dua perempuan. Dan masih ingin menikahi Lyn. Mau ditaruh di mana muka Abah,Fadly" Kalimat itu spontan keluar dari ayah Fadly.


Sedang Fadly hanya bisa terdiam.


"Sudah jangan diperpanjang lagi urusan ini. Perjodohan kalian batal. Biarkan Lyn menikah dengan pilihannya dan pilihan keluarganya"


"Tapi, Bah. Fadly mencintai Lyn."


"Kalau kamu mencintai Lyn kenapa juga kamu menikah dengan mereka. Kenapa? Karena kamu tidak bisa menahan hawa naf**mu?"


Fadly kembali diam. Niatnya menikah siri memang untuk menyalurkan hasrat biologisnya.


"Kau diam? Berarti tebakan Abah benar. Astaga Fadly. Bahkan calon suami Lyn langsung melamar Lyn begitu dia datang. Sedang kamu. Hanya mengikatnya lewat ucapan tanpa tindakan"


Fadly terdiam. Namun dalam hati dia sibuk memaki calon suami Lyn. Mark.


"Awas saja kau. Aku akan buat perhitungan denganmu" Batin Fadly.


"Abah peringatkan Fadly. Jangan bertindak di luar batasan. Tingkahmu sudah cukup membuat Abah malu. Sekarang lebih baik perbaiki dirimu. Juga perlakukan dua istrimu dengan adil. Bagaimanapun mereka sudah jadi istrimu. Tanggungjawabmu!" Ucap ayah Fadly menutup sesi panjang ceramah plus meluapkan amarah.


***