Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Ketakutan Lyn



Lyn terus saja berjalan mondar mandir di kamarnya dari tadi. Sesekali gadis itu menggigit bibir bawahnya. Cemas luar biasa. Ve..gadis itu tidak pulang ke rumah juga tidak terlihat di kilang. Sejak Adrian meminta bertemu.


Berkali-kali menghubungi ponsel Ve, Adrian dan Iz tapi tidak juga terhubung. Semua tidak aktif di waktu bersamaan.


"Ada apa ini?" Seketika rasa cemas menerpa Lyn. Berbagai pikiran buruk merasuk ke pikirannya. Adakah sesuatu yang terjadi pada mereka.


"Lyn kau tak nak makan ke?" Ika berteriak dari lantai bawah.


Menyambar ponselnya kembali. Lantas keluar dari kamarnya.


"Tengok apa?" Lyn mendudukkan dirinya diantara teman-temannya yang sedang makan.


"Makan?" Ira menunjukkan piringnya.


"Tengah tak berselera" Jawab Lyn dengan mata menatap ke arah televisi.


Seketika mata Lyn membulat. Melihat berita di televisi. Seraut wajah nampak terlihat jelas di sana. Wajah yang beberapa waktu lalu sempat Ve tunjukkan padanya.


"Fao...Fao...ada di sini" Lyn membatin penuh tanya.


Apalagi tayangan itu, tayangan berita kriminal dengan judul polisi berhasil menangkap gerombolan penjahat yang beraksi dengan senjata selundupan. Penjahat itu ditangkap sekaligus dengan orang yang memasok senjata kepada para penjahat itu. Dan pemasok itu diketahui telah ditembak mati.


Lyn teringat, Ve beberapa kali berhubungan dengan Fao lewat ponsel. Bahkan hanya nama pria itu yang selalu Ve sebut ketika berbicara di ponselnya. Bukan nama kakak Ve, yang Lyn tidak tahu. Juga asisten kakak Ve yang lain.


"Eh Lyn, Ve tak balik lagi ke?" Ina bertanya sambil mengunyah makanannya.


Lyn mengedikkan bahunya. Pikirannya hanya dipenuhi oleh nama Fao. Bagaimana dia bisa menghubungi Fao. Dan bertanya soal di mana Ve.


***


Pranggg,


Brakkk,


Klontang,


"Miguel....!"


Eduardo berteriak sambil terus menghancurkan barang-barang yang ada diruang kerjanya.


Berita kematian sang putra telah sampai ke telinganya. Pun dengan jasad Miguel yang sedang dalam perjalanan pulang ke negara M.


"Siapa?! Siapa?! Siapa yang melenyapkan putraku?!" Teriaknya dengan kemarahan yang meledak hingga ke ubun-ubunnya. Namun disaat yang bersamaan air mata juga mengalir dari pipinya.


"Menurut laporan Sham...Letnan Fao"


"Fao kau bilang? Beraninya dia melakukan itu pada putraku! Akan kubalas kau Fao...akan kubalas kau!"


"Tuan tenang dulu"


"Bagaimana aku bisa tenang? Putraku...Miguel dibunuh oleh bedebah Fao...katakan bagaimana aku bisa tenang!!"


Teriakan Eduardo menggelegar di ruangan itu.


Rasa sedih, marah dan kehilangan berbaur menjadi satu. Membuat rasa benci Eduardo pada pihak kerajaan semakin besar. Benci yang kini berubah menjadi dendam.


"Halo...bisa kita bertemu malam ini" Eduardo berbicara melalui ponselnya.


"...."


"Soal kerjasama yang kau tawarkan padaku. Aku pikir akan menerimanya"


"..."


"Baik malam jam sebelas malam ditempat biasa"


"Tuan apa yang kau lakukan?"


"Aku akan membalas dendam atas kematian Miguel. Tidak peduli bagaimananpun caranya. Mereka semua harus hancur" Tekad Eduardo dengan api kemarahan yang terus membara di hati dan pikirannya.


"Aku sudah lama bersabar menghadapi mereka. Tapi mereka semakin keterlaluan. Lihatlah apa yang bisa aku lakukan nanti. Aku akan membalaskan dendam putraku. Tidak peduli jika istana hancur sekalipun. Aku akan menghancurkan kalian semua" Eduardo membatin.


***


Hari berganti..


Lyn sudah berlari ke lantai tiga. Dimana office berada. Tujuannya Adrian atau Iz. Ve tidak pulang semalam. Membuat kecemasan Lyn semakin mendekati puncaknya.


"Ya?" Kak Maria menyapa.


"Bisa bertemu Mr Lee?" Jawab Lyn cepat.


"Mr Lee tak da ditempat. Hari ini tak datang kot" Kak Maria menjawab sembari menatap ruangan Adrian.


"Kalau Asisten Iz?" Kembali Lyn bertanya.


"Asisten Iz..sekejap ya...ahh itu dia datang" Kak Maria menjawab sambil menunjuk pintu lift yang terbuka.


"Permisi Kak" Lyn berucap sambil berlari menyongsong Iz.


"Ikut aku" Pria itu berkata sebelum Lyn sempat bertanya.


"Apa yang terjadi? Ve dimana? Kenapa dia tidak pulang semalam. Kemana Hans membawanya?" Lyn langsung mencecar Iz dengan pertanyaan yang sejak semalam memenuhi pikirannya.


Lyn menarik nafasnya.


"Dimana mereka?" Lyn mulai bertanya.


"Siapa?" Iz menjawab. Menatap rapuh pada Lyn.


"Iz....Hans dengan Ve lah. Siapa lagi?" Lyn jelas tidak sabar menunggu jawaban Iz. Tapi Iz malah menarik nafasnya dalam.


"Ve ...pulang. Dijemput Fao. Kau tahu dia kan?


"Pulang? Ke mana? Jakarta?" Lyn kembali memberondong Iz.


"Soal itu aku tidak bisa menjawab. Tidak berani sebenarnya" Jawaban Iz semakin membuat Lyn bingung.


"Oke, Ve pulang. Setidaknya dia aman dengan Fao. Lalu Hans, dia dimana? Kenapa dia tidak pergi bekerja?" Desak Lyn lagi.


Kali ini wajah Iz langsung berubah murung. Dia teringat bagaimana terpukulnya Nyonya Lee Zi Jia, mama Adrian. Begitu mereka datang tadi pagi. Melihat keadaan putra semata wayangnya. Masih belum bisa lepas dari masa kritisnya. Pada akhirnya Mark yang menghubungi orang tua Adrian. Menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya.


"Iz....aku ingin bertemu Hans" Lyn berkata menatap wajah Iz yang memerah menahan tangis.


"Sebentar...


Iz meraih ponselnya.


"Dia ingin melihatnya"


"..."


"Baik"


Lyn terus menatap Iz yang masih diam.


"Ikutlah denganku nanti sepulang kerja" Iz berucap sambil menatap wajah Lyn.


Dan hari itu seakan waktu berjalan begitu lambat bagi Lyn. Gadis itu benar-benar tidak sabar bertemu Adrian. Bertanya soal Ve. Sebab Lyn yakin kalau Adrian pasti akan menjawab semua pertanyaannya soal Ve.


"Lyn, aku tanya dengan Shahrul. Ve tengah ambil cuti. Kau tahu dia pergi mana?" Tanya Mas.


"Cuti? Yang aku tahu dia balik kampung. Tidak tahu cuti atau balik terus" Lyn menjawab sambil melamun.


Keduanya sedang berada di ruang scan. Tidak mengambil OT. Mas malas sebab tidak berpartner dengan Ve. Mas melongo mendengar jawaban Lyn.


Mas berlalu dari hadapan Lyn. Tak berapa lama. Sebuah pesan masuk ke ponsel Lyn.


"Parking area phase 1"


Lyn langsung berlari masuk kembali. Membuka pintu di sisi kanan. Dan sampailah dia di area parkir phase 1. Lyn sedikit memundurkan langkahnya. Bukan Iz yang menunggunya. Tapi seorang pria bule. Yang terlihat menyeramkan bagi Lyn. Wajahnya dingin dengan kacamata hitam bertengger di wajahnya.


"Kau menakutinya, Richard" Iz berkata sambil keluar dari pintu di sisi kiri Lyn. Pintu dari lift office.


"Dia siapa?"


"Namanya Richard. Masuklah. Kita akan berangkat" Ajak Iz membuka pintu mobil.


"Iz aku bukan supirmu. Atasanku cuma satu!" Richard memprotes Iz yang duduk di kursi belakang.


"Iya...iya aku pindah" Iz berpindah ke kursi depan. Disamping Richard.


"Dia siapa?" Lyn mengutarakan rasa ingin tahunya.


"Ahh bagaimana ya mengatakannya. Kau ini siapa sebenarnya?" Iz malah bertanya pada Richard.


"Aku bodyguard atasanku" Richard menjawab.


"Aku tahu itu. Lalu siapa atasanmu?


"Aa rahasia" Richard menjawab sambil menatap wajah Lyn dari spion tengahnya.


"Jaga matamu, Rich!" Iz memperingatkan. Sebab ada kemungkinan Lyn adalah calon ratu negara M.


Dalam perjalanan. Semua hanya diam. Semakin lama. Lyn semakin mengerutkan dahinya. Dia tahu jalan ini mengarah ke mana.


"Iz kenapa kita kemari. Siapa yang sakit?" Lyn bertanya dengan hati cemas.


"Nanti kau akan tahu. Turunlah" Pinta Iz membukakan pintu mobil.


"Jangan bilang kalau Ve terluka" Kejar Lyn.


"Nanti kau akan tahu" Iz tetap tidak mememberi tahu Lyn.


"Ketiganya terus berjalan masuk begitu sampai di rumah sakit itu. Tidak ada kata yang terucap. Sampai mereka sampai di ICU rumah sakit itu.


"Iz jangan membuatku takut" Lyn berupaya menekan ketakutannya sendiri. Takut kalau apa yang ada dalam bayangannya terjadi.


**



Kredit Instagram @ ksndr_22


***