
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?" Tanya Adrian yang disambut kekehan diujung sana.
"Wuiih raja rimba kalah sebelum berperang," ledek Mark.
"Jangan meledekku!" Adrian berucap kesal.
"Lalu aku harus bagaimana? Oh ya, bagaimana bisa kamu terdampar disana?" Mark mulai penasaran akan cerita Adrian.
"Samalah dengan adikmu. Bagaimana bisa dia nyungsep disini dan jadi karyawanku," balas Adrian melirik ke arah Iz yang langsung membulatkan matanya.
"What?! She's a princess? Adik dari Prince Mark?" Batin Iz terkejut bukan kepalang.
Terdengar helaan nafas dari ujung sana.
"Ceritanya panjang Hans. Yang jelas dia jadi lebih emosional sejak kematian ayah dan ibuku. Karena dari penyelidikan sementara, Ve ada disana dan dia mengakui kalau dia yang menyalakan perapiannya. Tanpa dia tahu kalau ada gas beracun didalamnya. Kamu tahu dia merasa bersalah. Depresi, menjadi sulit dikendalikan, merasa semua orang menuduhnya telah melenyapkan orang tua kami. Karena hal itu juga, hubungan kami agak kurang baik akhir-akhir ini," jelas Mark singkat.
Adrian jelas terkejut dengan penuturan Mark. Baru tahu kisah yang sebenarnya. "Lalu bagaimana dia bisa lolos dari pengawalanmu?" Adrian menelisik.
"Fao? Kau tahu Fao, aku rasa ini semua ada campur tangan dia. Hingga Ve bisa sampai ke sana," tambah Mark.
"Fao, tentu saja. Dengan kemampuannya apa yang tidak bisa dia lakukan," guman Adrian dalam hati.
Adrian cukup tahu siapa Fao.
"So..bisa kita mulai negosiasinya?" Mark berubah jadi mode serius.
"Apa kesepakatannya?" Adrian balik bertanya.
****
Adrian memijat pelipisnya yang lagi-lagi rasanya ingin meledak. Belum satu hari dan begitu banyak masalah yang timbul. Marketing, produksi, administrasi. Oooh tidak, semua itu masih bisa dihandle oleh otak encer bin tengilnya.
Tapi menghandle Ve? Yang benar saja. Menjadi bodyguard rahasianya selama tiga bulan. Oh my, ini mimpi terburuk yang pernah dia dapat.
Ve jelas begitu sulit dikendalikan. Ditambah lagi Mark mengatakan kalau sekarang gadis itu semakin emosional.
"Bantulah aku untuk menjaganya. Tiga bulan. Berikan dia waktu tiga bulan untuk berada ditempatmu. Setelahnya, mau tidak mau aku akan menjemputnya."
"Menjadi bodyguardnya begitu?"
"Lebih kurang seperti itu. Hans, adikku benar-benar belum pernah merasakan kehidupan dan kebebasan di luar istana. Aku tahu aku salah. Tapi kamu tahu sendiri betapa bahayanya bagi Ve berada di luar sana seorang diri. Dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Ve. Hanya dia yang aku punya," tutur Mark terdengar sendu dan putus asa.
Adrian tahu, Mark hanya ingin jadi kakak yang baik. Selalu melindungi Ve. Tapi caranya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Ve merasa sang kakak terlalu mengekangnya. Hingga timbul ide Ve untuk melarikan diri dari kakaknya. Setidaknya itulah yang disimpulkan oleh Adrian.
Lama menimang. Adrian akhirnya menerima permintaan Mark untuk menjadi bodyguard Ve selama dia berada di JB. Sekedar untuk membantu meringankan beban pikiran Mark. Juga mempertimbangkan persahabatan mereka yang terjalin hampir 15 tahun lamanya. Apalagi dimasa lalu Marklah, orang yang selalu membantu dirinya kala kesusahan.
Jangan dibayangkan susahnya Adrian masalah serius. Masalah Adrian ya kucing-kucingan dengan papanya sendiri. Karena tiap berbuat masalah dan sang papa marah. Adrian selalu "ngumpet" di villa Mark yang ada di Prancis, membuat papa Adrian tidak pernah bisa menemukannya.
Adrian pikir, kini saatnya dia membalas budi. Meski akhirnya tahu, kalau ternyata balas budi berat banget. Menjadi bodyguardnya Ve, yang benar saja. Adrian tersenyum kecut mengingat keputusannya sendiri.
"Aku pasti sudah gila!"
Akhirnya kalimat itu yang keluar dari bibir seksi Adrian. Bibir dengan banyak korban yang berhasil dia ajak berciuman. Eh salah, para wanita itu yang biasanya "nyosor" duluan.
Meluapkan bagaimana frustrasinya dia, setelah mengambil keputusan paling ekstrim yang pernah dia buat. Namun dia juga mendapat penawaran yang tidak kalah menggiurkan dari Mark. Jika dia bersedia menjadi pengawal pribadi Ve selama tuan putri itu berada di JB.
"Setelah aku menjemput Ve. Aku akan membujuk Papamu untuk mengeluarkanmu dari sana."
Itulah pertukaran yang mereka sepakati. Adrian tahu. Papanya dan Mark cukup dekat. Dengan posisi Mark. Bisa dipastkan jika papanya akan segan untuk menolak permintaan sang putra mahkota. Hingga mau tidak mau, sang papa akan menuruti permintaan Mark. Dan kebebasannya akan segera datang.
"Cewek seksi. Mobil sport. Ahh aku sangat merindukan kalian," pikir Adrian.
"Oke! Tiga bulan! Hanya tiga bulan. Mari kita lakukan itu," Adrian berujar lagi, membuat Iz yang sejak tadi diam akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"So, she's the princess?" Tanya Iz
memastikan.
"As you see," jawab Adrian membenarkan.
(Seperti yang kau tahu)
"Oh my God, bisa terjadi kekacauan besar, Bang jika banyak orang tahu siapa dia," Iz ikut berkomentar.
"Karena itu Iz. Jangan sampai hal ini diketahui orang banyak. Cukup aku dan kamu yang tahu siapa Ve. Lain tidak boleh," pinta Adrian.
Iz mengangguk paham.
"Patutlah dia dah nampak berbeza sejak first time kita jumpa. Aura tuan putri memang berbeza," tutur Iz.
(Pantas, dia sudah terlihat berbeda dari pertama kita bertemu. Aura tuan putri memang berbeda)
Adrian hanya mengangguk, mengiyakan.
"Pantas saja wajahnya begitu familiar bagiku," batin Adrian.
"Oh iya Bang, apa kalian saling kenal?" Tanya Iz kepo.
Satu pertanyaan yang sejak tadi bersemayam di benak Iz.
"Tidak. Kami tidak kenal satu sama lain. Aku memang berteman dengan Prince Mark. Tapi aku belum pernah bertemu dengan tuan putri itu. Melihatnya pun baru sekali dua," kenang Adrian sembari menatap langit-langit ruang kerjanya.
"Aku melihatnya ketika di berulangtahun yang ketujuh belas. Dan sekarang dia sudah tumbuh jadi seorang gadis yang cantik dan...seksi," batin Adrian mengusap ujung bibirnya.
Adrian yang ahli soal perempuan langsung bisa berkata seperti itu. Melihat Ve sekilas. Adrian langsung bisa tahu ukuran aset Ve yang mampu membuat pria manapun tergoda untuk menyentuhnya. Termasuk dirinya yang hidupnya tidak pernah jauh dari kata wanita.
Terlebih dengan status Ve yang seorang putri. Dijamin jika seluruh tubuh Ve, mendapatkan perawatan kelas wahid, membuatnya semakin memiliki nilai lebih, di mata pria manapun yang akan menikmatinya kelak.
Satu lagi, dengan penjagaan ketat dari Mark, sang kakak. Bisa dipastikan jika tubuh Ve masihlah polos. Belum pernah tersentuh pria manapun. Adrian berani menjamin jika gadis itu masih virgin alias pera..wan. Adrian menyeringai penuh makna.
"Lalu Abang seriuskah mau jadi bodyguardnya tuan putri Ve," Iz bertanya memastikan.
"Aku tidak punya pilihan Iz. Prince Mark mungkin satu-satunya harapanku untuk bisa keluar dari sini. Tiga bulan, waktu yang Prince Mark berikan untukku. Setelah itu dia akan menjemput Ve," kata Adrian mulai meraih berkas yang ada dihadapannya.
Satu hari masuk kantor, Adrian harus dihadapkan dengan banyaknya masalah yang ada di kilang sang kakek. Dia harus bekerja cepat menyelesaikan semua masalah yang ada. Bisa Adrian bayangkan kalau dia akan sangat sibuk. Ditambah lagi dengan tugas jadi bodyguard bagi Ve.
"Oh God," keluh Adrian tiba-tiba.
"Are you okay, Bang?" Tanya Iz lagi, melihat atasannya terlihat tidak baik-baik saja.
"Rasanya aku sudah gila bahkan ketika aku belum memulai semuanya," tutur Adrian masih berkutat dengan banyaknya berkas diatas meja kerjanya.
Iz tersenyum melihat tingkah atasannya. Meski tengil dan somplak, Adrian jelas orang yang bertanggungjawab pada pekerjaan juga ucapan.
"Beeuuuhhh, negosiasi itu benar-benar membuatku gila," teriak Adrian pada akhirnya.
"Oh ya Bang. Tugas Abang jadi bodyguard itu mulainya kapan ya?" Iz melirik jamnya.
"Ya sekaranglah. Aku double agent sekarang. CEO merangkap bodyguard. Puas kamu!" Adrian berujar kesal.
"Jadi apa perlu saya melaporkan dimana tuan putri berada," tanya Iz ragu.
"Tentu saja. Dimana dia sekarang?" Adrian ikut melihat ke arah pergelangan tangannya. Pukul enam sore.
"Aahh itu dia ada di..."
"Oh my Iz, kenapa kamu tidak bilang dari tadi. Kita harus menyusulnya sekarang. Kesana!"" Adrian berikrar panik.
Dia tahu Ve punya keahlian bela diri juga menembak. Tapi tidak mungkin juga dia membiarkan Ve berkeliaran di jalanan sendirian. Akan sangat berbahaya bagi diri Ve.
Tanpa sadar, Adrian jadi mengkhawatirkan soal perempuan untuk pertama kalinya. Meski ini hanya karena permintaan seseorang.
***