
Sebulan berlalu. Hari yang dinanti bagi semua pekerja tiba. Ga..ji..an. Semua pekerja, antusias dengan yang namanya gajian. Tapi Ve tidak. Melirik slip gaji pun tidak. Bodo amat dia gajian berapa. Toh uang yang diberikan Fao tidak akan kurang. Meski dia ngemall tiap hari.
Ya, iyalah duit dari Fao nggak pernah kurang. Orang dia kalau keluar nggak pernah beli apa-apa. La mau beli apa. Orang semua benda dia sudah punya. Paling-paling dia beli makanan.
Dalam kurun waktu satu bulan itu. Ve sudah melanglang buana ke semua tempat yang dia anggap menarik di JB. Terakhir dia mencuri waktu ke Angsana Mall, Holiday Plaza, Jusco, Danga Bay. Bahkan sempat berpikir untuk menyeberang ke Singapura melalui jalur darat. Memakai bus. Tapi diurungkannya. Mengingat akan ada pasport check sebelum masuk ke wilayah Singapura.
Juga berburu kuliner tiap akhir pekan di pasar malam. Adrian masih selalu mengawal Ve kalau gadis itu masuk pasar malam. Meski sekarang Ve sering pergi dengan Lyn. Tapi Adrian tidak masalah. Lyn sendiri cuek dengan kehadiran Adrian.
Selama sebulan ini hubungannya dengan Adrian masih lempeng-lempeng saja. Pria itu memang bersikap baik padanya. Tapi belum membuat Ve berpikir untuk menerima ajakan menikah dari Adrian.
Dan selama sebulan ini. Lyn terus menjadi mentor bagi Ve dalam segala hal. Hingga gadis itu tak lagi polos dalam hal percintaan dan pergaulan di luar sana.
"Makan apa ni?" Tanya Ina saat mereka sedang mengantri untuk mengambil makan siang mereka. Antrian mereka masih normal-normal saja. Dengan Ve seperti biasa. Mengambil bagian paling belakang dengan Lyn.
Lyn sekarang tahu kenapa Ve lebih banyak diamnya. Ternyata gadis itu lebih berkonsentrasi pada lagu yang diputar otomatis di telinganya. Seperti saat ini. Telinganya di penuhi alunan lembut suara dari boygroup asal Korea Selatan, favoritnya. BTS yang sedang hits dengan single terbarunya. Yet To Come.
Ve tersenyum. Ingat ketika dia pernah disentil keningnya oleh sang kakak. Gara-gara pernah membuat heboh. Menonton konser boygrup itu tanpa memberi tahu kakaknya saat mereka ada kunjungan kerja ke Korea.
Bisa dibayangkan betapa kacaunya keadaan saat itu. Saat itu dia berhasil di tarik keluar oleh anak buah Lee Joon. Yang berhasil memindai dirinya dari ribuan Army yang ada disana. Mark terpaksa meminta bantuan Lee Joon waktu itu. Karena jika dia sendiri yang bertindak. Bisa dipastikan konser itu akan berantakan.
Tanpa Ve sadari. Kehebohan terjadi di belakang Ve. Dimana semua orang dibuat terkejut dengan kedatangan orang nomor satu di kilang itu. Adrian iseng untuk makan siang di kantin kilang. Hanya sesekali ingin terlihat membaur dengan pekerjanya.
Pihak kantin jelas heboh dengan kedatangan Adrian. Pasalnya pria tampan itu tidak memberitahu jika dia akan makan siang di kantin. Selama ini dia memang makan menu kantin. Tapi diantar langsung ke ruang kerjanya. Menunyapun sedikit berbeda. Ya iyalah yang makan kan CEO.
Kehebohan itu tidak menarik perhatian Ve. Hingga satu senggolan tangan Lyn. Membuat Ve kembali fokus.
"Apa?" Tanya Ve dengan gerak bibir tanpa suara.
"Hans" Balas Lyn di telinga Ve karena posisi mereka berdampingan.
Reflek Ve menoleh. Mendapati Adrian tepat di belakangnya sambil tersenyum. Pekerja lain mungkin akan sibuk memberi jalan pada Adrian. Tapi Lyn dan Ve tidak.
"Antri!" Desis Ve melalui sudut bibirnya.
"Aku tahu" Balas Adrian sedikit mencondongkan tubuhnya.
"Hari ni semua makan free. CEO kita yang bayar" Info kak Yana pengelola kantin.
Semua orang jelas bersorak gembira.
"Kenapa gak tiap hari?" Seloroh Lyn.
"Hei, aku juga perlu nabung buat nikahan" Adrian yang menjawab di samping Ve.
"Narsis. Siapa juga yang mau nikah sama dia?" Potong Ve cepat.
"Berarti ada yang merasa diajak nikahlah" Balas Adrian.
"Narsis!"
Dan interaksi bisik-bisik mereka tidak luput dari perhatian pekerja disana. Semakin menguatkan dugaan mereka kalau Ve punya hubungan dengan CEO mereka.
"Makanlah yang banyak. Biar semok sedikit" Seloroh Adrian menģgoda Ve. Padahal Adrian jelas tahu porsi makan Be diluar kilang.
Pria itu berlalu sambil membawa piring makan siangnya. Diikuti Iz yang mengulum senyumnya.
"Abang Iz menyebalkan!" Gerutu Ve.
"Kak Lyn semok tu apa?" Tanya Ve yang baru dengar istilah semok.
Ve langsung melirik tajam ke arah Adrian yang tampak mengulum senyum dari tempat pria itu duduk. Begitu Lyn membisikkan arti kata semok.
"Dasar omesh!" Pekik Ve tertahan.
"Macam mana kantinnya, Mr Lee?" Tanya cik Syafee yang mengikuti acara dadakan Adrian.
"Bolehlah. Saya cukup puas dengan kebersihannya. Mungkin menunya saja yang lebih divariasikan. Agar mereka tidak bosan. Saya bisa memilih menu. Tapi mereka kan tidak" Jawab Adrian.
Ketiganya duduk di meja paling ujung. Dengan Adrian duduk menghadap ke dalam. Di mana dia bisa mendapat view 360° di kantinnya. Yang jelas, sudut matanya tak lepas dari sosok Ve yang makan dengan Lyn.
"Sudah seperti Upin Ipin saja kemana-mana berdua" Batin Adrian.
"Oh ya Mr Lee. Ada request soal dinner tahunan kita minggu depan?" Tanya cik Syafee.
"Lakukan saja seperti biasa. Aku akan mengikuti rule dan adatnya" Jawab Adrian. Dengan sudut mata yang masih menatap Ve.
"Akhir minggu ni jom kita shopping sama-sama. Cari baju buat dinner minggu depan" Ajak Ina.
"Haaa bolehlah tu. Boleh pergi dengan mobil Ira" Tambah Ina lagi.
"Boleh juga tu. Dah Lama kita tak pergi sama-sama" Sambung Ira.
"Tapi kalau semua pergi. Satu mobil tak cukup" Celetuk Suzy.
"Yang ada boyfriend tu suruh mereka antarlah. Boleh?" Tanya Ina.
"Bolehlah. Nanti aku cakap dengan abang aku" Jawab Ika.
"Tapi anak rumah lain mau sekalian ikut tidak. Kalau iya bisa suruh Abang Zai antar sekalian. Dia kan suka antar anak-anak ini"
"Boleh-boleh. Nanti aku tanya mereka"
Ve dan Lyn hanya sesekali menimpali ucapan mereka.
"Dinner itu apa kak Lyn?" Tanya Ve ketika mereka berdua berjalan meninggalkan kantin. Setelah Lyn menjalankan kewajibannya.
"Makan malam tahunan. Biasanya di helat di Eden Garden Hotel. Danga Bay. Tapi tahun ini tidak tahu. Hans masih mau disitu atau di tempat lain. Soalnya ada selentingan mau dihelat di New York Hotel atau JW Marriot. Mau ganti suasana katanya" Jawab Lyn.
"Kalian maunya dimana?" Tanya Adrian tiba-tiba.
Ternyata pria itu berjalan di belakang mereka.
"Astaga! Spot jantung aku!" Teriak Ve.
"Gitu aja terkejut" Seloroh Adrian. Yang kembali didampingi Iz.
"Habisnya kayak hantu. Tiba-tiba nongol" Ve menjawab kesal.
Adrian tertawa.
"Jadi mau dimana?" Adrian bertanya ulang.
"Apanya?" Lyn bertanya.
"Dinnernya to"
"Di New York hotel aja. Ball roomnya lantai 25. Oke tu" Usul Ve.
"Tahu dari mana?" Tanya Lyn heran.
"Aku pernah ngi....aaa baca reviewnya di Google" Ve menjawab gelagapan.
Hampir keceplosan dia pernah menginap di sana.
"Oke nanti biar Iz bicara dengan panitianya"
"Seriously?" Ve bertanya tidak percaya.
"Apa sih yang nggak buat kamu?" Jawab Adrian menatap dalam pada Ve.
Blushh, wajah Ve merona seketika.
"Ahh Iz ayo kita pergi. Lama-lama kita jadi obat nyamuk disini" Gerutu Lyn yang disambut kekehan oleh Iz.
"Baru tahu jadi obat nyamuk. Dah dating sana berdua. Daripada sama dia aku lebih setuju sama Iz" Ucap Adrian asal.
"Issshh Abang ni main jodoh-jodohkan orang saja" Protes Iz.
"Kenapa? Kau masih naksir anak sebelah itu"
"Abang!! Jangan buka rahasia orang dong!" Protes Iz lagi.
"Memang abang Iz naksir siapa?" Ve kepo.
"Anak unit sebelah" Jawab Adrian cuek.
"Haishhh, abang ini buat malu aja" Gerutu Iz.
"Kenapa mesti malu. Kejar dia kalau dia masih free" Saran Lyn.
"Beneran boleh?" Tanya Iz.
"Lah dia balik nanya. Ya bolehlah. Biar nggak jadi jones" Seloroh Adrian.
"Ngeledek aku ya" Protes Ve.
"Kamu tu nggak jomblo ya. Kamu punya aku" Tegas Adrian.
Kontan ucapan Adrian membuat semua orang melongo.
****