
Pagi menjelang. Meski semalam Ve tidur tidak terlalu malam. Tapi sepertinya sudah jadi kebiasaan Ve untuk bangun siang. Rumah Paman Lyn sudah heboh dari pagi buta. Dan Ve masih nyenyak dengan mimpinya. Hingga Lyn membangunkannya sekitar pukul 6. Ketika yang lain sudah mulai bersiap dengan persiapan ijab qobul kakak sepupu Lyn, Nur Aini.
"Ishh kak Lyn ini bikin malu saja. Masak dirumah orang aku dibiarin bangun siang" Gerutu Ve. Berniat masuk ke kamar mandi ketika ponselnya berbunyi.
"Apa? Pagi-pagi mengganggu!" Salak Ve.
"Aku dibawah" Jawab suara itu.
Ve lalo (lambat loading) sejenak. Di bawah? bawah mana maksudnya? Pikir Ve. Hingga Lyn masuk tergesa-gesa ke dalam kamar.
"Ve...Ve...
"Ada apa?"
Lyn sejenak menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Membuatnya sulit bicara.
"Ap sih Kak. Acaranya masih jam 10 kan. Aku kan tidak ikut dimake up" Balas Ve heran melihat tingkah Lyn.
"Hans Ve....Hans. Dia ada didepan" Sahut Lyn cepat begitu dia bisa bicara.
"Whatttt?!!!!"
Adrian tampak masih duduk didalam mobilnya. Ketika dilihatnya Ve turun dari dalam rumah Paman Lyn. Senyum mengembang di bibir Adrian. Melihat penampilan Ve. Kaos besar. Celana trainning. Rambut yang digulung asal. Bisa dipastikan Ve pasti baru bangun tidur. Sumpah pengen ngakak, lihat penampilan Ve. Tapi tetep cantik di mata Adrian.
"Ngapain Kak Hans ke sini?" Todong Ve begitu pria itu menurunkan kaca mobilnya.
"Jemput kamu" Jawab Adrian yang kala itu memakai kaos oblong putih dan topi.
Kredit Instagram.com
"Ve belum mau pulang" Tolak Ve.
"Ya sudah aku tungguin" jawab Adrian santai. Menyandarkan tubuhnya di kursi pengemudinya.
"Kak Hans jangan bikin kacau deh. Aku paling cepat pulang nanti sore setelah acara resepsinya atau malah besok" Terang Ve.
"Kamu nggak kerja?"
"Aku ambil cuti besok"
"Hei kau belum boleh ambil cuti"
"Bodo amat!"
"Bodo amat juga. Aku mau nungguin kamu disini"
Dan keduanya masih saja terus berdebat. Hingga teriakan Lyn membuat perdebatan mereka terhenti.
"Ve suruh dia masuk. Mak cik menyuruhnya naik" Teriak Lyn.
"Yessss!" Gumam Adrian.
"Kamu sengaja buat mata-matain aku kesini" Todong Ve.
"Ishhh, siapa juga yang mata-matain kamu" Jawab Adrian. Memakai jaketnya lantas turun dari mobilnya.
Kredit Instagram @ ksndr_22
"Ambilkan paperbag yang dibelakang" Perintah Adrian.
"Apa ini?"
"Oleh-oleh. Kata Iz perlu, waktu berkunjung ke rumah orang tua"
Ve mengulas senyum tipisnya. Melangkah menuju rumah dengan dua paper bag di tangannya. Juga Adrian yang membawa tiga paperbag di tangannya.
Kedatangan Adrian jelas membuat kehebohan. Tentu saja dengan ketampanan yang dia miliki siapa yang tidak terpesona dengan penampilannya. Apalagi hari ini. Ketika tampilannya begitu santai.
Oleh Lyn, Adrian dikenalkan sebagai bosnya. Tapi orang-orang itu menganggap Adrian pacar Ve.
"Isshhh, mereka suka sekali bergosip" Gerutu Ve ketika mulai ritual mandinya.
Sementara Adrian masih berbincang dengan keluarga Lyn di depan sana.
"Astaga! Kak Hans ngapain disini?" Teriak Ve yang baru saja keluar kamar mandi. Dan parahnya, Ve keluar hanya memakai handuk yang melilit tubuhnya.
Adrian melongo dibuatnya. Dia tahu Ve seksi. Tapi melihat tampilan Ve yang seperti itu jelas saja dia tergoda.
"Kau sengaja memancingku ya?" Tanya Adrian.
"Isshh apa sih" Kilah Ve mencari paper bagnya.
"Nyari apa?" Tanya Adrian.
"Underwearlah" Ve menjawab santai.
"Kau benar-benar sengaja" Desis Adrian lagi. Pria itu kini menghimpit tubuh Ve ke tembok kamar.
"Kak Hans mau apa?" Ve bingung dengan sikap Adrian.
"Soal?"
"Soal kau yang menggodaku!"
"Aku tidak menggoda kak Hans. Aku mau pakai baju. Sudah jam 9, acaranya sudah mau dimulai" Balas Ve cepat. Sungguh tidak paham dengan situasinya.
"Pertanggungjawabanmu tidak perlu waktu lama kok" Jawab Adrian. Detik berikutnya, pria itu sudah melabuhkan bibirnya di bibir Ve. Membuat keduanya bertaut dengan manis.
Ve langsung membulatkan matanya.Terkejut juga takut. Takut ada yang melihat aksi Adrian yang dinilai Ve nekad. Berani mencium dirinya ketika berada di rumah orang.
Beberapa waktu berlalu. Adrian melepaskan tautan bibirnya setelah melu*** lembut bibir Ve beberapa kali. ******* yang membuat tubuh gadis itu menegang. Plus jantung Ve yang berdebar puluhan kali lipat.
"Oh my God, inikah yang dinamakan ciuman" Batin Ve sesaat memejamkan mata.
Menikmati ciuman Adrian. Padahal ini bukan kali pertama Adrian mencium dirinya. Namun karena waktu itu, Ve masih begitu polos hingga tidak tahu bagaimana merespon ciuman Adrian. Tapi kini rasanya berbeda. Ciuman Adrian direspon oleh hati dan tubuh Ve.
"Oh tidak, aku bahkan menikmatinya" Rutuk Ve dalam hati.
"Kamu menyukainya? Bukankah menurut kakakmu ini masih diperbolehkan?" Goda Adrian setelah benar-benar melepaskan ciumannya.
Meninggalkan Ve yang masih melongo karena efek dahsyat ciuman Adrian.
"Aku gila! Aku pasti sudah gila!" Kembali hati Ve memaki dirinya sendiri.
"Kenapa Kak Hans melakukannya?" Protes Ve.
"Karena aku ingin. Kenapa? Mau lagi?" Tanya Adrian.
"Mesum!" Teriak Ve.
"Jangan berteriak! Di sini tidak kedap suara. Mereka bisa mendengar teriakanmu" Adrian mengingatkan.
Ve langsung memanyunkan bibirnya.
"Jangan buat bibirmu jadi seperti itu. Itu membuat semua pria ingin menciummu. Cepat pakai bajumu. Kau membuat kepalaku pusing" Kata Adrian. Lantas melepas jaketnya. Berbaring di kasur yang langsung membuat Adrian mengeluh.
Kasurnya keras. Plus dengan tinggi Adrian yang seperti pohon kelapa. Kaki Adrian menjuntai saking kurangnya tempat.
Ve mendengus kesal melihat tingkah Adrian. Mengambil baju dari almari. Meraih paperbag lantas masuk ke kamar mandi.
"Kepalaku pusing Ve. Kau membangunkan yang dibawah sana" Gerutu Adrian.
(Salah siapa main sosor aja 🤣🤣)
Adrian sudah sebulan lebih tidak meluapkan bisanya. Jelas dia tersiksa sekali, karena baru kali ini miliknya merespon sentuhan seorang gadis.
"Kau tahu saja kalau barang kelas premium yang ada di hadapanmu" Gumam Adrian sambil tersenyum.
Veronika, tuan putri dari kerajaan M. Adik dari putra mahkota. Berada dalam urutan kedua pewaris tahta. Ada kesempatan bagi Ve untuk naik menjadi ratu menggantikan kedudukan sang Kakak. Tapi Ve sudah menolak kemungkinan itu sejak usianya 17 tahun. Usia dewasa dimana ia dianggap sudah bisa menyuarakan pendapatnya sendiri.
Dan dengan kedudukan Ve, bisa dipastikan jika mendapat perawatan kelas satu di seluruh tubuhnya. Tanpa terkecuali. Membuat dirinya benar-benar memiliki kecantikan tiada bandingan di seantero negeri.
Adrian sudah googling, berapa banyak lamaran yang Ve tolak. Berapa banyak perjodohan yang dia hindari. Dan berapa banyak kencan buta yang Ve buat berantakan. Adrian tersenyum. Dengan kepolosan Ve dimasa lalu. Dia ternyata tahu menolak itu semua.
Dan asal kalian tahu. Faolah biang keroknya. Pria itu menyeleksi semua pria yang akan mendekati Ve. Dengan semua penolakan Ve bisa dipastikan jika mereka tidak lolos seleksi Fao.
Ceklek,
Pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan Ve yang mengenakan baju kurung modern khas Melayu. Terlihat begitu cantik di mata Adrian. Mengikuti warna baju pengantin yang bernuansa ungu. Baju Ve pun berwarna ungu.
Kredit Google.com
"Tutup mulut kak Hans" Ucap Ve cuek. Melihat Adrian yang menganga melihat dirinya.
"Kau cantik, Ve" Puji Adrian.
"Baru tahu ya" Ledek Ve.
"Iya baru tahu. Juga baru tahu jika bibirmu begitu manis untuk dicium" Balas Adrian.
"Jangan mulai lagi. Atau kuhajar Kakak" Ancam Ve.
"Hajar di kasur aku mau banget" Pasrah Adrian.
"Iisshh nggak mau!" Tolak Ve.
Mulai sibuk dengan peralatan make up-nya.
"Jangan menor-menor nanti kayak badut" Saran Adrian.
"Kak Hans diam saja" Kesal Ve.
Hening kemudian. Adrian membiarkan Ve memake-up wajahnya. Menatap gadis itu dari cermin besar dihadapan Ve. Ve sendiri bisa melihat Adrian yang menatapnya. Jujur kini ada rasa gugup ketika Adrian menatap intens pada dirinya.
Perasaan itu semakin lama, semakin terasa nyata bagi Ve. Bahwa Adrian sedikit demi sedikit mulai mempunyai tempat dihatinya. Sedikit membuat Ve merasakan apa itu rindu. Ya, Ve mulai merasakan rindu kala berjauhan dengan Adrian.
***