Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
The Wedding



"Everything is clear"


(Semuanya beres)


Ucàpan Fao di ear piece Mark membuat pria itu langsung mengembangkan senyumnya. Tak lama suara Albert terdengar.


"It's time." (Sudah waktunya)


"Princess is ready." (Putri sudah siap)


Suara Richard kembali terdengar di telinga Mark.


"Oke...Let's go."


Dua pria dèngan setelan tuksedo hitam, membalut tubuh aduhai itu segera melangkah keluar dari ruang kerja Mark. Di lorong mereka bertemu Sebastian yang juga berpenampilan sama. Dan tiga pria dengan fisik nyaris sempurna itu langsung menuju ke kamar tempat Ve dirias.


"Bagaimana dengan Medusa?" Tanya Mark.


"Dia? Ide Lyn benar-benar cemerlang. Sekarang dia lagi ngamuk-ngamuk karena tidak dapat pakaian yang sama persis dengan yang dia pakai." Mark menarik satu sudut bibirnya. Lyn...wanita satu ini ternyata penuh kejutan. Serena bahkan sudah melaporkan apa yang terjadi di ruang make up.


"Apa ada kemungkinan Medusa bisa balik ke venue?" Mark bertanya ketika mereka keluar dari lift.


"Ada. Tapi tampilannya tidak akan "secetar" sebelumnya." Sebastian menjawab.


"Jangan kau pikirkan Medusa. Tumpahan red wine di gaun berwarna biru muda itu horor bagi wanita asal kau tahu. Mereka akan heboh sendiri begitu berada di situasi seperti itu." Albert menyahut.


"Oke aku tidak akan memikirkan Medusa."


"Sebaiknya kau pikirkan soal Lyn setelah ini..Apa kau benar-benar tidak ingin menikungnya?" Kembali Albert bicara.


Mark tidak menjawab. Karena mereka sudah sampai di kamar Ve di make up di lantai satu. Begitu pintu dibuka Richard, tampak Serena dan Iz yang menjaga di didepan pintu. Mata Albert sejenak tidak bisa beralih dari sosok Serena.


Yang dalam pernikahan Ve kali ini. Memakai gaun model sabrina cantik berwarna peach. Bahu mulus Serena yang selama ini selalu tersembunyi di balik suitnya terekspose sempurna. Juga rambutnya yang selama ini selalu dikuncir kuda. Kali ini ditata dengan cantik. Membuat sosok Serena juga terlihat berbeda kali ini.


"Wah aku hampir tidak mengenalimu..Rena. Cantik" Seloroh Sebastian membuat wajah Serena merona merah.


"Ahh terima kasih tuan Sebastian. Nona Lyn yang mendandani saya tadi." Jawab Serena sambil menundukkan kepalanya.


"Di mana Ve?" Mark bertanya.


"Mereka di dalam. Mari, Your Highness" Serena membimbing masuk Mark dan yang lainnya. Sementara sebuah tepukan mendarat di bahu Iz.


"Good job, Iz."


Iz langsung mengembangkan senyumnya mendapat pujian dari Mark. Diikuti yang lain tersenyum padanya.


Begitu masuk, Mark langsung terpana melihat sang adik yang tengah berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi bunga-bunga berwarna putih.



Kredit Instagram @ zeunique


Ve terlihat cantik dengan gaun putih sleeveless sederhana. Sederhana untuk ukuran seorang putri kerajaan M. Tapi itu sudah jadi pilihan Ve, Mark bisa apa. Meski sejatinya dia bisa memberikan gaun termewah yang pernah ada di muka bumi.


"Cantiknya adikku." Puji Mark.


Sambil memeluk Ve lama.


"Baru nyadar ya. Selama ini kemana Bang?" Sindir Ve.


Namun ucapan Ve tidak berbalas. Sebab di belakang sana. Mata Mark mulai berembun. Mungkin ini akan jadi pelukan terakhir bagi Mark untuk Ve. Karena sebentar lagi sang adik akan menjadi istri dari Adrian. Temannya sendiri. Sungguh satu hal yang tidak pernah Mark sangka dalam hidupnya. Dirinya dan Adrian akan menjadi saudara ipar.


"Berbahagialah selalu. Kamu tahu kan..Kakak akan selalu ada untukmu." Bisik Mark lirih dibalik tangisnya yang ia tahan.


Sadar dengan keadaan sang kakak yang terharu. Ve pelan mengeratkan pelukannya pada Mark.


"Terima kasih sudah menjaga Ve yang bandel. Memaafkan semua kesalahan Ve..


"Sssttt..tidak boleh menangis." Mark tahu ke mana arah pembicaraan Ve. Kematian orang tua mereka.


Tapi Ve sudah terlanjur terisak.


"Jika kata orang, ayah adalah cinta pertama bagi putrinya. Tapi bagi Ve, kakaklah cinta pertama Ve. Ve menyayangi Kakak." Airmata sudah terjun bebas dari kedua pipi dua beradik itu. Sesaat semua membiarkan keduanya terlarut dalam momen haru itu. Hingga pelan Mark mengurai pelukannya pada sang adik. Lantas mencium kening sang adik lama. Tanda cintanya pada Ve, yang selamanya akan selalu dicintai dan disayanginya. Seperti pesan terakhir sang Ibu.


"Ibu, hanya punya kalian berdua dalam hidup Ibu. Jadi saling menyayangilah kalian selamanya. Tidak peduli apapun keadaannya"


"Oke, mari pergi. Siapa tahu tahu Hans sudah manyun karena kelamaan menunggu." Ucap Mark mencoba mengusir rasa haru, sedih juga gugupnya.


Mereka semua menghela nafasnya. Lantas mengikuti Mark dan Ve keluar dari kamar itu. Gaun Ve punya tail alias ekor tapi tidak terlalu panjang. Karena itu dia tidak perlu orang untuk membenahi ekor gaunnya. Veilnyapun tidak panjang.


Sesekali Mark mencuri pandang ke arah Lyn yang terlihat begitu cantik di matanya. Dia berjalan beriringan dengan Serena. Diikuti Albert dan Sebastin. Terakhir Richard. Di pintu venue sudah menunggu Fao. Dia juga terlihat begitu gagah dengan setelan tuksedo putihnya. Menyesuaikan dengan gaun seorang wanita yang terlihat cantik. Berdiri di samping Fao. Menggamit lengan Fao mesra.



Kredit Instagram @ haominghao_neo


"Dia siapa?" Bisik Lyn ke Serena.


"Nona Rose, kekasih Letnan Fao." Jawab Serena.


"Kirain masih jomblo. Ternyata sudah ada yang punya." Bisik Lyn pada Fao ketika mereka menunggu pintu dibuka.


"Kalau jomblo kamu mau denganku?" Bisik Fao balik.


"Tidak! Kita tidak cocok." Tolak Lyn.


"Bagus kalau kau menolakku. Kalau tidak aku akan dilempar granat sama chicken katsu." Kekeh Fao.


"Ehemmm." Mark berdehem.


"Tu kan. Dia marah."


"Ssstttt." Rose berbisik pada sang kekasih.


Pintu dibuka, menampilkan Adrian yang telah menunggu di altar. Pria itu terlihat tampan dengan tuksedo senada dengan milik Mark dan yang lainnya.



Kredit Instagram @ ksndr_22


Abaikan yang di belakang Jk 😁😁


Baik Ve maupun Adrian saling menatap dengan senyum mengembang di bibir masing-masing. Saling mengagumi kecantikan juga ketampanan masing-masing.


Hingga jantung keduanya serasa berdesir bersamaan.


"Dia yang kucinta" Batin Ve dan Adrian bersamaan.


Ketika Mark mengantarkan Ve ke Adrian. Yang lain langsung mengambil posisi di kanan kiri pengantin. Tidak banyak yang hadir. Karena Ve tidak ingin terlalu banyak orang di pernikahannya. Mama dan Papa Adrian terlihat begitu bahagia. Akhirnya sang putra mau menikah.


Hanya dua orang yang nampak manyun dengan pernikahan Ve dan Adrian. Siapa lagi kalau bukan Eduardo dan Hilda. Dua orang mengawal Eduardo agar tidak berani berbuat macam-macam. Sedang Hilda hanya bisa menahan amarahnya. Melihat Mark yang sejak tadi berdiri di samping Lyn. Sedang dia, tidak punya muka untuk mendekati Mark dengan penampilannya yang sekarang.



Kredit Google.com


Anggap saja seperti ini ya guys,


Mark langsung mengusap air matanya. Ketika Adrian selesai memasangkan cincin di jari sang adik.



Kredit Google.com


Pertanda Ve telah sah menikah dengan Adrian. Sebuah ciuman hangat penuh cinta, Adrian lesatkan ke bibir Ve. Menandakan kalau dirinya adalah milik Adrian seutuhnya.


"Dia tidak pergi darimu. Hanya bersama suaminya. Dia tetaplah adikmu untuk selamanya." Ucap Lyn dari sudut bibirnya. Hingga hanya Mark saja yang mampu mendengarnya.


Mendengar ucapan Lyn, Mark tersenyum.


"Lalu bagaimana dengan dirimu? Apa keputusanmu?"


Seketika dua pasang mata itu bertemu di tengah hujan conveti dan kelopak mawar merah. Yang diturunkan untuk merayakan pernikahan Ve dan Adrian.


Dua pasang mata, dengan warna berbeda. Saling menyelami rasa ketika saling menatap. Hingga seolah, keduanya bermuara di tempat yang sama. Jantung keduanya berdesir untuk kesekian kalinya.


****