Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Sesi Curhat



"Melamun?" Tanya Ve ketika melihat Lyn terlihat duduk di balkon kamar mereka. Menatap kosong pada pemandangan di depannya.


Lyn hanya menarik nafasnya pelan. Dia sampai terlebih dulu ketimbang Ve tadi.


"Yang tadi beneran pacarnya Kak Lyn?" Ve mulai memakan cemilannya.


Keduanya sedang menatap ke bawah di mana tampak jelas Mas yang tengah menjemput Siti. Ve tahu, Mas sedikit tersenyum padanya dari dalam mobilnya. Mobil Mas berlalu berganti dengan mobil Mizan yang menjemput Ika.


Ve dan Lyn hanya bisa menarik nafasnya bersamaan. Yang satu jalan dengan tunang orang. Yang satu pacarannya sudah melebihi batas. Meski okelah itu urusan mereka. Baik Lyn maupun Ve lebih suka diam. Tak ingin ikut campur.


Back to topic. Lyn hanya diam mendengar pertanyaan Ve. Bingung, jelas itu yang Lyn rasa. Lama keduanya saling diam.


"Sebenarnya...dia adalah orang yang dijodohkan denganku" Jawab Lyn sendu.


Bukannya terkejut, Ve malah tersenyum.


"Berarti dugaanku benar"


"Kamu tahu?"


"Awalnya hanya menduga. Tapi sepertinya dugaanku benar. Dan kelihatannya kak Lyn tidak mencintainya" Ve berlagak sok tahu soal cinta.


"Aku memang tidak mencintai Mas Fadly. Dari awal aku sudah menolak perjodohan itu. Tapi ayahku malah menerimanya dan memberiku waktu untuk belajar mencintai mas Fadly" Aku Lyn pada akhirnya.


Ve menarik nafasnya dalam. Cukup tahu rasanya berada di posisi Lyn.


"Boleh aku cerita juga" Dia mungkin tidak punya solusi untuk masalah Lyn. Tapi setidaknya berbagi cerita bisa mengurangi beban seseorang.


"Aku juga mengalami perjodohan sebelum aku kabur ke sini"


"Kamu ke sini kabur? Keluargamu tidak tahu kamu di sini?" Tanya Lyn.


"Boleh dibilang seperti itu. Tapi aku yakin, kakakku sudah tahu aku disini"


Kalau tidak, pasti di luaran sana sudah heboh dengan berita pencarian soal dirinya. Tapi ini tidak. Semuanya adem ayem. Tidak ada apa-apa. Bahkan Fao sama sekali tidak memberikan info apapun tentang pencarian dirinya.


Lyn ber-oo ria.


"Lalu soal perjodohanmu? Kamu bisa menolaknya?" Lyn mulai kepo.


"Aku memang tidak mau dengan Miguel sejak awal aku tahu dijodohkan dengannya. Pria tukang main perempuan, itu kata temanku. Untungnya kakakku juga tidak menyetujuinya"


"Dan jadi konflik sampai sekarang" Batin Ve.


"Kamu beruntung memiliki orang tua dan kakak yang sangat peduli pada kebahagiaanmu" Balas Lyn sendu.


Mendengar kata orang tua. Sikap Ve langsung berubah.


"Ayah dan Ibu Ve sudah meninggal satu tahun yang lalu" Ve menjawab dengan mata berkaca-kaca.


Sesaat Lyn tercekat. Lantas detik berikutnya Lyn merengkuh Ve dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya. Ve menangis di luar istana.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkanmu soal ayah dan ibumu" Lyn memeluk Ve. Yang malah semakin terisak. Mengingat karena dirinyalah kedua orang tuanya meninggal.


"Bersabarlah. Masih ada orang lain yang menyayangimu juga" Hibur Lyn pelan.


"Ve cuma punya kakak. Al dan Bastian. Juga Fao" Bisik Ve.


"Banyaklah tu. Asal mereka paham dengan perasaanmu dan juga keinginanmu. Bukankah itu sudah cukup"


"Kakak Ve selalu menuruti permintaan Ve" Sahut Ve girang.


"Lah itu kamu lebih beruntung daripadaku. Bukannya kurang bersyukur. Tapi terkadang aku pikir. Orang tuaku tidak tahu apa yang kuinginkan" Lyn berucap sendu.


"Lalu soal perjodohan kak Lyn bagaimana?"


"Dia tidak akan melepas kakak jika aku tidak bisa membawa seorang pria yang layak untuk aku jadikan suami ke hadapannya"


Ve sejenak menatap Lyn. Hingga terbit satu ide konyolnya.


"Bagaimana kalau kak Lyn bawa pacar pura-pura?" Usul Ve.


"Ha? Siapa?" Lyn mulai terpancing ide konyolnya Ve.


Ve sejenak berpikir.


"Kak Lyn tidak ada rasa ke dengan teman pria di kilang?"


Lyn menggeleng.


"Bagaimana kalau minta tolong dengan abang Iz?" Saran Ve.


"Iz? Asistennya Mr Lee?"


Ve mengangguk.


"Jangan ngaco deh Ve kalau punya ide" Ketus Lyn. Membuat Ve tertawa.


"Atau dengan kakak Ve" Tawar Ve. Entah kenapa ide untuk mengenalkan Lyn dan kakaknya muncul.


"Nggak kenal" Jawab Lyn lagi-lagi malah pusing dengan ide Ve.


"Makanya kenalan" Sahut Ve sambil mengeluarkan ponselnya. Untuk pertama kalinya memperlihatkannya pada Lyn.


Lyn jelas terkejut melihat ponsel Ve. Terlihat sekali jika itu ponsel mahal. Lyn jadi penasaran soal siapa Ve sebenarnya. Gadis itu bekerja bukan untuk mencari uang. Tapi untuk bersenang-senang juga mencari kesibukan. Sejak datang hidup Ve sudah jelas tidak kekurangan uang. Gadis itu selalu pergi jalan-jalan tiap kali ada kesempatan.


"Ini kakak Ve" ucap Ve sambil menunjukkan sebuah foto di ponsel Ve. Seorang pria tampan, berwajah bule, bermata biru.


Jantung berdetak kencang. Merasa familiar dengan mata biru itu. Dia seperti pernah melihat mata biru nan mempesona itu. Tapi di mana?


"Kakakmu bule?" Kepo Lyn.


Ve mengangguk. Menatap wajah kakaknya.


"Kok bisa kalian beda. Kamu Asia banget kakakmu bule banget"


"Soalnya ayahku bule sedang ibuku Asia" Jelas Ve.


Lyn ber-oo ria.


"Bagaimana? Tertarik dengan kakakku?" Ve bertanya ambil menaikkan satu alisnya.


"Entahlah Ve"


"Atau dengan Al atau Bastian. Fao tidak boleh. Dia sudah punya Rose dan sebentar lagi akan menikah"


"Bule semua itu?" Tanya Lyn.


Lagi-lagi Ve mengangguk.


"Fao Asia tapi dia sudah punya pacar"


"Mereka siapanya kakakmu?" Heran Lyn kok teman kakaknya bule semua.


"Asisten kakak" Jawab Ve asal.


Mendengar jawaban Ve, membuat Lyn menyimpulkan kalau keluarga Ve juga kaya.


Hening sejenak. Pada akhirnya Lyn mungkin akan menerima nasibnya jika memang jodohnya adalah Fadly. Tapi wajah kakak Ve begitu mengusik hatinya. Lyn benar-benar merasa pernah melihat mata biru milik kakak Ve. Tapi setelah lama berpikir. Dia tidak bisa mengingatnya.


"Mungkin hanya pernah lihat di drakor atau film yang pernah aku tonton" Putus Lyn.


Ve masih tampak asyik dengan ponselnya. Hingga satu pertanyaan muncul di benak Lyn.


"Ve...kamu dan Mr Lee pacaran?" Tanya Lyn to the poin.


"Pacaran? Tidak tahu" Jawab Ve ambigu.


"Loh kok tidak tahu. Sering jalan bareng masak tidak tahu. Lalu menurut Ve, Mr Lee itu seperti apa?"


"Dia baik sama Ve. Meski kalau marah dia nyeremin" Jawab Ve bergidik ngeri membayangkan Adrian yang sering menggeram marah padanya.


"Semua orang juga serem Ve, kalau lagi marah. Aku juga nyeremin kalau lagi marah" Balas Lyn yang lagi dibuat pusing oleh jawaban Ve yang nggak nyambung.


"Lalu Ve suka tidak sama Mr Lee?" Tegas Lyn.


Kali ini Ve menghentikan aksinya mengulik ponselnya. Menatap pada Lyn.


"Suka?"


"Iya, suka sama Mr Lee gitu"


"Sukalah. Dia kan selalu buat Ve seneng. Selalu nuruti permintaan Ve. Selalu anterin ke mana Ve pergi" Ve menjawab dengan wajah berbinar cerah.


"Maksudku bukan suka yang seperti itu Ve. Maksudku, kamu ada rasa suka tidak sama dia. Atau rasa ingin bertemu terus. Atau rasa ingin bersama terus sama Mr Lee?" Tanya Lyn sabar. Tahu jika Ve benar-benar polos dalam hal cinta dan sebagainya.


Ve kembali berpikir. Ada sih rasa seperti itu. Rasa ingin melihat Adrian atau rasa ingin bersama Adrian. Hingga detik berikutnya pelan Ve mengangguk.


"Itu artinya Ve suka sama Mr Lee. Nanti kalau rasa suka itu semakin besar lama-lama akan berubah menjadi cinta" Terang Lyn.


"Ha?" Ve melongo mendengar definisi cinta menurut Lyn yang begitu sederhana.


"Lalu apa kalau sudah cinta kami akan menikah?"


Gubrak!!!


"Ya.... tidak sesimple itu kali Ve. Orang menikah dua-dua harus saling mencintai. Harusnya. Apa Mr Lee pernah bilang suka atau cinta ke kamu?" Tanya Lyn.


Ve berpikir sejenak.


"Tadi dia bilang, kalau Kak Hans mungkin menyukai Ve" Jawab Ve.


Lyn tersenyum. Berarti dugaannya benar. Hanya saja Lyn sedikit ragu dengan Adrian. Dari wajah dan sikap, sudah terlihat jelas. Kalau Adrian sudah berpengalaman dalam hal percintaan. Apalagi Adrian berasal dari negara yang **** bebasnya lumayan tinggi.


Dia takut saja jika Adrian hanya ingin mempermainkan Ve lalu membuangnya begitu saja.


"Ve apa Mr Lee pernah menciummu?" Tanya Lyn tanpa basa basi.


Wajah Ve langsung meŕona. Teringat Adrian yang menciumnya di bioskop tadi.


"Pernah tadi waktu nonton di bioskop. Soalnya Kak Hans sepertinya marah. Ve bukannya nonton film malah nonton dua orang yang asyik main pangku-pangkuan di kursi depan Ve" Jawab Ve polos.


Membuat Lyn langsung membulatkan matanya.


"Astaga, ini anak harus ditatar mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan kalau pacaran. Apalagi lawannya Mr Lee yang pro banget" Batin Lyn tidak percaya.


***


Yakkk siap-siap jadi mentor orang pacaran ya kak Lyn 🤣🤣🤣


Biar Ve tahu dan nggak kebablasan kalo lagi berduaan sama Hans...


****