
Di sisi lain, Ve begitu bahagia bisa menikmati kebebasannya di luar istana. Senyum manis tak lepas terukir dari bibir tipisnya. Membuat Juna yang duduk di dekatnya sejak tadi menatap Ve tidak berkedip.
"Gila! Ni cewek cantik bener," batin Juna tanpa mengalihkan pandangan matanya.
"Nak balik ke nak pergi mana? (Mau pulang atau mau pergi kemana)," tanya sang supir yang bertugas menjemput pekerja di kilang mereka.
"Antar ke pusat bandar boleh?" Ve bertanya cepat.
"Kamu mau ngapain?" Juna penasaran.
"Belanja sama jalan-jalan," balas Ve sumringah.
"Boleh saja. Nah kau nak ikut sama (Bisa. Nah kamu mau ikut juga)," supir itu bertanya pada Juna.
"Ikut je lah (ikut sajalah)," sahut Juna.
"Eh aku bisa sendiri kok. Tidak perlu ditemani," tolak Ve halus.
"Dia naksir kamu, Princess," bisik Fao di earpiece Ve.
"Diam kau!" Desis Ve tanpa Juna dengar.
Fao terkekeh diujung sana. Tanpa seorangpun tahu. Fao dan Ve tetap terhubung. Fao memang memasang alat pelacak khusus pada Ve. Tahu betapa beresikonya Ve saat berada di luar sendirian. Selain mereka selalu terhubung melalui ear piece khusus yang juga dirancang Fao. Bentuknya hampir menyerupai anting kecil. Hingga orang akan mengira itu adalah anting bukan ear piece.
Ve turun lebih dulu. Tanpa menunggu Juna. Menghambur masuk ke sebuah pusat perbelanjaan baju di sana.
"Mau beli apa?" Tanya Juna yang rupanya mengekor di belakang Ve.
"Beli baju," Jawab Ve singkat.
Memilih kain yang kira-kira dia bisa pakai. Juna mengerutkan dahi. Melihat tag prize baju yang Ve pilih.
"Nggak kemahalan. Kita masih sebulan lagi gajiannya," Juna memperingatkan.
"Ooh, aku punya kartu," Ve menjawab singkat.
"Wah tajir juga ni cewek," batin Juna lagi, semakin bersemangat mengejar Ve.
"Hati-hati dia playboy cap buaya darat," tambah Fao
"Aku tahu. Dia satu spesies denganmu," ketus Ve.
"Hei, aku ini makhluk setia," bantah Fao.
"Hantu paling setia kalau begitu," ejek Ve.
"Sialan!" Maki Fao.
Ve tersenyum mendengar umpatan Fao diujung sana. Setelah benar-benar memilih. Beberapa potong baju akhirnya Ve bawa ke kasir. Juna cukup terkejut melihat baju yang Ve beli. Yang menurut Juna cukup seksi jika dipakai Ve.
"Beuuuhhh tu body makin seksoy kalau dia baju itu," kata Juna dalam hati Juna mesum dengan pikiran mulai travelling kemana-mana.
"Biar aku yang bayar," tawar Juna ingin membayar pakaian Ve.
"Modus!"
"Tidak usah. Kamu bukan siapa-siapa aku. Jadi aku bayar sendiri saja," tolak Ve mengeluarkan kartu platinumnya, membuat Juna membulatkan matanya.
"Ini supaya elu kagak ngejar gue lagi. Elu nggak ada apa-apanya dibanding gue," Batin Ve melirik ke Juna.
Bermaksud menunjukkan kalau dia tidak ingin Juna mengejarnya terus. Dengan menunjukkan sedikit statusnya. Namun pikiran Ve salah. Ternyata Juna justru semakin bertekad mendapatkan Ve.
"Wah ni cewek harus jadi pacarku. Cantik, tajir lagi," kata hati Juna penuh semangat.
Beberapa waktu berlalu. Ve cukup lega ketika akhirnya Juna pergi juga setelah ditelepon oleh seseorang. Meninggalkan dirinya hingga bisa sepenuhnya bebas menikmati waktu. Meski tangannya mulai pegal karena banyaknya paperbag eh salah kantong kresek yang dia bawa.
"Itu tadi pacarnya," info Fao lagi.
"Aku tahu," balas Ve.
"Tidak ingin mencoba pacararan?" Tawar Fao.
"Bolehkah?" Ve bertanya sumringah.
"Tunggu aku konfirmasi dulu dengan kakakmu," balas Fao segera.
"Itu sama saja dengan tidak boleh," gerutu Ve.
"Tunggu sampai aku dapat kandidat yang tepat," Fao berkata penuh pertimbangan.
"Kau membuatku banyak menunggu Fao," keluh Ve.
"Aku tidak sabar rasanya pengen ciuman. Masak 22 tahun ni bibir masih perawan aja," Ve menggerutu.
"I heard that, Princess," kata Fao lagi.
"Ha?"
Tanpa Ve sadari, Adrian dan Iz mengawasi Ve dari jauh. Keduanya cukup khawatir dengan tempat yang dipilih Ve untuk beristirahat. Tempat itu sunyi dan tampak menakutkan.
"Haissh, kenapa juga dia nongkrong disitu," gerutu Adrian.
"Bang, orang yang pernah mengalami depresi biasanya akan memilih tempat sepi dan sunyi untuk menyendiri," Iz menjelaskan.
"Tapi itu berbahaya Iz. Bagaimana jika ada preman atau apalah gitu," kata Adrian mulai cemas.
"Upps," Adrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Salah tingkah dengan pertanyaan Iz.
Tanpa Adrian dan Iz tahu, sejak tadi Ve sibuk berdebat dengan Fao. Agar pria itu mengizinkan dia pacaran.
"Oh ayolah Fao," bujuk Ve.
"No, Ve..soal pacaran aku setuju dengan kakakmu. Kecuali kau punya kandidat yang benar-benar mumpuni," putus Fao.
"Kau sama saja dengan kakakku!" gerutu Ve kesal.
"Mana ada? Jika aku sama dengan kakakmu. Aku tidak akan mempertaruhkan kepalaku juga reputasiku untuk membuatmu lolos dari pengawalan Richard," kilah Fao.
Hening,
Ve menarik nafasnya dalam.
"Nikmati kebebasanmu selagi kau bisa. Sebelum kakakmu membuatku tidak bisa menghindar lagi untuk menunjukkan keberadaanmu. Lalu menjemputmu...paksa. Ingat paksa...aku yakin kakakmu akan melakukannya," tambah Fao lagi.
Hening lagi, baik Fao maupun Ve masing-masing tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Hingga...
"Ve...arah jam 3. 3 orang, berhati-hatilah," Fao memperingatkan.
Ve menyeringai. Lumayanlah untuk meluapkan kekesalannya.
"Haii, cantik...Seorang je...nak kita temankan?" Sapa seorang dari mereka menatap mesum pada Ve.
(Hai cantik, sendirian saja...mau kita temani)
"Bang....Bang...ada orang jahat nak kacau Ve," kata Iz panik.
(Bang...bang...ada preman mau mengganggu Ve)
Bukannya ikut panik. Adrian malah tersenyum melihat itu.
"Abang tak khawatir?" Tanya Iz.
"Mau lihat pertunjukkan? Sebentar lagi dimulai," jawab Adrian sambil tersenyum.
"Maaf aku tidak perlu teman seperti kalian. Karena kurang tampan untuk jadi temanku," balas Ve tenang.
"Kurang ajar. Dia ingat, dia ni cantik sangat ke!" Marah yang lain.
(Kurang ajar. Dia pikir dia ini sangat cantik)
"Dahlah, bawa dia ke base. Boleh buat teman tidur," timpal yang lain membuat telinga Ve panas.
(Sudahlah, bawa dia ke markas. Bisa jadi teman tidur)
"Bawalah jika kalian bisa menangkapku," tantang Ve.
"Banyak cakap (banyak bicara)!"
Tanpa diberi perintah. Ketiga orang itu langsung menyerang Ve. Ve dengan sigap menghindar. Langsung melayangkan sebuah tendangan ke arah seorang preman itu. Tendangan di perut yang langsung membuat tubuh preman itu tumbang, tak bangun lagi.
Ve menyeringai. Ini lebih menyenangkan daripada inspek. Pikir Ve. Satu tumbang, membuat yang lain marah.
"Kau ni...betul-betul buat kami marah!"
Preman itu langsung menyerang Ve lagi. Kali ini, satu pukulan telak Ve hadiahkan pada preman itu bersamaan dengan tendangan berputar yang langsung menerjang punggung preman satunya lagi. Dua orang tumbang bersamaan.
Iz melongo melihat hal itu.
"Dia bisa...."
"Taekwondo, Judo, krav maga. Menembak. Bahkan yang aku dengar, archery-nya (memanah) tidak pernah meleset dari sasarannya. Juga tembakannya, sangat jitu," Info Adrian.
"Dia bisa semua itu?" tanya Iz menelan salivanya susah payah. Adrian mengangguk.
"Bahkan lisensi menembaknya adalah lisensi membunuh. Dia diperbolehkan membunuh musuhnya jika itu nyata membahayakan nyawanya," jawab Adrian santai.
"Kalau dia punya kemampuan buat melindungi dirinya sendiri. Kenapa pula Prince Mark nak kan Abang jadi bodyguard dia," Iz bertanya heran.
Adrian menarik nafasnya dalam.
"Kau tidak ingat kalau dia pernah depresi juga tingkat emosinya yang tidak stabil. Itu sebenarnya yang membahayakan dirinya. Serangan fisik, Ve bisa melawannya. Kau lihat....tapi serangan mental dan emosi dia tidak akan bisa melawannya. Itu yang Mark inginkan aku untuk mengawalnya," jelas Adrian menyandarkan tubuhnya di kursi penumpangnya.
Menatap Ve yang berlalu meninggalkan para preman yang tergeletak begitu saja. Berlalu sambil menenteng beberapa kresek hasil hunting baju dan keperluan lainnya.
Sekilas Adrian mengulas senyumnya.
"Ada ya Iz, tuan putri belanja sendiri terus bawanya pakai kresek. Lucu tidak," ucap Adrian dengan gaya tengilnya.
Iz memutar matanya malas. Mendengar atasannya yang kumat somplaknya. Mereka hanya menatap Ve yang masuk ke dalam pusat bandar lagi. Lumayan dapat hiburan gratis.
***
Ini lumayanlah buat cuci mata pagi-pagi 🤭🤭🤭
Kredit Instagram.com
***