Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Tidak Ada Pilihan



Lyn tidak bisa membuka matanya ketika pesawat mulai lepas landas setelah transit sebentar di KLIA.


"Tuan..apa saya bisa tidur? Bisa bangunkan saya jika sudah sampai" Pinta Lyn sambil terus menguap dari tadi.


"Tidak masalah" Richard menjawab singkat.


Lyn mengembangkan senyumnya. Mulai mengatur kursinya. Mengambil selimut. Lantas mulai terlelap di bawah selimutnya.


"Tidurlah karena kita akan tiba nanti malam" Batin Richard.


Buru-buru mengalihkan pandangannya dari wajah manis Lyn. Bisa di maki Mark dia, jika ketahuan memandang gadis incaran sang putra mahkota. Yang jika benar kesampaian. Bisa jadi wanita yang kini meringkuk manis di sebelahnya itu adalah calon ratu di negaranya. Atasannya yang baru.


Sementara itu, Ve yang tidak tahu kalau kak Lyn-nya sedang dalam perjalanan menuju ke tempatnya. Terus saja manyun. Tidak bisa menghubungi kakaknya itu sejak tadi. Alhasil si ponsel berakhir di pojokan karena kena banting sama yang punya.


"Princess sudah waktunya pergi" Ucap Serena, pelayan sekaligus bodyguard Ve yang lain.


"Iya..iya" Jawab Ve malas.


Gadis itu melangkah malas. Sejak tiga minggu terakhir. Ve sudah mulai kembali beraktifitas. Memenuhi jadual yang sudah dibuat oleh bagian humas istana.


"Kenapa manyun?" Tanya sang kakak ketika bertemu di meja sarapan.


"Bosen!" Kesal Ve.


Sang Kakak langsung tertawa.


"Kenapa mukamu? Maskermu gagal?" Ledek Sebastian yang bergabung bersama Albert.


"Iisshh kalian menyebalkan. Aku bosan tahu" Keluh Ve.


"Kamu lebih suka jadi kuli daripada disini?" Tanya Albert mulai menyesap tehnya. Mereka memang sering sarapan di istana. Biar efisien katanya.


"Efisien? Pelit itu namanya" Ledek Fao kadang kala. Sebab pria itu selalu sarapan dirumahnya sendiri. Sebab apa? Sebab Fao selalu bangun siang.Karena dia yang double job. Sering kali menjalankan profesi hackernya saat malam tiba. Baik yang urusan pribadi, pekerjaan juga istana. Hingga tak jarang, Fao sering merem ketika si mentari mulai mengintip di ufuk timur negaranya. Hanya kejadian gawat darurat saja yang membuatnya bisa bangun pagi.


"Ve lebih suka disana? Ada abang Mas yang selalu pengertian dengan Ve" Jawab Ve sumringah.


"Sebenarnya kau ini suka ke dengan abang Mas-mu itu?" Todong Sebastian.


"Tidak. Dia sama seperti kalian. Tapi dia lebih pengertian ke Ve" Ve menjawab santai sambil memakan American breakfastnya.



Kredit Google.com


"Oh Ve....kau menyakiti hati kami...kau menduakan kami" Drama Albert.


Mark hampir tersedak mendengar ocehan receh sahabatnya itu.


"Al, kau lebay deh!" Cebik Ve kesal.


Semua terpingkal-pingkal mendengar ucapan Ve yang to the point. Tanpa basa basi.


"Apa schedule-mu hari ini?" Tanya Mark, sang kakak.


"Tidak tahu...aku belum tanya Serena. Oh ya Richard kemana? Tidak kelihatan dari semalam" Ve heran.


"Dia ada urusan lain. Biasa" Jawab Sebastian ambigu.


"Sampai di mana mereka?" Tanya Mark setelah Ve pergi, karena ternyata acaranya dimajukan.


"Mereka take off hampir sepuluh jam yang lalu. Nanti malam baru sampai, my Prince. Nggak sabaran amat sih. Aku jadi tidak sabar ingin melihat our future queen" Goda Albert setelah melihat jam tangannya. Menghitung jam kedatangan Richard dan Lyn.


"Kenapa kau tidak kirim private jet saja?"


"Dan kau ingin The Problem mengincarnya setelah dia gagal mendapatkan Ve. Tidak!" Jawab Mark tegas.


"Oh come my Prince. Kita sudah membicarakan ini bukan? Kita akan tetap merahasiakannya sampai waktunya tiba" Sebastian menambahkan.


"Itu kalau semua sesuai rencana. Kalau tidak. Apa bahasa kerennya sekarang...mletre...nah mletre"


"Kau tahu bahasa itu dari mana Al?" Tanya Mark heran. Tidak biasanya asistennya yang satu ini peduli dengan hal receh seperti itu.


"Tanya si segala tahu online" Jawab Albert santai sambil menggigit sandiwchnya.


Malam menjelang,


Hampir pukul 23.00 waktu negara M, ketika mobil yang membawa Mark masuk ke halaman kediamannya. Bersamaan dengan sebuah mobil Range Rover Evoque yang juga masuk ke tempat yang sama.



Kredit Google.com


"Dimana dia?" Tanya Mark antusias.


Richard bukannya langsung menjawab. Malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung.


"Dia tidur, my Prince" Richard menjawab pada akhirnya.


"Ha?" Mark melongo. Langsung membuka pintu mobil. Dilihatnya Lyn yang tampak tertidur pulas dengan kepala bersandar di pintu mobil.


Mark menarik nafasnya pelan.


"Kau pulanglah. Aku yang urus dia" Perintah Mark.


"Yes, Your Highness" Richard langsung menjawab antusias. Tubuhnya lelah sekali. Pulang pergi Malaysia- Negara M nonstop. Plus dia naik penerbangan komersial. Padahal yang dijemput calon orang nomor satu.


Ketika Richard sudah berlalu dari hadapan Mark. Pria itu pelan membuka pintu mobil sebelah Lyn. Pelan karena kepala Lyn bersandar di pintu itu. Ketika pintu terbuka. Mark langsung menahan kepala Lyn dengan bahunya. Lantas dengan lembut mengangkat tubuh gadis itu. Menempatkannya dengan nyaman dalam gendongannya.


Sejenak Mark terdiam. Menatap wajah damai Lyn dalam tidurnya. Ini kali pertama, Mark melakukan kontak fisik dengan seorang wanita selain keluarganya.


Perlahan pria itu melangkah masuk kedalam. Melewati dua penjaga yang sudah membuka pintu untuknya. Juga membungkukkan badannya. Terus menuju lift. Menekan angka 3. Dimana kamar dirinya juga Ve berada lantai itu.


Begitu bisa masuk ke kamar yang sudah disiapkan olehnya. Mark langsung merebahkan tubuh Lyn diatas ranjang. Di sebuah kamar mewah bernuansa klasik yang didominasi warna coklat.



Kredit Google.com


"Maaf aku menyentuhmu" Gumam Mark pelan. Melepaskan flat shoes milik Lyn. Juga tas selempang yang bertengger manis di pundak Lyn.


Kembali pria itu menatap wajah cantik Lyn. Seulas senyum terukir di bibir pria tampan itu.


"Selamat malam. Sampai bertemu besok pagi" Ucap Mark sambil menaikkan selimut hingga menutupi tubuh Lyn.


***


Pagi menjelang. Sinar matahari belum menampakkan keberadaannya. Namun mata indah yang ternaungi bulu mata lentik itu mula mengerjap. Temaram lampu tidur sedikit menyulitkan dirinya melihat keadaan sekelilingnya.


"Aku dimana? Jam berapa ini" Gumam Lyn pelan. Berapa dia tertidur. Lama sekali rasanya.


"Nona sudah bangun?" Sebuah suara mengejutkannya.


Lyn sejenak mengerutkan dahinya. Siapa perempuan berpakaian seperti pelayan yang tengah berdiri di hadapannya ini.


"Saya pelayan yang akan melayani segala keperluan Nona selama berada di sini?" Kata perempuan itu seolah menjawab tatapan penuh tanya dari Lyn.


"Pelayan? Kenapa ada pelayan di sini? Memang ini di mana?" Tanya Lyn.


"Anda berada di kediaman Pangeran Emmanuel, Negara M"


"Ha?" Lyn langsung melompat turun dari ranjangnya.


"Negara M? Richard bukan membawaku ke Jepang?" Tanya Lyn bingung.


Sedang pelayan itu langsung mengerutkan dahinya. Tidak paham dengan maksud atasan barunya itu.


"Richard! Aku harus mencari Richard. Dia bilang mau ke Jepang bertemu Ve. Tapi kenapa malah nyasar ke negara M"


"Ve? Princess Veronika maksud Nona?" Tanya pelayan itu.


"Veronika? Iya namanya Veronika tapi sepertinya dia bukan Princess"


"Dia benar" Satu suara terdengar di belakang pelayan itu. Membuat si pelayan langsung membungkukkan diri dan memberi salam.


"Your Highness" Sapa pelayan itu.


Sedang Lyn langsung melongo. Detik berikutnya dia langsung menyentuh kepalanya. Rasa lega terasa memenuhi hatinya. Hijabnya masih terpasang sempurna di kepalanya. Berhadapan dengan pria yang bukan keluarganya.


"Tinggalkan kami" Perintah suara itu yang tak lain adalah Mark.


"Yes, Your Highness"


"Siapa kau? Kenapa aku ada di sini dan kenapa dia memanggilmu Yang Mulia dan Putri pada Ve"


Lyn menatap tajam pada Mark. Menuntut jawaban dari pria tampan yang juga menatapnya.


Tidak ada pilihan. Cepat atau lambat gadis di depannya ini harus tahu. Apalagi Mark berniat untuk menjadikan Lyn menjadi bagian dari hidupnya. Yang berarti Lyn akan menjadi bagian dari negara ini. Mengingat statusnya yang merupakan calon pemimpin di negara ini.


***