
"Kau suka hadiahku?" Fao bertanya sambil menyeringai.
Mark bahagia, jangan ditanya. Dia akhirnya bisa menemukannya. Wanita yang telah lama bertahta dihatinya. Senyum mengembang di bibir Mark. Mengingat pertemuannya dengan Lyn. Kini dia tahu siapa gadis itu.
Apalagi gadis itu kini tidur di kamar dibawahnya. Satu lantai dibawah lantai Mark. Lyn memaksa pulang. Tapi Mark mencegahnya. Pukul delapan tapi Mark tidak ingin melepaskan Lyn dulu. Meski Richard yang kelimpungan harus menyediakan keperluan Lyn.
Lyn tidak bisa menolak permintaan Mark. Karena Papa dan Mama Hans juga ingin bertemu dengannya. Iz bercerita seorang teman datang berkunjung. Hingga keduanya penasaran seperti "teman" putra sengkleknya itu.
Sampai akhirnya kedua orang tua Hans pun ikut mengobrol dengan Lyn sampai larut malam. Dan berakhir dengan Lyn yang dibukakan satu kamar oleh Mark. Modus saja sebenarnya.
"Bagaimana kau tahu dia yang aku cari" Mark bertanya.
"Hanya feelingku saja. Kau tahu kan feelingku jarang meleset" Goda Fao sambil tersenyum.
"Aku bahagia bisa bertemu dengannya. Tapi apa iya aku pantas berbahagia ketika Ve sedang marah dan Adrian sedang kritis seperti itu" Mark menjawab sambil menghela nafasnya.
"Entahlah. Aku hanya ingin menunjukkan dia padamu. Aku rasa timingnya tepat. Hingga tidak ada yang curiga kau bertemu calon istrimu"
"Calon istri?" Mark berguman pelan.
"Tuan..Tuan...Tuan Hans sadar" Richard berteriak di pintu kamarnya. Tidak peduli itu sopan atau tidak.
Pria itu baru saja mengantar Lyn pergi bekerja. Tentu hal berat bagi Mark jika Adrian sadar dan dia dibawa ke Prancis. Itu artinya dia juga harus segera pulang. Sebab di negaranya juga tidak kalah kacaunya. Apalagi masalah Miguel. Eduardo pasti akan membuat ulah.
Lyn sudah sampai di kilang. Memulai pekerjaannya sambil melamun. Ingatannya kembali ke pertemuannya dengan kakak Ve.
Flashback on
"Mark..kamu bisa memanggilku Mark. Aku kakak Veronika" Mark memperkenalkan dirinya.
"Aku Lyn,..Kak" Lyn merasa sedikit canggung. Dirinya hanya meletakkan tangan didepan dadanya.
Mark tersenyum melihat hal itu. Berpikir kalau Lyn begitu menjaga dirinya.
"Apa Ve pernah bercerita soal aku?" Mark penasaran sejauh apa Ve mengenalkan dirinya.
"Ve tidak pernah bercerita apapun soal Kakak. Hanya menyebutkan kalau kakak punya tiga asisten" Lyn menjawab sambil menunduk. Dia takut untuk menatap Mark.
Mark justru sebaliknya. Sedikitpun tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Lyn yang setia menunduk.
"Bukankah tidak menatap lawan bicara saat berbicara itu tidak sopan" Pancing Mark.
"Ya?" Lyn langsung mengangkat wajahnya.
Menatap mata biru yang lagi-lagi menggetarkan hatinya. Menenggelamkan Lyn dalam pesona Mark yang bahkan sudah menjeratnya sejak mata mereka bertemu untuk pertama kalinya. Dan kali ini nyata bukan melalui layar ponsel Ve.
Lyn sungguh merutuki dirinya sendiri yang mudah sekali terpesona pada Mark. Kakak Ve. Seulas senyum terukir diwajah Mark. Menatap wajah malu-malu Lyn. Sungguh menggemaskan.
"Jadi apa benar Ve sudah pulang?" Lyn memberanikan diri bertanya.
Sejenak Mark terdiam.
"Benar dia sudah pulang. Aku terpaksa membawanya pulang. Ada hal yang membuatku harus membawanya pulang" Jawab Mark menatap tajam pada Lyn.
"Apa aku boleh menghubunginya. Jika dia sudah mengganti nomornya"
"Nomor Ve hanya satu dan itu nomor internasional berlaku di semua negara"
"Benarkah? Aku boleh menghubunginya?"
Mark mengangguk
Dan obrolan mereka berlangsung cukup lama. Hingga Papa dan Mama Adrian ikut bergabung.
Flashback off
Lyn menarik nafasnya pelan. Ketika di akhir obrolan mereka, Mark langsung berpamitan karena jika Adrian dipindahkan ke Prancis. Dia akan segera pulang juga. Karena beberapa urusan menunggunya. Dan Ve paham itu.
Lamunan Lyn buyar ketika ponselnya berdering.
"Ya, Iz" Lyn menjawab tanpa embel-embel asisten.
Sesaat dia mendengarkan seseorang bicara di seberang. Sejurus kemudian air mata mengalir di pipi Lyn.
"Semoga kamu baik-baik saja Hans" Doa Lyn menatap langit biru diatasnya.
***
"Aku mau Kak Hans..dia terluka. Fao! Fao!" Ve terus berteriak di dalam kamar mewahnya. Tidak peduli pada apapun.
Kredit Google.com
Begitulah Ve. Sejak dia dibawa pulang paksa oleh Fao. Sikapnya berubah. Emosinya jadi tidak stabil.
"Bagaimana keadaannya?" Albert bertanya pada Sebastian yang berdiri di depan pinti kamar Ve yang berdiri kokoh dan megah.
"Lebih parah dari kemarin" Sebastian menjawab lesu.
Albert menghela nafas dengan Sebastian. Bersamaan dengan itu Fao datang.
Ve benar-benar menghajar Fao begitu gadis itu membuka matanya di kamarnya.
"Masih sakit?" Albert menyentuh pelan pipi Fao.
"Isshhh jangan..." Fao menepis tangan Albert.
"Sepertinya dia benar-benar membalas dendam padamu" Kekeh Sebastian.
"Kalian ini benar-benar menyebalkan" Maki Fao seketika.
Albert dan Sebastian kembali tertawa.
"Jangan menertawakanku. Bagaimana perkembangan kasusnya?" Fao bertanya.
"Mereka sedang memeriksa ulang buktinya. Tinggal menunggu Mark pulang maka kasusnya akan bisa dibuka"
"Bagus kalau begitu. Abaikan saja protes dan kemarahan The Problem" Fao memberi salam.
"Kami memang tidak peduli pada orang tua itu" Jawab Albert dan Sebastian kompak.
"Iishhh kalian ini jahat. Oh ya kapan Mark sampai?"
"Harusnya sih sudah. Tapi siapa tahu macet diatas" Seloroh Sebastian menatap jam tangannya.
Lagi ketiganya tertawa.
"Sudahlah aku mau masuk dulu" Pamit Fao mendorong pintu kamar Ve.
"Kami pergi dulu kalau begitu. Tahan saja kalau dia masih ingin menghajarmu" Albert memberi saran. Berjalan menjauh dari kamar Ve dengan Sebastian.
"Sialan kalian!" Umpat Fao sebelum masuk ke kamar Ve.
Fao masuk ke kamar Ve dan langsung menghela nafasnya. Pria tampan itu berjalan sambil menghindari barang-barang yang Ve lempar asal. Sementara gadis itu tampak meringkuk di sudut kamar.
Kredit Instagram @ haominghao_neo
"Ve...." panggil Fao melepas coatnya menyisakan kaos turtle neck yang membalut tubuh atletis Fao.
Ve tidak menjawab juga tidak menoleh.
"Kenapa kau membawaku pulang" Lirih Ve.
Fao menarik nafasnya mendengar pertanyaan Ve. Dari kemarin hanya pertanyaan itu yang keluar dari bibir Ve.
"Ve...kau tahu benar situasinya kan. Sudah tidak aman lagi di luar sana" Fao berusaha bicara selembut mungkin pada Ve.
"Tapi Hans terluka Fao. Dia terluka karena aku" Akhirnya hanya tangis yang keluar dari diri Ve. Sejak kemarin gadis itu terus mengamuk tanpa henti. Membuat seluruh pelayan istana takut dibuatnya.
"Lukanya tidak parah. Dia baik-baik saja. Kau jangan khawatir" Ucap Fao lembut merengkuh Ve dalam pelukannya.
Padahal Fao tahu benar keadaan Adrian. Kritis dengan dua tulang rusuk patah. Kehilangan banyak darah. Fao memejamkan mata mengingat kondisi Adrian.
"Kenapa dia tidak menghubungiku. Jika lukanya tidak parah" Tanya Ve.
"Mungkin dia masih istirahat. Sekarang makanlah dulu. Kamu belum makan dari kemarin" Bujuk Fao.
Ve menggeleng. Membuat Fao menarik nafasnya dalam.
"Kalau begitu duduklah diatas. Disini dingin. Ganti bajumu juga"
Ve terdiam. Namun pelan dia bangun dari duduknya. Namun baru beberapa menit ketika tubuhnya ambruk ke karpet tebal di kamarnya.
Fao jelas terkejut bukan kepalang. Meraih tubuh Ve lantas membawanya ke tempat tidur.
"Marry! Panggilkan dokter Lawrence" Pekik Fao menatap cemas pada Ve. Wajahnya terlihat pucat juga badannya terasa panas.
Bersamaan dengan itu Mark muncul dipintu. Langsung mendekat ke arah ranjang.
"Ada apa dengannya?" Mark bertanya. Raut wajahnya berubah cemas melihat Ve yang terbaring lemah di atas ranjangnya.
"Kenapa denganmu Ve. Hans baru saja bangun dan sekarang sudah dipindahkan ke Prancis. Bersabarlah. Kalian akan bertemu lagi" Batin Mark. Mengusap lembut pipi adiknya.
****
Kredit Instagram @ zeunique
Mbak Ve yang lagi sedih ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Kredit Instagram @ ksndr _22
Abang Hans yang masih belum well...
***