Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Mudahkanlah Jalanku



"Katakan!" Lyn sedikit meninggikan suaranya. Dia ingin segera mendengar jawaban dari Mark.


"Apa yang ingin kau tahu?" Tanya Mark tenang.


"Siapa kau? Siapa Ve? Siapa kalian sebenarnya?" Tuntut Lyn.


Mark sejenak menarik nafasnya.


"Aku..namaku Mark Victor Emmanuel. Putra Mahkota negara M. Sedangkan Ve adalah adikku, Veronika Catarina Emmanuel. Dan kamu berada di kediamanku" Mark menjawab dengan mata tak lepas dari manik hitam milik Lyn.


Tubuh Lyn terhuyung seketika.


"Putra mahkota? Putri?" Dua kata itu terngiang di kepala Lyn.


Sedang Mark hanya diam melihat reaksi dari Lyn. Mengetahui siapa sebenarnya dirinya juga Ve.


"Kau tidak bohong kan?" Tanya Lyn lirih. Perlahan mengangkat wajahnya. Menatap wajah tampan milik Mark, dengan mata birunya yang penuh sejuta pesona, seolah siap menenggelamkan Lyn ke dasarnya.


"Bukankah berbohong itu tidak baik?" Tanya Mark balik.


Hening sejenak. Lyn masih menatap lekat wajah Mark yang nampak begitu tenang. Berusaha mencerna semua perkataan Mark.


"Bersihkan dirimu. Lalu tunaikan kewajibanmu. Kamu hampir kehabisan waktu. Semua keperluanmu ada di ruang sebelah" Mark berkata lantas berlalu dari hadapan Lyn.


"Ha?" Lyn kembali melongo. Detik berikutnya dia memekik.


"Astagfirullah, Sholat Subuh!" Teriak Lyn. Lantas berlari menuju kamar sebelah. Dimana Lyn langsung melongo. Sebuah ruangan yang penuh dengan baju gamis. Juga setelan serba panjang. Dengan deretan hijab berbagai warna. Langsung menyambut pandangan mata Lyn.


"Haish ini tidak penting sekarang. Meraih mukena yang dia lihat ada di sebelah pintu masuk. Lalu keluar lagi mencari kamar mandi. Dia menemukannya dan membuat Lyn kembali melongo.



Kredit Google.com


"Busyet dah. Gini amat yak kamar mandinya sultan. Numpang wudhu Om, Tante, Mbak, Mbah pokoke sopo waelah kuwi" Seloroh Lyn. Memakai sandal. Lantas membersihkan diri. Guna menunaikan kewajibannya.


Diujung sana Mark langsung terpingkal-pingkal. Mendengar celotehan Lyn di kamar mandi miliknya. Meski tidak bisa melihat tapi pria itu bisa mendengar setiap ucapan Lyn di dalam kamar mandinya.


Usai melakukan kewajibannya yang entah terlambat atau tidak. Gadis itu membuka hijabnya. Membuat Mark langsung memalingkan wajahnya. Dia tahu tidak diizinkan melihatnya.


Lyn baru saja menyelesaikan ritual mandi bebeknya. Takut lama-lama berada di dalam kamar mandi super mewah itu. Dia memilih memakai pakaiannya kembali. Tanpa ingin menyentuh pakaian yang ada di kamar sebelah.


Lyn baru saja akan memakai hijabnya kembali. Ketika suara Ve langsung terdengar memenuhi kamar itu.


"Kak Lyn.....aaaa kak Lyn...kapan datang?" Ve langsung menghambur memeluk Lyn hingga gadis itu hampir terjengkang.


"Astagfirullah...Ve nyungsep aku ini" Gerutu Lyn. Namun sejurus kemudian Lyn langsung melepaskan pelukan Ve. Dia ingat siapa Ve.


"Putri Veronika" Gumam Lyn lirih.


Seketika senyum Ve pudar. Tubuhnya lemas.


"Kak Lyn sudah tahu?" Ve menunduk hampir menangis. Inilah yang Ve takutkan jika orang tahu soal dirinya yang sebenarnya. Mereka akan mengambil jarak. Enggan berdekatan. Atau sebaliknya, mengambil keuntungan darinya.


Lyn terdiam. Hampir dua bulan bersama. Dia cukup tahu jika Ve kesepian. Tidak punya teman dekat.


"Apa kamu percaya pada Kakak?" Tanya Lyn. Pertanyaan Lyn langsung membuat Ve mengangkat wajahnya. Terlihat mata Ve sudah berkaca-kaca.


"Maksud Kakak?" Ve tidak paham dengan pertanyaan Lyn.


"Kamu tahu kan jika kakak tahu siapa kamu. Ada kemungkinan kakak akan memberitahu orang lain. Atau mungkin kakak malah akan memanfaatkan kamu. Kamu tidak takut dengan itu semua?" Tanya Lyn yang terlihat cantik dengan rambut hitam panjangnya. Terurai lurus sebahu. Jarang ada yang melihatnya. Kecuali Ve dan housemate mereka.


Mendengar ucapan Lyn, seketika Ve mengembangkan senyumnya.


"Aku percaya pada kakak. Lagipula kalau kakak memberitahu orang lain soal aku. Kakak pasti punya alasan. Lalu untuk kakak yang mau memanfaatkan aku. Itu bukan sifat kakak" Seloroh Ve.


Keduanya lantas tersenyum. Dua bulan bersama. Ternyata keduanya sudah mengenal pribadi masing-masing dengan baik.


"Jadi kenapa tuan putri melarikan diri alias kabur alias runaway. Padahal tempatnya enak lo" Tanya Lyn menatap sekelilingnya.


Ve mencebik kesal mendengar ucapan Lyn.


"Kakak tinggal saja disini nanti juga tahu bosannya tinggal disini" Gerutu Ve.


"Karena kamu kurang bersyukur dengan apa yang kamu punya. Mau tahu caranya ngilangin bosan dengan ini semua?" Tanya Lyn.


"Bagaimana caranya?" Ve kepo.


"Berbagilah" Jawab Lyn singkat.


"Sudah sering Kakak. Berapa banyak badan amal yang kita punya. Berapa banyak sumbangan yang kita berikan. Bukannya sombong Kak. Banyak..."


"Tapi apa kamu pernah berbagi dengan uangmu sendiri. Kakak yakin belum. Yang kamu berikan itu dari donatur kan?"


"Mulailah berbagi yang benar-benar berasal dari milikmu sendiri. Aku yakin itu akan membuatmu lebih tenang. Hidupmu akan lebih menyenangkan" Saran Lyn.


Dan percakapan dua wanita itu membuat Mark menaikkan sudut bibirnya. Pria itu mendengar tanpa melihat CCTV. Perlahan Mark bangkit dari duduknya. Berjalan keluar menuju kamar Lyn.


Di lantai tiga tidak ada penjaga. Karena semua kamar mengggunakan password dan passwordnya selalu diganti oleh Fao. Plus CCTV yang kendalinya berada di tangan Mark sendiri.


"Ve, Kakak masuk" Ucap Mark sambil mengetuk pintu. Meski dia tahu passwordnya.


Mendengar suara Mark. Lyn langsung kelabakan. Mencari hijabnya.


"Iih itu kotor kan. Pakai yang disebelah kan banyak"


"Kok kamu tahu"


"Tahulah. Kakak masuk saja. Aku dan Kak Lyn disebelah" Teriak Ve.


Mark membuka pintu bersamaan dengan pintu kamar sebelah yang tertutup. Pria itu duduk di sofa menghadap ke balkon kamar.


"Ganti baju!"


"Nggak bawa!"


"Itu baju seabrek tinggal pakai doang!"


"Bukan punyaku!"


"Kakak, Kak Lyn tidak mau ganti baju!" Teriak Ve mengadu pada kakaknya.


"Woi, tukang ngadu!" Maki Lyn.


"Biarin punya kakak kok nggak dimanfaatin"


"Biarkan saja kalau dia betah pakai dalaman sama dari kemarin" Jawab Mark santai.


"What?!!!"


Lyn langsung membulatkan matanya. Tidak percaya dengan ucapan Mark yang dinilainya tidak pantas untuk seorang putra mahkota.


"Ganti nggak!" Ancam Ve.


"Cepetan. Mau sarapan nggak? Mau jalan-jalan nggak?" Teriak Mark lagi.


"Makan? Jalan-jalan?"


Wajah Lyn langsung berbinar senang. Perutnya memang lapar dari tadi. Tapi jelas tidak berani bertanya.


"Cepetan ganti baju! Dia kalau marah kayak Azlan" Bisik Ve cepat.


"Azlan?"


"Singa dalam bahasa Turki. Aummm!" Jawab Ve sambil membuat gerakan menerkam.


"Ha?" Lyn malah melongo.


"Ayo cepat ganti!" Ve menyerahkan satu setel pakaian berupa tunik berwarna coklat dan celana panjang.


"Hijabnya pakai sendiri. Underwearnya disini" Ve memberi tahu.


Lyn nampak mendengus kesal. Namun tak urung berlalu memilih underwearnya lantas memakai pakaiannya. Lalu hijabnya.



Kira-kiranya bajunya kek gitu ya guys. Indonesia banget sebab Lyn asli Jogja 🤭🤭🤭


"Ayo turun! Lapar" Seru Ve tiba-tiba sudah berada di belakang Mark.


"Kamu ngagetin Ve" Mark hendak protes tapi urung melihat wajah cantik Lyn di belakang Ve.


"Cantiknya" Batin Mark.


Hatinya berdesir kala melihat wajah malu-malu milik Lyn.


"Mudahkanlah jalanku untuk mendapatkannya. Menjadikannya milikku" Sebait doa Mark panjatkan dalam hati. Sembari terus menatap wajah Lyn yang sejak tadi setia menunduk.


Sementara Ve tampak mengulum senyumnya. Dia sepertinya bisa menangkap kalau kakaknya menyukai kak Lyn-nya.


"Yesss aku punya cara untuk bisa bersama kak Lyn terus" Batin Ve bahagia.


***