
"Aduh sakit Bang! Pelanlah sikit!" Mohon Iz.
"Kalau begitu obati sendiri!" Dengus Adrian geram. Sesaat kemudian Adrian meringis.
"Abang tidak apa-apa?" Iz meletakkan kompres di wajahnya yang bengkak akibat baku hantam dengan para penjahat itu.
"Gila! Mereka bahkan sampai memakai RPG" Gumam Adrian.
"Bagaimana?" Tanya Adrian melihat Fao yang masuk ke dalam ruangan itu.
Kredit Instagram @ haominghao_neo
"Mark akan kemari. Miguel membuat kekacauan dengan membawa RPG ke ranah sipil. Dia harus berunding dengan pemerintah setempat. Juga harus bertanggungjawab" Jelas Fao.
"Bukan itu Fao. Mau hancur kek, mau rusak kek, aku tidak peduli. Yang aku tanya dimana Ve? Kemana bedebah gila itu membawanya? Pulang?" Adrian bertanya gemas pada Fao yang tidak nyambung dengan arah pertanyaannya.
Sekarang gantian Fao yang bengong.
"Kau ini kenapa?" Fao bertanya sambil memicingkan mata.
"Maksudmu apa?" Adrian balik bertanya.
"Kau aneh sekali. Apa yang terjadi padamu?"
"Aku cemas pada Ve. Apalagi?" Sungut Adrian.
"Kau cemas atau kau takut Miguel akan melakukan sesuatu pada Ve?" Pancing Fao.
"Apalagi itu?"
"Miguel suka main wanita. Kau pikir buat apa dia membawa Ve setelah dia tahu Ve ada dimana. Dia itu terobsesi pada Ve. Apa kau tahu?" Jelas Fao.
Wajah Adrian langsung memerah menahan amarah. Dia jelas tidak suka Ve di sentuh pria lain.
"Apa kau serius dengan ucapanmu?" Fao bertanya penuh selidik.
"Yang mana?" Adrian malah balik bertanya.
"Aku tahu semuanya. Aku dengar semuanya. Jangan kau kira aku tidak tahu" Ketus Fao.
Adrian terdiam. Lantas menghela nafas.
"Aku serius. Berulangkali aku memikirkannya. Aku berulangkali bertanya pada diriku. Apa dia yang benar-benar kuinginkan dalam hidupku. Dan berulangkali diriku menjawab iya. Hanya dia yang ada di kepalaku saat aku jauh darinya" Jawab Adrian sambil menerawang jauh.
Fao hanya diam mendengar jawaban Adrian.
"Well, kita lihat jawaban apa yang akan Ve berikan padamu. Tapi sebelumnya kita harus menjemputnya dulu" Sahut Fao.
"Di mana dia sekarang?" Kepo Adrian.
***
"Di mana aku?" Ve bergumam pada dirinya sendiri. Perlahan dia mencoba membuka matanya.
Dia terbangun di sebuah ranjang di kamar yang didominasi warna abu-abu. Dengan material kayu mendominasi.
Kredit Google.com
"Kak Hans.." Gumamnya lirih. Dia teringat, terakhir kali sebuah RPG mengarah kepadanya dan Adrian. Menghantam mobil di sampingnya, membuatnya terlempar dengan Adrian yang memeluk dirinya.
Ve melihat ke luar. Hari masih terang. Belum beranjak gelap. Kenapa badannya sakit semu. Pikir Ve. Lantas berusaha turun dari ranjang. Dia pikir ini pasti rumah Adrian yang lain.
Ve baru saja akan berdiri, ketika pintu kamar terbuka. Menampilkan seraut wajah yang membuat Ve terkejut.
"Miguel..." Batin Ve cemas.
"You're up, baby" Tanya pria bule itu.
"Kau? Apa yang kau lakukan disini?" Ve bertanya cemas.
Rasa takut akan keadaan Adrian langsung menyerangnya.
"Ini villaku, baby" Jawab Miguel sambil menyeringai.
"Vilamu?" Ve langsung menatap berkeliling. Kiri kanannya bangunan semua. Jadi ini bukan tempat terpencil. Fao pasti bisa menemukan dirinya.
"Mereka pasti bisa menemukanmu. Aku tahu. Maka dari itu. Akan kulakukan segera apa yang ingin aku lakukan padamu" Ucap Miguel.
"Apa yang kau inginkan dariku? Jaga sikapmu. Atau kakakku tidak akan melepaskanmu" Ancam Ve.
Tindakan Miguel membuat Ve takut.
Tanpa Miguel tahu. Di luar vila. Pasukan Fao sedang berusaha masuk ke dalam bangunan villa berlantai tiga itu.
Kredit Google.com
Beberapa anggota kepolisian setempat juga tampak ikut dalam pasukan itu. Beberapa anak buah Miguel berhasil dilumpuhkan tanpa menimbulkan suara. Tim Fao benar-benar lihai dalam melakukan aksinya. Tak lama mereka sudah bisa masuk ke dalam ruang tamu.
Kredit Google.com
Disini perkelahian tidak dapat dihindarkan. Karena anak buah Miguel sudah curiga ada penyusup yang masuk ke wilayah mereka.
Bahkan Fao, Adrian, Iz dan Richard turun tangan sendiri. Ikut menghajar anak buah Miguel. Adrian tampak menyeringai puas setelah berhasil menjatuhkan pria yang menendang perutnya. Membuat dirinya muntah darah.
"Rasakan kau!" Maki Adrian. Yang waktu itu memakai jaket hitam dengan kaos putih didalamnya. Serta kevlar anti peluru yang ia pakai di dalam kaosnya. Sesuai perintah Fao.
Kredit Instagram @ j_mika_k
Bagaimanapun, Adrian dan Iz adalah warga sipil yang ikut dalam sebuah operasi militer. Boleh dibilang begitu.
"Dia ada dimana?" Tanya Adrian.
"Arrgghh"
Terdengar suara Ve berteriak. Teriakan Ve membuat ketiga pria itu langsung naik ke lantai tiga.
"Kurang ajar. Akan kuhabisi dia jika berani menyentuh Ve" Maki Adrian.
"Lepaskan aku brengsek!" Teriak Ve ketika Miguel menghimpit tubuhnya di tembok. Berusaha menciumnya.
"Tidak akan! Sampai aku bisa puas menikmatimu, Princess Veronika" Jawab Miguel parau. Gairah dan naf** sudah menguasai pria itu.
Dengan cepat Miguel membawa tubuh Ve. Membantingnya diranjang. Lantas tanpa menunggu, langsung menyerang leher Ve. Gadis itu berontak seketika.
"Tidak. Aku tidak mau dia menyentuhku" Batin Ve terus memberontak.
"Ooh baby. Aku bahkan belum memasukimu. Tapi dia sudah menyemburkan bisanya" Bisik Miguel sambil mengerang di ceruk leher Ve. Hanya menciumi leher jenjang Ve. Miguel sudah bisa mencapai puncaknya.
Ve langsung membulatkan matanya mendengar ucapan Miguel. Ve sendiri memang merasakan milik Miguel yang menegang saat pria itu menghimpitnya di tembok tadi.
"Kau menjijikkan Miguel" Maki Ve. Berusaha mendorong jauh dada Miguel agar tidak menyentuh dadanya.
"Ini nikmat baby, bukan menjijikkan. Coba sekali saja dan aku jamin kau akan ketagihan pada milikku" Bujuk Miguel.
"Aku tidak tertarik bercinta denganmu! Bekas wanita lain" Umpat Ve lagi.
"Kau...kau memang minta dihajar, Princess" Miguel mulai marah karena Ve terus menolaknya.
"Aku tidak sudi disentuh olehmu!" Teriak Ve yang langsung bungkam karena Miguel mencium bibirnya. Ve terus melawan. Hingga Miguel dengan cepat mengunci kedua tangan Ve diatas kepalanya. Sedang kaki Ve dijepit Miguel menggunakan kakinya. Ve terkunci gerakannya. Membuat pria itu bebas melakukan apapun yang dia inginkan.
"Tolong! Tolong aku!" Batin Ve dengan air mata mulai mengalir dipipinya.
"Kurang ajar!" Teriak sebuah suara. Dan seketika tubuh Miguel menghilang dari atas tubuh Ve. Bersamaan dengan teriakan Miguel yang dihajar oleh Adrian.
"Stop Hans! Bukan wewenangmu untuk menghajarnya" Cegah Fao setelah Adrian melayangkan beberapa pukulan ke wajah Miguel.
"Kak Hans..." Gumaman lirih Ve mampu mengalihkan perhatian Adrian.
Hingga pria itu melepaskan cengkeramannya pada kerah kemeja Miguel. Lantas berlari ke arah ranjang. Dimana Iz dan Richard berusaha menemangkan Ve yang menangis.
"Aku di sini...aku di sini. Jangan khawatir" Adrian langsung mendekap tubuh Ve yang langsung menangis histeris.
Melihat kedekatan Adrian dan Ve, Miguel geram seketika. Dia bangkit hendak menerjang ke arah ranjang. Namun Richard dengan sigap menahan tubuh Miguel.
"Bawa aku pergi. Aku tidak mau disini" Pinta Ve.
"Kalian tidak akan pergi kemanapun. Terutama kau Ve...kau akan tetap disini. Sampai aku mendapatkan apa yang kumau" Teriak Miguel.
"Menyerahlah Miguel. Jangan membuatku mengambil tindakan fatal untuk menghentikanmu. Kau akan aku bawa. Menjadi tahanan. Lalu kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu lima tahun lalu" Balas Fao dengan seringai mengerikan diwajahnya.
Sedang Miguel wajahnya langsung pucat seketika.
"Lima tahun lalu? Tidak mungkin dia berhasil membuka rahasia terbesarku" Batin Miguel menatap tajam ke arah Fao.
***