
Ve melongo sebab Adrian mengganti jasnya dengan warna merah menyala.
"Kak Hans, buat mata Ve sakitlah" Gerutu Ve.
Padahal dalam hati dia mengakui kalau penampilan Adrian benar-benar stunning. Warna merah itu semakin membuat penampilan Adrian memukau. Siapa juga yang meragukan kemampuan warna merah.
Kredit Instagram @ ksndr_22
"Salahkan Iz kalau begitu" Adrian menjawab santai. Iz langsung mendelik mendengar ucapan Adrian.
"Bang, susah tahu nak dapat benda tu" Keluh Iz.
"Kalau begitu ambil lagi jasnya" Ucap Ve ingin membuka jas milik Adrian.
"Jangan!" Jawab Adrian dan Iz bersamaan. Membuat Cik Turin, Cik Syafee dan Kak Maria yang duduk satu meja dengan mereka, menatap ketiganya heran.
Meja Ve berada paling depan tepat di depan sebuah panggung yang dibuat.
Kredit Google.com
Sedang teman-teman Ve yang lain berada di meja belakang Ve.
Kredit Google.com
"Jangan dilepas!" Ulang Adrian.
Ve memanyunkan bibirnya. Acara pun dimulai. Mulai dari sambutan oleh Adrian juga beberapa direktur yang lain. Ada juga beberapa games yang membuat semua tertawa. Sungguh momen yang sangat membahagiakan bagi Ve.
"Ini hal paling menyenangkan yang pernah aku alami dalam hidupku. Kebebasan dalam kebebasan" Batin Ve berkaca-kaca.
Sungguh dia tidak akan melupakan hari ini. Ve benar-benar menikmati waktunya. Dia tidak segan berfoto dengan banyak orang. Bahkan ketika banyak teman pekerja pria yang meminta untuk berfoto dengannya. Ve tidak menolak.
Meski Adrian harus mengeratkan rahangnya karena kesal.
"Cemburu cakap Bang" Goda Iz sambil memakan sup sarang burung waletnya.
Adrian mendesah kesal. Ve sejak tadi sudah kembali bergabung dengan teman-temannya di meja belakang. Menciptakan keseruan tersendiri di meja mereka.
"Ve balik naik bus lagi ke?" Tanya Mas.
"Iyalah. Nak naik apa lagi?" Bohong Ve.
"Ikut je mobil Mr Lee. Naik bus lambat sampai rumah" Saran Mas yang kini duduk disamping Ve. Menatap wajah Ve yang masih asyik memainkan ponsel Adrian. Sesekali mengobrol dengan Lyn dan yang lainnya. Satu hal yang membuat orang terus menatap Ve adalah jas pria yang sejak tadi melekat manis di tubuh gadis itu. Milik siapakah itu. Sebab hampir semua pria dengan jabatan tinggi memakai jas. Dan kebanyakan berwarna gelap. Hanya Adrian yang memakai jas merah.
Ve kurang menikmati meriahnya annual dinner itu. Dia sudah terbiasa dengan suasana pesta. Yang ia cari adalah keseruan bersama teman-temannya. Hingga disatu waktu dia sudah benar-benar bosan. Melirik jam tangannya. Pukul 10 malam lebih. Di depan sana, semua orang masih bersenang-senang. Dengan bernyanyi juga beberapa kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia.
"Kak Lyn aku keluar dulu ya. Bosan mau cari angin" Bisik Ve pada Lyn.
"Mau ditemani?" Tanya Lyn.
"Tidak perlu. Paling duduk didepan saja" jawab Ve. Melenggang keluar dari ball room itu. Bermaksud untuk duduk di sofa yang tadi dia duduki tadi. Tapi ternyata tempat itu sudah penuh oleh teman-temannya.
"Gabung Ve" Teriak salah satu dari mereka.
"Mau ke toilet" Ve membuat alasan. Dia ingin mencari tempat sendiri malah disuruh gabung dengan mereka. Akhirnya Ve memutuskan turun. Di lounge pasti jam segini sudah tidak ada orang.
Ve masuk ke dalam lift. Menekan angka 1. Lift mulai bergerak turun.
"Ve keluar dari sana!" Tiba-tiba suara Fao terdengar di telinga Ve.
"Fao...apa yang terjadi?"
Jegrek!!!
Lift berhenti seketika.
"Fao...Fao...apa yang terjadi" Ve bertanya panik.
"Ve tenang dulu. Jangan panik. Tenang...tenang....aku akan cari bantuan" Balas Fao cepat.
Fao menghubungi ponsel Adrian. Tidak terhubung. Pria itu mengumpat kesal. Ingat kalau ponsel Adrian ada pada Ve. Secepat kilat dia mendial nomor Iz.
"Ya, halo...
"Berikan pada bosmu!" Potong Fao cepat. Kepanikan jelas melanda dirinya. Satu tangannya mulai masuk ke sistem hotel. Meretasnya. Membuat sistem komputer mereka merespon kalau ada yang tidak beres terjadi pada lift mereka.
"Ya...
"Pergi ke lantai 20. Ve terjebak di sana. Liftnya mati!" Ucap Fao cepat.
"Whaaat??!!!"
Adrian bergerak cepat keluar dari ballroom. Diikuti Iz yang tahu sesuatu yang buruk terjadi.
"Bagaimana bisa ini terjadi?" Umpat Adrian panik.
"Ada apa Bang?" Tanya Iz ketika mereka sudah masuk ke dalam lift.
"Ve bertahanlah. Tetap tenang. Jangan panik...oh come on" Ucap Fao panik sambil mengulik sistem hotel yang sudah berhasil ia retas. Pria itu berusaha agar sistem komputer bisa mengatasi kemacetan lift.
"Fao...Fao...." Panggil Ve mulai tersengal.
Wajahnya mulai memucat dengan nafas mulai tercekat. Dadanya mulai terasa sesak. Pelàn tubuh Ve merosot. Jatuh terduduk di lantai lift. Keringat dingin membanjiri hampir seluruh tubuhnya.
Ketakutan melanda. Bayangan kematian ayah dan ibunya kembali terlintas di kepalanya. Air mata, sedih, frustrasi semua menjadi satu. Belum dengan kenyataan kalau dirinyalah yang menyalakan perapian di hari itu. Hal yang membawa kematian pada kedua orang tuanya.
"Ve..Ve...tetaplah sadar. Jangan tutup matamu. Hans akan segera datang" Fao hampir berteriak.
Sementara tubuh Ve sudah terbaring sempurna di lantai lift. Wajahnya tidak lagi pucat. Tapi sudah mulai membiru. Nafasnya hampir habis.
"Inikah waktuku pergi?" Batin Ve pelan mulai menutup matanya.
Udara seakan sudah direnggut paksa darinya. Ve tidak lagi bisa mendengar teriakan Fao diujung sana. Yang berteriak. Menyuruhnya untuk tetap membuka mata.
"Kakak, maafkan aku. Aku merindukanmu"
"Hans.....
Mata Ve tertutup sempurna bersamaan dengan pintu lift dibuka paksa.
"Oh my God...Ve....Ve....." teriak Adrian merengkuh tubuh pucat Ve. Menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu.
"Bang bawa dia keluar dulu" ucap seseorang di belakang Adrian.
Cepat Adrian menggendong tubuh Ve. Membawa Ve keluar dari benda persegi panjang terkutuk itu.
"Ve...VE...VERONIKA!!" Teriak Adrian.
Panik jelas terlihat di wajah Adrian.
"Medis mana medis? Dia perlu oksigen!" Teriak Adrian lagi.
"Mereka masih otewe kemari Bang!" Balas Iz.
"Dia perlu oksigen sekarang Iz"
"Abang bisa lakukan CPR dulu" Saran seorang medis dari klinik di hotel itu.
"CPR?"
Adrian cepat merespon. Dengan cepat pria itu meraih tengkuk Ve. Membuat wajah Ve sedikit mendongak. Detik berikutnya. Bibir Adrian sudah bertemu bibir Ve. Membawa hembusan udara yang mulai membawa kehangatan di tubuh Ve. Setelah beberapa kali mencoba. Perlahan rona merah mulai nampak di wajah Ve.
Bersamaan dengan masker oksigen yang datang. Petugas itu dengan cepat memasangkannya pada Ve. Memeriksa saturasi gadis itu.
"Masih 60 persen, kita perlu paling tidak diatas 85 persen" Jelas petugas itu.
"Bukakan satu kamar di lantai ini" Perintah Adrian.
"Panggilkan dokter juga!" Tambah Adrian.
Adrian meraih tangan Ve berharap semua baik saja-saja.
***
"Apa yang terja..." Pekik Lyn ketika dia masuk ke kamar yang Adrian buka. Namun ucapannya terhenti ketika Iz memberinya kode untuk diàm.
"Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku jika dia punya gangguan panik attack!" Marah Adrian.
"Aku tidak berpikir jika dia akan mengalaminya di situ"
"Kau tahu kan semua bisa saja terjadi. Aku hampir gila dibuatnya!" Teriak Adrian dengan dada naik turun menahan emosi.
"Sorry...sorry" Balas Fao penuh penyesalan dari ujung sana.
"Sudahlah yang penting dia baik-baik saja. Tapi aku akan tetap menghajarmu kalau kita bertemu. Sebab Mark sudah tentu akan menghajarku. Aku tidak mau babak belur sendirian!" Ucap Adrian pada akhirnya.
"Mark? Nama kakak Ve kah?" Batin Lyn menatap cemas pada Ve.
"Sialan kau!" Maki Fao.
"Apa dia ada terapi obat khusus?" Tanya Adrian setelah benerapa waktu berdebat.
"Tidak. Hanya saja jangan tinggalkan dia sendiri. Kau tahu? Itulah hasil dari depresi yang dia derita karena kematian ayah dan ibunya. Panic attack ketika berada di tempat gelap dan sempit" Jawab Fao sendu. Menatap wajah Ve yang masih terlihat pucat. Dengan selang oksigen yang masih berada di hidungnya.
Sesaat Adrian mendekat ke arah Ve. Ditatapnya wajah pucat Ve, yang beberapa waktu lalu benar-benar membuat jantung Adrian seolah berhenti bernafas. Rasa takut akan kehilangan mendera hati Adrian. Rasa yang pertama Adrian rasakan pada seorang wanita.
Pelan Adrian mencium lembut kening Ve. Lama....membuat Lyn dan Iz saling pandang.
"Jangan tinggalkan aku" Batin Adrian.
****
Kredit Google.com
New York Hotel waktu malam. Cantik punya, dua kali author nginap di sana...🤗🤗
***