
Mendengar jawaban Mark semua orang menarik nafasnya lega.
"Oke. Soal materi selesai. Yang penting kamu mau bertanggungjawab atas kehidupan anak dan istrimu. Sekarang soal yang paling penting dalam urusan pernikahan. Keyakinan. Kamu bule..jadi langsung saja, apa keyakinanmu?" Tanya Hanif tegas.
"Saya muallaf sejak enam bulan lalu. Ada bukti ketika saya masuk ke ajaran ini." Mark meraih ponselnya. Lantas menguliknya sebentar.
Tiiing, satu notifikasi pesan masuk muncul di ponsel Hanif.
"Bagaimana kau bisa tahu nomorku?"
"Aku minta pada Lyn." Jawab Mark santai, menyandarkan tubuhnya di sofa. Mengedipkan satu matanya pada Lyn.
"Bohong! Kau minta pada Fao kan?" Tanya Lyn melalui tatapan matanya. Dan Mark langsung tersenyum tipis. Lyn tahu dirinya berbohong.
"Meski saya masih dalam taraf belajar. Saya berjanji akan berusaha lebih baik lagi. Hingga saya bisa menjadi imam untuk Lyn dan keluarga kami."
"Saya harap semua yang kamu ucapkan ini bukan hanya omong kosong. Semata-mata karena kamu ingin menikahi Lyn." Jawab pak Hendro.
"Karena itu saya tidak berjanji. Tapi saya berusaha membuktikanya." Jawab Mark cepat.
Hening lagi.
"Sebelumnya maaf jika saya ada permintaan. Jika keluarga bersedia menerima lamaran saya. Saya ingin menikahi Lyn dalam waktu seminggu ini."
"What?!!!!" Lyn langsung mendelik mendengarnya.
***
"Kenapa kakak terburu-buru sekali?" Tanya Lyn menatap tajam pada Mark.
"Bukankah hal baik itu harus disegerakan." Tanya Mark balik sambil menaikkan satu alisnya.
"Alasan!" Cebik Lyn kesal.
"Aku sudah tidak sabar ingin memakanmu." Kali ini Mark menggoda Lyn.
"Tidak percaya!" Kesal Lyn.
Mark tersenyum.
"Aku harus menjemput ratuku. Penobatanku bulan depan. Dan aturannya aku harus punya ratu untuk bisa naik tahta." Jelas Mark blak-blakan.
"Kamu cuma memanfaatkan aku agar kamu bisa naik tahta?" Tanya Lyn marah.
"Bukan seperti itu. Dengarkan aku dulu. Jika aku cuma perlu ratu untuk naik tahta buat apa aku jauh-jauh ke sini. Hilda ada. Banyak wanita ngantri jadi ratuku.Tapi aku cuma mau kamu yang jadi ratuku. Jadi istriku. Jadi pendampingku. Jadi ibu dari anak-anakku." Jelas Mark.
Sejenak Lyn terdiam. Menatap wajah Mark tajam.
"Oh come Lyn. Kamu bisa bunuh aku, jika aku cuma memanfaatkanmu." Mohon Mark.
Namun gadis itu hanya diam. Lalu berlalu meninggalkan Mark.
"Lyn...Lyn...aku sungguh mencintaimu. Aku tidak bohong..Lyn..." Panggil Mark tapi gadis itu sudah menghilang di balik pintu yang ditutupnya.
"Aduuuhh belum juga diterima lamarannya. Sudah salah paham lagi." Gerutu Mark.
Terdengar pintu di buka lagi.
"Lyn...dengarkan aku..
"Sholat Magrib dulu!" Ucap Lyn galak.
"Duhh wajah cantik. Lemah lembut tapi kalau galaknya mode on..eerrr." Bisik Mark lirih.
"Aku dengar Kak." Sahut Lyn dari balik pintu.
Sholat Magrib dilakukan di sebuah ruangan khusus di samping rumah Lyn.
"Ujian pertamamu." Ucap Hanif. Menunjuk sajadah di tempat imam. Mark menarik nafasnya pelan. Namun dia maju juga. Dan mampu membuat semua orang terkesima. Bahkan Lyn hampir menguraikan air mata. Mendengar bagaimana Mark bisa mengimami keluarganya.
Sejenak dia begitu khusyuk memanjatkan doa. Bersyukur sekali jika Mark memang jodohnya.
Setelah sholat Magrib penuh haru itu. Mereka kembali berkumpul. Kali ini di ruang makan. Menyantap menu makan malam yang begitu jauh dari keseharian Mark. Untung Lyn sempat memasak ayam goreng penyet. Hingga menu yang terhidang tidak terlalu memalukan bagi keluarga Lyn.
"Siapa suruh datang tiba-tiba. Ya, makan seadanya." Desis Lyn dari sudut bibirnya.
"Memangnya kalau aku beritahu aku mau datang. Mau kamu masakin apa?" Tanya Mark.
"Ya paling tak masakin gudeg, atau rawon atau brongkos atau...
"Apa itu..." Potong Mark cepat.
"Makanan. Cepat makan. Lalu pulang."
"Yah Lyn tega bener ngusir aku." Keluh Mark.
"Makan Kak."
Dan Mark mulai menyantap makan malamnya yang entahlah. Yang jelas berbeda dengan biasanya.
"Minta maaf jika makanannya tidak sesuai dengan selera Nak Mark." Ucap bu Tini.
"Ah tidak Bu. Ini enak kok." Jawab Mark.
Seusai makan malam yang penuh drama karena Mark kepedasan dengan sambal buatan Lyn. Mereka kembali duduk di ruang tamu.
"Hotel Ibis, Yogyakarta." Jawab Mark sesekali masih mendesis kepedasan.
"Itu jauh. Sejam kalau dari sini. Begini saja. Nif kamar rumahmu ada yang kosong satu kan? Biar Mark menginap disana. Tapi kamu lebih dulu lapor sama pak RT." Perintah pak Hendro.
"Baik Pak. Terus ini kita ke rumah Fadly jadinya sekarang?" Tanya Hanif.
"Kalian mau ke sana. Saya akan ikut kalau begitu." Tawar Mark.
"Belum saatnya. Sekarang biar kami dulu yang kesana. Meminta maaf karena Lyn menolak perjodohannya dengan Fadly. Juga karena Lyn sudah menemukan calon suaminya." Jawab pak Hendra.
"Tapi.."
"Jangan ngeyel." Hanif menyela.
"Lyn, kamu antarkan ke rumah dulu. Bilang sama mbak Ranimu. Kalau Mark nginap di kamar tamu."
"Terus pulang. Jangan berduaan!" Hanif mengingatkan.
"Setengah jam ya Mas." Mohon Mark.
"Enggak. Kalau nggak mau batal nih nikahnya." Ancam Hanif.
"Yaa jangan dong Mas. Jauh-jauh kesini mau jemput istri masak balik nganggur."
Semua melongo mendengar ucapan Mark. Bule rasa lokal. Sejurus kemudian Hanif meminta kartu identitas Mark.
"Buat lapor ke pak ReTe" Jawab Hanif menjawab tatapan dari Mark.
"Kata muallaf. Kok namanya masih londo (Inggris). Ibu sampai kesrimpet kalau mau manggil. Baiknya cari nama lokal ya." Ucap bu Tini.
"Cuma untuk panggilan sesama kita saja. Bagaimana?" Tanya pak Hendra.
"Saya ngikut saja" Jawab Mark. Yang penting tidak mengubah identitas internasionalnya.
"Apakah boleh jika aku yang memberi nama?" Tanya Lyn.
Mark langsung mengembangkan senyumnya.
"Tentu saja boleh"
"Bagaimana kalau Muhammad Abian Al Fatah?" Ucap Lyn ragu.
"Nama yang bagus, nduk." Puji bu Tini.
Mark langsung mengembangkan senyumnya. Nama itu terdengar begitu indah di telinganya.
"Begitu kan bapak lebih enak nyebutnya. Bukannya tidak menghargai nama pemberian orang tuamu, Bi. Semua nama merupakan doa yang baik untuk anak-anaknya." Jelas pak Hendra.
"Saya tahu Pak." Jawab Mark lesu.
"Ngomong-ngomong orang tua Nak Abi kapan datang?"
Mark semakin tertunduk lesu.
"Orang tua saya sudah meninggal hampir tiga tahun lalu. Saya hanya punya adik perempuan satu. Veronika, teman Lyn"
"Maafkan kami Nak. Kalau begitu anggap saja kami ini ayah dan ibumu juga."
"Terima kasih." Mark tersenyum mendengar ucapan pak Hendra.
***
"Ini kamarnya." Ucap mbak Rani, istri Hanif.
"Sudah aku pulang dulu." Pamit Lyn.
"Eh tunggu dulu. Temenin aku sampai mas Hanif pulang. Masak kami ditinggalin berdua." Protes Rani.
"Iya juga ya. Nanti malah jadi fitnah." Lyn membenarkan. Sedang Mark langsung menatap horor pada kasurnya.
"Kenapa? Masak kalah sama Ve. Dia betah hampir dua bulan lo." Ledek Lyn dari pintu kamar. Tidak berani masuk.
"Are you kidding me?" Tanya Mark tidak percaya.
"Jangan protes, nikmati saja." Ucap Lyn berlalu dari kamar Mark.
"Ya Allah. Demi dapat istri semua aku jabanin." Tekad Mark.
Sementara itu di sisi lain,
"Richard, Marco. Stand by-lah di sekitar Prince Mark. Ada yang menyusul ke sana"
Richard dan Marco langsung mengangguk paham.
"Meski yang diincarnya adalah Lyn. Tapi jangan kau harap bisa mengganggu mereka" Batin Fao sambil menatap puluhan layar komputer di ruang kerja rahasianya.
Yang salah satunya menampilkan seorang pria berparas oriental yang dua kali menemui Lyn.
"Masak iya, kamu tampan begitu mau jadi pebinor. Kayak enggak laku aja." Kekeh Fao.
***