
"Berhati-hatilah jika bersama pria. Siapapun dia. Meski itu Hans sekalipun" Pesan Lyn pada Ve. Yang tahu hari itu Ve ada janji mau pergi dengan Adrian.
Meski Ve tidak berharap kalau Adrian benar-benar akan menepati janjinya. Sebenarnya Ve lebih suka ke mana-mana sendiri. Lebih bebas jelas. Meski Adrian sama sekali tidak mengekangnya.
Berharap Adrian lupa dengan janjinya. Ve melangkah dengan langkah ringan. Senyum selalu terkembang di bibirnya. Dia baru akan menghubungi taksi online. Ketika ponselnya lebih dulu. Berdering.
"Ini siapa?" Gumam Ve.
Perasaan kemarin dia hanya memberikan nomor ponselnya pada Lyn seorang. Dan sudah menyimpannya. Lalu nomor baru ini, nomor siapa.
"Aku tunggu di parkir dekat phase 1" Ucap suara itu begitu Ve mengangkat panggilannya.
Sejenak Ve mengerutkan dahinya. Berhenti sambil menatap ponselnya. Dari jauh Adrian bisa melihat Ve yang malah melamun di tengah jalan. Membuat Adrian geram. Lantas membunyikan klakson CRV-nya.
Ve terlonjak kaget. Mencari sumber suara. Dan melihat Adrian yang tampak menunggunya. Menatap tajam ke arah Ve sambil menyandarkan tubuhnya ke badan mobil.
"Lama sekali!" Gerutu Adrian.
"Bagaimana Kak Hans tahu nomor ponselku?"
"Masuk!"
"Jawab dulu, Kak Hans"
"Masuk atau ku tinggal!" Ancam Adrian.
Dan jangan harap Ve takut. Gadis itu malah berjalan menjauh. Ve bukan tipe yang suka diberi perintah. Apalagi bernada tinggi.
Adrian menarik nafasnya dalam. Memejamkan matanya. Menahan emosi yang siap meledak. Entah kenapa peringatan dari Lyn. Membuatnya kesal sepanjang hari ini. Tidak tahu kenapa dia tidak suka dituduh berniat mempermainkan perasaan Ve.
"Veronika!" Panggil Adrian.
"Aku bisa pergi sendiri. Kalau Kak Hans marah atau sibuk" Tegas Ve ketika Adrian berhasil mencekal tangannya.
Serba salah langsung memenuhi pikiran Adrian.
"Bukan begitu maksudku, Ve" Sahut Adrian berusaha membujuk.
"Aku tidak apa-apa pergi sendiri" Ulang Ve lagi.
"Oke....oke..aku minta maaf jika aku menyinggungmu. Hari ini pekerjaanku banyak dan banyak masalah di kilang kau tahu kan" Bujuk Adrian.
"Kalau begitu Kak Hans pulang saja istirahat" Jawab Ve.
Melenggang pergi dari hadapan Adrian.
"Oh my God!" Pekik Adrian dalam hati.
Bolehkah dia membawa paksa gadis itu. Bolehkan dia tidak perlu menjadi pria baik di hadapan Ve.
**
"Kau! Kau kan yang menyuruh Ve untuk menjauhiku?" Bentak Adrian melalui ponselnya.
"Jangan sembarangan menuduh!" Sangkal Lyn tidak kalah keras suaranya.
"Kalau bukan kau? Lalu siapa lagi yang bisa mempengaruhi pikirannya?"
"Halloooo tuan Lee...Ve sudah ya besar. Dia berhak menentukan sikap. Saya hanya bilang padanya agar berhati-hati jika bersama pria. Itu saja. Oh ya satu lagi. Ve tipe yang tidak suka dipaksa"
Tuuut!!!!
"Oh sh***!" Adrian mengumpat kesal.
Memperhatikan Ve yang duduk di meja seberang sambil memakan semangkok sup tomyam. Dia tahu Adrian mengikutinya.
"Kau apakan dia?" Tanya Fao dari belahan dunia lain.
"Tidak aku apa-apakan" Jawab Ve santai. Memasukkan satu ekor udang besar ke dalam mulutnya.
"Kalau kau tidak mengganggunya mana mungkin mukanya seperti mau makan orang begitu" Balas Fao.
"Ha? Masak sih?" Tidak percaya, Ve sedikit melirik ke arah Adrian. Dan benar saja. Wajah Adrian benar-benar seram. Kadar ketampanannya habis sudah.
"Hii dia benar-benar seram kalau lagi marah" Ve bergidik, berlagak takut.
Yang disambut kekehan Fao dari ujung sana. Padahal Adrian seharusnya bisa jadi pusat perhatian di tempat itu. Memakai jas hitam dengan kaos oblong putih, harusnya sukses membuat Adrian terlihat tampan.
Kredit Instagram.com
Namun yang ada kini pria itu malah terlihat seram. Duduk tepat di hadapan Ve dengan mata tajamnya, tak lekang menatap wajah santai milik Ve.
"Jadi aku harus apa?" Ve bertanyq.
"Menurutmu?" Fao bertanya balik.
"Biarkan saja" Putus Ve pada akhirnya.
Kredit Instagram @ zeunique
Membiarkan rambut panjangnya tergerai indah. Adrian yang melihat Ve mengabaikannya langsung mendengus geram. Belum pernah dia diabaikan seperti ini.
"Ve bagaimana jika seandainya kau berjodoh dengan Hans?" Tanya Fao.
"Masak sih" Ve balik bertanya.
Menuju ke bagian buah.
"Aku kan bilang seandainya. Apa yang akan kau lakukan" Balas Fao.
"Tidak tahu" Jawab Ve mulai memilih apel. Hingga satu tangan menahannya.
"Kau masih mau beli buah? Yang di mobil siapa yang mau makan?" Kata Adrian marah.
"Kak Hans makan saja sama Abang Iz" Jawab Ve enteng.
"Veronika!!" Desis Adrian.
"Apa sih Kak. Kalau Kak marah-marah mulu jangan disini. Ini tempat umum. Malu" Balas Ve lagi.
Dan ucapan Ve sukses membuat Adrian bungkam. Pria itu akhirnya hanya bisa mengekor Ve kemanapun gadis itu pergi.
"Jangan beli buah! Beli yang lain" Pinta Adrian.
"Suka-suka Ve lah" Jawab Ve cuek.
"Ve bisa tidak, buat aku tidak darah tinggi hari ini?" Mohon Adrian.
"Bisa! Just get out of my way!" Ve berucap pedas.
Demi mendengar hal itu. Adrian langsung menarik tangan Ve. Membawa gadis itu keluar dari sana. Tidak peduli permohonan Ve untuk tidak melakukan hal itu.
"She's my wife" Jelas Adrian ketika beberapa orang ingin melerai mereka.
"What??!!!"
Istri dari mana coba. Gerutu dan makian Ve terus saja terlontar dari bibir Ve. Ve berulang kali mencoba melepaskan cekalan tangan Adrian. Tapi gagal.
"Masuk!" Perintah Adrian. Begitu mereka sampai di depan mobil Adrian di parkiran hypermarket itu.
"Tidak mau!" Tolak Ve.
"Mau pakai cara halus atau cara kasar?" Ancam Adrian. Mendekat ke arah Ve. Membuat gadis itu memundurkan tubuhnya. Tubuh Ve berhenti bergerak ketika membentur badan mobil Adrian.
Perlahan Adrian mendekatkan wajahnya ke wajah Ve. Gerakan Adrian itu membuat Ve panik seketika.
"Aku yakin..kak Lynmu itu sudah memberitahumu. Mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat bersama pria. Betul tidak?" Goda Adrian.
"Kak Hans mau apa sih?" Ve panik berusaha mendorong jauh tubuh Adrian.
"Menciummu? Atau mengajakmu bercin..ta mungkin" Sahut Adrian mulai mencium pipi Ve.
"Hans!!!" Teriak Fao di telinga Ve.
"Hajar dia Ve!" Perintah Fao.
"Aku tidak bisa Fao" Jawab Ve melalui pikirannya.
Fao jelas marah seketika. Hingga dengan cepat meraih ponselnya.
"Jangan macam-macam dengan Ve, Hans!!" Teriak Fao.
Adrian sejenak terpaku. Sesaat dia tergugu melihat Ve yang hampir menangis. Dalam himpitan tubuhnya. Detik berikutnya Adrian langsung memeluk tubuh Ve. Mengabaikan panggilan Fao yang masih tersambung.
"Maafkan aku. Maafkan aku. Aku begitu marah saat kau mengabaikanku. Sungguh. Aku sungguh minta maaf" Adrian berucap tulus.
Menguap sudah rasa marah dalam diri Adrian. Sementara Ve hanya bisa diam menerima pelukan dari Adrian.
"Maafkan aku. Maafkan aku" Ulang Adrian. Mengusap air mata yang turun di pipi Ve.
Ve hanya diam saja, tidak tahu harus berbuat apa. Lama Adrian memeluk Ve. Berusaha untuk membuat Ve tenang. Baru kali ini ego Adrian kalah dengan seorang wanita.
Ve, gadis pertama yang mampu membuat Adrian tidak berkutik hanya dengan melihat gadis itu menangis. Ada apa denganku? Tanya Adrian dalam hati. Merasa bingung dengan dirinya sendiri.
***
Bonus pict Fao,
Kredit Instagram @ haominghao_neo
***