
Setiap kali aku menatapmu, bisa aku rasa jika semua rasaku hanya tertuju padamu. Di setiap bait doaku selalu terselip namamu. Sungguh aku berharap jika kamu bisa menjadi ratu di hatiku. Menatap mata cantikmu di setiap waktu. Melihat senyum manismu di tiap gundahku. Jadikan dia milikku, Ya Tuhan pemilik semesta alam. Agar hidupku tak lagi hampa. Menanggung rasa yang tidak berkesudahan. Sebuah rasa yang menanti jawab dari pemilik jiwa yang kini tersenyum, menatap padaku.
Mark
Sebuah pesta sederhana seperti permintaan Ve digelar di kebun belakang istana. Sungguh Mark harus menahan egonya untuk mengadakan perayaan besar-besaran pernikahan Ve dan Adrian.
"Ini pernikahanku. Jadi ini yang ku mau. Kakak ingin full party. Maka cepatlah menikah. Dan adakan pesta pernikahanmu besar-besaran. Aku tidak akan protes."
Ucapan Ve masih terngiang jelas di telinga Mark.
"Adikmu ngajak ngirit." Ledek Fao. Mark langsung menarik nafasnya kasar.
Siapa lagi yang berani mengejek sang putra mahkota selain letnan jenderalnya sendiri.
"Dia benar-benar susah dikendalikan. Kau tahu kan sponsorku antri ingin andil di pernikahan ini. Tapi apa. Ve menolak semua. Dia terima sebagian tapi dia sumbangkan lagi ke Gaza setelah diuangkan lagi." Gerutu Mark. Menunggu Ve berganti baju untuk intimate party mereka.
"Itu namanya pandai memanfaatkan situasi." Albert ikut nimbrung.
Sesekali mata mereka mengawasi keadaan sekeliling. Begitu tenang tapi begitu mencurigakan. Membuat para pria itu semakin waspada.
Tidak tahunya pertarungan sengit bukan terjadi di kediaman Emmanuel tempat pernikahan berlangsung. Tapi di sebuah pelabuhan di sisi Timur. Pelabuhan terpencil yang jarang digunakan tapi justru di situlah kelebihannya.
Entah tempat itu lolos dari pengawasan Fao atau bagaimana. Hingga saat ini di tengah banyaknya tubuh yang terkapar bersimbah darah. Di tengah desingan peluru yang terdengar. Juga di tengah kekacauan yang melanda. Tidak seorangpun dari anggota kepolisian atau angkatan perang negara M yang terlihat di sana.
"Aarrghh"
K nampak meringis menahan rasa sakit di bagian perutnya. Darah mengalir begitu deras dari bekas sebutir peluru yang berhasil bersarang di sana. Dia begitu merutuki kebodohannya. Datang tanpa persiapan. Juga sedikit lengah pada musuhnya.
"Bertahanlah, Tuan. Bantuan akan segera datang." Sang asisten berucap tepat di samping telinga K. Maxim, sang asisten terus waspada. Adu peluru sudah berakhir. Tidak tahu siapa pemenangnya. Namun yang jelas. Sang Tuan terluka. Terlihat cukup parah.
"Carlos benar-benar kurang ajar." K mengumpat tertahan. Rasa panas dan nyeri bergabung menjadi satu. Menciptakan satu rasa sakit luar biasa di tubuh K.
K datang ke negara M. Bermaksud untuk membicarakan bisnis dengan rivalnya, Carlos. Namun kenyataannya. Pembicaraan bisnis itu hanyalah kedok untuk memancing dirinya keluar dari markasnya. Dan karena kecerobohannya kali ini. Dia kehilangan beberapa anggota terbaik miliknya.
Suara deru helikopter terdengar mendekat. Tak lama, Maxim memapah K masuk ke dalamnya. Meski capung terbang itu belum mendarat dengan sempurna. Begitu tuannya masuk. Capung terbang itu langsung menjauh dari tempat itu. Menuju ke wilayah selatan di mana mansion K berada di negara itu.
"Tuan berusahalah untuk tetap sadar." Maxim setengah berteriak di telinga K.
"Urus semuanya saat aku tidak ada."
Ucap K lirih di telinga Maxim.
"Tuan..tuan.." Panik jelas terlihat diwajah Maxim. Juga rasa bersalah yang tidak terkira. K, sang tuan terluka karena melindunginya.
"Bagaimana?" Tanya Maxim pada Andreas, dokter pribadi K yang datang bersama helikopter itu.
"Arahkan ke rumah sakitku. Dia perlu operasi secepatnya." Pinta Andreas.
"Kau dengar, Matt?" Tanpa kata, sang pilot helikopter melajukan kendaraannya ke sebuah bangunan bertingkat, bercat putih. Dengan helipad berada di atapnya.
"Mereka siap." Ucap Andreas setelah mematikan ponselnya.
Begitu kendaraan udara itu mendarat. Pintu langsung dibuka. Dan sebuah hospital bed langsung menyambut tubuh K yang sudah topless karena Andreas telah membuang kemaja K yang sudah penuh darah.
"Operation room 1." Seru bawahan Andreas. Pria itu mengangguk. Maxim turut mengangguk.
"Aku titip dia." Maxim berucap seiring Matt yang kembali bergerak menjauh. Bawahan Andreas langsung mendorong hospital bed itu ke arah lift. Operation Room 1 adalah kode untuk ruang operasi rahasia yang terletak di lantai bawah tanah rumah sakit milik Andreas.
Ruangan itu khusus menangani pasien yang dirahasiakan identitasnya dari publik. Seperti K, yang anggota mafia. Atau juga keluarga kerajaan, termasuk keluarga Emmanuel.
Dua jam kemudian Maxim kembali. Bersamaan dengan Andreas dan krunya yang keluar dari ruang operasi rahasia itu.
"Bagaimana?" Maxim setengah berteriak pada Andreas.
"Parah. Pelurunya merobek ginjalnya. Aku harus mencari donor ginjal untuknya." Jawab Andreas.
"Sudah dapat?" Desak Maxim.
"Dalam dua jam. Mereka akan mengirimnya dalam dua jam. Ada pasien meninggal di meja operasi di rumah sakit wilayah barat. Dan keluarganya kebetulan memerlukan uang. Dan juga ginjalnya cocok."
"Bagus. Pertahankan kondisinya, kita lakukan tranplantasi ginjal dalam dua jam. Begitu ginjalnya datang beritahu aku." Ucap Andreas.
Maxim menarik nafasnya lega.
"Dia beruntung bisa selamat kali ini. Tapi masa penyembuhannya lama. Satu atau dua bulan. Dia harus berada dalam pengawasanku." Andreas berucap serius.
Maxim kembali mendengus geram. Tuannya pasti akan susah dikontrol jika sudah membuka matanya.
"Aku harus melakukan perhitungan dengan Carlos." Tekad Maxim.
"Tahan dirimu Max. Kau tidak dengar permintaannya. Urus semuanya bukan berarti dia memintamu balas dendam. Handle soal bisnisnya. Balas dendam urusan nanti. Sudah aku mau istirahat sebentar." Andreas berlalu dari hadapan Maxim.
***
Adrian mendelik melihat Ve yang masuk ke intimate party mereka bersama Lyn, Rose dan Serena. Pria itu seakan ingin protes dengan baju yang dipakai sang istri. Istri? Cie..cie...yang sudah nikah.
Bagaimana tidak gaun model kemben dengan panjang menjuntai itu. Mengekspose bagian dada Ve yang berukuran sedikit lebih dari biasanya.
Kredit Instagram @ zeunique
Adrian hampir saja meluapkan amarahnya ketika Mark menahannya.
"Biarkan saja untuk malam ini. Toh disini hanya ada kita. Aku tidak membiarkan orang lain masuk."
Pada akhirnya Adrian hanya bisa mendengus geram. Mendengar ucapan sang kakak ipar.
Pria yang sudah mengganti setelan tuksedonya dengan kemeja dan jas berwarna biru itu langsung menghampiri Ve.
Kredit Instagram @ ksndr_22
"Apa ini?" Tanya Adrian langsung pada Ve.
"Apanya?"
"Bajumu ini. Kau mau pamer pada semua orang kalau dadamu besar." Protes Adrian langsung tanpa basa basi.
Namun Ve bukannya marah. Malah tertawa. Dia mulai tahu posesifnya Adrian padanya.
"Malah tertawa. Ganti sana!" Desis Adrian.
Detik berikutnya. Sebuah ciuman mendarat di bibir Adrian yang baru saja selesai berucap. Membuat Adrian kicep seketika.
"Ve..." Pekik Adrian.
"Kenapa? Mereka kan hanya lihat. Tidak bisa menikmatinya." Bisik Ve di telinga sang suami.
Seketika rasa marah Adrian menguap entah ke mana.
"Kau menggodaku? Ayo kita naik saja." Ajak Adrian.
"Iisshh tidak sabaran. Sebentar aku mau pamer ke seseorang dulu." Ucap Ve berlalu dari hadapan Adrian.
"Pamer apanya?" Buru-buru Adrian meraih tangan Ve.
"Pamer asetku yang eksklusif juga limited edition. Jadi hanya yang terpilih saja yang bisa menikmatinya." Ucap Ve sambil mengedipkan satu matanya.
"Haiiisshh kenapa dia jadi begitu menggoda sih." Gerutu Adrian. Membiarkan Ve berjalan menuju ke arah targetnya.
****