Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Drama Jelang Pernikahan



Hari berlalu, waktu yang dinantikan semua orang akhirnya tiba. Ve berteriak kencang ketika melihat Lyn muncul di kamarnya siang hari berikutnya. Pelukan hangat langsung Ve berikan pada gadis itu. Senyumnya semakin lebar melihat Iz dan juga Mas yang berdiri di belakang Lyn.


Iz bersikap biasa saja. Sebab dia tahu sejak awal siapa Ve. Tapi Mas tidak. Pria itu bergeming ketika melihat Ve.


"Abang Mas marah ke?" Tanya Ve sendu melihat sikap Mas yang berbeda padanya. Biasanya pria itu selalu bersikap hangat padanya. Tapi kali ini tidak.


"Bukan marah. Hanya terkejut. Tidak percaya yang Ve seorang putri. But it's okay. Selama Ve baik dengan Abang. Abang tak kesah (tidak peduli) siapa Ve." Jawab Mas.


Seketika senyum terkembang di bibir Ve.


"Terima kasih Abang Mas sudah menjaga Ve selama di sana." Ucap Ve tulus dengan mata berkaca-kaca.


"Sama-sama. Terima kasih juga sudah jemput (mengundang) Abang datang ke sini. Bolehlah Abang dapat rasa naik pesawat." Canda Mas.


"Ishhh Abang Mas ni bisa saja."


"Ehh betul Ve. Ngomong-ngomong selamat atas pernikahannya. Semoga bahagia selalu, selamanya." Doa Mas.


"Terima kasih doanya ya Bang."


"Ada hadiah kecil dari Abang semoga Ve suka. Abang tahu Ve punya semua benda. Semoga ini bisa menjadi tanda pertemanan kita." Mas menyerahkan sebuah paperbag kepada Ve.


"Terima kasih Bang. Terima kasih sudah mau datang ke sini." Ucap Ve sambil memeluk Mas yang tentu saja terkejut dengan sikap Ve.


Dia sempat ragu ketika ingin membalas pelukan Ve, tapi anggukan samar dari Lyn, membuat Mas langsung membalas pelukan Ve.


"Berbahagialah selalu Ve. Abang rela melepasmu asal kamu bahagia." Batin Mas hampa. Berapa kali dia gagal mendapatkan cintanya.


"Bang...


"Iya..kenapa?" Tanya Mas.


"Carilah pacar atau istri. Masak jalan sama tunang orang. Abang Mas juga tampan tahu. Abang bisa dapat yang lebih baik dari Kak Siti." Ucap Ve pada akhirnya.


"Iya..iya. Nanti Abang cari istri yang lebih cantik dari Kak Siti." Mas mengiyakan saja.


"Coba cari di sini siapa tahu ada yang nyangkut."


"Ingatkan Abang ni tengah cari ikan ke. Cari istri Ve, bukan cari ikan."


"Cuma istilah Bang. Sewot amat. Lagi PMS apa?" Goda Ve.


"Itu kamu. Kamu inspect bawaannya marah melulu. Pasti Ve lagi dapat." Seloroh Mas membuat Ve memanyunkan bibirnya.


"Tu kan betul apa kataku." Ve semakin memanyunkan bibirnya.


Hingga Serena datang mengingatkan Ve untuk mulai dimake up. Bersamaan dengan datangnya Hilda. Yang hari ini bertekad akan jadi pusat perhatian dan menunjukkan pada dunia kalau dialah yang paling pantas berada di samping Mark.


Kedatangan Hilda membuat Mas dan Iz saling pandang. Sebab semalam secara pribadi, Mark meminta keduanya untuk membantu menjaga Ve. Karena konsentrasi Mark dan yang lainnya akan terpecah jika harus menghandle keselamatan Ve juga.


Dan keduanya dengan senang hati membantu. Iz punya basic bela diri dan menembak. Sedang Mas lebih kepada cadangan. Karena dia nol besar soal pertahanan diri. Dia hanya punya stamina yang lumayan prima. Hasil hobinya bermain bola.


Lyn baru saja masuk dan memberi kode. Yang membuat Iz langsung keluar.


"Satu di toilet." Bisik Iz melalui ear piece-nya.


"Ini kawinan apa perang sih." Guman Mas tidak percaya ketika melihat sendiri beberapa pria membawa paksa seorang wanita diam-diam. Dengan satu buah tas plastik hitam. Yang menurut bisikan Iz adalah sebuah bom. Beruntung Lyn yang sedang di toilet curiga. Dan melapor pada Iz.


"Karena itulah Ve kabur ke sana. Inilah kehidupan istana." Desis Lyn lirih. Berjalan ke arah Ve yang manyun karena Hilda sejak tadi mengganggu MUA yang meriasnya, dengan hal-hal yang tidak penting.


"Ada apa Ve?"


"Show time." Bisik Iz disamping Mas. Mas langsung fokus ke arah Ve dan Lyn juga wanita yang semalam Mark kenalkan sebagai Medusa aka Hilda.


"Kak ada ulat bulu..cepat usir dong. Bikin gerah aja deh." Rengek Ve dengan kode. Lyn mengangguk paham.


"Oh ya Hilda boleh minta tolong. Tiara Ve tertinggal di ruang kerja Prince Mark. Tadi dia menghubungi Iz untuk meminta seseorang mengambilnya di ruang kerjanya. Kau tahu kan tiara Ve berlian asli jadi disimpan sendiri oleh Prince Mark. Mumpung dia masih ada disana sekarang. Belum turun ke venue" ucap Lyn setengah memohon.


Awalnya Hilda sudah mau menolak. Tapi mendengar Mark yang masih berada di ruang kerjanya. Senyum Hilda langsung mengembang. Ini bisa jadi kesempatannya untuk mendekati Mark.


"Oke aku akan pergi." Hilda berjalan dengan angkuh keluar dari ruang make up Ve. Begitu Hilda keluar. Semua tersenyum penuh arti.


"Dia datang." Ucap Iz lirih.


"Mau diapain dia?" Mas kepo.


"Membuatnya tidak bisa datang ke venue pernikahan." Jawab Iz penuh arti.


"Everything is clear now." Lapor Iz melalui ear phone-nya.


(Semuanya beres sekarang)


"Apa itu?" Tanya Ve tajam.


"Hanya bedak tambahan." Jawab MUA itu.


"Berikan padaku!" Pinta Ve cepat.


Sang MUA memberikan satu benda bulat berisi bubuk berwarna putih. Lantas tanpa ragu. Menaburkannya kepada si MUA itu yang langsung berteriak. Bersamaan dengan Lyn yang menahan leher wanita itu dengan lengannya. Menghimpitnya ditembok.


"Panas..panas!"


Iz dan Mas sigap menahan wanita itu. Sementara Serena langsung mengamankan Ve. Yang cukup terkejut dengan kejadian itu.


"Kau pikir bisa menipuku. Kau mengambilnya dari sakumu sendiri! Bawa dia!" Perintah Lyn yang membuat semua orang di ruangan itu tercengang dengan gadis itu.


Dibalik kelembutan Lyn yang hari itu mengenakan gaun simple berwarna baby pink. Ada sebuah kekuatan yang diam-diam Lyn sembuyikan.


"Nona ini bagaimana? Waktunya tidak cukup untuk memanggil MUA baru lagi. Dan mungkin ini kesempatan yang mereka tunggu untuk memasukkan penyusup yang sesungguhnya." Serena berujar. Setelah dua orang membawa sang MUA pergi untuk di interogasi.


"Aku akan membantumu berdandan." Ucap Lyn.


Ve mengembangkan senyumnya.


"Atau kau bisa berdandan sendiri." Ucap Lyn lagi.


"Oh ayolah Kak. Tidak bolehkah aku manja padamu sekali ini saja." Mohon Ve menampilkan puppy eyes-nya yang nampak imut. Sulit bagi Lyn untuk menolaknya.


"Kamu itu tiap hari manja padaku. Tidak ingat?"


Ve kembali memanyunkan bibirnya.


"Hari ini saja. Besok bermanjalah pada suamimu. Oke?" Ucap Lyn lantas mulai merias wajah Ve.


"Kakak bisa minta bayarannya pada chicken katsu langsung." Ucap Ve sambil memejamkan matanya. Karena Lyn tengah menyapukan eye shadow berwarna nude ke kelopak mata Ve.


"Tentu saja. Double. Ini diluar job description." Sahut Lyn cepat. Membuat Serena mengulum senyumnya. Sungguh tidak menyangka dengan kemampuan Lyn.


"Wanita ini penuh dengan kejutan. Pantas saja Prince Mark menaruh hati padanya." Batin Serena.


"Yang itu tadi apa?" Tanya Ve.


"Tidak tahu. Mungkin semacam serbuk api." Jawab Lyn santai.


"Nona tahu?" Serena yang bertanya.


"Hanya pernah membaca sekilas di buku. Memang iya itu serbuk api?" Tanya Lyn balik.


"Dilihat dari reaksinya sih sepertinya betul serbuk api. Tapi biar laboratorium memeriksanya dulu." Jawab Serena.


"Semua under control." Seru Iz yang masuk kembali. Kali ini bersama Richard.


"Semua sudah beres kah? Kenapa kamu berada sudah disini?" Tanya Serena.


Richard memberi kode dengan tangannya. Sedikit lagi.


"Oke. Sekarang tinggal rambutnya." Seru Lyn.


"Waahhh Kakak bisa jadi MUA juga. Bisa buka salon juga nanti disana." Seloroh Ve menatap takjup pada riasan Lyn. Begitu juga Serena.


"Hebat sekali wanita ini."


Sembari Lyn menata rambut Ve. Mereka tidak tahu. Di area belakang istana terjadi satu pembersihan besar-besaran. Karena ternyata satu pasukan pemberontak dari Utara berhasil menyusup masuk.


Namun berkat kesigapan dari Fao dan yang lainnya. Semua berhasil di tangani dengan baik.


"Pestamu usai Paman Eduardo." Senyum penuh kemenangan, terlukis jelas di wajah Fao.


Setelah berhasil menuntaskan drama menjelang pernikahan Ve. Ditambah lagi dengan laporan Serena soal kemampuan Lyn yang ternyata di luar ekspektasi semua orang. Bahkan Fao sendiri.


***


Up malam, biasa cari vitamin. Kebetulan juga ni imun lagi ngedrop...



Kredit Instagram @ maa_iko


Aduh bang, kepala author puyeng mau pilek dah kayaknya...kasih healing dong...


****