Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Hadapi Aku Dulu



"Kak Hans" Lirih Ve mendengar suara Adrian yang berdiri diujung ruang tamu kediamannya.


Sepatu heelsnya langsung terlepas dari genggamam tangannya. Seiring Ve yang berlari ke arah Adrian langsung memeluknya.


"Aargghhh"


Adrian meringis sakit ketika tubuh Ve menabrak dadanya.


"Yaahh, retak lagi nggak ya ni rusuk" Batin Adrian.


Mengingat kemarin dia baru melakukan pemeriksaan ulang pada tulang rusuknya. Meski sudah 80 persen sembuh tapi sang dokter ortopedi berpesan agar Adrian tidak melakukan hal-hal yang ekstrim juga menghindari benturan.


"Kak Hans kemana saja? Kenapa baru datang? Ve rindu tahu" Oceh Ve terus memeluk Adrian.


"Ha? Rindu? Ve bilang rindu padanya?"


"Malah diam? Kak Hans kemana saja?" Tanya Ve setelah melepas pelukannya.


"Aku? Dirumahlah. Mau kemana lagi" Jawab Adrian menatap wajah Ve lekat.


Cantik, Ve semakin cantik saja menurut Adrian.


"Rumah mana? JB, Tebrau...Paris?"


"Paris...aku pulang ke Paris" Adrian menjawab sambil tersenyum. Dia benar-benar merindukan gadis ini.


Seketika wajah Ve langsung berubah muram.


"Ada apa?" Tanya Adrian yang sangat peka dengan perasaan Ve.


"Apakah sakit?" Pelan Ve menyentuh dada kiri Adrian di mana peluru itu menembusnya dua bulan lalu.


"Ya sakitlah, masih nanya" Sahut Adrian santai.


Detik berikutnya tangis Ve mulai terdengar.


"Hei...sudah tidak apa-apa. Sudah sembuh sekarang" Bisik Adrian mengusap air mata yang turun di pipi Ve.


"Beneran. Kalau Ve hajar, sakit tidak?" Tanya Ve polos.


"Ya sakitlah. Tulang rusukku patah dua Ve"


"Ha?" Ve melongo. Menyentuh pelan dada Adrian.


"Kamu harus tanggung jawab sudah membuatku terluka gara-gara Miguel sialan itu" Kesal Adrian.


"Iya aku tanggungjawab" Sahut Ve langsung meraih wajah Adrian. Dan sebuah ciuman langsung mendarat di bibir pria itu. Adrian seketika membulatkan matanya. Tidak percaya jika Ve mencium dirinya.


Semua jelas melotot melihat aksi berani Ve. Lyn langsung membalikkan tubuhnya. Dan langsung membentur dada bidang Mark yang berdiri di belakangnya.


"Aduuuh..." Keluh Lyn mengusap keningnya.


"Sakit tidak?" Tanya Mark cemas.


"Itu dada apa batu sih keras banget" Gerutu Lyn tanpa sadar.


Yang lain langsung melongo, menatap ke arah Lyn. Tidak percaya pada ucapan gadis berhijab itu.


"Ini dada, bukan batu" Jawab Mark santai.


"Ha?" Lyn kini yang ganti melongo. Didepan sana suasana makin panas ketika Adrian mulai membalas ciuman Ve. Meraih tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka. Rasa rindu keduanya tersalur melalui pagutan dua bibir itu.


"Ehemmmm"


Mark berdehem. Membuat Adrian langsung melepaskan pagutannya.


"Kakak mengganggu saja" Protes Ve.


"Haisshh, kenapa kau jadi liar begini" Heran Mark.


Adrian angkat tangan di belakang Ve.


"Kau hebat sekali. Membuat gadis polos itu jadi kucing liar dalam dua bulan ini" Bisik Fao di samping Lyn.


"Tapi aku tidak mengajarinya main cium orang di tempat umum" Protes Lyn.


***


"So...


"Apa?"


"Ini bagaimana kelanjutannya?"


"Maksudnya apa?"


Suara orang bicara saling bersahutan tidak jelas. Membuat kepala Mark serasa mau pecah. Kejadian Ve yang dengan jelas mencium Adrian lebih dulu. Sudah cukup membuktikan kalau adiknya itu punya perasaan yang sama dengan Adrian. Mereka saling mencintai.


Jika keadaannya seperti itu. Dia tidak punya pilihan selain menerima lamaran Adrian. Dan memberi restu. Meski semua keputusan tetap ada di tangan Ve.


"Maaf..aku tidak bermaksud mengajari Ve untuk menjadi gadis yang...liar dan agresif" Kata Lyn penuh penyesalan.


Mark menarik nafasnya pelan.


"Jika Ve menerima lamaran Adrian aku akan menyetujuinya" Mark berucap tiba-tiba.


Semua jelas terdiam mendengar keputusan Mark. Namun tidak dengan Lyn. Gadis itu langsung tersenyum mendengar ucapan Mark.


Di sisi lain,


Dua manusia beda gender itu masih saling diam. Duduk dibawah terangnya lampu taman di samping kastil sayap kiri.


"Kenapa menciumku?" Tanya Adrian.


"Kan Kak Hans suruh bertanggungjawab. Ya sudah aku cium saja. Kan begitu rule-nya"


"Rule? Siapa yang buat peraturan seperti itu?"


"Ya..kak Hans lah siapa lagi"


"Waktu di Kulai. Ingat?"


Ingatan Adrian kembali ke masa dia berada di rumah paman Lyn.


"Ah... yang itu"


Ve mengangguk.


"Tapi kau tidak boleh melakukannya kepada pria lain. Bahkan pada Fao, Albert dan Sebastian" Jelas Adrian.


"Iya...iya. Lagian Ve cuma suka bibirnya Kak Hans kok...manisss"


"Ha?"


"Kenapa ni anak jadi berani sekarang"


"Kak Hans...


"Hemmm"


"Issh gitu lagi jawabnya. Habis sakit kok ya masih sama ya"


"Apanya"


"Orangnya"


"Kau mau aku berubah jadi apa? Jadi siapa?"


"Ya, siapa tahu jadi lebih romantis kayak di drama-drama yang sering Ve tonton. Ngajakin nikah pakai cincin cantik...


"Veronika Catarina Emmanuel maukah kamu menikah denganku?" Ucap Adrian memotong omelan Ve yang panjangnya hampir menyamai kereta api.


Ve langsung melongo. Mendengar ucapan Adrian juga sebuah cincin cantik yang berada di depan matanya.


Sesaat Ve melongo melihat cincin dari Adrian. Detik berikutnya gadis itu langsung menatap wajah Adrian.


"Kak Hans serius?"


"Sangat- sangat serius. Bukankah aku sudah pernah bilang akan menagih jawabanmu jika kita bertemu lagi" Sahut Adrian sambil menatap dalam wajah Ve.


Hening,


"Veronika....pegal ini" Keluh Adrian.


"Ah iya" Ve langsung mengambil cincin dari tangan Adrian.


"Kamu ambil cincinnya. Berarti kamu mau lo menikah denganku" Ucap Adrian dengan seringai penuh arti.


"Eh..."


***


Ve berjalan mondar-mandir di kamarnya. Bingung, itulah hal yang dia rasa dari tadi. Sesekali menatap cincin cantik yang ada di atas ranjangnya.


"Aahhhh..." Ve mengacak rambutnya frustrasi.


Kenapa hanya mau bilang iya saja susahnya minta ampun. Sejujurnya Ve memang menunggu lamaran dari Adrian. Tapi saat ingin berkata iya. Bibirnya justru menjadi kelu tidak bisa berucap.


***


"Pagi semua" Sapa Ve lesu.


"Kenapa kamu?" Tanya Lyn yang sudah bersiap menyantap nasi gorengnya.


"Tidak bisa tidur Kak" Gadis itu meletakkan kepalanya diatas meja.


Dan pandangannya langsung bertemu dengan wajah Adrian yang tersenyum manis padanya.


"Iisshh, senyum manis itu yang membuatku tidak bisa tidur semalam" Gerutu Ve dalam hati.


Semua saling melihat satu sama lain. Sedang Mark lebih suka melahap sandwichnya ketimbang menatap Adrian yang sejak kemarin, wajahnya sukses membuat hati Mark kesal saja.


Semua sarapan dengan tenang. Hingga tiba-tiba. Keributan terjadi di luar. Membuat semua sejenak menghentikan sarapannya. Mark dan dua asistennya langsung menegakkan badannya. Seolah tahu siapa yang membuat keributan.


"Oohh selamat pagi semua. Aku tidak menyangka jika suasana makan pagi di rumah ini begitu meriah" Ucap seorang pria paruh baya yang langsung saja menerobos masuk ke ruang makan.


"Biarkan saja" Mark memberi kode pada pengawalnya.


"Tentu saja tidak apa-apa. Karena aku kesini bersama calon ratu negeri ini" Pria itu yang tak lain adalah Eduardo. Eduardo menatap pada Adrian dan Lyn. Dua orang yang menurut mata-matanya berada di kediaman Emmanuel sejak beberapa waktu lalu.


Di belakangnya Hilda muncul dengan pakaian yang membuat semua orang saling pandang.


"Iiisshhh kalau mau pamer dada dan bo**kong jangan disini" Ucap Ve pedas.


"Aah, adik ipar ini fashion terbaru. Apa kau tidak tahu?" Sindir Hilda.


"Aku memang tidak tahu fashion terbaru. Tapi setidaknya aku tidak mengumbar asetku dimana-mana. Asetku ekslusif juga limited edition. Jadi hanya yang terpilih saja yang bisa melihatnya" Ve membalas sindiran Hilda telak.


Hilda mengepalkan tangannya. Seakan Ve tahu, kalau dia suka menggoda pria lain di luar sana.


"Oh satu lagi...sejak kapan aku jadi iparmu. Yang aku lihat kakakku masih belum mengakui keberadaanmu" Lagi Ve menyerang Hilda.


Hampir semua orang menarik sudut bibirnya. Tak terkecuali Lyn. Meski gadis itu tetap diam sambil menikmati sarapannya. Tapi telinganya tidak tuli.


"Jangan harap kau akan melewati jalan yang mudah untuk masuk ke kediaman Emmanuel. Hadapi aku dulu!" Batin Ve menatap tajam pada Hilda dan sang Paman


***


Cari bahan buat cuci mata..



Kredit Instagram @ jk_ko.3291


Merapat yook merapat..🤭🤭🤭


***