
Jakarta, Indonesia,
2,5 tahun sebelumnya,
Seorang gadis berhijab tampak tergesa-gesa turun dari sebuah bus Transjakarta yang dinaikinya. Dia pikir masih harus menaiki angkot menuju tempat tujuannya. Sebab rute bus tidak melewati tempat tujuannya.
Kredit Google.com
Sejenak dia menggaruk kepalanya. Dia sudah lama tidak menginjakkan kakinya di Jakarta. Sedikit berpikir apakah angkot masih ada di daerah itu. Mengingat hampir semua mode transportasi di Jakarta akan dialihkan ke ke bus Transjakarta.
Gadis itu terpaksa pergi ke ibukota untuk mengurus masalah pekerjaannya. Biasanya semua urusan bisa diselesaikan di kantor cabang. Tapi tidak tahu kenapa, dia harus mengurusnya di kantor pusat.
Dia baru saja akan melangkahkan kakinya ke arah beberapa ibu yang tengah berbelanja sayur di tepi jalan. Bertanya adalah pilihan yang tepat pikirnya. Namun baru saja kakinya melangkah. Dia melihat sesuatu yang aneh dari sudut matanya.
Seorang pria tampak disudutkan oleh dua orang lainnya di seberang jalan. Otaknya bekerja cepat. Perampokan kah? Tapi masak iya di tengah hari begini. Eh tapi ini Jakarta. Tidak ada yang tidak bisa terjadi di kota metropolitan sekelas Jakarta.
Perlahan gadis itu mendekat. Semakin jelas dua orang itu memojokkan seorang pria berparas bule. Ketiganya berparas bule sebenarnya. Hingga di satu waktu terlihat satu pria nampak mencengkeram leher pria itu.
"Hey what are you doing?" teriaknya.
(Apa yang kalian lakukan)
"None of your bussiness, Miss." Jawab satu dari mereka. Berdiri tepat di hadapan pria yang terlihat sendiri itu.
(Bukan urusanmu, Nona)
Sedang pria yang disudutkan itu hanya diam. Seolah menikmati apa yang sedang terjadi di hadapannya. Namun mata birunya terlihat memindai penampilan gadis itu.
"Cantik, dengan caranya sendiri". Batin pria itu terlihat menunjukkan sisi tertariknya.
Dua orang itu terlihat seram. Badannya juga besar-besar. Aku tidak mungkin melawannya sendirian. Bisa-bisa aku yang remuk. Begitulah kira-kira isi pikiran gadis itu.
Hingga tanpa kata. Gadis itu berlari lantas menarik tangan pria itu.
"Come with me." ( Ikutlah denganku)
Ucap gadis itu sambil berlari. Dan pria itu tidak tahu kenapa. Tidak melawan malah mengikuti kemana gadis itu membawanya.
"Hey...hey...where will you bring him?"
(Kamu mau membawanya kemana)
Teriak dua orang itu. Tapi satu kode dari tangan pria itu, membuat dua orang tersebut hanya diam tidak mengejarnya.
"Apakah selamat membiarkan Prince Mark bersama wanita itu?" tanya seorang dari mereka.
"Prince bisa menjaga diri. Dia cuma wanita. Mungkin Prince sedang ingin bersenang-senang." Jawab yang lain.
"Isshh, Prince bukan orang seperti itu."
"Aku tahu. Maksudnya dia mungkin ingin tahu apa yang diinginkan gadis itu."
Yang lain tampak manggut-manggut.
Di sisi lain. Gadis berhijab itu mulai ngos-ngosan setelah berlari untuk beberapa lama. Sejenak dia menoleh ke belakang. Setelah memastikan mereka tidak dikejar. Dia menghentikan larinya.
"Mister..are you oke?" Tanyanya.
"I'm fine." Jawab pria itu singkat. Dia terlihat baik-baik saja. Meski baru saja ditarik ke sana ke sini.
Wahh, suaranya terdengar indah di telinga si gadis berhijab itu. Sejenak dua mata itu bersua pandang.
"Emm, where do you live, Mister?" Tanya si gadis itu.
(Di mana Anda tinggal?)
Pria itu hanya terdiam. Mungkin tidak paham kenapa dia bertanya tempat tinggalnya.
"I can call a taksi for you. To bring you home." Lanjutnya lagi menjelaskan tujuannya menanyakan tempat tinggal pria itu.
(Aku bisa memanggil taksi untuk mengantarmu pulang)
Si pria bule itu tersenyum.
"JW Marriot Hotel." Jawabnya singkat.
"Wait a minute." ( Tunggu sebentar)
Tak lama sebuah taksi berhenti ketika gadis itu menghentikannya.
"Come, he will send you to your hotel."
(Silahkan, dia akan mengantarkan kamu ke hotelmu)
Pria itu menurut saja berdiri di dekat pintu sambil menunggu gadis itu berbicara dengan sang supir. Ketika gadis itu mengeluarkan dompetnya. Pria itu buru-buru mencegahnya.
"I can pay it by myself."
"Oooh oke. Please, you can go now. It's not safe for you to be here."
(Oke..Silahkan kamu bisa pergi sekarang. Tidak aman untukmu jika berada di sini)
Pria itu terdiam. Tidak menjawab.
"Ah, I have to go now."
(Aku harus pergi sekarang)
Gadis itu berbalik pergi karena pria itu hanya diam tidak bergeming.
"Wait." (Tunggu)
Pria itu meraih pergelangan tangan gadis tersebut lantas menariknya. Saking kerasnya dia menarik tangan gadis itu. Tubuh gadis itu berbalik dengan cepat dan "cup" dua bibir itu saling bertemu untuk pertama kalinya. Tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi.
Keduanya jelas terkejut. Lantas saling menjauh.
"I'm sorry, I didn't mean it."
(Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menciummu)
Pria itu berucap gelagapan.
"Ah, nevermind. I have to go now. Have a safe trip"
(Lupakan saja. Aku harus pergi sekarang. Semoga perjalananmu selamat sampai tujuan)
Gadis itu berlalu cepat dari hadapan pria bule itu dengan wajah merona merah. Juga karena melihat angkot diujung jalan. Mengabaikan teriakan pria bule itu.
"Hei what's your name?"
(Siapa namamu)
Tapi gadis itu tidak menggubrisnya. Terus berlari hingga masuk ke angkot yang kebetulan sedang berhenti.
"Anda tidak apa-apa, Prince?" Tanya dua orang tadi yang ternyata bodyguard Mark.
"Tidak. Bayar taksinya!" Perintah Mark.
"Cari tahu siapa dia." Lagi satu perintah keluar dari bibir Mark.
***
Kembali ke masa kini,
K menatap kosong hampa pada pemandangan yang ada di hadapannya. Sebulan dia koma di rumah sakit. Terpaksa menjalani transplantasi ginjal darurat. Karena peluru itu berhasil merobek ginjalnya.
Ketika dia bangun sebulan lalu, K mendapati kenyataan kalau dia kehilangan jejak Lyn. Gadis yang bermaksud dia temui setelah bertemu dengan Carlos. Namun rencananya berantakan karena pertemuannya dengan Carlos justru membuatnya terkapar di rumah sakit. Selama hampir 1,5 bulan.
Setengah bulan menjalani proses penyembuhan di bawah pengawasan ketat dari Andreas. Akhirnya hari ini diizinkan pulang oleh Andreas. Hingga disinilah dia berada. Menatap jauh pada laut Mediterania yang terbentang luas di hadapannya.
Kredit Google.com
Berada di mansionnya, di wilayah paling terpencil di bagian utara negara M. Di sebuah pulau dan mansion rahasia yang hanya bisa diakses melalui jalan rahasia dari jalur laut. Juga sebuah helikopter yang landasannya tersembunyi di balik batu karang curam.
Kredit Google.com
"Sejak kejadian hari itu Carlos semakin berani. Dia mulai menginvansi wilayah kita." Lapor Max.
"Kami menunggu perintah dari mu, Tuan." Ucap Max.
"Bisa tidak kau itu tidak terlalu formal saat kita sedang berdua. Kupingku gatal mendengarnya!" Bentak K.
"Sorry." Jawab Max singkat.
K kembali memandang laut di depannya. Dia ingin melihat Lyn. Tapi tidak bisa menemukan gadis itu di mana berada. Juga luka di perutnya belum pulih sepenuhnya. Membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
"Sementara biarkan dia berbuat sesukanya. Bukankah dia belum ada apa-apanya jika dibanding kita. Kejadian waktu itu murni karena kesalahanku tidak waspada padanya." Ucap K sambil mengepalkan tangannya geram.
Dia cukup menyesal karena kejadian itu. Beberapa orang terbaiknya harus lenyap karena kebodohannya.
Kembali dia menatap ke laut lepas yang terhampar di hadapannya.
"Ah, aku begitu merindukannya." Bisik K lirih.
***
Sudah lauching part Mark dan Lyn ya...
***