Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Biarkan Sebentar Saja



"Boleh Ve bertanya." Gadis itu memainkan tangan Adrian. Keduanya masih berada di ranjang kamar Ve yang mewah. Dengan Adrian yang bersandar di headboard dan Ve berada di depan tubuh Adrian. Bersandar pada tubuh pria itu.


"Tanya apa?." Adrian menjawab sesekali menghirup aroma lembut dari rambut panjang Ve.


"Apakah Kak Hans tahu siapa aku ketika aku di JB?." Tanya Ve.


"Tahu. Pertama bertemu, aku hanya merasa pernah melihatmu. Ingat kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Padahal aku dan kakakmu sering bertemu." Jawab Adrian.


"Lalu?."


"Lalu Kakakmu menghubungiku. Juga Fao. Dari situlah aku tahu jika kamu seorang Princess."


"Jadi mereka semua curang padaku." Dengus Ve kesal.


"Kenapa?."


"Fao bilang akan membiarkanku bebas tanpa pengawal ketika aku sampai disana. Sampai aku rela jadi kuli." Sungut Ve kesal.


"Mana berani mereka membiarkanmu di luar tanpa jaring pengaman apapun. Mereka bisa gila. Mereka itu peduli padamu." Adrian menjelaskan.


"Tetap saja mereka bohong padaku."


"Alah anggap saja ini drama nyata yang sedang kau jalani. Coba kalau kamu tidak nyungsep kesana. Mana kita bertemu. Meski disini kita dekat. Tetanggaan."


"Iya juga ya"


"Ve....


"Apa?"


"Kamu disini kurang makan ya?." Tanya Adrian memeluk tubuh Ve sambil meletakkan wajahnya di bahu Ve.


"Memang tidak sebanyak di JB. Kenapa?."


"Kamu makan banyak saja masih kurang semok...


Ve langsung menjepit hidung mancung Adrian. Begitu mendengar kata semok keluar dari bibir Adrian.


"Aahh sakit Ve." rengek Adrian sambil mengusap hidungnya yang memerah akibat jepitan jari Ve.


"Makanya kalau ngomong pakai filter."


"Alah kaya dia ada filternya aja. Ya kalau nggak mau makan banyak. Nanti biar aku saja yang bikin kamu semok." Ucap Adrian sambil menaikkan satu alisnya.


"Emang bisa?."


"Woo bisa banget." Jawab Adrian pede.


Sedetik kemudian Ve sudah melesatkan sebuah ciuman di bibir Adrian.


"Ve...jangan mancing terus dong." Protes Adrian. Bisa-bisa dia bisa khilaf beneran kalau Ve terus bersikap agresif seperti ini.


"Ehemmmm"


"Astoge, Fao kau ini sudah seperti hantu saja. Nongol nggak bilang-bilang." Gerutu Adrian.



Kredit Instagram @haominghao_neo


Letnan Fao...


"Kalau gue nggak nongol, terus elu mau ngapain? Lanjutin drama elu sampai kebablasan? Kagak-kagak! Ayo keluar...keluar." Usir Fao.


"Kak Hans..." rengek Ve.


"Hei kamu ini perempuan, yang mahalan dikit dong." Ketus Fao


Ve langsung mencebikkan bibirnya.


"Sabar Ve, sabar. Sebulan lagi. Setelah itu kita komporin mereka biar bete kalau lihat berduaan." Adrian mulai keluar usilnya.


"Sialan kau!" maki Fao.


"Makanya sah in juga si Rose segera biar gak mukbang mulu!." Ucap Adrian keluar dari kamar Ve setelah mencium sekilas kening dan bibir gadis itu. Membuat Fao mendelik seketika, melihat pasangan otewe resmi itu.


"Alah sekarang dia sombong, mentang-mentang sebentar lagi bisa nenggelemin tu pusaka ke rumahnya. Coba kemarin, cuma lidah doang yang berani main" cibir Fao.


"Iishhh itu mulut kalau sudah ngomong, ampun pedesnya"


"Makanya kalau ngomong asal jangan njeplak aja!"


"Lyn-lah. Siapa lagi?"


Adrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebentar akan ada bule setengah lokal nih di istana Mark. Pikir Adrian setengah tertawa.


"Pokoknya kita semua akan kawal sampai sah. Elu kalau sudah berdua bahaya. Sebulan lagi Hans...masak nggak bisa ngampet."


"Nah tu nongol lagi kearifan lokalnya" batin Adrian beneran tertawa


"Kawal...kawallah. Sekarang Ve agresif tahu." Info Adrian.


"Maka dari itu. Hebat ya Lyn. Bisa mengubah si polos Ve jadi meong liar yang siap nggigit elu."


"Dan gue jamin gigitannya pasti nikmat tiada tara...


Plak!


"Aduuuuuhhhhh..


***


"Kakak sengaja ya, buat kak Hans jadi bodyguard Ve selama di JB?" Ve melabrak sang kakak di ruang kerjanya.


"Apa maksudmu?"


"Kakak tahu Ve disana, karena itu Kakak sengaja buat Kak Hans jadi jaring pengaman buat Ve." Todong gadis itu.


"Kalau tidak begitu kamu mau tak jemput waktu itu juga? Ve diluar sana sangat berbahaya untuk kamu. Tanpa pengawalan. Kakak tidak bilang semua orang jahat. Tapi banyak yang mengincar kamu di luar sana. Kakak bisa gila jika memikirkan itu. Jadi tolong mengertilah alasan Kakak melakukan hal itu. Semua demi keselamatan kamu. Kakak tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Itu saja." Jelas Mark panjang lebar.


"Tapi kan kalian bohong padaku."


"Di bagian mananya kami bohong?" Mark balik bertanya.


"Fao bilang...


"Fao memang tidak mengirim siapapun untuk menjagamu. Karena Kakak tahu dia bisa memantaumu seperti dia berada didepanmu. Tapi Kakak? Kakak tidak bisa seperti Fao. Dan kebetulan Hans ada disana. Jadi sekalian saja tak mintain tolong untuk sekalian menjaga kamu selama tiga bulan dia berada disana." Tambah Mark lagi.


"Jadi Kakak dan Fao tidak satu server?"


"Tentu saja tidak. Kakak tahu dia memberimu sedikit kesempatan untuk merasakan kehidupan di luar. Tapi jika Hans tidak melihatmu.Kakak juga tidak mungkin tahu dimana kamu disembunyikan Fao"


Ve menggigit bibir bawahnya. Dia pikir kakaknya dan Fao bersekongkol meminta Adrian untuk jadi bodyguard Ve selama di JB. Ternyata itu ulah kakaknya sendiri.


"Memangnya Hans merepotkanmu? Tidak kan? Hans itu memang brengsek, tukang mukbang nikmat. Tapi dia sangat bertanggung jawab. Juga bisa melindungi wanita."


"Ha? Mukbang nikmat? Apa itu?." Tanya Ve bingung.


"Astaga, aku pikir dia sudah pinter beneran ternyata masih ketinggalan juga o-on-nya sedikit." Batin Mark puyeng menghadapi tingkah adiknya.


***


Sebulan berlalu,


Hari pernikahan Ve dan Adrian semakin dekat. Pun dengan kepulangan Lyn ke Indonesia. Setelah Iz memastikan kalau Lyn tidak ingin menyambung kontraknya. Asisten Adrian yang kini naik pangkat jadi wakil Adrian itu, langsung mengurus kepulangan Lyn.


Dia sendiri yang mengurusnya. Sebab Lyn tidak langsung pulang ke Yogyakarta. Tetapi gadis itu akan terbang dulu ke Negara M. Untuk menghadiri pernikahan Ve dan Adrian.


Hari ini, last day di JB. Jadi Lyn ingin berjalan-jalan menikmati hari terakhirnya di kota itu. Semalam dia baru saja mengadakan farewell party bersama teman perempuan satu section. Khusus Inspection.


Setelah hampir setengah hari puas berjalan-jalan. Dia memutuskan untuk pulang ketika hari menjelang sore.


Terpaksa berteduh di depan toko Seven Eleven karena hujan tiba-tiba menguyur. Sesaat Lyn bermain dengan tetesan air hujan. Hingga kemudian dia menyadari satu hal.


Air hujan yang menetes ke tangannya. Sekuat apapun dia menggenggamnya. Akhirnya tidak seberapa yang tinggal di tangannya. Hampir semuanya akan jatuh, mengalir langsung ke bawah.


Begitupun takdir..sekuat apapun dia menolak dan menghindarinya. Tetap akan menjadi garis nasibnya. Mengingat hal itu. Seketika mata Lyn berkaca-kaca. Inikah takdir yang harus dia terima. Menerima perjodohan dengan Fadly.


Ketika hatinya mulai bertaut pada seorang pria. Mark, kakak Ve perlahan mulai mengisi hati Lyn. Meski Mark adalah tipe pria cuek. Tapi entah kenapa pesonanya mampu menggetarkan hati Lyn yang selama ini tidak tersentuh.


Menangis, akhirnya air matanya tumpah juga. Tidak peduli pada keadaan disekelilingnya. Perlahan Lyn mengubah posisinya jadi berjongkok. Sembari memeluk lututnya sendiri. Dia menangis. Beberapa kali mencoba mendongakkan wajahnya agar tangisnya mau berhenti. Tapi usahanya gagal. Air matanya seolah menolak untuk berhenti.


"Sebentar saja. Sebentar saja. Biarkan seperti ini sebentar."


Dia tahu mengeluh itu dilarang. Tapi untuk saat ini biarkanlah dia sampaikan keluhan atas nasibnya bersama air mata yang mengalir di pipinya. Dia juga hanya manusia biasa yang punya batas dalam segala hal. Usaha, sabar, emosi bahkan perasaan, semua terbatas.


Tanpa Lyn sadari. Seorang pria menatapnya dari dalam mobil Honda City yang berhenti tepat di seberang jalan.


"Apa yang sedang kau alami. Kenapa kau terlihat begitu menderita." Batin pria itu sambil mengusap pelan dagunya.


***