
Awalnya semua berjalan lancar. Ve begitu menikmati "jalan-jalannya". Selama itu pula Fao yang memantau melalui citra satelit Icarus, tidak menemukan sesuatu yang aneh. Semua seolah berjalan sesuai rencana.
Membawa Ve ke airport lantas membawanya pulang. Habis cerita. Semua selesai.
"Kak Hans..." Panggil Ve.
"Hmmm" Adrian menjawab singkat.
"Iiisshh tidak asyik" Gerutu Ve manja.
Richard yang jadi supir hampir menginjak pedal rem, saking kagetnya. Tuan putrinya itu, tidak pernah bersikap manja selama dalam pengawalannya. Baru kali ini Richard melihat sisi lain dari tuan putrinya. Richard sendiri bisa melihat jika Ve begitu bahagia meski dengan kehidupan yang berbeda dengan kesehariannya. Melihat Ve dengan uniform-nya tadi, pria bule itu hampir meledakkan tawa di balik maskernya. Demi kebebasan, atasannya itu rela melakukan apa saja.
"Kak Hans..." Panggil Ve lagi.
"Hemmm" Sahut Adrian lagi.
"Ve, nanti mau makan sate yang di Masai ya. Sebagai ganti kak Hans tidak membelikan Ve oleh-oleh" Pinta Ve, kembali membuat Richard membulatkan mata.
"Sate?" Batin pria bule itu.
Namun detik berikutnya. Ketiga pria itu saling menatap waspada. Begitu suara Fao terdengar di telinga mereka.
"Arah jam 3...tiga mobil"
"Oh shi***!! Aku datang ke sana"
Dua kalimat Fao yang membuat ketiganya menatap ke sisi kanan mereka. Samar tiga mobil memang masuk dari arah jalan kampung. Waspada dan siaga.
"Ada apa?" Tanya Ve yang peka dengan aura yang mulai berubah di dalam mobilnya.
"Tidak ada" Jawab Adrian. Padahal tangan kanannya sudah bersiap di pinggangnya. Siap menarik Glock yang berada disana.
"Kak Hans jangan bohong. Kita mau kemana sebenarnya?" Desak Ve.
Adrian masih diam. Menatap lurus ke sisi kanannya. Dan Ve langsung mengikuti arah pandangan Adrian.
"Siapa mereka?" Ve bertanya lagi.
Ve mungkin polos soal percintaan. Tapi soal membaca situasi dia juga bisa. Lama berteman dengan Fao dia tahu jika ada yang tidak beres dengan situasinya sekarang.
"Mereka menyerang!" Satu suara Fao terdengar di telinga Adrian dan "dooor"
Ciiiiiiitttt,
Mobil dibelakang mereka mengerem mendadak. Menghindari oleng akibat ban mobilnya yang meledak di tembak dari sisi kanannya.
"Jelaskan padaku!" Teriak Ve.
Adrian masih diam. Hingga satu pergerakan Adrian, membuat Ve melihat pria itu memakai kevlar anti peluru di balik vest-nya. Seketika Ve melihat ke arah luar. Satu mobil di depan mereka jelas memandu jalan. Dan yang tadi ...mengawalnya.
"Fao....kau disana?"
Dan ucapan Ve jelas membuat Adrian menatap wajah gadis itu. Tidak ada jawaban. Membuat gadis itu menarik paksa antingnya. Lantas menginjaknya.
"Ve...
"Katakan!"
Hening,
"Aku tidak mau pulang!" Teriak Ve.
"Kau harus pulang hari ini!" Potong Adrian cepat.
"Tidak mau!" Tolak Ve. Mulai berusaha membuka paksa pintu mobil. Berusaha keluar.
"Jangan lakukan itu, berbahaya. Kau harus pulang. Disini tidak aman untukmu. Fao menunggu di airport"
Tubuh Ve lemas seketika. Jika Fao sendiri yang menjemputnya. Bisa dipastikan jika keadaannya memang berbahaya. Seketika satu hal terbersit di kepala Ve. Semua sudah tahu soal dirinya. Siapa dirinya.
"Tapi aku belum mau pulang" Rengek Ve hampir menangis. Setidaknya jika dia pulang. Dia ingin berpamitan dengan teman-temannya. Kak Lyn-nya. Abang Mas. Dua orang yang begitu dekat dengannya selama berada disini.
"Ve...." Adrian memeluk tubuh gadis itu.
"Aku tidak mau pulang. Tidak mau!" Jerit Ve.
"Miguel ada di sini, Princess"
"Richard?" Ve tidak percaya, menatap ke arah supirnya.
"Nice to meet you again, Princess Veronika"
Bahkan Richard pun ada disini. Juga Miguel? Miguel apa yang dilakukan pria itu disini.
"Aaa tujuan pastinya tidak tahu. Yang kami tahu, dia sangat terobsesi padamu" Jawab Richard.
Adrian langsung mengepalkan tangannya. Obsesi bisa menjadikan seseorang berubah menjadi psycopath. Dan itu berbahaya. Dia menatap cemas pada Ve.
"Maksudnya apa?" Kepo Ve.
"Kamu tahu kan dia marah soal kamu menolak perjodohan dengannya. Sejak saat itu....
Door
"Aarrgghhhh"
Ciiiiiitttt
Ve berteriak. Diikuti Richard yang mengerem mobilnya mendadak. Hampir membuat Ve terjungkal.
"Fao kami diserang" Lapor Richard dari ear piece-nya.
"Sepuluh menit kami sampai"
Tembakan beruntun terus terdengar. Menyerang mobil Adrian dari sisi kanan.
"Kita harus keluar. Fao akan sampai sebentar lagi"
Adrian bersiap membuka pintu. Meraih Glock-nya. Begitu juga dengan Iz dan Richard. Ve jelas terkejut melihat situasinya.
"Pakai ini" Richard mengulurkan satu Glock pada Ve. Yang langsung menerimanya. Lantas mengokangnya untuk mengeceknya.
"Siap?"
Semua mengangguk.
Perlahan keempatnya keluar dari sisi kiri. Sebab mobil Miguel menyerang dari sisi kanan. Begitu mereka keluar dari mobil. Delapan orang langsung membentuk barikade melindungi mereka. Dengan Ve berada di tengah.
Baku tembak tidak bisa dihindarkan. Suara tembakan saling bersahutan.Tanpa henti. Dalam waktu singkat beberapa orang tumbang seketika. Tidak ada raut wajah ketakutan dalam wajah mereka. Melihat beberapa orang terkapar bersimbah darah di hadapan mereka.
Yang ada hanyalah rasa cemas. Terutama Adrian. Dia begitu mencemaskan Ve yang berada di sampingnya. Meski gadis itu benar-benar lihai dalam menembak. Satu dua kali menembak. Dan semua tepat sasaran.
Adu peluru itu berlangsung cepat. Hingga semua tampak terkendali dengan pihak Ve tampak menang banyak. Ketika mereka semua beringsut mundur. Menuju titik pertemuan dengan Fao. Tiba-tiba saja satu rombongan pria bersenjata langsung menyerang membabi buta.
Richard jelas terkejut. Mereka menyerang dari arah belakang. Hingga tiba disatu waktu. Keadaan begitu terjepit. Dengan musuh yang ternyata lebih banyak. Juga pengawal Richard yang banyak tumbang.
Adrian menyeret Ve menjauh. Membawa Ve pada Fao secepatnya adalah pilihan paling baik saat ini. Namun ketika dia hampir sampai di titik pertemuan sebuah RPG (Rocket Propelled Grenade/ Granat berpeluncur Rolet) meluncur ke arah mereka.
Kredit Google.com
Boooomm
Duaarrrr
Adrian terlempar dengan Ve dalam pelukannya. Benturan di kepala Adrian tidak terelakkan. Sementara Ve langsung tidak sadarkan diri dalam pelukan Adrian.
"Ve....Ve...." Panggil Adrian lirih.
Kepalanya' begitu pusing. Melihat keadaan di sekelilingnya begitu berantakan.
"Fao....Fao...kau mendengarku?"
Tidak ada jawaban. Pelan Adrian menepuk-nepuk pelan pipi Ve.
"Ve...Ve...bangun....
Hingga terdengar langkah mendekat. Adrian pikir itu Fao. Ve harus segera keluar dari kekacauan ini. Namun dugaan Adrian salah. Bukan Fao yang mendekat. Tapi seorang pria berparas bule. Yang sudah pasti adalah Miguel.
Pria itu langsung mengambi Ve dari pelukan Adrian. Adrian berusaha mempertahankan Ve. Tapi tiga orang langsung menendang perut Adrian. Membuatnya memuntahkan darah segar seketika. Tubuh Adrian ambruk bersamaan dengan Miguel yang menggendong tubuh Ve.
"She's mine"
Satu kalimat dari bibir Miguel membuat Adrian meradang. Berniat menyerang kembali. Namun tiga orang itu kembali mencegahnya. Pada akhirnya Adrian hanya mampu merutuki kelemahan dirinya. Melihat Miguel membawa pergi Ve dari hadapannya.
****
Cari vitamin lagi...
Kredit Instagram @ ksndr_22
***