Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
KMB- Pilihan Yang Tepat



Lyn benar-benar takjub menatap sebuah bangunan megah dengan dominasi warna putih. Berlatar belakang langit biru. Fao sejenak membiarkan Lyn menyalurkan kekagumannya. Hingga akhirnya satu suara dari Fao membuyarkan kekaguman Lyn.



Kredit Pinterest.com


"Aku akan membawanya masuk"


Lyn langsung menatap Fao.


"Dia sudah menunggu" Ucap Fao lantas mempersilahkan Lyn mendahuluinya.


"Aku tidak tahu tempatnnya Fao. Berjalanlah disampingku" Pinta Lyn.


"Tapi aturannya Lyn...


"Bomat dengan aturan. Daripada aku tersesat" Dengus Lyn kesal.


"Ahaaa aku suka model begini. Sedikit urakan. Sepertinya negara akan sedikit berwarna di bawah perintahmu" Batin Fao sambil mengulum senyumnya.


Maka berjalanlah keduanya beriringan. Diikuti Rose dan Richard yang sejak tadi tidak berbicara sama sekali. Begitulah peraturannya. Di belakang mereka. Para pengawal bayangan langsung membubarkan diri. Langsung menuju spot masing-masing.


Lyn dan Fao masuk ke sebuah pintu dengan pintu yang sangat lebar dan tinggi. Berbelok ke arah kiri. Dan mulailah terlihat rombongan sang suami.


Senyum mengembang di bibir Mark. Begitu melihat Lyn yang datang bersama Fao.


"Ada masalah?"


"Ya sedikit hiburan di tengah perjalanan" Jawab Fao.


"Itulah kenapa kau ikut?" Tanya Mark. Dan Fao mengangguk.


"Terima kasih"


"Terima kasihmu masih terlalu awal. Berterima kasihlah padaku jika aku bisa membuatmu keluar istana tanpa rasa khawatir" Jawab Fao jutek.


"Well akan aku tunggu hari itu" Giliran Mark yang menyeringai.


"Sudah waktunya, Your Highness" Suara seorang pria yang sudah berumur dengan pakaian suit hitam dengan aksen khusus di pitanya. Namun wibawanya masih terasa kuat sekali. Sekilas pria itu menatap pada Lyn yang balik menundukkan kepalanya. Seulas senyum tipis terukir di bibir tuanya.


"Kepala Pelayan Forst. Kami biasanya memanggil Uncle Forst" Bisik Mark. Dan Lyn hanya ber-ooo ria.


Dengan arahan dari Kepala Pelayan Forst. Rombongan itu dibawa melalui sebuah lorong istana yang panjang dengan hiasan lampu gantung kristal dengan lilin yang menyala di kedua sisi atapnya.



Kredit Pinterest.com


"Kamu boleh bilang aku kampungan" Bisik Lyn. Matanya tak lepas dari menatap seluruh sisi lorong itu. Dan Mark hanya mengulum senyumnya. Juga semua orang yang mendengar bisikan Lyn yang cukup keras.


"Asal jangan pingsan saja" Balas Mark tengil.


"Ooo bisa jadi..." Jawab Lyn asal.


Albert dan Sebastian yang berjalan di depan mereka saling pandang. Sambil tersenyum.


"Aku suka ratu yang model begini"


Begitulah kira-kira arti pandangan dua pria itu.


"Kenapa disini sepi? Perasaan tadi di depan rumah penuh wartawan" Tanya Lyn.


"Mereka sedang berada di kastil sayap kanan. Mereka tidak boleh masuk. Juga tidak boleh membuat keributan. Mereka hanya boleh menyaksikan seluruh acara intern kerajaan melalui live streaming" Jelas Mark.


Kembali Lyn ber-ooo ria. Hingga tanpa mereka sadari. Kepala Forst sudah membawa mereka ke sebuah pintu yang kali ini lebih besar dari pintu yang tadi Lyn masuki. Pintu berwarna coklat metalik itu perlahan terbuka ketika Kepala Pelayan Forst mengetuknya pelan.


Dan kali ini Lyn benar-benar nyaris pingsan ketika melihat sebuah aula super besar dengan dominasi warna putih dan biru. Dengan hiasan lampu gantung kristal yang super jumbo besarnya. Tergantung tepat di tengah aula. Lantainya terbuat dari marmer putih bersih. Sedangkan kaca di sekeliling aula berwarna biru langit malam bertabur bintang.



Kredit Pinterest.com


Sejenak Lyn menahan nafasnya. Kagum, gugup, gemetar semua menjadi satu. Ada banyak orang di dalam aula itu. Dan semua langsung terdiam begitu pintu dibuka. Bisa Lyn rasakan kalau semua orang menatap padanya.


"Your Highness..." Kepala Pelayan Forst memberikan kode dengan sebelah tangannya. Mempersilahkan mereka semua masuk.


Mark sejenak menatap pada Lyn. Yang juga menatapnya. Bisa Mark lihat kalau Lyn beberapa kali menarik nafasnya. Hingga satu anggukan Lyn berikan.



Kredit Pinterest.com


Kaca dari bagian belakang ujung aula itu kembali menampilkan bulan purnama. Sepertinya aula ini didesain dengan interior langit malam. Hingga mereka seperti berada dalam gemerlapnya suasana malam. Dengan taburan bintang juga bulan yang bersinar terang.


Di dalam aula terasa begitu tegang. Berbeda dengan di luar istana. Para wartawan langsung heboh melihat siapa yang dibawa oleh putra mahkota mereka sebagai ratu. Bukan Hilda yang selama ini dikoar-koarkan akan memimpin negeri ini.


Tapi seorang wanita cantik dengan hijab yang menutup kepala wanita itu. Juga pakaian yang tertutup. Begitu santun dan sejuk dipandang mata. Begitu melihat siapa calon ratu mereka. Spekulasi langsung berlanjut ke arah keyakinan sang putra mahkota. Mereka jelas menduga-duga soal perpindahan keyakinan pemimpin mereka.


Beda dengan wartawan yang heboh sendiri. Di luar pintu aula. Eduardo dan Hilda sedang bersitegang dengan penjaga yang berada di depan pintu. Berdalih Paman dan calon ratu yang akan dinobatkan mereka memaksa masuk. Dandanan Hilda begitu heboh hingga mebuat para penjaga itu sesaat mencibir Hilda.


Mereka berdua terus memaksa masuk.


"Aku Pamannya"


"Aku calon ratunya"


Teriak keduanya orang itu bergantian.


"Kalau Anda calon ratunya. Lalu yang dibawa masuk oleh Prince Mark itu siapa?" Seorang penjaga berucap. Dan ucapan penjaga itu membuat keduanya saling pandang.


Sebab tidak ada laporan yang memberitahu mereka kalau Mark membawa seorang calon ratu.


"Katakan seperti apa orangnya!" Teriak Hilda.


"Dia orang Asia dan memakai penutup kepala. Apa tadi namanya...


Eduardo dan Hilda saling.


"Gadis itu..gadis yang aku lihat di kediaman Emmanuel..." Pekik Hilda tidak percaya.


"Kalian ini berisik sekali" Satu suara membuat Eduardo dan Hilda diam.


"Kau...katakan siapa ratunya?" Tanya Eduardo menuntut.


"Namanya Azlyn Maiza Khairunnisa" Jawab Fao singkat.


"Kau bohong! Tidak mungkin! Mereka tidak pernah menikah. Penobatan ini tidak sah!" Eduardo protes.


"Mereka sudah menikah hampir sebulan yang lalu. Di Indonesia. Sah secara negara, agama dan hukum internasional mengakui pernikahan. Bahkan dewan kontitusi kerajaan sudah mengesahkan pernikahan mereka. Dan menyatakan kalau Lyn memenuhi semua persyaratan menjadi ratu" Jelas Fao panjang lebar.


"Kau bohong. Mana ada persyaratan menjadi seorang ratu. Asal menikah dengan Prince Mark. Siapa saja bisa menjadi ratu" Protes Hilda.


"Hilda...Hilda....apa kau? Kau dari awal sudah diblack list oleh dewan konstitusi kerajaan dari kandidat menjadi ratu. Karena itulah Prince Mark tidak pernah mau menikahimu. Terlebih lagi apa kau tahu? Syarat menjadi ratu adalah masih perawan alias virgin saat menikah dengan Putra Mahkota" Ucap Fao sambil meledek ke arah Hilda.


Hilda jelas tercengang mendengar ucapan Fao. Dia tidak pernah tahu jika syaratnya seperti itu. Sesaat keduanya saling pandang. Menatap tajam satu sama lain. Disaat itulah Fao kembali masuk ke dalam. Beberapa kali pria itu tampak memindai keadaan sekitar melalui kacamata transparannya.


"Ada masalah?" Tanya Rose yang duduk di samping Serena.


"Eduardo dan Hilda" Jawab Fao singkat.


"Semua ini salahmu. Jika kau tidak mengambilnya malam itu. Aku pasti sudah jadi ratu" Hilda menyalahkan Eduardo. Karena pria itulah yang mengambil kesuciannya ketika Hilda baru saja masuk ke villa tempat tinggal Eduardo.


"Jangan menyalahkanku. Bukankah kau juga sangat menikmatinya" Cibir Eduardo. Hilda hanya bisa mendengus kesal. Karena memang ucapan Eduardo benar adanya. Setelah kehilangan kesuciannya. Hilda jadi ketagihan untuk berhubungan ****.


Ketegangan keduanya langsung buyar ketika terdengar suara tepukan tangan dari dalam aula.


"Tidak! Dia tidak boleh menjadi ratu. Jika aku tidak bisa menjadi ratu. Maka tidak seorangpun bisa menjadi ratu"


Batin Hilda sambil mengepalkan tangannya. Lantas berlalu dari depan aula itu.


Sementara itu, K sungguh menatap takjub pada sosok Lyn yang begitu mempesona di matanya. Pria itu menatap wajah Lyn dari layar LED besar yang dipasang di depan istana mahkamah konstitusi.


"Apa aku telah jatuh hati padanya"


Tanya K pada dirinya sendiri. Sementara Max hanya bisa menatap pada atasannya. Yang dia anggap semakin hari semakin gila.


"Tapi wanita itu memang pantas digilai"


Batin Max yang ikut menatap ke layar LED yang menampilkan Lyn saat dianugerahi gelar ratu secara resmi. Dengan dipakaikannya mahkota tiara dari berlian safir ke atas kepalanya yang berhijab.


"Benar-benar pilihan yang tepat"


****