
"Katakan bagaimana kau tahu kalau dia hamil?" Albert merangsek tubuh Fao ke dinding. Tangan kanannya menekan leher pria imut itu.
"Al tenangkan dulu dirimu" Sebastian berusaha melerai. Juga khawatir karena Albert baru saja sadar dari operasi pengangkatan peluru di bahu kirinya. Langsung menerjang Fao begitu melihat pria itu sedang bicara pada Sebastian.
Yang ada di pikiran Albert adalah Fao merupakan ayah dari anak yang dikandung Serena.
"Lepaskan aku dulu Al....kau mencekikku" Ucap Fao terbata. Wajah putihnya mulai memerah karena kekurangan oksigen.
"Albert...Albert...kau bisa membunuhnya" Sebastian memperingatkan. Suaranya mulai meninggi.
"Katakan padaku apa kau ayah dari anak yang dikandung Rena?"
"Tentu saja bukan! Lepaskan Albert!" Jawab Fao setengah berteriak. Meski setelahnya dia langsung terbatuk-batuk. Setelah Albert melepaskan himpitannya pada Fao.
"Perawat!" Sebastian berteriak. Melihat darah yang mengalir di punggung Albert. Bisa dipastikan lukanya terbuka lagi. Pria itu bertelanjang dada. Sambil mendengus geram. Dia kembali ke hospital bednya.
"Jadi katakan siapa ayahnya! Kau pasti tahu" Desak Albert dengan mata tajamnya menatap ke arah Fao.
"Ayah anaknya Rena ya kamu! Memangnya siapa lagi. Aku? Pegang saja tidak!" Gerutu Fao.
Dan jawaban Fao langsung membuat Albert membulatkan matanya.
"Apa kau bilang? Anakku? Tapi..."
"Kau tidak mau mengakuinya? Dasar brengsek!" Maki Fao sedangkan Sebastian langsung melongo mendengar ucapan Fao.
"Bukan begitu aku hanya...
"Kau hanya melakukannya sekali tapi sepanjang malam. Gila saja....kalau Rena tidak hamil anakmu. Lagipula dia masih virgin kan waktu kau memaksanya?" Todong Fao.
Albert terdiam.
"Hei bagaimana aku tidak tahu soal hal itu?" Sebastian protes karena merasa dicurangi tidak diberitahu hal sebesar itu.
"Lalu dia harus pamer padamu kalau habis tidur dengan Rena begitu?" Kesal Fao.
"Bukan...bukan seperti itu. Tapi kapan?"
"Dihari yang sama dengan Ve menikah. Dia gila karena ikut pestanya Hilda. Dan berakhir dia kena obat perang****. Untungnya dia bisa lari dari Hilda. Tapi Rena yang jadi korban"
"Dasar brengsek! Kenapa kau tidak cari ja***** di luar sana untuk menyalurkan hasratmu. Malah memaksa Rena yang kita tahu dia gadis baik-baik!" Sebastian meradang mendengar cerita Albert.
"Aku salah aku akui. Tapi aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih waktu itu. Aku pikir mau berendam di bath up di kamar di lantai dasar. Tidak tahunya bertemu Rena. Ya sudah...
"Kamu terkam saja begitu?"
Albert mengangguk. Dan satu keplakan mendarat di bahu kanan Albert.
"Aduuuuhhh" Albert meringis. Membuat perawat yang tengah membalut kembali luka Albert ikut terkejut.
"Yah pasien model begini mah lama sembuhnya" Batin si perawat melihat dua orang itu memperlakukan Albert seperti bukan pasien.
"Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Albert.
"Di sebelah" Jawab Sebastian.
Albert pun melangkah keluar dari kamarnya. Masuk ke kamar sebelah. Dilihatnya Rena yang terbaring dengan Rose berada disampingnya.
"Rena...."
Mendengar Albert memanggilnya, Rena langsung memalingkan wajahnya.
"Bagaimana keadaannya?" Bisik Albert pada Fao.
"Untung bayinya baik-baik saja. 8 minggu"
Albert menarik nafasnya lega. Lantas melangkah mendekat ke arah Rena. Rose langsung menjauh. Memberi tempat pada keduanya.
"Rena...
"Mau apa?" Tanya Serena galak.
"Maafkan aku. Biarkan aku bertanggungjawab. Dia adalah anakku"
"Untung waktu itu aku melakukannya dengan pelan dan lembut" Albert teringat terakhir kali mereka bercinta. Dia melakukannya dengan lembut karena Rena tidak lagi melawan.
"Aku bisa mengurusnya sendiri" Jawab Rena cepat.
"Tapi dia anakku"
"Aku tidak perlu tanggungjawabmu. Kau memaksaku Albert. Aku membencimu" Ucap Rena lirih.
Seketika jantung Albert seperti ditusuk ribuan jarum. Satu kesalahannya membuat Rena membencinya.
"Rena aku mohon...
"Keluar!" Teriak Rena bangun dari tidurnya. Lantas mencabut jarum infusnya. Membuat semua panik seketika.
"Rena jangan lakukan itu. Itu berbahaya" Ucap Albert cepat menahan tubuh Rena untuk turun dari tempat tidurnya.
"Maafkan aku. Maafkan aku" Albert berulangkali meminta maaf. Rasa bersalah kini benar-benar menguasai harinya. Albert berusaha memeluk Rena yang terus berontak ingin melepaskan diri.
"Aku benci padamu. Benci padamu" Kalimat itu yang terus keluar dari bibir Rena. Membuat hati Albert semakin terasa pilu. Albert terus memeluk Rena hingga akhirnya wanita itu lelah sendiri dan tertidur.
"Aku akan membunuhmu kalau aku jadi Rena" Seru Sebastisn kesal.
"Oh come on boys. Tidakkah kau lihat aku? Aku juga bersedia mati asal dia memaafkan aku" Jawab Albert putus asa. Pria itu menyugar rambutnya kasar. Frustrasi jelas tergambar diwajahnya.
Hening sejenak...
Hingga suara pintu terbuka membuat mereka mengalihkan pandangannya ke pintu. Semua langsung berdiri. Begitu melihat siapa yang datang.
"Your Highness" Sapa ketiganya bersamaan.
"Jangan terlalu formal. Ingat? Bagaimana dia?" Tanya Mark.
Sedang Lyn dan Ve langsung menuju ke arah tempat tidur. Di mana Rose langsung berdiri menyambut keduanya.
"Bagaimana keadaan Ratu?" Tanya Rose.
"Tidak apa-apa. Jangan memanggilku seperti itu. Ingat ini hanya kita sendiri"
Bisa Rose lihat ada bekas darah di lengan atas Lyn. Wanita itu terluka karena menghindari terjangan peluru yang mengarah ke mereka. Mendorong tubuh Rose juga Ve hingga dirinya sendiri yang terserempet peluru.
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia baik...
"Bayinya? Aku dengar Rena hamil. Apa itu benar?" Tanya Lyn.
"Ahh itu..." Rose merasa ini bukan kapasitasnya untuk menjawab. Jadi dia melirik Albert.
"Dia hamil anakku" Jawab Albert.
"Whaatttt!!??"
Ve berseru tidak percaya.
"Yang benar Al...kapan kau menanamnya?" Pertanyaan absurd Ve langsung membuat semua orang memutar matanya.
"Serius sedikit Ve" Desis Fao.
"Ini sanga serius Fao. Kan benar pertanyaannku" Kembali semua orang menatap tidak percaya pada Ve.
"Hans apa dia kalau di ranjang absurb begini?" Tanya Sebastian kepo.
"Emmm rahasia" Jawab Hans ambigu.
"Sialan kau!" Maki Sebastian.
"Lalu apa kalian sudah menikah?" Tanya Mark.
"Aku baru tahu dia hamil anakku tadi. Dan bersikeras menolakku dua bulan ini" Jawab Albert sendu.
"Pasti dua bulan ini sangat berat untukknya. Ve apa dia sering muntah-muntah saat mengawalmu?" Tanya Lyn.
Ve berpikir sebentar.
"Tidak tu"
"Bersyukurlah Al. Anakmu cukup tahu diri. Tidak menyusahkan mamanya"
Sindirin Lyn begitu menohok hati Albert.
" Kau yakin dia hamil anakmu?" Tanya Mark memastikan.
"Aku yakin. Dia masih virgin saat aku menyentuhnya untuk pertama kalinya"
"Kalau begitu cepat nikahi dia. Atau kakek Francoise akan menggantungmu hidup-hidup. Membiarkan penerus keluarga Francoise hidup sendirian di luar" Mark memberi saran.
"Tapi masalahnya dia tidak mau aku bertanggungjawab atas anakku"
"Kalau alasanmu hanya anak. Aku pribadi juga tidak mau. Semua wanita ingin dinikahi karena cinta bukan karena hal lain. Soal anak mereka bisa menghidupi dan mendidiknya lebih baik dari kalian kaum pria" Jabar Lyn panjang lebar.
"Jadi...
"Jangan gunakan alasan anak saat ingin menikahi seorang wanita. Tapi katakan dan buktikan kalau kau mencintai Rena. Dia akan mempertimbangkannya. Aku yakin itu"
Albert sedikit berpikir. Ya selama ini dia hanya mengatakan akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Tanpa ada embel-embel kata cinta.
"Oohh jadi begitu to caranya" Celetuk Sebastian.
"Ah kau ini merusak suasana saja"
Gerutu Fao.
***