
Terdengar bel pintu apartemen yang ditekan berulang-ulang. Membuat Serena yang tengah berada di kamar mandi langsung berdecak kesal. Dia pikir siapa yang mengganggu hari Minggunya sepagi ini.
Apalagi ditambah kondisi tubuhnya yang tidak bisa diajak kompromi beberapa hari ini. Hingga akhirnya dia terpaksa tidak ikut mengawal Ve ke negara A yang sebenarnya hanyalah kedok agar Ve dan Hans bisa menghadiri pernikahan rahasia sang putra mahkota.
Serena jelas menyesal karena tidak bisa menyaksikan pernikahan Lyn, wanita yang mulai akrab dengannya. Juga calon ratu negeri ini. Meski sebenarnya dirinya dan yang lainnya menyaksikan pernikahan itu via citra satelit alias live streaming. Semua disiapkan oleh Fao, siapa lagi.
"Selamat pagi. Ada yang ...
Sapaan selamat pagi Serena langsung tenggelam dalam kemarahan begitu melihat siapa yang datang.
"Brengsek!" Teriak Serena bermaksud menutup pintu. Tapi Albert dengan sigap menahannya menggunakan sepatunya.
Albert sendiri sudah bertekad tidak akan mengalah lagi pada Serena. Dia akan berusaha mengejar Serena. Mendapatkan wanita itu apapun caranya. Meski kalau dia harus memaksa wanita itu lagi. Sebab dia percaya kalau Serena juga punya perasaan yang sama. Jika tidak, dia tidak akan dengan mudah menyerahkan diri padanya malam itu.
"Mau apa?" Tanya Serena galak. Begitu dia kalah kekuatan saat adu menutup pintu.
"Tidak bisakah kau lebih ramah sedikit padaku?" Tanya Albert.
"Ramah? Padamu? Jangan mimpi. Kesalahanmu terlalu besar untuk membuatku sekedar bersikap ramah padamu. Apalagi memaafkanmu. Jangan harap!" Oceh Serena panjang lebar.
Bukannya marah. Albert malah menyunggingkan senyumnya.
"Kau gila ya. Malah senyum-senyum sendiri!"
Senyum Albert semakin lebar.
"Dasar gila!" Umpat Serena lantas berlalu meninggalkan Albert.
"Apa kau sadar? Tadi itu jawaban paling panjang yang pernah kudengar darimu" Ucapan Albert membuat Serena menghentikan langkahnya.
"Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu"
"Tapi kenapa tiba-tiba mual dan pusingku hilang. Tidak mungkin kan kalau kamu merindukan papamu" Batin Serena. Menyentuh pelan perutnya tanpa Albert sadari.
"Pergi? Enak saja menyuruhku. Aku belum mendapatkan sarapanku. Bagaimana aku bisa pergi" Lagi Albert berujar sambil mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu apartemen Serena. Meski Serena belum tentu mengizinkannya. Tapi bodo amat.
"Apa kau sudah jatuh miskin? Hingga tidak mampu membeli sarapan?" Tanya Serena.
Albert tertawa mendengar perkataan Serena.
"Kau tahu sendiri.. kekayaan keluarga Francoise tidak akan habis sampai 3 generasi selanjutnya" Pamer Albert.
"Dasar sombong!" Jawab Serena.
"Menikahlah denganku. Dan kamu akan menjadi nyonya Francoise generasi ke tiga" Ucap Albert menatap wajah Serena.
"Aku tidak mau!" Serena menjawab tegas.
"Tidak ingin mengubah pikiranmu?" Tanya Albert lagi.
"Tidak akan pernah!"
"Kalau begitu aku yang akan mengubah pikiranmu" Ucap Albert. Lantas berdiri dari duduknya. Langsung berjalan menuju Serena. Detik berikutnya pria itu sudah mencium bibir Serena lembut tapi menuntut.
Serena langsung bereaksi melawan. Berusaha membanting tubuh besar Albert dengan teknik judonya. Namun seolah tahu dengan jalan pikiran Serena. Albert mendorong tubuh Serena. Hingga mentok ke dinding ruang tamu. Mengunci seluruh pergerakan Serena. Membuat gadis itu tidak bisa bergerak sama sekali.
"Lepaskan aku!" Teriak Serena begitu Albert melepaskan ciumannya. Nafas Serena memburu dengan dada turun naik menahan amarah. Wanita itu terus bergerak liar. Berusaha melepaskan diri dari himpitan tubuh Albert.
"Oh God, kamu membangunkannya Rena" Bisik Albert.
Serena seketika menghentikan gerakannya. Menatap tajam pada Albert yang berada tepat di depan wajahnya. Bahkan hidung mereka saling bersentuhan.
"Jangan macam-macam denganku tuan Albert Francoise!" Desis Serena.
"Bagaimana aku tidak macam-macam padamu. Lihatlah dirimu sendiri. Kau sengaja mengumbar asetmu padaku?" Tanya Albert.
Serena langsung melirik kebawah. Dan oh tidak...dirinya hampir saja meledakkan teriakannya. Jika saja Albert tidak langsung membungkamnya menggunakan bibirnya.
"Kau seksi sekali, Sayang" Bisik Albert semakin menempelkan tubuhnya pada tubuh Serena.
Serena seketika sadar. Kalau Albert sudah mulai bergai***. Dia jelas merutuki dirinya karena hanya mengenakan tank top dan hot pants saja. Hingga dada dan paha mulusnya terekspose dengan jelas.
"Hentikan Albert. Atau aku akan semakin membencimu" Ucap Serena sambil menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membuat Albert semakin menggila. Apalagi saat pria itu mulai menciumi leher jenjangnya.
"Albert....." Suara Serena mulai meninggi lagi. Saat bibir Albert mulai menjelajahi dadanya.
"Berikan aku kesempatan. Akan kulepaskan kau kali ini" Albert mencoba bernegosiasi di tengah cumbuannya pada tubuh Serena.
Tubuh Serena semakin tidak karuan, ketika tangan Albert mulai ikut beraksi.
"Aku sekarang yang bisa gila jika pria brengsek ini terus mencumbuku" Batin Serena kesal.
Detik berikutnya Albert langsung menghentikan aksinya begitu mendengar perkataan Serena.
"Mari kita bicarakan sambil bermain di ranjangmu" Bisik Albert langsung membawa tubuh Serena ke kamarnya.
"Turunkan aku. Turunkan aku! Dasar Albert brengsek!" Teriak Serena. Yang tidak dihiraukan oleh Albert.
***
Mark langsung merebahkan tubuhnya di kasur Lyn yang bernuansa pink. Mereka baru melalui sesi makan malam bersama.
"Ya" Mark berucap lewat ponselnya.
"..."
"Aku usahakan. Apakah semua baik-baik saja?" Tanya Mark lagi.
"..."
"Baik, kau atur saja" Jawab Mark sambil menutup panggilannya.
"Dari siapa?" Tanya Lyn.
"Sebastian" Jawab Mark singkat.
"Ada yang pentingkah?" Tanya Lyn.
"Itu...
Kalimat Mark tergantung ketika dilihatnya Lyn sudah melepas hijabnya. Menampilkan rambut hitam panjang yang baru kali ini dia lihat.
"Sayang...kamu cantik sekali" Ucap Mark sama sekali tidak bisa menutupi rasa kagumnya pada kecantikan sang istri. Apalagi Lyn hanya memakai baju tidur berbahan satin lembut model lengan pendek. Dan panjang sepaha.
"Oh my, benar- benar menggoda" batin Mark.
Selama ini tubuh Lyn selalu tertutupi baju panjang dan longgar. Sehingga tidak terlihat sama sekali lekuk tubuhnya. Dan sekarang hanya memakai baju tidur. Terlihat jelas lekuk tubuh Lyn yang tercetak di balik bajunya. Belum lagi bagian dada Lyn yang terlihat tanpa penutup.
Sebenarnya Lyn malu untuk memakai pakaian seperti biasanya saat ada Mark. Tapi dia berpikir. Mark adalah suaminya. Cepat atau lambat dia akan menunjukkan semuanya pada Mark. Jadi Lyn berusaha untuk mulai membiasakan diri dengan kehadiran Mark.
"Kamu menggodaku ya?" Tanya Mark.
"Menggoda apanya? Ini adalah kebiasanku kalau di kamar. Ada yang salah" Jawab Lyn. Berdiri di tepi ranjangnya. Menatap ragu pada Mark. Yang sudah lebih dulu rebahan di atas kasurnya.
"Kamu terlihat seksi sayang" Ucap Mark sambil mengulurkan tangannya pada Lyn. Sejenak Lyn ragu. Namun sejurus kemudian, gadis itu menyambut uluran tangan Mark. Pelan mulai naik ke atas kasurnya.
Keduanya kini duduk saling berhadapan.
"Sayang..." Panggil Mark.
"Hemm" Jawab Lyn tanpa berani menatap mata Mark.
"Kamu tidak keberatan kan kalau aku tidak meminta hakku selama disini?"
"Memangnya kenapa?" Tanya Lyn penasaran.
"Aku takut jika aku akan bersuara cukup keras saat bercinta denganmu. Nanti aku malu"
Lyn langsung mengulum senyumnya.
"Kalau kamu bisa menahannya tidak masalah"
"Dan satu lagi. Aku takut ranjang kamu ambruk kalau dipakai bercinta"
Gubrak!!!!
"Bua ha ha haa.....aaa"
Lyn langsung meledakkan tawanya kali ini. Mendengar alasan yang begitu detail dari suaminya.
"Sayang...."
"Iya...iya....nanti kasihan kasurnya jadi korban" Jawab Lyn mengiyakan saja permintaan sang suami. Sambil terus tertawa.
***